
Setelah beberapa hari di Pulau B, malam ini Aroon, Alfi dan Shiv kembali ke kota. Setelah menaiki pesawat akhirnya kini ketiganya sampai di Bandara.
Dari Bandara ketiganya menaiki mobil Shiv menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Aroon segera mandi dan beristirahat di dalam kamarnya. Sedangkan Alfi masih menemani Shiv di ruang tamu, dengan secangkir kopi dan camilan di atas meja. Terlihat keduanya sedang bersantai.
" Makasih Mas atas kebaikanmu selama ini, terima kasih karena kamu telah memberikan kebahagian kepada kami, kamu selalu membuat Aroon tertawa dan tidak merasa kesepian karena kepergian Mas Sakti, tapi maaf Mas karena sampai sekarang aku belum bisa membalas perasaanmu." Ucap Alfi merasa bersalah.
" Jangan di pikirkan terlalu dalam Al, dan jangan jadikan perasaanku kepadamu sebagai sebuah beban, mending kita jalani aja seperti air yang mengalir, kita pasrahkan saja pada yang kuasa karena jodoh ada di tangannya, nanti kalau penantianmu sudah berakhir baru kamu pikirkan langkah selanjutnya, apapun keputusan yang akan kau ambil, aku menerimanya dengan ikhlas." Ujar Shiv lembut.
" Terima kasih Mas atas kesabaran dan pengertianmu." Sahut Alfi.
" Ya sudah karena hari sudah larut malam, aku pulang dulu ya kamu istirahatlah." Pamit Shiv.
" Hati hati Mas." Sahut Alfi.
Shiv beranjak berjalan keluar di antar Alfi sampai ke teras.
" Aku pulang ya, jangan lupa istirahatlah dan selalu bahagia." Ucap Shiv mengusap kepala Alfi.
" Iya Mas, hati hati, sampai berjumpa lagi." Sahut Alfi.
Shiv masuk ke dalam mobilnya, lalu Ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Alfi. Setelah Mobil Shiv menghilang dari pandangannya, Alfi segera masuk ke dalam. Ia ingin beristirahat agar pikirannya menjadi fresh.
Sedangkan di Kota lain, tepatnya di kota D di pulau B.
" Neha, besok aku mau kembali ke rumah." Ucap Sakti.
" Rumah mana?" Tanya Neha mengernyit.
" Rumahku yang di kota J." Jawab Sakti.
Deg....
" Emang kamu punya rumah di sana?" Tanya Neha menatap Sakti.
" Iya." Sahut Sakti.
" Apa Sakti sudah mengingat semua?Tidak... Tidak ini tidak boleh terjadi, dia tidak boleh meninggalkan aku dan Nervan." Ujar Neha dalam hati.
" Apa kau sudah mengingat semua?" Selidik Neha.
" Aku hanya ingat kalau aku punya rumah di sana." Bohong Sakti. Ia yakin Neha sengaja menyembunyikan jati diri Sakti selama ini.
" Oh... Baiklah kalau begitu aku akan menemanimu kesana, aku gak mau kamu ninggalin aku dan Nervan di sini." Ucap Neha.
" Kamu di sini saja, aku hanya beberapa hari saja ke sana, aku akan kembali secepatnya." Ujar Sakti.
" Tidak... Aku akan ikut bersamamu, aku istrimu Sak, aku takut kamu tidak kembali ke sini dan meninggalkan aku dan Nervan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Nervan jika dia jauh darimu." Ucap Neha.
Sakti sedikit berpikir, Ia tidak tega melihat Nervan sedih. Walaupun kemungkinan Nervan bukan putranya namun Sakti sangat menyayanginya. Ia sudah menganggap Nervan sebagai anak kandungnya.
__ADS_1
" Baiklah, aku akan mengajakmu dan Nervan, sekarang istirahatlah kita akan ke sana pagi pagi sekali." Ucap Sakti masuk ke dalam kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
" Aroon...Papa kembali sayang, maafkan Papa yang telah melupakanmu selama ini, semoga kalian tidak melupakan aku, dan mau menerimaku seperti dulu sebagai Papa dan suami untukmu Alfi." Monolog Sakti.
" Tapi siapa pria yang di panggil Papa oleh Aroon? Apa ini berarti Alfi sudah menikah lagi? Tidak..... Ini tidak boleh terjadi, aku tidak mau kehilangan Alfi, maafkan aku Al, aku tidak mengingat apapun selama ini, aku tidak mengingatmu dan Aroon sedikitpun, aku hanya mempercayai apapun yang di katakan Neha katakan padaku." Sambung Sakti.
Ya.... Kemarin Sakti meminta penjelasan Neha dan meminta bukti surat nikahnya, tetapi Neha berdalih semuanya hangus terbakar saat rumah mereka kebakaran. Ya memang rumah yang mereka tempati sebelumnya terbakar jadi Sakti mencoba mempercayainya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Sakti dan Neha sudah bersiap menuju Bandara. Sebenarnya Neha merasa was was, Ia takut jika Sakti sudah mengingat semuanya, Ia ingin memastikan apa yang akan Sakti lakukan di sana, makanya Ia bersikeras untuk ikut.
Sesampainya di Kota J, Sakti segera memesan taksi menuju kediamannya, tapi sayang, Alfi sudah tidak tinggal di sana, Ia langsung menuju rumah Davi. Sakti yakin Alfi dan Aroon selama ini tinggal di sana.
Sesampainya di kediaman Davi, Sakti segera turun dan memencet bel rumah.
Ceklek......
Alfi membuka pintu dan...
" Mas Sakti." Pekik Alfi tidak percaya.
Alfi langsung memeluk Sakti. Alfi merasa bahagia setelah beberapa tahun lamanya akhirnya Sakti kembali.
" Alfi maafkan aku Al, Aku pergi selama ini tanpa kabar... aku merindukanmu sayang." Ucap Sakti menitikkan air matanya.
Keduanya saling berpelukan untu beberapa saat melepas kerinduan yang membuncah dalam hati mereka. Alfi melepas pelukannya, saat Ia menatap ke belakang Sakti, nampak seorang wanita sedang menggandeng anak laki laki berdiri di belakang Sakti.
" Siapa mereka Mas?"Tanya Alfi menunjuk dua orang di belakang Sakti. Sakti menoleh, lalu Ia kembali menatap Alfi.
" Dia istri dan putraku." Jawab Sakti.
Jederrrrrrrrr.....
Bagai di sambar petir di siang hari. Alfi merasa sesak di dadanya, ternyata benar jika Sakti mengkhianatinya, rasanya kaki Alfi lunglai tak berdaya, bahkan tidak bisa menumpu beban tubuhnya.
Tanpa mau mendengar penjelasan dari Sakti Alfi segera berbalik lalu berlari masuk ke dalam.
" Sayang dengarkan penjelasanku..." Ucap Sakti mengejar Alfi, Sakti memeluk Alfi dari belakang.
" Lepas! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku! Kau mengkhianatiku Sakti." Teriak Alfi menepis tangan Sakti.
" Tidak sayang, aku tidak pernah mengkhianatimu, aku bisa jelasin semuanya padamu." Ucap Sakti menempelkan dagunya pada bahu Alfi.
" Semua sudah jelas di mataku Mas, mau jelasin apalagi? Sekarang lepaskan aku." Sinis Alfi.
" Yank... Aku tidak pernah mengkhianatimu, aku hanya mencintaimu, sampai matipun aku hanya mencintaimu dan putra kita Aroon." Ucap Sakti.
Hati Neha mencelos mendengar ucapan Sakti, usahanya selama bertahun tahun meluluhkan dan mendapatkan hati Sakti ternyata hanya sia sia.
__ADS_1
" Bohong.... Kau pembohong." Teriak Alfi, membalikkan badannya.
" Percayalah... Entah apa yang terjadi padaku, aku seperti kehilangan ingatanku, aku tidak mengingat apapun selama ini sayang, sampai tiba tiba Neha mengatakan kalau dia istriku, dan dia putraku Nervan." Terang Sakti.
" Aku tidak percaya padamu Mas setelah apa yang kamu lakukan padaku sebelum ini." Ucap Alfi.
" Percayalah padaku sayang, aku tidak pernah menduakanmu, ku mohon kembalilah padaku, terimalah mereka menjadi keluarga kita, kita bisa hidup bahagia bersama." Ucap Sakti.
" Apa? Menerima mereka? Apa kau gila Mas... Aku tidak akan menerima pengkhianat dan pelakor di dalam hidupku, baik kau dan dia..." Alfi menunjuk Sakti dan Neha bergantian.
" Aku tidak menginginkan kalian hadir dalam hidupku, sekarang pergilah, bawa pelakor dan anak harammu itu." Tegas Alfi.
" Jangan seperti ini Alfi, terima kehadiran kami setidaknya sampai aku benar benar mengingat semuanya, sampai aku benar benar mengingat siapa Neha dan Nervan sebenarnya." Pinta Sakti.
" Tidak... Aku tidak membutuhkanmu, aku sudah bahagia berdua dengan Aroon, kau pergilah urusi keluarga barumu, aku tidak menginginkanmu lagi, aku akan mengurus surat perpisahan kita." Ucap Alfi, Ia mengusap air matanya.
" Tidak.. Aku tidak mau berpisah denganmu, kau harus ikut pulang denganku." Kukuh Sakti.
" Jangan egois Mas, kau sudah bahagia bersama keluargamu, aku juga sudah bahagia hidup bersama Aroon selama ini, sekarang berjalanlah di jalan jalan masing masing." Ujar Alfi mencoba kuat.
"Aku mohon maafkan aku, jika kamu tidak mau serumah dengannya tidak apa apa, aku akan membawa mereka ke rumahku dan aku akan tinggal di sini bersama kalian, sekali lagi ku mohon maafkan aku Al... Maaf..." Sakti bersujud di depan Alfi.
" Ku mohon pergilah Mas.. kita sudah memiliki keluarga masing masing, sekarang ku mohon pergilah, tinggalkan kami seperti dulu." Usir Alfi memejamkan matanya.
" Sak.. sudahlah kita pergi saja dari sini, dia tidak akan mau menerimaku menjadi madunya, lalu untuk apa kita di sini, ayo cepat pergi." Ucap Neha.
" Diam kau Neha, ini urusanku dengan istriku, jadi jangan campuri urusanku dengannya." Bentak Sakti.
" Tapi aku juga istrimu Sak." Teriak Neha.
" Aku tidak pernah menganggapmu sebagai istriku kau tahu jelas soal itu Neha, istriku hanya Alfi... Hanya Alfia Arviano." Tekan Sakti masih dengan nada tinggi. Hati Neha terasa tertusuk duri, sakit tapi tidak berdarah.
" Hentikan... Ku mohon padamu pergilah Mas, aku akan segera mengirimkan gugatan cerai kepadamu, sekarang pergilah sebelum Aroon melihatmu, atau kalau tidak dia akan semakin terluka kamu membawa wanita lain di depannya." Usir Alfi.
" Sayang jangan katakan jika kau ingin berpisah dariku, anggap saja ini ujian untuk cinta kita, aku yakin kita bisa mengahadapi semuanya jika kita bersama." Ucap Sakti menangkup wajah Alfi.
" Pergilah mas ku mohon." Suara Alfi tak terdengar bersamaan dengan luruhnya tubuh Alfi, Sakti langsung menangkapnya.
Tiba tiba..
" Mama.....
TBC.....
Gimana ya reaksi Aroon saat melihat Papanya membawa wanita dan anak lain ke hadapannya???
Jangan lupa like koment dan votenya ya...
Miss U All....
__ADS_1