
Sakti, Neha dan Nervan saat ini sedang dalam perjalan pulang ke rumah Sakti yang dulu di tempati bersama Alfi dan Aroon dengan menumpangi taksi. Sesampainya di rumah, Sakti segera memencet bel rumahnya, Tak lama kemudian pintu terbuka dari dalam.
" Den Sakti.." Pekik Bi Imah menutup mulutnya dengan kedua tangannya
" Ya Allah Den, Den Sakti pulang, Bibi seneng banget Den akhirnya Den Sakti pulang ke rumah." Ucap Bi Imah memeluk Sakti, tetapi tidak ada balasan.
" Den Sakti kenapa?" Tanya Bi Imah melepas pelukannya.
" E.. Maaf Bi, aku lupa Bibi ini siapa ya?" Tanya Sakti.
Bi Imah menatap Sakti tidak percaya? Apakah Sakti hilang ingatan atau bagaimana? Pikir Bi Imah.
" Saya Bi Imah Den, pekerja di sini yang mengurus Aden daei kecil sampai dewasa, bahkan Bibi juga yang mengurus Den muda Aroon beberapa tahun lau." Jelas Bi Imah.
" Maaf ya Bi, jika saya melupakan Bibi." Ujar Sakti.
" Tidak pa pa, silahkan masuk Den." Ucap Bi Imah.
" Eh.. ini siapa Den?" Tanya Bi Imah yang baru menyadari ada orang lain di belakang Sakti.
" Aku istri Sakti dan ini putra kami, Nervan, majikan kecil Bibi juga." Sahut Neha nyelonong masuk ke ruang tamu.
Bi Imah kaget, bagaimana bisa majikannya pulang membawa istri dan anak yang seumuran dengan Aroon, padahal majikannya baru hilang selama tiga tahun.
" Apa Den Sakti menikahi janda ya?" Batin Bi Imah.
" Bi buatin aku minum donk haus." Titah Neha.
" Baik Non." Sahut Bi Imah.
" Bi, nanti antar mereka ke kamar tamu ya." Ucap Sakti.
Bi Imah mengerutkan keningnya tapi Ia tidak mau banyak tanya, karna Sakti baru kembali ke rumah, Ia akan menanyakannya nanti saja.
" Baik Den." Jawab Bi Imah.
Sakti berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia mengunci pintu karna tidak mau di ganggu orang lain. Ia mengedarkan pandangannya, Ia menatap foto pernikahannya dengan Alfi yang terpajang di dinding depan ranjangnya, tak terasa air matanya menetes begitu saja, merasakan sesak di dadanya.
__ADS_1
" Kenapa kamu menolak kehadiran Papa Aroon? Kenapa sepertinya kamu begitu membenci Papa? Papa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Papa juga tidak mengingat jika Papa telah meninggalkan kalian, tapi kenapa kamu begitu membenci Papa seolah olah Papa yang berdosa dalam hal ini.... Maafkan Papa sayang, Al.. maafkan aku, ku mohon kembalilah padaku Hiks hiks." Tangis Sakti.
" Kenapa aku tidak mengingat semuanya? Kenapa ingatan ini sangat payah, aku harus mengingat semuanya, apa benar aku sudah menikahi wanita lain? Atau Neha membohongiku? Atau benarkah ucapan Neha jika aku sudah punya hubungan dengannya saat aku masih bersama Alfi? Tidak... Itu tidak mungkin... Aku hanya mencintai Alfi lalu bagaimana bisa aku memiliki hubungan dengannya? Ingatlah Sakti... Coba kau ingat semuanya." Sakti memukul mukul kepalanya. Ia ingin segera mengingat semuanya.
Neha mengatakan kalau Nervan adalah hasil hubungan gelapnya bersama Sakti sebelum kecelakaan itu terjadi. Tapi kecelakaan apa yang di maksud Neha? Sakti sendiri pun tidak mengingatnya.
" Ahhh..... " Teriak Sakti.
" Aku harus membuktikan kalau aku tidak bersalah, entah mengapa aku menangkap kebohongan di mata Neha, setiap aku tanya pasti dia selalu menjawab dengan gelagapan, aku akan menyelidiki semuanya, jika dugaanku benar kalau Neha hanya memanfaatkan aku, maka kau akan tahu sendiri akibatnya Neha..." Geram Sakti.
Sakti menatap buku di atas nakas, sepertinya itu buku telepon. Ia segera mengambilnya dan membukanya, Ia membaca satu persatu nama, Ia berhenti saat menyebut nama Yogi, Ia mencoba mengingat siapa Yogi, tak lama Ia pun sedikit mengingatnya.
Yogi teman kecilnya sekaligus orang yang di percayanya untuk mengelola cabang cafenya. Sakti mengambil ponselnya, Ia mendial satu persatu nomor yang tertulis di buku itu. Sakti menunggu seseorang mengangkat panggilannya.
" Halo." Ucap Seseorang di sebrang sana.
" Halo Gi." Sapa Sakti.
" Siapa." Sahut Yogi.
" Gue Sakti." Ujar Sakti.
" Iya, gue masih hidup." Sahut Sakti.
" Ah syukurlah kawan, ada apa lo nelepon gue?" Tanya Yogi.
"Gue mau minta bantuan lo untuk menyelidiki seseorang, dan kejadian apa yang menyebabkan gue pergi dan hilang ingatan." Ujar Sakti.
" Lo hilang ingatan? Tapi sekarang Lo inget gue." Tanya Yogi bingung.
" Ingatan gue kembali tapi baru separuh, aku masih belum mengingat apa yang terjadi sejak kepergian gue dari rumah, seingat gue, sebelum gue berangkat ke kantor, gue menjanjikan akan pulang cepat karna mau merayakan ulang tahun Aroon, tapi setelah itu gue tidak ingat apa apa." Terang Sakti, Yogi hanya manggut manggut saja.
" Lo inget Aroon ulang tahun keberapa saat lo pergi." Tanya Yogi.
" Ke empat." Jawabnya.
" Sekarang Aroon berusia tujuh tahun, berarti lo ngilang selama tiga tahun." Ujar Yogi.
__ADS_1
" Iya dan anehnya, gue udah nikahin orang, dan anak gue berumur enam tahun." Ucap Sakti.
" Kok bisa?" Tanya Yogi terkejut.
" Katanya gue sudah menjalin hubungan dengannya sebelum aku menikahinya, dan anak itu hasil hubungan gelap gue." Sahut Sakti.
" Setahu gue lo selalu setia sama Alfi, nggak mungkin kan lo menjalin hubungan dengan wanita lain, ya sudah jangan terlalu di pikirkan sekarang lo kirim aja foto orang itu, gue akan berusaha mencari infonya dan menemukan kebenarannya." Ujar Yogi.
" Baik, aku kirim sekarang, makasih Bro." Ucap Sakti.
" Sama sama." Balas Yogi.
Sakti mematikan sambungan teleponnya, Ia segera mengirim foto Neha ke ponsel Yogi.
" Apa kau sedang bermain main denganku Neha? Mau tak mau aku harus melakukan tes DNA kepada Nervan, dengan begitu aku akan tahu sebenarnya dia anak siapa." Gumam Sakti.
Setelah itu Sakti membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mencoba memejamkan matany, berharap Ia bisa secepatnya membongkar kebenaran ini. Sakti tidak mau kehilangan Alfi, istri yang sangat di cintainya.
" Pantas saja aku selalu merindukanmu, aku selalu merindukan putraku, walau ada Neha dan Nervan tetapi rasanya hatiku hampa walau di samping mereka, ternyata bukan nama Neha yang ada di hatiku, tapi kamu Alfia.." Gumam Sakti yang kemudian terlelap dalam tidurnya.
Di dalam kamar tamu Neha dan Nervan sedang tiduran di atas ranjang. Neha mengusap usap kepala Nervan dengan lembut.
" Bu, apa benar tadi itu Abang aku?" Tanya Nervan penasaran.
" Iya, dia Abangmu tapi beda ibu." Sahut Neha.
" Kenapa Abang terlihat membenciku Bu? Memangnya apa kesalahan yang aku lakukan kepadanya?" Nervan bertanya lagi.
" Dia hanya iri karena Ayah lebih menyayangimu dan memilih hidup bersama kita dari pada bersamanya dan ibunya." Ujar Neha.
" Kenapa kita tidak tinggal bersama saja Bu? Kan lebih ramai jika kita tinggal bersama sama, Nervan juga ada teman mainnya." Ucap Nervan.
" Tidak bisa sayang, mereka tidak menerima kita sebagai keluarga mereka, mereka jahat." Sahut Neha.
" Sekarang tidurlah, ingat jangan nakal ya, jangan sampai Ayah meninggalkan kita." Ucap Neha.
" Baik Bu." Sahut Nervan memejamkan matanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan semua usahaku sia sia, aku akan tetap mempertahankan Sakti demi kebahagiaan putraku, Alfia? Dia bahkan sudah mendapatkan pengganti Sakti yang jauh lebih dari segalanya kan? Jadi semuanya sudah adil dan sudah dalam porsinya masing masing." Batin Neha tersenyum smirk.
TBC....