
Hari hari berlalu sebulan sudah Alfi menjauh dari Sakti. Hari hari Sakti lalui dengan kehampaan, begitupun dengan Alfi. Ia merasa tidak sanggup hidup tanpa Sakti. Cinta kedua dan terakhirnya. Saat ini Sakti sedang duduk termenung memikirkan keadaan Alfi. Ia terus bertanya tanya kemana perginya Alfi selama ini? Kenapa Ia tidak bisa menemukannya?
" Sayang sebenarnya kamu pergi kemana? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu? Bagaimana keadaanmu selama ini? Bagaimana kamu makan selama ini sayang? Aku mohon pulanglah! Jika kamu tidak mau pulang, berilah petunjuka aku akan menjemputmu, aku menyesal telah membuatmu pergi jauh dariku sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu, kamu salah paham dengan hubunganku dengan Diana sayang, aku akan menjelaskan semuanya, ku mohon beritahu aku dimana kamu sekarang?" Monolog Sakti.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di dalam sebuah rumah, Alfi sedang duduk bersandar pada sofa sambil membaca novel online favoritenya. Hari harinya terasa sunyi tanpa Sakti di sisinya namun Ia harus berusaha untuk terbiasa dengan hal ini. Toh kalau mereka bercerai Alfi akan kembali sendiri. Hatinya sudah sedikit tenang, dan Ia sebentar lagi Ia berencana untuk menemui Sakti untuk memperjelas hubungannya dengan Sakti.
" Non, ada Den Reno ingin bertemu." Alfi menoleh ke arah Bi Ijah.
" Suruh masuk aja Bi, tapi Bibi jangan jauh jauh dari sini aku mau Bibi menemanik karena aku tidak mau timbul fitnah jika menemui Kak Reno sendirian." Ujar Alfi.
" Baik Non." Sahut Bi Ijah segera mempersilahkan Reno untuk masuk ke dalam.
" Gimana kabarmu Fi?" Tanya Reno.
" Baik kak." Jawab Alfi.
" Sakti mencari kamu sampai ke tempat kerja aku." Ujar Reno.
" Untuk apa?" Tanya Alfi.
" Sakti ingin menjelaskan semuanya, katanya kamu hanya salah paham saja." Sahut Reno.
"Heh salah paham." Cibir Alfi.
Alfi menghembuskan nafasnya kasar. Bukankah waktu itu Sakti bilang mau melepasnya, lalu salah paham apa yang di maksud Sakti.
" Ibu mertuamu selalu menanyakanmu, dia curiga kalau kalian sedang ada masalah, apa kamu tidak kasihan kepadanya? Apa kamu tidak mau pulang dan menemui ibu meetuamu? Kasihan loh kalau ibu mertuamu terus terusan memikirkan kamu, nanti drop lagi kan bahaya, entar kamu nyesel." Ujar Reno.
" Iya kak, aku akan segera menemuinya." Sahut Alfi.
" Baiklah kalau begitu aku pulang dulu, jaga dirimu baik baik." Pamit Reno.
" Iya Kak, Kakak juga hati hati." Sahut Alfi.
Reno segera melangkahkan kakinya keluar rumah. Setelah kepergian Reno, Alfi segera masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan di di kantor, Sakti tidak bisa konsentrasi menyelesaikan pekerjaannya. Pikirannya hanya terfokus pada Alfi Alfi dan Alfi. Suara dering ponsel menyadarkan Sakti dari lamunannya.
" Ya bagaimana penyelidikan kalian?" Tanya Sakti setelah mengangkat panggilannya.
__ADS_1
" Nona Alfi tinggal di kediaman mantan suaminya Tuan." Ujar seseorang di sebrang sana.
" Apa? Apa kamu tidak salah info? saya sudah sering kesana dan tidak pernah melihat Alfi ada di sana." Ucap Sakti.
" Non Alfi tidak pernah keluar rumah Tuan, tapi tadi saya lihat Tuan Reno baru dari sana." Jelas anak buah Sakti.
"Oh ****..." Sakti segera menutup panggilan teleponnya setelah Ia menyadari kalau pelayan rumah itu membohonginya.
Sakti berlari menuju mobilnya, Ia melajukan mobil dengan kecepatan kencang. Setelah sampai di rumah Davi, Sakti segera mengetuk pintu.
Tok tok tok
Ceklek.....
" Ada apa tuan kemari lagi?" Tanya Bi Ijah setelah pintu terbuka.
" Aku mau menemui istriku, jangan bilang dia tidak ada di sini, cukup sudah waktu yang kuberikan untuk dia bersembunyi." Ucap Sakti segera menerobos masuk ke dalam.
" Tapi Tuan, Nona Alfi tidak ada di sini." Ujar Bi Ijah mengikuti langkah Sakti dari belakang.
" Jangan berbohong atau aku akan memecatmu." Sahut Sakti membuat Bi Ijah bungkam.
" Siapa Bi." Teriak Alfi yang berdiri di tangga, Ia ingin ke dapur mengambil minum.
" Sayang..." Ucap Sakti segera menghampiri Alfi.
Glekkk...
Sakti menelan ludahnya dengan kasar kala melihat Alfi yang memakai hotpants dan tanktop saja sehingga memamerkan paha mulusnya. Sakti segera menyeret Alfi masuk ke dalam kamar Alfi. Sakti mengunci pintu, Ia memundurkan tubuh Alfi hingga menempel pada dinding.
Sakti mencium bibir Alfi, membuat Alfi melongo, kesempatan bagi Sakti untuk menelusupkan lidahnya, Ia mengabsen setiap inchi mulut Alfi. Ia mencecap bibir yang selama ini menjadi candunya. Setelah dirasa kehabisan nafas, Sakti melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Alfi dengan jempolnya.
Plakkkk....
Alfi menampar pipi Sakti hingga memerah. Ia merasa di permainkan, setelah Sakti menyakitknya tiba tiba ia datang menciumnya dengan penuh nafsu. Sungguh Alfi merasa di samakan dengan wanita *****di luar sana.
" Al....." Ucap Sakti sambil memegangi pipinya.
" Pergilah Mas." Usir Alfi.
__ADS_1
" Aku akan pergi jika kamu ikut denganku." Sahut Sakti.
" Ikut kemana maksusmu? Rumahku yang sebenarnya ada disini." Sahut Alfi
" Bukan, sekarang ini bukan rumahmu lagi, hanya rumahku lah tempatmu kembali." Timpal Sakti.
" Pulanglah sekarang Mas, aku masih membutuhkan waktu untuk sendiri." Usir Alfi.
" Jangan keras kepala Alfi! Sudah cukup selama satu bulan ini aku membiarkanmu menenangkan diri di sini." Geram Sakti.
" Terserah, terserah apa katamu, terserah apa yang akan kamu lakukan, aku tidak peduli yang jelas aku tidak akan kemana mana, aku akan tetap di sini, di rumah suamiku." Tekan Alfi begitu kesal dengan ucapan Sakti yang seperti tidak terjadi apa apa.
Sakti memejamkan matanya menahan emosi yang membuncah di dalam hatinya saat mendengar ucapan Alfi yang masih menganggap Davi suaminya. Sebisa mungkin Sakti tahan agar tidak terbawa emosi yang akan memperburuk keadaan.
" Al... duduk sini, akan aku jelaskan semuanya padamu, aku tidak mau ada kesalah pahaman lagi di antara kita." Ucap Sakti menepuk ranjang di sisinya. Alfi menurut saja, Ia duduk di sebelah Sakti karena Ia ingin mendengar alasan apa yang akan Sakti katakan kepadanya.
" Al... percayalah, aku hanya mencintaimu tidak ada yang lain, aku dan Diana tidak ada hubungan apa apa, aku mengabaikanmu selama ini bukan karena aku marah padamu karena kamu telah membuat Mama koma, aku melakukannya karna aku ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku, aku ingin tahu bagaimana dirimu jika jauh dariku, aku ingin kamu mengungkapkan perasaanmu padaku, aku ingin membuatmu menyadari perasaanmu walau aku harus menyakitimu, aku ingin memperjelas hubungan kita sayang." Terang Sakti. Alfi terus menatap Sakti mencoba memahami apa yang di sampaikan Sakti.
" Lalu kenapa kamu melamar Diana?" Tanya Alfi.
" Aku tidak pernah melamar siapapun." Sahut Sakti.
" Diana menunjukkan cincin yang kamu berikan untuk melamarnya." Ucap Alfi.
"Masalah cincin itu,..." Sakti menghela nafasnya.
" Cincin itu aku temukan di bawah mejaku, lalu aku mengantonginya dan ternyata cincin itu milik Diana, ya aku berikan kepadanya kan orang itu memang miliknya, Sungguh Al aku hanya mencintaimu, aku tidak berbohong sayang, aku sungguh sungguh mencintaimu bahkan sangat mencintaimu." Ucap Sakti membelai rambut Alfi.
" Sekarang pulanglah bersamaku, kita perbaiki hubungan kita yang sedikit kacau ini, maafkan aku karna telah menorehkan luka di hatimu, aafkan aku karna aku mengingkari janjiku untuk tidak menyakitimu, aku berjanji akan segera menghapus luka itu dari dalam hatimu, aku tidak bisa hidup tanpamu Al, sekarang kita pulang hmmm." Ujar Sakti lembut.
Alfi bimbang dengan perasaannya, Ia bahagia bertemu Sakti, tetapi Alfi sulit sekali untuk melupakan luka di hatinya. Bagaimana sakitnya di abaikan, bagaimana sakitnya melihat suami yang di cintainya lebih dekat dengan wanita lain. Sejatinya Wanita memang mudah memaafkan tetapi Wanita sangat sulit melupakan luka yang pernah tertanam di hatinya.
TBC.....
Kira kira Alfi mau nggak nih di ajak pulang????
*J*angan lupa like koment vote dan hadiahnya donk biar authornya semangat, Lesu nih nulisnya.
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author.... Semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All....