CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Kembali ke rumah


__ADS_3

Di dalam perjalanan pulang, Sakti terus menggenggam tangan Alfi, sesekali Ia menciuminya. Sakti sangat bahagia dengan kehadiran calon anaknya disaat Alfi sudah mencintainya. Ia berjanji akan selalu membuat mereka bahagia.


" Yank kamu pengin sesuatu nggak? Pengin makan atau minum sesuatu gitu?" Tanya Sakti masih fokus mengemudi.


" Enggak Mas, aku cuma pengin tidur aja." Jawab Alfi.


" Jangan tidur dulu, nanggung bentar lagi sampai." Sahut Sakti


" Iya Mas." Ucap Alfi.


" Kamu manis kalau nurut gini, daripadaa marah marah nggak jelas." Ujar Sakti.


" Makanya jangan pancing emosi aku, jadi aku nggak akan marah marah." Alfi menatap Sakti.


" Iya iya deh, maaf ok." Ujar Sakti.


" Hmm." Gumam Alfi.


Sesampainya di rumah, mereka segera ke meja makan karna memang Alfi belum makan. Di sana ada Mamah Cintia yang sedang menata hidangannya. Sebelum pulang, tadi Sakti menghubungi Mama Cintia dulu agar menyiapkan makanan untuk Alfi.


" Mama." Pekik Alfi, Ia segera memeluk Mama Cintia.


" Al kangen Ma..." Sambungnya.


" Mama juga kangen sayang, kenapa nggak pernah pulang ataupun jenguk Mama di rumah? Apa kamu tidak kesepian saat Sarah sedang bekerja?" Tanya Mama Cintia. Alfi melirik ke arah Sakti, Sakti hanya nyengir saja.


" Aku sakit di sana Ma." Kilah Alfi melepas pelukannya. Ia paham betul kalau Sakti pasti tidak memberitahu yang sebenarnya kepada Mamanya.


" Makanya kamu pingsan ya sampai di bawa ke rumah sakit segala?" Tanya Mama Cintia.


" Iya Ma, maaf ya Ma aku jadi nggak bisa jengukin Mama." Jawab Alfi. Ia segera duduk di meja makan, di ikuti Mama Cintia dan Sakti.


" Harusnya kalau sakit kamu itu pulang sayang, biar Mama dan Sakti bisa merawatmu dengan baik." Ujar Mama Cintia.


" Kan Mama juga lagi sakit, aku nggak mungkinlah Ma bikin Mama tambah sakit karena mengurusku, Sarah mengurusku dengan baik kok Ma, kadang Mas Sakti juga ke sana gantian mengurusku." Ucap Alfi.


" Ya sudah yang penting sekarang kamu sudah pulang, sekarang makan yang banyak biar kamu cepat sehat." Ujar Mama Cintia.


" Iya Ma." Sahut Alfim


Mereka makan dengan khidmat, sebenarnya Mama dan Sakti masih kenyang karena tadi mereka sudah sarapan, tetapi demi menemani Alfi mereka jadi ikut makan.


" Ma Al ke kamar dulu ya." Ucap Alfi.


" Iya silahkan, Mama juga mau istirahat di kamar." Sahut Mama Cintia.


Selesai makan Alfi pamit untuk beristirahat di kamarnya, Sakti segera menyusulnya.

__ADS_1


Sampainya di kamar, Alfi segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan bersandar pada headboard.


" Capek ya Yank?" Tanya Sakti mendekati Alfi, Ia duduk di sampingnya.


"Hmm." Gumam Alfi.


" Apa setiap pagi dia merepotkanmu?" Tanya Sakti mengelus perut Alfi.


" Hanya sesekali saja kok Mas, nggak tiap hari juga." Sahut Alfi.


" Maaf ya di saat seperti ini aku tidak berada di sampingmu, aku tidak tahu jika rencanaku justru menyakitimu." Sesal Sakti.


" Itu keinginanku Mas kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri, lagian sudah kita bahas kan masalah ini sebelumnya, dan sekarang tidak perlu di bahas lagi, lagian kita udah sepakat kan mau membuka lembaran baru." Ucap Alfi.


" Iya sayang maafkan Mas, sekarang kita buat momen bahagia aja biar bisa di kenang sepanjang masa." Ujar Sakti.


" Setuju, kita siap bahagia melangkah ke depan demi masa depan rumah tangga kita." Semangat Alfi.


" Terima kasih sayang." Ucap Sakti mencium pucuk kepala Alfi.


" Sama sama Mas." Sahut Alfi.


" Sayangnya Papa, sehat sehat ya di dalam perut Mama, jangan repotkan Mamamu repotkan Papa saja ya, kalau mau apa apa minta sama Papa, pasti Papa akan langsung memberikannya padamu." Ucap Sakti sambil mengelus perut rata istrinya.


" Iya Pa." Jawab Alfi menirukan suara bayi.


" Yank aku bahagia banget, akhirnya kita akan menjadi keluarga yang sempurna dengan kehadiran anak kita." Ucap Sakti memainkan rambut Alfi.


" Tentu sayang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Sahut Sakti mengecup kening Alfi dengan lembut.


" Sekarang tidurlah aku akan mengelus kepalamu." Ujar Sakti.


" Iya Mas, aku juga sudah ngantuk." Sahut Alfi.


" Ya udah segera berbaring yang benar biar nyaman." Ujar Sakti.


Alfi membenarkan posisinya. Ia tidur miring menghadap ke arah Sakti, Sakti mengelus elus kepala Alfi membuat Alfi memejamkan matanya. Dan tak lama akhirnya Alfi tertidur.


Setelah Alfi tidur, Sakti turun dari ranjang pelan pelan. Ia mengambil ponsel di atas nakas lalu mendial nomer seseorang.


" Halo Di." Ucap Sakti setelah panggilan tersambung.


" Ya Sak, ada apa?" Tanya Diana.


" Maaf kan keputusanku ini." Ucap Sakti.


" Apa maksudmu Sak?" Tanya Diana tidak mengerti.

__ADS_1


" Setelah aku pikir pikir ada benarnya juga ucapan Alfi waktu itu." Ujar Sakti.


" Ucapan yang mana?" Tanya Diana.


" Mulai besok kamu tidak perlu datang ke kantor lagi, gajimu akan aku transfer ke rekeningmu sekarang juga, sekali lagi maafkan aku." Ucap Sakti memutus sambungan teleponnya tanpa mendengarkan respon dari Diana.


" Maaf Di jika kamu merasa di rugikan, tapi aku harus mengambil keputusan ini demi menjaga perasaan istriku, aku tidak mau kalau sampai Alfi stres karena terlalu banyak pikiran tentang hubungan kita, karena aku yakin kamu pasti akan merencanakan sesuatu untuk membuat keretakan dalam rumah tanggaku, aku ingin hidup bahagia, nyaman dan tanpa ada gangguan dari wanita sepertimu." Ujar Sakti dalam hati.


Sedangkan Di lain tempat Diana mengamuk mendengar keputusan Sakti. Ia tidak terima di pecat begitu saja oleh Sakti.


" Ini pasti gara gara wanita itu, aku tidak terima Sak, aku akan menghancurkan rumah tanggamu, lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk memisahkan kalian." Teriak Diana, Ia melempar semua barang yang ada di kamarnya...


...****************...


Malam hari setelah makan malam Sakti dan Alfi duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Mama Cintia menghampiri dan ikut bergabung bersama mereka.


" Bagaimana pekerjaanmu Sak? Mama lihat belakangan ini semua pekerjaanmu kacau." Ujar Mama. Sakti melirik ke arah Alfi yang juga sedang meliriknya.


" Beberapa hari Alfi mengabaikanku Ma, Jadi nggak ada semangat buat bekerja." Sahut Sakti.


" Kamu dengar Fi, kamu semangat hidup Sakti jadi Mama berharap kamu tidak akan pernah meninggalkannya, bisa bangkrut cafenya kalau Sakti nggak ada semangat kerja." Canda Mama.


" Iya Ma, tapi ya tergantung sikap Mas Sakti, kalau dianya ganjen sama wanita lain ya aku tinggalin lah Ma, buat apa di perhatahin kalau ujung ujungnya cuma dari makan hati." Sindir Alfi melirik Sakti.


" Jangan gitu lah Yank, aku kan gak pernah melirik cewek lain apalagi sampai ganjen segala." Kilah Sakti.


" Hmmm... Ma ada kabar yang ingin aku sampaikan kepada Mama." Ucap Alfi menatap Mama.


" Kabar baik atau buruk?" Tanya mama.


" Pasti kabar baiklah Ma." Sahut Sakti.


" Apa kabar baiknya Mama akan menjadi Oma." Tebak Mama.


" Kok Mama bisa tahu si, nggak jadi kasih Mama surprise donk." Cela Sakti.


" Jadi benar Mama mau jadi Oma?" Tanya Mama Cintia memastikan.


" Iya Ma, Alfi hamil delapan minggu." Ucap Sakti.


" Wah selamat ya sayang, semoga kalian berdua selalu sehat wal'afiat." Ucap Mama Cintia.


" Doakan agar lancar sampai persalinan ya Ma." Ucap Alfi.


" Pasti sayang, sehat, panjang umur lancar sampai persalinan, sekali lagi selamat sayang." Ucap Mama Cintia memeluk Alfi. Ia merasa bahagia dengan kehamilan Alfi. Mama menitikkan air mata bahagianya.


TBC.....

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentnya ya...


Miss U All....


__ADS_2