
Alfi tetap kukuh pada keputusannya. Ia belum mau pulang ke rumah. Ia masih mau meyakinkan hatinya untuk membuka lembaran baru bersama Sakti.
Pagi ini Alfi ingin membuat sarapan, Ia sedang berkutat di dapur tapi tiba tiba perutnya mual. Ia segera berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.
Huek... Huek.. Huek....
Alfi terus saja mual dan muntah.
" Sayang..." Ucap Sakti yang datang tiba tiba. Ia memijat tengkuk Alfi dengan pelan.
" Kenapa hmm?" Tanya Sakti lembut.
" Gak tahu Mas, tiba tiba mual gini." Sahut Alfi membersihkan mulutnya.
" Sudah enakan?" Tanya Sakti.
" Sudah." Sahut Alfi.
" Mas bantu ke kursi ya." Ucap Sakti. Lalu Ia memapah Alfi duduk di kursi.
" Duduk dulu jangan melakukan kegiatan apapun." Ucap Sakti.
" Aku jadi ingat saat aku masak buat kamu, tapi kamu menolaknya Mas, kamu malah milih makan bersama Diana, padahal waktu itu aku juga mual mual gini saat memasaknya, tapi aku tahan demi menyiapkan makanan untukmu, tapi semuanya sia sia." Ujar Alfi sedih.
" Maaf.. aku tidak tahu jika perjuanganmu membuatku makanan sesulit ini, maafkan aku sayang." Sesal Sakti.
" Mungkin aku bisa memaafkan tapi aku sulit untuk melupakan, rasa sakit yang kamu berikan sudah mendarah daging dalam tubuhku Mas, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa." Sahut Alfi.
Sakti menghela nafasnya.
" Aku tahu sayang, aku akan menerima bagaimanapun sikapmu kepadaku." Sahut Sakti pasrah
" Oh ya sayang aku sampai lupa, di depan ada Diana yang ingin menemuimu, dia ingin menjelaskan semua kesalah pahaman ini." Sambung Sakti.
" Diana?" Tanya Alfi mengerutkan keningnya.
" Iya, ayo temui dia." Ujar Sakti.
__ADS_1
" Nggak mau, aku lagi malas kemana mana." Sahut Alfi.
" Mas turunin aku." Pekik Alfi saat merasa tubuhnya melayang karna Sakti menggendongnya ala bridal style menuju ruang tamu.
Sakti menurunkan Alfi di sofa ruang tamu di mana Diana sedang duduk menunggunya. Diana yang melihat semua itu hanya mengepalkan tangannya saja.
" Mau apa kamu kemari? mau pamer kartu undangan pernikahan." Ketus Alfi.
" Sayang..." Ucap Sakti menatap lembut kearah Alfi.
" Amu ke sini untuk meminta maaf padamu Al, maafkan atas semua kesalahanku yang sudah membohongimu, aku dan Sakti tidak ada hubungan apa apa, cincin ini adalah cincin pemberian ayahku, bukan pemberian Sakti." Ucap Diana.
" Lalu untuk apa kamu melakukan semua ini?" Selidik Alfi.
" Jujur aku memang menyukai Sakti, tapi aku bisa apa kalau ternyata Sakti hanya mencintamu, sebenarnya aku ingin memisahkan kalian dan merebut Sakti darimu, tapi aku sadar kalau semua itu tidak bisa aku lakukan, cinta Sakti bsgitu besar untukmu, maafkan aku Fi." Sesal Diana.
Alfi menatap tajam kearah Diana, Ia tahu kalau Diana tidak tulus meminta maaf kepadanya, entah apa lagi yang akan Diana rencanakan.
" Aku tidak peduli walaupun cincin itu pemberian Mas Sakti, sudahlah aku akan memaafkanmu dan sekarang pergilah dari rumahku." Ucap Alfi.
" Benarkah kamu mau memaafkan aku?" Tanya Diana dengan mata berbinar, ternyata semudah itu Alfi memaafkannya.
" Baiklah jika itu maumu, aku akan segera mengundurkan diri dari pekerjaanku." Ujar Diana terpaksa.
" Tidak perlu Di, aku akan kerepotan kalau tidak ada kamu, kamu sangat kompeten dalam hal ini dan aku tidak bisa menghandle cafe sendirian, apalagi untuk mencari pegawai baru sepertimu sangat susah." Timpal Sakti membuat Diana tersenyum smirk ke arah Alfi.
Alfi menatap Sakti dengan rasa tidak percaya, Kalau Diana masih berada dalam lingkup kehidupan Sakti, lalu siapa yang akan menjamin kalau Diana tidak akan membuat ulah lagi. Sepertinya Sakti benar benar tidak peka akan keinginannya.
" Baiklah terserah kalian saja, jika sudah tidak ada yang ingin di bicarakan, pintu keluar masih terletak pada posisi yang sama, saya mau istirahat." Ucap Alfi segera beranjak menuju kamarnya.
Hati Alfi begitu dongkol dengan suaminya. Dia baru saja akan memaafkan Sakti, tetapi Sakti sudah berulah lagi. Kapan akan selesainya pertikaian mereka? Author juga tidak tahu he he.
" Yank tunggu Yank.." Panggil Sakti segera menyusul Alfi, sebelum Alfi menutup pintu kamarnya, Sakti sudah nyelonong duluan.
" Yank, kamu ngambek lagi, jangan donk yank." Ucap Sakti.
" Aku pusing mau istirahat, silahkan pulang atau kalau tidak antar Diana, takut kesasar entar." Sindir Alfi.
__ADS_1
" Kamu cemburu Yank." Goda Sakti.
" Sory gak minat, kalau kamu bisa dapat yang lainnya aku juga bisa dapat yang lainnya juga kok, yang lebih segalanya dari kamu." Ucap Alfi duduk di tepi ranjang di ikuti oleh Sakti.
" Yank kumohon mengertilah, selain Diana pekerja yang handal, Diana juga sahabatku dari kecil, sebelum ayahnya meninggal beliau menitipkan Diana kepadaku, aku punya tanggung jawab kepadanya Yank." Terang Sakti.
" Terserah kamu saja Mas, kalau kamu pengin tanggung jawabmu terus terpenuhi, maka nikahi saja dia dan lepaskan aku, aku tidak mau hidup dalam bayang bayang pelakor." Ketus Alfi.
" Alfia Madan." Bentak Sakti membuat Alfi berjingkrak.
" Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak akan melepasmu, aku tidak akan menceraikanmu, kita akan hidup bersama selamanya, entah itu kamu suka atau tidak yang jelas aku tidak akan pernah menceraikanmu." Ujar Sakti.
" Lalu untuk apa kita hidup bersama kalau tidak bahagia? Aku tidak mau terus terusan menahan luka yang tidak ada ujungnya Mas, aku tidak mau." Teriak Alfi.
" Sayang tenanglah! Kendalikan dirimu jangan seperti ini." Ucap Sakti.
" Aku tidak mau berdebat denganmu saat ini, sekarang pergilah dari rumahku, aku akan menemui Mama lain waktu, pergilah sekarang juga." Usir Alfi.
" Kenapa kau keras kepala sekali sayang? Jangan seperti ini, mengertilah." Ucap Sakti lembut.
" Terus aku harus bagaimana Mas?Aku tidak mau mengerti, aku tidak mau terluka lagi, sekarang aku mohon pergilah..." Lirih Alfi.
Entah mengapa emosi Alfi akhir akhir ini tidak stabil, apa yang keluar dari mulutnya tidak sinkron dengan hatinya. Hatinya ingin kembali pada Sakti dan hidup dengan damai dan bahagia, tapi bibirnya berkata tidak, karna takut terluka lagi hatinya. Apakah ada yang pernah merasakan seperti Alfi. Tolong bantu Alfi, dia harus bagaimana.
" Shhh auh... auh..." Alfi memegangi perutnya.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Sakti menyentuh pundak Alfi.
" Awh.. sakit Mas.... Perutku sakit." Alfi terus merintih sambil memegangi perutnya. Sakti segera menghampirinya. Tiba tiba Alfi pingsan dalam pelukan Sakti.
" Sayang... sayang... Bangunlah sayang." Sakti menepuk pelan pipi Alfi, tetapi Alfi tidak bergeming. Sakti segera membopong Alfi masuk kedalam mobilnya, Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
TBC....
Alfi kenapa nih? Kok tiba tiba pingsan?
Jangan lupa like vote koment dan hadiahnya ya...
__ADS_1
Miss U All....