
Sakti dan Alfi berjalan berdampingan menuruni tangga, mereka langsung menuju ruang tamu dimana kedua Mamanya sedang berbincang bincang.
" Ma, Sarah kemana?" Tanya Alfi setelah duduk di sofa, di ikuti Sakti yang duduk di sampingnya.
" Sudah pulang sayang mau pamit kamu tadi tapi katanya takut ganggu kamu yang lagi berduaan." Ucap Mama Elin.
" Apasih Mama ini." Ucap Alfi malu malu. Tepatnya akting malu malu.
" Lhoh... Lhoh.. Ini kok udah main mandi basah aja, ingat kalian belum sah lho." Timpal Mama Cintia menggoda keduanya.
" Ma jangan gitu ah." Ujar Sakti.
" Lhoh memangnya kenapa? Kan Alfi harus terbiasa sebelum dia jadi pengantin baru yang akan melewati malam pertamanya." Ujar Mama Cintia.
" Apaan sih Ma kok ngomongnya gitu." Sahut Alfi malu malu membuat kedua Mamanya tersenyum. Sedangkan Sakti hanya acuh saja.
" Ma sebelumnya Alfi minta maaf ya karena sudah membuat Mama berpikir kalau Al tidak bahagia dengan pernikahan ini." Ucap Alfi menatap kearah Mama Cintia.
" Sekarang jawab pertanyaa Mama dengan jujur sayang, apa kamu bahagia Fi dengan hubunganmu yang sekarang? Apa kamu bahagia setelah bertunangan dengan Sakti? Jawablah dengan jujur karena Mama tidak mau kamu mengatakan tidak setelah pernikahan kalian terjadi." Ujar Mama Cintia.
" Aku bahagia Ma, aku bahagia karena aku akan segera jadi menantu Mama." Jawab Alfi.
" Hanya menjadi menantu Mama atau menjadi istri Sakti juga." Goda Mama Elin.
" Eh.... Ya keduanya lah Ma, kan menjadi menantu Mama Cintia juga menjadi istri Mas Sakti." Sahut Alfi menunduk tidak berani menatap kedua Mamanya. Mana mungkin Ia bahagia, bukankah Ia terpaksa melakukan semua ini? Kalau tidak mengingat kata Mama Elin pasti Alfi sudah menolaknya jauh jauh hari.
Tidak akan ada pria yang mau menikahi seorang janda sayang, karna apa? Karna semua itu hanya dianggap sebagai kesialan saja, Hanya Sakti yang mau menerimanya Nak... Jadi kau harus memperlakukan Sakti dengan baik karena sudah mau menerima dirimu tanpa mempermasalahkan statusmu, apalagi Mamanya Sakti, beliau sangat baik kepadamu sayang... Jadilah istri yang berbakti suami dan mertuamu ya Nak, seperti kamu berbakti kepada Mama
Alfi hanya bisa pasrah menerima semuanya, Ia memang membenci Sakti tapi entah sampai kapan Ia sendiri tidak tahu, biarkan waktu yang akan menjawabnya.
" Yank..." Panggil Sakti menyenggol lengan Alfi membuatnya tersadar dari lamunannya.
" Ya...". Sahut Afi gelagapan.
" Mama nanya, kenapa kamu melamun." Ujar Sakti.
" Ah aku....
" Al sudah tidak sabar ingin menjadi istriku Ma, makanya dianmelamunkan hal hal indah bersamaku, bener kan yank." Sambung Sakti membuat Alfi jengah dengan panggilannya.
" I.. Iya Mas kamu benar." Jawabnya asal.
__ADS_1
" Sabar sayang, tinggal menunggu satu minggu lagi dan satu minggu itu tidak akan lama kok." Ucap Sakti mengerlingkan sebelah matanya, sambil mengusap pucuk rambut Alfi.
" Apaan sih..." Cebik Alfi.
" Ma Alfi ngantuk mau tidur dulu ya." Pamit Alfi.
" Baiklah sayang selamat Malam." Ucap kedua Mamanya bebarengan. Alfi segera berdiri tapi tangannya dicekal oleh Sakti.
" Yank... Aku nggak di ajak nih." Goda Sakti.
" Bukan Muhrim." Ketus Alfi. Ia menyentak tangan Sakti, lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
" Ya udah Jeng karna udah malam ayo kita tidur." Ajak Mama Elin.
" Ah baiklah Jeng." Sahut Mama Cintia.
Tak lama kemudian mereka bertiga masuk ke kamar masing masing. Mama Cintia dan Sakti memang menginap di sini, karna hari sudah terlalu larut untuk pulang ke kota. Besok pagi mereka akan pulang, untuk menyiapkan acara pernikahannya. Mama Cintia meminta Acara pernikahannya di adakan di kediamannya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹💞💞💞💞🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi harinya setelah sarapan, Mama Cintia dan Sakti pamit pulang. Mama Elin dan Alfi mengantarnya sampai ke depan pintu.
" Sayang, Mama pulang dulu ya, kamu jaga diri di sini." Ucap Mama Cintia.
" Harusnya kamu ikut Mama sayang biar Mama ada temennya di rumah." Ucap Mama Cintia.
" Makasih Ma, aku disini saja aku akan rumah Mama saat acara pernikahan tiba ya." Ucap Alfi menolak ajakan Mama Cintia.
" Baiklah terserah kamu saja, Mama akan menunggumu di rumah." Ucap Mama Cintia mengelus pucuk kepala Alfi.
" Iya Ma." Sahut Alfi.
" Yank... Mas pulang dulu ya, ingat jangan rindu lho nanti berat, biar Mas aja yang menahannya." Goda Sakti mengerlingkan matanya.
" Gak ada ya aku rindu sama kamu, paling juga kamu yang rindu sama aku hhhh, kasihan deh kamu Mas." Alfi tertawa membuat Sakti menyunggingkan senyumnya.
" Yaudah Mama pulang dulu, jaga diri baik baik ya, kalau ada apa apa segera hubungi Sakti atau Mama." Ujar Mama Cintia.
" Iya Ma." Sahut Alfi menyalami Mama Cintia dengan takzim.
Sakti juga menyodorkan tangannya agar di salim Alfi juga.
__ADS_1
" Mau apa sih Mas?" Tanya Alfi yang bukan tidak paham maksudnya tapi males aja.
" Latihan sayang... di salim juga donk." Ujar Sakti membuat kedua mamanya senyum2.
" Iya Sayang, Itung itung latihan biar gak canggung nanti setelah menikah." Timpal Mama Elin.
" Bukan muhrim Ma, gak boleh saling bersentuhan sebelum halal, besok aja kalau dah halal pasti aku lakuin kok." Elak Alfi.
" Benar Alfi Sak, sekarang kalian belum muhrim juga nanti aja kalau dah halal, kamu mau ngapain aja bebas dah halal ini, ayo ah keburu siang, saya pamit ya jeng terima kasih udah menyambut kami dengan penuh kehangatan." Ucap Mama Cintia.
" Sama sama Jeng." Sahut Mama Elin.
" Assalamu'alaikum." Ucap Mama Cintia.
" Wa'alaikumsallam." Jawab Mama Elin dan Alfi bersamaan.
" Hati hati Ma." Ucap Alfi.
Sakti dan Mama Cintia segera masuk ke mobil mereka. Setelah mengklakson tanda pamit, Sakti melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mama Elin dan Alfi pun segera masuk kedalam rumah kembali.
" Alfi... Mama mohon padamu Nak, setelah menikah dengan Sakti jadilah Istri solehah, lupakan semua kesalahannya, toh dia tidak sengaja melakukannya kan? Ingat semuanya sudah takdir nak, bukalah lembaran baru agar kamu bisa bahagia. Ingatlah pesan Mama Ini, karna setelah ini entah Mama masih bisa menasehati kamu lagi atau tidak." Ujar Mama Elin setelah mereka duduk di sofa ruang tamu. Alfi menatap netra mertuanya. Ada sorot kesedihan di sana. Apa yang sebenarnya terjadi.
" Kenapa Mama ngomong seperti itu? Tentu saja Mama masih harus selalu menasehatiku, akukan belum bisa jadi orang baik Ma, aku masih butuh bimbingan Mama." Ucap Alfi dengan mata nanar. Entah mengapa hatinya rasanya tak karuan.
" Umur seseorang tidak ada yang tahu sayang... Berjanjilah pada Mama, kalau kamu akan menjadi menantu dan istri yang baik." Mama Elin menatap Alfi yang duduk menyerong di sampingnya.
" Aku akan berusaha Ma, tapi aku butuh waktu untuk menerima Sakti dalam hidupku." Jawab Alfi.
" Yang penting jangan terlalu lama nak, jangan biarkan Sakti lelah dan menyerah." Ucap Mama Elin lembut.
" Baiklah Ma, doakan saja aku bisa cepat menerimanya dan membuka hatiku untuknya." Ujar Alfi.
" Doa Mama akan selalu menyertaimu sayang, ya udah hari ini Mama ingin istirahat di kamar ya.." Ucap Mama Elin berjalan menuju kamarnya. Hal itu membuat Alfi heran, ada apa dengan mertuanya seperti ada yang di sembunyikannya, tapi apa?.
TBC......
Jangan lupa like koment dan votenya ya...
Terima kasih untuk para reader yang sudah mensuport author selama ini..
Semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...