CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Kebenaran


__ADS_3

Setelah menelepon Bi Imah untuk meminta bantuannya menyelidiki Neha di rumah, kini Alfi kembali ke ruangan rawat Sakti. Ia berjalan menghampiri Sakti, Ia tatap wajah yang masih tampan dengan segala peralatan medis menempel pada tubuhnya.


Alfi duduk di kursi yang di sediakan di sebelah ranjang, Ia genggam tangan suaminya. Ya masih suami karena setelah Sakti menandatangani berkas perceraian, Alfi masih menyimpannya sampai saat ini. Ia masih belum rela melepas Sakti bersama wanita lain, dan soal pertunangannya itu hanya sandiwaranya saja. Shiv siap membantu Alfi untuk mencari kebenaran yang sebenar benarnya tentang Sakti, tanpa menghiraukan perasaannya sendiri. Entah mengapa hati Alfi mengatakan kalau Sakti tidak bersalah.


" Mas... Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu? Misteri apa yang sedang melanda rumah tangga kita ini? Siapa orang yang ingin menghancurkan keluarga kita." Ucap Alfi sambil terus memegang tangan Sakti, sesekali Ia menciumnya.


" Mas sadarlah.. Perlu kamu ketahui Mas kalau sebenarnya aku percaya padamu, aku bersandiwara tidak mempercayaimu hanya ingin melihat siapa dalang di balik semua ini, Bangunlah Mas... Maafkan aku, sadarlah Mas demi aku dan Aroon." Ujar Alfi.


Alfi berdiri menundukkan wajahnya ke depan wajah Sakti. Alfi mencium kening, pipi dan terakhir bibir Sakti dengan lembut.


Saat Ia hendak menjauhkan wajahnya tiba tiba tangan Sakti menahan tengkuknya. Alfi membulatkan matanya, Ia benar benar terkejut dengan perlakuan Sakti. Kapan Sakti sadar? Sedangkan Sakti sibuk mencecap bibir Alfi dengan lembut. Alfi memejamkan mata dan membuka sedikit mulutnya. Sakti menyusupkan lidahnya, dan bermain main di dalam mulut Alfi. Alfi begitu menikmati sensasi yang Ia rindukan selama ini.


Setelah keduanya kehabisan nafas, Sakti segera melepas pagutannya. Alfi mendongak sambil mengelap bibirnya.


" Kamu sudah sadar Mas?" Tanya Alfi polos.


" Hmm." Gumam Sakti memeluk Alfi.


" Aku panggil Dokter dulu untuk memeriksamu Mas." Ucap Alfi.


" Hmm.." Gumam Sakti lagi.


" Mas.. lepasin dulu." Ujar Alfi melepas pelukan Sakti.


" Terima kasih sudah percaya padaku." Ucap Sakti menangkup wajah Alfi. Alfi hanya menganggukkan kepalanya saja.


Alfi berjalan menuju ruang perawat, mau mencet tombol takut kelamaan. Setelah beberapa saat kemudian Dokter memasuki ruangan Sakti.


" Bagaimana Pak Sakti? Apa ada keluhan?" Tanya Dokter Burhan.


" Tidak ada Dok." Jawab Sakti.


" Perkembangan yang bagus, semua alat vital normal, apa anda mengingat sesuatu?" Tanya Dokter setelah selesai pemeriksaan.


" Aku mengingat semuanya Dok." Ujar Sakti.


" Apa ingatan Anda sudah kembali sepenuhnya?" Tanya Dokter.


" Sudah Dok, saya sudah mengingat semuanya." Sahut Sakti.


" Siapa nama anda?" Tanya Dokter memastikan.


" Sakti Arviano." Sahut Sakti.


" Wanita di samping anda?" Dokter bertanya lagi.


" Istri tercintaku, Alfia Madan yang sekarang menjadi Alfia Arviano." Sahut Sakti.


" Apa anda memiliki putra?" Tanya Dokter lagi.


" Ya... Aroon Arviano Madan." Jawab Sakti tegas.


" Beneran Mas kamu sudah mengingat semuanya." Pekik Alfi bahagia.


" Iya sayang." Jawab Sakti singkat.


" Baiklah kalau begitu selamat untuk anda Tuan Arviano, setelah luka luka anda mengering, anda diperbolehkan pulang." Ujar Dokter Burhan.

__ADS_1


" Terima kasih Dok." Ucap Sakti.


" Sama sama, saya pamit undur diri, istirahat yang cukup Tuan biar cepat pulih." Ucap Dokter Burhan.


" Baik Dok." Sahut Sakti.


Dokter Burhan keluar ruangan. Alfi menutup kembali pintunya, Ia kembali duduk di samping Sakti.


" Mas... Apa yang kamu ingat sebelum kamu pergi? Apa kamu bisa memceritakannya padaku?" Tanya Alfi menatap Sakti. Sakti tidak bergeming.


" Kalau masih sakit gak usah aja, kamu bisa cerita lain waktu." Ujar Alfi.


Sakti menggenggam tangan Alfi, Ia menyibak rambut Alfi yang menutupi wajahnya.


" Al... Aku tidak pernah mengkhianatimu, aku mencintaimu.. Sangat mencintaimu." Ucap Sakti.


" Lalu siapa Neha dan Nervan Mas?" Selidik Alfi.


" Aku juga tidak tahu siapa mereka, yang jelas mereka bukan keluargaku, aku tidak ada ikatan apapun dengan keduanya." Jelas Sakti.


" Apa yang terjadi sebelum kamu kehilangan ingatanmu Mas?" Tanya Alfi.


" Sore itu....


Flashback On.


Setelah keluar kantor, Sakti segera menuju mobilnya. Ia ingin segera sampai ke rumah untuk merayakan ulang tahun Aroon. Saat Ia akan membuka pintu mobil, tiba tiba Diana menyeret tangan Sakti menuju mobilnya. Diana mendorong Sakti dan langsung menutup pintunya. Diana memutari mobil lalu duduk di kursi kemudi.


" Apa apaan kamu Diana." Bentak Sakti.


" Apa maksudmu? Katakan yang jelas." Tanya Sakti. Diana melajukan mobilnya.


" Aku mempunyai seorang putra dengan Reno, dan saat ini Reno sedang mengincar anak itu, dia akan memberikan anaku kepada saudara jauhnya, aku tidak mau sampai itu terjadi Sak.... Aku tidak mau berpisah dengan putraku hiks..." Isak Diana. Ia tetap fokus menyetir mobilnya.


" Lalu apa hubungannya denganku?" Sakti menatap bingung ke arah Diana.


" Aku mohon akui jika anak itu adalah milikmu, hasil dari hubungan gelap kita, maka Reno tidak akan mengganggu kami lagi. " Ucap Diana.


" Kamu gila... Aku tidak akan melakukannya, bagaimana perasaan istri dan anakku mendengar semua ini Diana? Jangan pernah melibatkan aku ke dalam masalahmu." Sarkas Sakti.


" Baiklah jika kamu tidak mau membantuku, maka aku akan bilang langsung kepada Alfi, kalau kita punya hubungan terlarang dan menghasilkan Nervan, aku akan kesana menemui Alfi sekarang juga." Ucap Diana mulai melajukan mobilnya dengan kencang.


" Berhenti Diana.. Kamu gila... Aku tidak sudi mengakuinya sebagai anakku... Berhenti Diana." Teriak Sakti.


Melihat Diana terus melajukan mobilnya, Sakti mengendalikan stir yang di pegang Diana, mereka saling berebut hingga....


Brak....


Tubuh Sakti terpental ke depan dan kepalanya membentur dashboard dengan kencang, darah mengalir deras pada pelipisnya. Ia tidak sadarkan diri. Sedangkan kondisi Diana tak jauh berbeda dengan Sakti.


Setelah beberapa lama, diana mengerjapkan matanya, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang bernuansa putih. Ia menyakini ini di rumah sakit. Ia menatap sosok laki laki yang tak lain adalah Sakti sedang berbaring di ranjang tak jauh darinya. Diana mendekati Sakti, Ia berdiri di samping ranjang Sakti.


Jemari Sakti bergerak, Ia mengerjapkan matanya. Ia menatap kearah Diana. Sakti mencoba menyenderkan punggungnya pada headboard ranjang.


" Sakti." Panggil Diana.


" Kamu siapa?" Tanya Sakti, Diana mengerutkan keningnya, Ia segera memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Sakti.

__ADS_1


" Bagaimana Pak, apa anda mengingat nama Anda?" Tanya Dokter yang memeriksa Sakti, S


setelah Diana menceritakan kalau Sakti tidak mengenalinya.


" Namaku.... namaku.... Sss." Sakti memegangi kepalanya. Dalam bayangan ada seorang wanita memanggil namanya Mas Sakti..


" Sakti...ya namaku Sakti..." Ucap Sakti.


" Apa anda mengingat siapa keluarga Anda." Sakti menatap ke arah Dokter.


" Tidak... Aku tidak mengingat apapun." Ujar Sakti.


" Apa anda mengenal wanita ini Pak?" Tanya Dokter memastikan.


" Tidak.. Memang siapa dia?" Sakti balik bertanya.


" Nona.. sepertinya Tuan Sakti kehilangan ingatannya, dia hanya bisa mengingat namanya saja, saya turut prihatin dengan keadaan ini." Jelas Dokter.


" Berapa lama dia bisa kembali mengingat semuanya Dok?" Tanya Diana.


" Mungkin bisa satu tahun, Dua tahun, Atau bahkan lebih." Terang Dokter.


" Baiklah Dok terima kasih, saya akan langsung membawanya pulang, rahasiakan jika dia pernah di rawat di sini, bukankah itu termasuk privasi." Ucap Diana. Sang Dokter hanya mengangguk saja, Ia tidak mau ikut campur urusan orang lain.


Diana segera memapah Sakti menuju taksi yang sudah di pesannya. Ia segera mendudukkan Sakti di kursi penumpang. Pak sopir melajukan taksi dengan kecepatan sedang menuju rumah Diana untuk menjemput Nervan, setelahnya taksi yang Ia tumpangi melaju ke Bandara.


" Tante.. Siapa om ini?" Tanya Nervan.


Ya Diana sudah menyuruh Nervan untuk memanggilnya Tante, entah apa yang Ia rencanakan sebenarnya.


" Dia ayahmu Nak." Jawab Diana.


" Ayah... Apa dia anakku." Tanya Sakti.


" Ya dia Nervan anakmu." Sahut Diana.


" Lalu dimana istriku?" Sakti menatap Diana.


" Istrimu sedang pergi ke luar kota untuk bekerja, dan sekitar satu bulan lagi dia akan kembali." Jawab Diana yang di balas anggukan kepala saja oleh Sakti.


Setelah percakapan itu, mereka hanya diam menikmati pemandangan sekitar. Sakti juga hanya menurut saja Diana mau membawanya kemana. Ia pikir Diana adalah keluarga istrinya.


Setelah menempuh perjalan yang cukup lama, dari mulai naik taksi, lalu naik pesawat, setelah itu naik taksi lagi, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Rumah sederhana tak jauh dari pantai di Pulau B.


" Rumah siapa ini?" Tanya Sakti.


" Rumah istrimu, tunggulah kedatangannya di sini bersama Nervan, Dia akan segera kembali." Ujar Diana.


Flasback Off.


TBC......


Penasaran dengan kelanjutannya nggak nih?


Like koment vote dulu donk...


Miss U All

__ADS_1


__ADS_2