
Ceklek....
Alfi membuka pintu perlahan. Ia masuk kedalam kamar yang bernuansa abu abu dan putih namin warna putih lebih mendominasi. Ia mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan tanpa sengaja netranya menangkap taburan bunga mawar di atas ranjang yang berbentuk love serta aroma terapi dari lilin yang menyala diatas meja membuat suasana menjadi horor menurutnya.
Alfi berjalan lalu Ia duduk di tepi ranjang, menunggu Sakti keluar dari kamar mandi. Tanpa Ia sadari jika Sakti sudah berdiri di depan pintu kamar mandi sambil menyandarkan tubuhnya yang masih mengenakan bathrobenya. Sakti menatap Alfi dengan penuh kelembutan dan cinta. Sakti mengembangkan senyumnya karena sampai saat ini Alfi belum menyadari kehadirannya.
" Ehm.. ehm.." Dehem Sakti.
Alfi menoleh kearah suara yang familiar di telinganya. Ia berjingkak kaget dan langsung berdiri menatap Sakti.
" Eh... Ma.. Mas Sakti." Ucap Alfi gugup saat melihat Sakti hanya memakai bathrobe saja. Ini pertama kalinya Ia melihat dada terbuka lawan jenisnya.
" Kamu mau duduk disitu saja atau mau mandi?" Tanya Sakti menatap kearahnya membuat Alfi semakin gugup.
" Ah.. a.. Aku...
" Atau jangan jangan kamu sudah siap menerima semuanya?" Sambung Sakti. Alfi bukan orang bodoh yang tidak mengerti kemana arah omongan Sakti.
" Gak ada yan jangan GR." Sahut Alfi berjalan kearah Sakti.
" Minggir aku mau mandi." Ketus Alfi menubruk pundak Sakti.
" Ngapain mandi sayang? Ini kan malam pengantin kita, percuma kamu mandi karena sebentar lagi juga akan berkeringat lagi, jadi nanti saja ya sekalian mandinya." Ujar Sakti mengerlingkan sebelah matanya menggoda Alfi.
" Apaan sih kamu, nggak usah mesum jadi orang, dan hentikan pemikranmu tentang hal hal begituan, harus selalu kamu ingat kalau pernikahan ini hanya pernikahan di atas kertas saya, karena dalam kehidupan aku bukan istrimu, jadi jangan terlalu berharap dengan hubungan ini entar kamu kecewa baru tau rasa." Ujar Alfi.
Tanpa kata Sakti langsung berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti bajunya. Hatinya memanas kala mendengar ucapan Alfi. Ia tidak mau sampai terbawa emosi dan akan menyakiti Alfi jadi lebih baik Ia menghindarinya.
Sedangkan Alfi langsung masuk kedalam kamar mandi. Ia mengguyur badannya di bawah shower membuat tubuhnya terasa segar. Untung saja di dalam sana sudah tersedia handuk dan bathrobe, jadi tidak perlu ada drama drama lupa bawa handuk segala. Setelah selesai mandi Ia segera menuju ruang ganti untuk mencari piyama tidur, Alfi menerutkan keningnya karena tidak menemukan apa yang Ia cari.
" Kenapa tidak ada piyama di sini? Apa aku harus tidur mengenakan dres ini? Tidak tidak... Itu tidak akan nyaman kalau aku pakai untuk tidur, apa aku pakai lingerie ini saja ya? Tapi kalau pakai lingerie nggak banget deh, nanti disangka aku mau goda dia lagi, aku harus mencari yang lainnya barangkali aku menemukan sesuatu yang nyaman di pakai untuk tidur." Gerutu Alfi dalam hati.
__ADS_1
Alfi mulai mengacak acak almari, setelah ia mengobrak abrik semua isi lemari akhirnya Ia menemukan sebuah daster.
" Ini jauh lebih baik dari pada pakai lingerie." Ucap Alfi. Ia segera memakainya setidaknya ini lebih baik dari pada Ia harus memakai lingerie kan? Alfi keluar ruangan menuju ranjangnya.
Disana Sakti sedang memainkan ponselnya sembari duduk diatas ranjang, dengan bersandar pada headboard. Melihat Alfi yang berdiri sambil celingak celinguk, Sakti terkekeh geli. Ia sengaja pura pura tidak menyadarinya, Ia ingin tahu apa yang akan di lakukan Alfi selanjutnya.
"Mas...". Panggil Alfi. Sakti tidak bergeming Ia masih fokus dengan ponselnya.
" Mas Sakti." Alfi meninggikan suaranya.
" Apa sayang..." Sahut Sakti menatap Alfi dengan senyum manisnya.
" Apa tidak ada sofa di sini?" Tanya Alfi.
Sakti tersenyum mendengar pertanyaan Alfi. Ia sudah menebak sebelumnya, makanya tadi Ia menyuruh Mang Ujang untuk mengeluarkan sofanya.
" Tidak ada, emang buat apa kamu mencaei sofa?" Tanya Sakti pura pura lugu.
" Ya buat aku tidur lah Mas, kalau nggak ada sofa lalu aku tidur dimana?" Tanya Alfi menatap Sakti.
" Gak mau, aku nggak mau tidur satu ranjang sama kamu, enak aja mau tidur berdua." Cebik Alfi kesal.
" Apa ada kasur lantai?" Tanya Alfi.
" Gak ada." Jawab Sakti menggeleng.
Alfi masih setia berdiri padahal Ia sangat mengantuk karna memang hari sudah larut malam. Sakti yang paham dengan sikap Alfi langsung menarik tangan Alfi dan tanpa di sangka Alfi yang hilang keseimbangan jatuh menindih tubuh Sakti. Sejenak mereka beradu pandang.
Deg... deg... deg...
Jantung Alfi berpacu dengan cepat begitupun dengan Sakti. Sakti menatap wajah cantik dan bibir pink di depannya. Ia memajukan wajahnya dan Sakti mencium bibir Alfi, membuat Alfi melongo membulatkan matanya dengan sedikit membuka mulutnya.
Kesempatan itu di gunakan oleh Sakti untuk menyusupkan lidahnya kedalam rongga mulut Alfi untuk mengabsen setiap inchinya. Sakti mencecap lembut bibir Alfi membuat Alfi terlena dengan ciuman manis yang Sakti berikan. Alfi yang terus terbuai dengan ciuman hangat Sakti hanya memejamkan matanya saja. Sakti terus ******* lembut bibir ranum Alfi hingga membuat keduanya kehabisan nafas.
__ADS_1
" Nafas donk yank." Ujar Sakti melepas pagutannya, Ia mengusap lembut bibir Alfi dengan jempolnya.
" Eh.. Apaan sih.. Janjinya nggak ada kontak fisik tapi sekarang kamu malah menciumku." Gerutu Alfi beranjak dari tubuh Sakti, belum juga sempurna berdiri Sakti sudah menariknya hingga Ia jatuh kepelukan Sakti dengan posisi yang sama seperti tadi.
" Lepas." Ucap Alfi.
Sakti membungkam mulut Alfi. Ia mencium bibir Alfi lagi. Sepertinya bibir Alfi candu baginya. Ciuman kali ini lebih lembut, Sakti menekan tengkuk Alfi, Ia memperdalam ciumannya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Sakti baru melepas ciumannya setelah Alfi kehabisan nafas.
" Untuk hari ini cukup sampai bibir dulu. Besok besok baru sampai ke.... " Ucap Sakti menatap gundukan di depannya. Alfi mengikuti arah pandang mata Sakti. Ia langsung menutup dengan satu tangannya saat menyadari apa yang Sakti lihat.
" Sialan... Mesum lo mas." Cebik Alfi beranjak dan duduk di sebelah Sakti. Ia sangat malu karna bibir dan hatinya tidak sinkron. Bibirnya ingin menolaknya tapi hatinya begitu menginginkannya.
" Tapi kamu suka kan? Buktinya kamu menikmatinya." Goda Sakti menaik turunkan alisnya.
" Rese'! Tadi itu aku terkejut jadi gak bisa apa apa." Kilah Alfi.
" Masa'? Rupanya bibirmu manis yank, mau lagi donk." Goda Sakti. Ia begitu bahagia Alfi tidak menolak ciumannya.
" Bodo ah aku mau tidur, bersihin dulu kali ya semua bunganya." Gumam Alfi.
" Jangan!" Ucap Sakti.
" Kenapa?" Tanya Alfi menatap curiga ke arah Sakti.
"Kalau kamu buang bunganya nanti Mama akan curiga, biarkan bunganya tetap seperti ini, sudah tidur aja sini besok kesiangan lagi." Ucap Sakti.
" Jangan melewati batas guling ini! Kalau melanggar besok gue nggak mau tidur seranjang sama lo." Ketus Alfi menyusun guling di tengah tengah mereka. Ia segera berbaring membelakangi Sakti untuk menghindari rasa canggungnya. Dengkuran halus nafas Alfi membuat Sakti mengerti kalau Alfi sudah tidur. Ia menempelkan dadanya pada punggung Alfi, Ia sibak rambut di kening Alfi. Ia pandangi wajah cantik Istrinya itu.
" Good night My Wife." Ucap Sakti mencium kening Alfi dari belakang. Tak lama Ia pun ikut terlelap. Ia sangat bahagia karena nyatanya hati Alfi tidak seburuk itu, sebenarnya hati Alfi begitu lembut bahkan Sakti yakin jika Alfi tidak akan mampu menebar kebencian kepadanya lebih lama lagi.
TBC....
Jangan lupa like koment dan votenya ya...
__ADS_1
Miss U All...