CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Galau


__ADS_3

" Engh..." Lenguh Alfi.


Alfi mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Terrnyata saat ini Ia berada di dalam sebuah kamar. Ia menatap ke bawah dimana Ia sudah berganti pakaian dengan dres rumahan. Ia menciba mengingat apa yang terjadi dengannya sebelumnya.


Alfi meneteskan air matanya setelah Ia mengingat semuanya. Ia duduk di atas ranjang sambil menunduk dengan lutut sebagai tumpuannya. Ada rasa trauma yang mendalam dari dalam dirinya, trauma yang entah bagaimana Ia sendiri pun bingung mendiskripsikannya.


" Sayang kau sudah sadar." Ucap Sakti yang baru masuk dengan membawa nampan ditangannya.


Sakti meletakkan nampannya di atas nakas, lalu Ia mendekati Alfi yang sedang menunduk sambil terisak. Sakti duduk di ranjang berhadapan dengan Alfi.


" Sayang..." Sakti menyentuh pundak Alfi.


" Mas Davi..." Ucap Alfi tanpa sadar.


" Aku Sakti bukan Davi." Ketus Sakti.


Alfi mendongak menatap kearah Sakti.


Sebenarnya Sakti begitu kesal mendengar panggilan Alfi. Bagaimana bisa istrinya menyebut namanya dengan nama mantan suaminya? Jujur Sakti akui kalau Ia merasa cemburu, Ia ingin marah tapi begitu melihat Alfi yang banjir air mata Ia menjadi merasa iba.


" Ada apa hm?" Tanya Sakti lembut sambil mengusap air mata di pipi Alfi. Alfi menggelengkan kepalanya.


" Katakan jika terjadi sesuatu kepadamu! Jangan sungkan karena aku suamimu." Ujar Sakti.


" Aku tidak pa pa." Sahut Alfi.


" Mama Elin mana?" Tanya Alfi setelah merasa tenang.


" Tadi setelah acara selesai Mama Elin langsung berangkat ke Singapore, Beliau di antar sama Mama sampai ke Bandara." Sahut Sakti. Alfi mengerutkan keningnya, menatap kearah Sakti.


" Singapore? Secepat itu?" Tanya Alfi menatap Sakti.


" Iya, Mama tidak punya banyak waktu lagi, jadi Beliau langsung berangkat tanpa menunggu kamu sadar, Mama Elin titip salam buat kamu." Ucap Sakti sambil tersenyum.


Alfi semakin terisak bahkan kali ini lebih keras. Sakti menarik Alfi dalam pelukannya sambil mengelus punggung Alfi. Ia berusaha untuk menenangkannya dan Alfi tidak menolaknya.


" Tenanglah sayang." Ucap Sakti.


" Kenapa Mama tega meninggalikan aku sendiri? Aku tidak punya siapa siapa lagi." Isak Alfi.


" Sttt... Sudah aku katakan jangan pernah ngomong seperti itu lagi sayang, Kamu punya aku dan Mama Cintia, kami keluargamu sayang, mulai sekarang jangan merasa kalau kamu hidup sendiri, kamu istriku sayang... Aku berjanji akan selalu menemanimu di sepanjang sisa umurku." Ujar Sakti.


" Tapi aku membencimu, bahkan semakin membencimu setelah apa yang kami lakukan kepada keluargaku, seandainya kamu tidak datang di malam itu semua tidak akan menjadi seperti ini.. Ya ini semua karena ulahmu, karena kecerobohanmu." Ucap Alfi melepas pelukannya. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


" Sekarang keluarlah, aku mau sendiri." Titah Alfi. Sakti tidak bergeming hatinya merasa sakit saat mendengar kalau Istri yang Ia cintai justru membencinya.

__ADS_1


" Aku bilang keluar! Keluar sekarang juga!" Bentak Alfi.


" Alfi aku mohom jangan seperti ini sayang, kendalikam dirimu! Aku takut jika Mama sudah pulang dan Mama akan mendengar teriakanmu." Ujar Sakti sambil berdiri.


" Aku tidak peduli, Aku tidak peduli tentang semua itu, aku tidak peduli apapun yang akan terjadi, bukankah selama ini semua orang tidak ada yang peduli dengan perasaanku." Teriak Alfi.


" Al...."


" Pergi! Aku bilang pergi! Aku bilang pergi dari sini sekarang juga! AKU SANGAT MEMBENCIMU... Aku sangat membencimu Sakti Arviano." Ucap Alfi masih berteriak.


" Al tenanglah! Ku mohon tenanglah sayang, jangan seperti ini ku mohon.. Tenanglah ya." Bujuk Sakti.


" Pergi! Pergi kau pembunuh." Teriak Alfi mendorong tubuh Sakti yang berusaha memeluknya.


" ALFIA." Bentak Sakti.


Mendengar bentakan Sakti, Alfi terjingkak kaget. Ia terkejut dengan apa yang Sakti lakukan, Ia tidak menyangka Sakti yang selalu lembut padanya kini berani membentaknya. Alfi menatap nyalang pada Sakti. Ia turun dari ranjang dan berdiri di depan Sakti.


" Baiklah... Jika kamu tidak mau pergi, maka aku yang akan pergi dari sini." Ucap Alfi berjalan membuka pintu kamar.


" Alfi tunggu." Ucap Sakti.


Alfi terus berjalan sampai saat pintu terbuka, Alfi merasa terkejut karena ternyata ada Mama Cintia yang sedang berdiri di depan sana.


Sakti yang menyusul Alfi menoleh kearah Mamanya. Jantungnya berdetak cepat,Ia takut Mamanya akan mengetahui semuanua.


"Sejak kapan Mama berdiri disana? Apa Mama sudah mendengar semuanya?" Batin Sakti dengan pikiran yang berkecamuk di kepalanya.


" Ada apa sayang? Apa yang terjadi kepada kalian? Kenapa Mama seperti mendengar teriakan begitu?" Tanya Mama Cintia menatap bingung kearah Alfi dan Sakti secara bergantian.


" Tidak ada Ma." Sahut Alfi berusaha tenang sambil menghapus sisa air matanya.


" Kalau tidak apa apa lalu kenapa kau menangis sayang?" Selidik Mama Cintia. Mama Cintia menatap Alfi dan Sakti bergantian berharap ada yang memberinya jawaban atas kebingungannya. Tetapi Keduanya malah diam saja.


" Ada yang bisa jelasin ke Mama? Kenapa kalian diam saja?" Tanya mama lagi.


" A... aku.... aku benci Mas Sakti Ma." Jawab Alfi asal. Sakti dan Mama Cintia melongo mendengar pernyataan Alfi.


" Kenapa sayang? Kenapa kamu membenci Sakti? Apa alasannya? Atau mungkin dugaan Mama selama ini benar." Ujar Mama Cintia mendesak keduanya.


Sakti semakin panik... Ia takut kalau Mama Cintia tahu semuanya dan akan koleps lagi.


Sedangkan Alfi melirik tajam Sakti. Ada senyum Jahil tersungging bibirnya.


" Jawab sayang." Tegas Mama Cintia.

__ADS_1


" Aku benci Mas Sakti karena Mas Sakti membentakku Ma, gara gara aku menangisi kepergian Mama Elin, Mas Sakti bilang aku terlalu cengeng Ma... Apa aku salah kalau aku menangis? Apalagi Mama Elin pergi tanpa pamit sama aku Ma." Ucap Alfi dengan nada manja.


Sakti merasa lega mendengarnya, ternyata Alfi bakat untuk berakting juga. Pikirnya.


" Kurang ajar kamu ya Boy, kamu sudah ngebentak menantu tersayangku." Ujar Mama Cintia menjewer telinga Sakti, membuat Sakti mengaduh.


" Aduh duh... sakit Ma." Ujar Sakti.


" Sukurin! Makanya jangan macam macam sama menantu Mama, apalagi membuatnya menangis seperti ini." Mama Cintia melepas jewerannya.


" I... Iya Ma, maaf." Sahut Sakti.


" Ayo sayang kita tinggalin suami durjanamu ini." Ucap Mama Cintia menggandeng tangan Alfi menuju ruang makan.


Sesampainya di meja makan, Alfi dan Mama Cintia duduk di kursi yang sudah tersedia di sana.


" Makan yang banyak sayang biar ada tenaga buat nanti malam." Ujar Mama Cintia sambil mengambilkan makanan ke piring Alfi.


" Biar aku sendiri aja Ma." Ujar Alfi mengambil alih centong yang di pegang mertuanya.


" Baiklah." Sahut Mama Cintia.


Mereka berdua makan sore dengan tenang tanpa ada Sakti di sana. Mungkin Sakti makan di kamar kali ya tadi kan dia bawa makanan.


" Ma, maaf ya kalau Alfi sudah membuat acaranya jadi kacau." Sesal Alfi.


" Gak papa sayang, lagian memang acaranya sudah hampir selesai kan tadi, udah jarang tamu yang datang kok." Sahut Mama Cintia karna memang sudah tidak ada tamu.


" Owh gitu ya Ma." Ujar Alfi.


" Oh ya sayang ada kado dan surat buat kamu dari Mama Elin yang tadi di titipka. kelada Mama, Ini sayang di terima." Ucap Mama Cintia menyodorkan sebuah amplop ke arah Alfi dan langsung di terimanya.


" Bukanya nanti di kamar aja ya sekalian biar Sakti lihat juga" Ujar Mama Cintia.


" Baiklah Ma terima kasih." Jawab Alfi.


Setelah itu mereka pindah keruang tamu untuk bercengkrama. Hingga tak terasa hari sudah malam, selesai shalat Isya Mama Cintia menyuruh Alfi beristirahat di dalam Kamar Sakti.


Dengan langkah gontai Alfi menuju kamar yang di tunjuk mertuanya. Perlahan Ia membuka pintunya.


Ceklek......


TBC.......


Jangan lupa like dan komentnya ya... kalau berkenan silahkan vote karya saya. terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2