
Sakti mengerjapkan matanya, Ia merasa lengannya terasa berat. Ia menoleh kesamping dan betapa bahagianya Ia mendapati Istri tercintanya tidur di pelukannya. Ia pandangi wajah cantik di depannya, bibir manis yang Ah.. menjadi candunya saat ini. Sakti mengembangkan senyum di bibirnya lalu Ia mengelus pipi mulus istrinya dengan lembut, membuat tidur Alfi terganggu. Alfi menggeliat karena takut ketahuan Sakti segera memejamkan matanya kembali.
Alfi menggeliat membuka matanya. Pertama yang Ia liat adalah wajah tampan Suaminya yang tidur terlentang dengan lengan sebagai bantalan tidurnya. Ia baru sadar kalau mereka tidur berpelukan lebih tepatnya Alfi yang memeluk. Ia raba wajah tampan suaminya dengan pelan turun ke hidung mancungnya dan terakhir ke bibirnya.
" Wajahmu tampan juga Mas, bahkan lebih manis dari Mas Davi, bibirmu terlihat seksi kalau sedang tidur begini, tapi sayang semua ini tidak membuat hatiku terketuk untuk membukanya untukmu, mengingat kejadian malam itu aku begitu ingin membencimu, kamu merenggut pria yang aku cintai, pria yang sangat aku sayangi dan aku harapkan kehadirannya dalam hidupku untuk selamanya." Bisik Alfi.
" Jangan terlalu baik padaku! Jangan pernah mengharapkan cintaku karena cintaku sudah mati bersama Mas Davi, jangan berharap padaku aku takut membuatmu kecewa suatu hari nanti." Ucap Alfi lirih.
" Makanya segera balas perasaanku ini Yank, jika kamu mau kamu tidak akan membuatku kecewa, semua berasal dari dalam hatimu sendiri." Ucap Sakti membuka matanya membuat Alfi berjingkrak kaget.
"Apa mas Sakti sudah bangun dari tadi? Apa dia hanya pura pura tidur saja? Ah Alfi..... Ya Tuhan betapa malunya aku ketahuan memuji ketampanannya apalagi ketahuan meraba raba wajahnya, Alfi... Lo bego' banget sih." Jerit Alfi dalam hati.
" Kenapa Yank? Sepertinya kamu betah dengan posisi ini, sini mas peluk lagi." Ucap Sakti.
Alfi tersadar dengan posisinya saat ini, Ia segera duduk untuk menetralkan detak jantungnya.
" Kenapa bangun sayang? Kamu nyaman kan berada dalam pelukanku, sini Mas peluk lagi." Goda Sakti.
Alfi segera turun dari ranjang, Ia berjalan menuju kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam. Ia sangat malu ketahuan mengagumi ketampanan Sakti.
"Ah... bodoh bodoh kau Alfi...bagaimana bisa kau mengagumi ketampanannya.. bahkan sampai memeluknya." Ujar Alfi dalam hati merutuki kebodohannya.
" Ah bodo'lah nggak perlu di pikirin, sekarang lebih baik gue mandi dan turun ke bawah untuk membantu Mama menyiapkan sarapan." Monolog Alfi. Ia segera mandi membersihkan tubuhnya dan mengguyur kepalanya berharap lebih fres.
Setelah selesai Alfi segera keluar menuju ruang ganti. Setelah memakai baju Ia tidak lupa menyiapkan baju ganti untuk Sakti. Tapi Ia bingung harus menyiapkan baju apa? Mau nanya tapi masih malu karena kejadian tadi. Tapi mau tidak mau Ia tetap harus menanyakannya kepada Sakti. Terpaksa Ia keluar menghampiri ranjang dimana Sakti masih berbaring di sana.
" Mas kamu kerja gak hari ini?" Akhirnya mau tidak mau, Ia harus bertanya daripada kerja dua kali pikirnya.
" Hm... Aku libur Yank kan masih cuti pengantin baru, kenapa? Apa kamu mau mengajakku pergi honey moon sekarang juga? Mas sudah siap kalau begitu." Sahut Sakti terlentang sambil menatap Alfi yang sudah rapi dengan dress rumahannya.
" Yank kamu kok cantik banget sih, bikin aku pengin memandang wajahmu setiap saat, senyummu manis banget sumpah Yank." Ucap Sakti sambil tersenyum.
" Bodo amat." Ketus Alfi sambil berjalan menuju ruang ganti untuk menyiapkan baju casual Sakti. Sedangkan Sakti langsung meluncur ke kamar mandi sambil terkekeh melihat tingkah istrinya.
Alfi keluar kamar menuruni anak tangga menuju dapur. Di sana sudah ada Mama Cintia dan Bi Imah yang sedang meracik sayuran.
__ADS_1
" Pagi Ma." Sapa Alfi menghampiri Mama mertuanya.
" Pagi sayang... Duh pengantin baru pagi gini udah fres aja, apa tadi malam nggak lembur." Goda Mama sambil terkekeh.
" Apa sih Ma, kemarin kami capek jadi gak ada jam lembur." Jawab Alfi.
" Ok Mama mengerti, nggak lembur nggak pa pa yang penting jangan menundanya." Ujar Mama Cintia membuat hati Alfi sedikit bersalah.
" Aku bantuin Ma." Ucap Alfi mengalihkan pembicaraan.
" Gak usah biar Mama aja, Mama mau masakin kamu untuk menyambut kedatanganmu kerumah ini." Ujar Mama.
" Oh ya sayang kenalin ini Bi Imah yang bantu bantu Mama disini." Ujar Mama memperkenalkan Bi Imah kepada Alfi.
" Hai Bi aku Alfi..." Sapa Alfi menyodorkan tangannya dan di sambut oleh Bi Imah.
" Non Alfi siapanya den Sakti nih?" Tanya Bi Imah menggoda Alfi karna Alfi tidak menyebutkan statusnya.
" E...e... Alfi.. Istrinya Mas Sakti Bi." Sahut Alfi. Bi Imah dan Mama tersenyum dengan sikap Alfi yang malu malu.
" Kalau pengantin baru di kamar aja Non, layanin Den Sakti dengan baik sebentar lagi pasti nyariin Non Alfi." Timpal bi Imah.
" Baru juga di omongin udah nongol." Gumam Alfi. Alfi menyeduh secangkir kopi untuk Sakti.
" Nah baru diomongin dah nongol aja." Ujar Mama.
" Ngomongin yang baik baik ya Yank, jangan yang buruk karena kalau soal keburukanku Mama sudah tahu semuanya." Ucap Sakti. Alfi tak bergeming.
" Ini mas kopinya." Ucap Alfi meletakkan secangkir kopi di hadapan Sakti. Sakti tersenyum kearah Alfi, tapi Alfi acuh saja.
" Oh ya sayang, apa kado dari Mama Elin sudah kamu buka?" Tanya Mama yang masih meracik sayurannya.
" Belum sempet Ma." Sahut Alfi.
" Buka sekarang aja, hari ini kamu tidak boleh melakukan pekerjaan apa apa." Ucap Mama Cintia.
__ADS_1
"Ya udah deh karna aku nggak di bolehin kerja sama Mama, aku keatas dulu ya Ma mau buka kado dari Mama Elin dulu, aku penasaran Ma apa isinya." Ujar Alfi.
" Ajak Sakti juga biar bisa lihat berdua." Ucap Mama yang dibalas dengan anggukan kepala.
" Ayo Mas." Ajak Alfi.
Sakti berdiri dari kursinya, Ia merangkul Istrinya, Lalu berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
" Lepas." Ketus Alfi menggeplak tangan Sakti yang ada di pundaknya.
" Kenapa Yank?" Tanya Sakti.
" Gak ada Mama, jadi gak usah sandiwara dan jangan suka ambil kesempatan di dalam kesempitan." Ucap Alfi acuh membuat Sakti menghela nafasnya.
Alfi membuka pintu kamar mereka dan segera mengambil amplop yang kemarin di berikan mama Cintia. Ia mendekati Sakti yang duduk di atas ranjang. Ia mulai membuka amplopnya.. dan terlihatlah...
" Tiket bulan madu ke Bali." Gumam Alfi mengerutkan keningnya sambil melirik Sakti.
" Kenapa? Apa kamu tidak menginginkannya? Atau kurang jauh? Kamu mau keluar negri? Mas akan mengaturnya kalau kamu mau, katakan saja kamu mau bulan madu kemana?" Tanya Sakti beruntut.
" Aku gak minat untuk bulan madu, harusnya Mama Elin tahu itu tapi kenapa justru Mama menyiapkan semua ini." Ujar Alfi lesu.
" Mama memberikan yang terbaik buatmu sayang." Ujar Sakti beringsut menghadap Alfi. Ia menangkup wajah Alfi menatapnya dengan penuh kasih sayang.
" Kalau kamu tidak mau pergi, kita tidak akan pergi, buang saja tiket itu supaya Mama tidak mengetahuinya, karna kalau Mama sampai tahu tiket itu sudah dapat dipastikan kalau Mama akan memaksa kita untuk pergi." Ujar Sakti, walau sebenarnya Ia sedikit kecewa tetapi Ia tidak boleh egois. Ia harus pelan pelan demi mendapatkan hati Alfi.
" Lepas." Alfi menepis tangan Sakti. Entah mengapa jika Ia mengingat tentang Mama Elin atau Davi, emosinya selalu memuncak.
Alfi meninggalkan Sakti dan berjalan menuju balkon kamar. Sakti hanya bisa menatapnya, Ia tidak berani mendekatinya, takut Alfi histeris lagi. Mungkin kesalahannya tidak bisa di maafkan karna membuat Alfi kehilangan suami dan di tinggalkan mertuanya.
TBC.....
Hai readers maaf ya kalau judulnya kurang pas...
Authornya bingung mau kasih judul apa.
__ADS_1
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Miss U All...