
Tiga bulan berlalu selama itu pula Alfi kekeh tidak mau menikah dengan Sakti. Ia masih mau sendiri dulu menghabiskan waktu dengan Mama mertuanya. Hari harinya Ia lalui dengan menyendiri di dalam kamarnya. Pagi ini saat sarapan, Alfi kembali merasa pusing, matanya berkunang kunang dan tiba tiba tubuhnya tergeletak di atas lantai. Mama Elin segera meminta tolong kepada Mang Ujang untuk mengangkat Alfi ke kamarnya. Mama menelepon Sakti memintanya untuk segera ke sini.
Setelah beberapa saat akhirnya Alfi siuman, Ia menatap Mama mertuanya yang masih setia menungguinya di samping tempat tidur. Alfi menatap seseorang yang sedang berdiri di samping Mamanya.
" Sakti." Gumam Alfi.
" Ya... Mama mengundang Sakti karna Mama mau membicarakan tentang pernikahanmu." Ucap Mama.
" Ma sudah ku bilang aku tidak mau menikah lagi, tolong hargai keputusanku donk Ma." Sahut Alfi. Ia paling malas jika harus membicarakan soal pernikahan.
" Mama khawatir dengan keadaanmu yang sering pingsan begini, Mama tidak bisa selalu menjagamu Fi." Ujar Mama Elin.
" Aku udah besar Ma, Mama tidak usah khawatirkan akan hal itu, lagian ada Mang Ujang juga Ma." Ucap Alfi.
" Sayang... Dengarkan Mama... Apa kau tahu? Davi mengirim Sakti sebagai penggantinya, sebagai pengganti yang akan menjagamu, mendampingimu, melindungimu dan bahkan mencintaimu sayang." Ucap Mama Elin. Alfi mendongakkan wajahnya menatap Mama Elin.
" Apa maksud Mama?" Tanya Alfi.
" Mama dan Davi ingin melihat kamu bahagia Nak, Mama mohon penuhi keinginan terakhir Davi sayang, menikahlah dengan Sakti." Ujar Mama Elin menitikkan air matanya membuat Alfi tidak tega melihatnya.
" Bahkan tanah makam Mas Davi belum kering benar Ma, baru tiga bulan kepergian Mas Davi tapi Mama sudah menyuruhku menikah lagi?" Tanya Alfi menatap tidak percaya kepada Mama Mertua di depannya. Bagaimana Ia tega mengatakan itu pada Alfi yang masih dalam keadaan berduka.
" Sayang.. Hidup harus terus berjalan Nak, masa depanmu masih panjang, Sakti akan menjadi pengganti Davi, Mama yakin pasti dia bisa mencintaimu sebesar Davi mencintaimu Nak." Ujar Mama Elin.
" Tidak ada yang bisa mencintaiku sebesar Mas Davi Ma, bahkan seribu Sakti sekalipun." Kukuh Alfi dingin.
" Jangan seperti itu sayang, semua orang memiliki hati masing masing, Mama yakin kalau Sakti bisa lebih mencintaimu di banding Davi." Ujar Mama Elin.
" Kenapa Mama begitu kukuh ingin aku menikah dengannya? Apa tujuan Mama sebenarnya untuk mengusirku dari rumah ini? Mama sudah tidak sanggup menampungku?" Tanya Alfi.
" Sayang jangan pernah berpikir seperti itu, Mama sangat menyayangimu sama seperti Mama menyayangi Davi Nak." Sahut Mama Elin.
" Lalu kenapa Ma? Kenapa Mama begitu kukuh ingin aku menikah dengan Sakti?" Selidik Alfi.
" Mama hanya ingin ada yang menjaga kamu setelah kepergian Mama sayang." Gumam Mama Elin.
__ADS_1
" Maaf sayang jika kamu tidak mau nggak pa pa, maafkan Mama sekali lagi." Ucap Mama Elin dengan tatapan kecewanya. Alfi menatap Mama Elin yang sedang berjalan menuju sofa.
Alfi bertanya tanya dalam hatinya, Kenapa semuanya seperti terburu buru? Apa yang Mama Mertuanya rencanakan? Ia tidak bisa menolak permintaan Mama Elin, karna baginya semua ucapan Mama Elin bagai titah baginya. Apapun keinginan Mama Elin akan selalu Ia penuhi. Ia menganggap Mama Elin sebagai ibu kandungnya. Tapi bagaimana dengan permintaannya untuk menikah lagi? Sedangkan Mama Elin tahu jika Ia masih sangat mencintai Davi. Jika memang ingin menikah kenapa harus dengan Sakti? Pria yang membuat suaminya kehilangan nyawa di depan matanya.
" Alfi.." Panggil Sakti sambil menghampirinya.
" Menikahlah denganku, aku berjanji padamu akan menyerahkan seluruh cintaku untukmu, aku akan menjaga dan mencintaimu melebihi Davi, aku mohon maafkan aku dan bantu aku menepati janjiku pada Davi, aku tidak punya banyak waktu di sini karena Mamaku sedang menungguku di rumah." Ucap Sakti memijat pelipisnya.
" Aku akan memberikan apapun maumu." Ujar Sakti meyakinkan Alfi.
" Apapun?" Tanya Alfi, Sakti menganggukkan kepalanya.
" Bagaimana jika kamu menggantikan nyawa Mas Davi dengan nyawa ibumu?" Tanya Alfi.
Deg....
Sakti dan Mama Elin tersentak kaget dengan pertanyaan Alfi. Mereka tidak menyangka jika Alfi mampu berbicara seperti itu. Alfi yang biasanya lemah lembut kenapa bisa berbicara setega itu sekarang? Apa perasaannya sudah mati bersama cintanya?
" Jaga bicaramu Alfia, jangan main main dengan nyawa seseorang, itu nggak baik Fi." Bentak Mama Elin membuat Alfi terkejut.
" Dia sendiri yang mau memberikan apapun kepadaku Ma." Kilah Alfi.
Alfi terkejut mendengar bentakan kedua Mertuanya. Selama ini Mertuanya selalu bersikap lembut padanya lalu apa ini? Dia membentaknya? apa Aku sudah keterlaluan... pikir Alfi.
" Maaf jika sudah membuat Mama kecewa, tapi untuk saat ini biarkan aku sendiri dulu Ma, aku belum berpikir untuk menikah lagi, jika aku harus menjadi janda biarkan aku jadi janda selamanya." Ucap Alfi sambil menunduk.
" Terserah padamu Fi... Mama tidak tahu dengan apalagi Mama membujukmu, Mama angkat tangan tentang hal ini karna kamu memang keras kepala, sudah lah tidak perlu di bahas lagi, Mama yang salah karna terburu buru membujukmu untuk menikah lagi." Ujar Mama Elin.
" Sakti maaf atas ucapan Alfi, jangan di ambil hati ya." Ucap Mama Elin melirik Alfi.
" Tidak pa pa Tante aku maafkan kok, jika mungkin bisa aku akan menukar nyawaku dengan nyawa Davi." Ujar Sakti.
" Terima kasih Nak kamu memang anak yang baik." Sahut Mama Elin.
" Kalau begitu saya permisi Tan." Pamit Sakti menyalami Mama Elin dengan takzim.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum." Ucap Sakti.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Mama Elin.
Sakti segera pergi dari sana tanpa mempedulikan Alfi. Ia tidak mampu menatap Aldi yang memancarkan kebencian untuknya di matanya.
" Sayang Mama mohon ikhlaskan semuanya, berdamailah dengan masa lalu dan raihlah kebahagiaanmu sekarang." Ucap Mama Elin.
" Davi menginginkan Sakti menjadi penggantinya maka wujudkanlah agar Davi tenang di sana, maafkanlah Sakti dan menikahlah dengannya Mama tidak bisa selalu menjagamu sayang... Mama semakin tua." Sambung Mama.
" Apa maksud Mama?" Tanya Alfi.
" Sebenarnya kenapa Mama memintamu segera menikah dengan Sakti karna Mama harus segera pindah ke Singapore, Mama takut tidak ada yang menjagamu nanti di sini." Ucap Mama Elin dengan lembut.
" Ma... Mama juga mau meninggalkan aku?" Alfi menatap Mama Elin tak percaya setelah kehilangan suaminya kini Ia ditinggalkan mertuanya.
" Maaf sayang waktu Mama tidak banyak, Mama harus segera pergi ke sana."Jawab Mama Elin.
" Kenapa aku tidak ikut Mama saja dan aku akan membebaskan Sakti dari janjinya." Usul Alfi berharap Mama Elin mau membawanya.
" Maafkan Mama sayang.. Mama tidak bisa membawamu, walaupun kamu sudah ku anggap sebagai putri Mama sendiri, Tapi kita tetaplah bukan siapa siapa, tanpa adanya Davi kita tetap orang lain Nak." Mama Elin terisak mengucapkan kata kata menyakitkan itu, tapi Ia harus melakukannya agar Alfi mau menikahi Sakti. Ia berharap Alfi bisa segera menemukan kebahagiaannya, dan melupakan semua kesedihannya.
" Mama tega mengatakan itu padaku." Sahut Alfi.
"Maaf sayang, tapi memang itu kenyataannya." Ucap Mama Elin.
" Kamu mau kan mewujudkan keinginan Davi? Menikahlah dengan Sakti dengan begitu Mama akan tenang meninggalkanmu bersama Sakti disini, anggaplah ini sebagai bukti cintamu pada Davi Nak." Mama Elin terus memohon kepadanya.
Alfi berpikir sejenak, sekuat apapun Ia menolak keinginan mertuanya tetap saja ujung ujungnya Ia akan menikah dengan Sakti. Ia berpikir mungkin ini garis hidup yang harus Ia jalani. Menikah dengan pria yang Ia benci.
" Aku akan membalas rasa sakit ini kepadamu Sakti Arviano, Kau yang bertanggung jawab atas penderitaan yang ku alami sekarang, Setelah kau membuatku kehilangan suamiku, sekarang kau membuatku di tinggalkan ibuku. Aku mau lihat kau bisa bertahan sampai berapa lama menghadapi kebencianku ini." Gumam Alfi dalam hati sambil melirik tajam kearah Sakti yang masih setia berdiri di samping mama Elin.
" Beri aku waktu Ma, aku akan mencoba untuk mempertimbangkannya." Akhirnya kata itulah yang terucap dari bibirnya.
" Terima kasih sayang." Mama Elin memeluk Alfi kembali. Hatinya sedikit lega, Alfi mau mempertimbangkan semuanya.
__ADS_1
Sedangkan di balik pintu Sakti tersenyum lega, Ia berharap Alfi mau menerimanya. Dengan perlahan Ia akan berusaha merebut hati Alfi.
TBC.....