
Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit, hari ini Alfi pulang dari rumah sakit. Ia meletakkan Babby Khanna di sebelah ranjangnya. Alfi duduk bersandar di sebelah Babby Khanna sedangkan Aroon dan Nervan duduk di samping Babby Khanna.
" Adek kamu lucu banget sih." Ucap Nervan menoel pipi Khanna.
" Adiknya siapa dulu, adik Abang ya harus lucu lah." Sahut Aroon.
" Iya Bang Adek mirip banget sama Abang." Ujar Nervan.
Tiga hari membuat Aroon dan Nervan semakin dekat. Namun ada kalanya Aroon kebencian timbul di hari Aroon saat Ia melihat Sakti dan Nervan bersama. Hal itu membuat Alfi dan Sakti nampak bahagia. Mereka tidak menyangka jika kehadiran Khanna mampu membuat keduanya menjadi akur.
Nervan akan selalu mengalah dengan apapun yang Aroon inginkan. Ia menyadari jika Aroon lebih berhak atas keluarga ini. Ia hanya akan menangkap sisanya.
" Aroon Nervan." Panggil Sakti.
" Iya Pa."
" Iya Yah." Sahut keduanya bersamaan.
" Kalian sarapan dulu ya, nanti main sama Adek lagi." Ucap Sakti.
" Sebentar lagi deh Yah, Nervan masih mau main dulu sama Adek Khan." Ujar Nervan.
" Kalau Abang mau makan apa mau main dulu nih? Makan aja dulu ya, kan dedeknya masih tidur juga." Ucap Sakti.
" Aku makan dulu aja Pa, nanti baru main lagi." Sahut Aroon beranjak.
" Baiklah ayo sama Papa." Ajak Sakti menggandeng tangan Aroon.
Nervan sengaja memilih bermain dulu karena Ia tidak mau mengganggu Aroon makan dengan Sakti. Walaupun sebenarnya Nervan merasa lapar. Ya walaupun keduanya sudah dekat namun Nervan tetap menjaga batasan untuk hubungannya dengan Sakti, Ia tidak mau Aroon membencinya lagi.
" Kalau kamu lapar, makan dulu gih." Ujar Alfi.
" Enggak Ma nanti aja." Sahut Nervan menciumi pipi Khanna.
" Mama tahu Van kalau sebenarnya kamu juga lapar, kamu hanya ingin memberi waktu kepada mereka berdua, semoga suatu saat nanti Aroon bisa melihat ketulusanmu sayang." Ujar Alfi dalam hati.
" Mama, apa Mama lapar? Kalau Mama lapar Nervan bisa mengambilkan makanan untuk Mama ke sini." Ujar Nervan menatap Alfi.
" Iya Mama lapar." Sahut Alfi.
" Kalau Mama lapar aku ambilkan makanan ya." Ujar Nervan.
" Tapi ambil juga buat kamu ya, kita makan sama sama di sini." Ucap Alfi.
" Mama mau makan berdua sama aku?" Tanya Nervan.
" Mau donk Kak." Sahut Alfi.
" Baiklah aka Kak Nervan ambilkan makanan dulu." Ujar Nervan semangat.
Nervan keluar kamar menuju dapur. Di sana masih ada Sakti dan Aroon yang sedang enak memakan makanannya.
__ADS_1
" Kamu mau makan juga Van?" Tanya Sakti.
" Nervan mau ngambilin makanan untuk Mama Yah, sekalian Nervan juga mau makan sama Mama di kamar." Sahut Nervan.
" Sini Papa ambilkan ya, nanti bawa ke kamar." Ujar Sakti.
" Aku ambil sendiri aja Yah." Ujar Nervan.
" Nanti berantakan sayang, lagian biar cepat juga kan kasihan kalau Mama nunggunya lama." Ucap Sakti.
" Baiklah Yah, Nervan nurut saja." Sahut Nervan pasrah.
Sakti mengambil makanan ke dalam dua piring yang berbeda. Ia meletakkannya di atas nampan.
" Kamu bisa bawanya?" Tanya Sakti memberikan nampan makanan kepada Nervan.
" Bisa Yah, makasih." Sahut Nervan membawa nampan berisi makanan ke dalam kamar Alfi.
" Cari muka." Cebik Aroon.
" Sayang jangan berkata seperti itu donk, kasihan Nervan." Ujar Sakti.
" Papa belain dia?" Selidik Aroon.
" Ah tidak sayang." Sahut Sakti.
" Awas aja kalau sampai Papa belain Nervan, aku akan kembali membencinya." Ancam Aroon.
Di dalam kamar Alfi, Nervan menghampiri Alfi dengan nampan berisi makanan di tangannya.
" Ini Ma, silahkan makan dulu." Ucap Nervan meletakan nampan di atas nakas. Lalu Ia memberikan sepiring makanan kepada Alfi.
" Terima kasih sayang." Ucap Alfi.
" Sama sama Ma." Sahut Nervan.
" Ayo kita makan bareng." Ucap Alfi.
" Nervan makan di sofa aja Ma, takut berantakan entar jadi kotor kasur Adek." Ujar Nervan berjalan menuju sofa sambil membawa piring makanannya.
" Iya sayang." Sahut Alfi menatap Nervan.
" Di makan donk Ma." Ucap Nervan.
" Ah iya sayang." Sahut Alfi mulai menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.
" Ma besok kalau Nervan udah besar, Nervan janji akan menjaga Adek Khan dengan baik, Nervan tidak akan membiarkan Mama dan Ayah mendapat kesulitan apapun." Ucap Nervan membuat Alfi terharu.
" Terima kasih sayang kamu sudah menjadi anak yang baik untuk kami, semoga suatu hari nanti kamu akan selalu di limpahkan kebahagiaan yang tiada tara." Ucap Alfi.
" Amin makasih Ma." Sahut Nervan.
__ADS_1
" Mama udah selesia makannya?" Tanya Nervan yang sudah menyelesaikan makannya.
" Udah sayang." Sahut Alfi meletakkan piring kotornya di atas nampan.
" Nervan bawa ke bawah dulu ya Ma, Mama juga istirahat, nanti biar Nervan yang jagain Adek Khan." Ujar Nervan.
" Iya sayang." Sahut Alfi.
Nervan kembali membawa nampan ke dapur. Perhatian Nervan begitu membuat Alfi terharu.
" Semoga kelak kau akan mendapatkan kebahagiaan sayang, Mama akan selalu berusaha untuk bersikap adil kepada kalian berdua, kamu dan Aroon sama sama anak Mama yang Mama sayangi, kamu tidak patut untuk di benci karena kamu tidak tahu apa apa tentang kelakuan ibumu kepadaku." Monolog Alfi.
Ya Alfi selalu berusaha untuk adil dalam membagi kasih sayang kepada Aroon dan Nervan. Selama ini Nervan lebih dekat dengan Alfi, karena Ia tahu jika Sakti adalah milik Aroon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari hari berlalu tak terasa kini usia Khanna sudah menginjak lima tahun. Nervan semakin menyayangi Khanna. Ia selalu dekat dengan Khanna dan apapun kemauan Khanna selalu Nervan turuti.
Alfi yang melihat semua itu merasa sangat bahagia. Hubungan Sakti dan Aroon pun semakin dekat. Shiv juga menyayangi ketiga anak Alfi. Ia tidak membedakan antara Aroon dan Nevan. Tapi Shiv tetap lebih memprioritaskan Aroon terlebih dahulu di banding Nervan.
" Kak Nervan buatin Khan pesawat donk." Ucap Khanna memberikan kertas kepada Nervan.
" Baik Adekku sayang." Sahut Nervan mencium pipi Khanna.
Nervan segera melipat lipat kertas menjadi sebuah pesawat kertas.
" Yei udah jadi." Sorak Khanna.
" Nih tinggal di terbangin ya Dek." Ucap Nervan.
" Iya Kak." Sahut Khanna.
" Khanna buang aja kertas itu, Abang akan membuatkan yang lebih bagus untukmu." Ucap Aroon yang baru saja bergabung. Ia membuang pesawat kertas yang di buat oleh Nervan ke sembarang arah.
Nervan mengambilnya dengan tersenyum. Ia tidak sakit hati karena Ia sudah terbiasa dengan hal ini, Aroon tidak rela jika adiknya dekat dengan Nervan. Itulah sebabnya Ia kembali bersikap buruk kepada Nervan.
Nervan akan mendekati Khanna jika tidak ada Aroon. Keduanya akan bermain bersama dengan tenang jika Aroon sedang sibuk belajar ataupun menginap di rumah Shiv...
Bhonchap nya satu bab aja ya....
Lanjut ke novel berikutnya ya....
SUAMIKU KAKAK ANGKATKU
Mengisahkan tentang kehidupan Nervan dan Khanna....
Author tunggu di sana ya....
Miss U All.....
...End...
__ADS_1