CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Menyerah


__ADS_3

Sudah seminggu Sakti mengabaikan Alfi, Ia sama sekali tidak mengijinkan Alfi menjenguk Mamanya di rumah sakit. Alfi hanya menurut saja, Ia tidak mau membuat Sakti semakin marah dengannya. Ia bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Sakti.


Hari ini rencananya Alfi mau menjenguk Mama Cintia kerumah sakit. Ia pergi diantarkan oleh sopir keluarga. Tiga puluh Alfi sampai di rumah sakit. Alfi segera turun dari mobil berjalan menuju ruangan Mama Cintia.


Ceklek....


Deg...


Hati Alfi terasa sesak, Mama Cintia sudah sadar dari komanya? Kenapa Sakti tidak memberitahunya? Hatinya semakin terasa seperti di remas remas saat Ia melihat mertuanya duduk bersandar, sedang disuapi oleh Diana. Bagaimana Diana bisa disini sedangkan Ia tidak di perbolehkan kesini.


" Sayang kamu datang, kenapa baru datang sekarang sayang?" Tanya Mama Cintia yang menyadari kedatangan Alfi.


Alfi tersenyum menghampiri Mama Cintia, Ia melirik Sakti yang sedang duduk di sofa yang tetap acuh dengan kehadirannya.


" Di kita cari makan dulu, dari semalam kamu belum makan kan." Ajak Sakti tanpa menoleh pada Alfi.


Semalem? Apa Diana menginap disini? Pikiran Alfi berkecamuk dengan pemikiran buruknya. Apa memang Sakti dan Diana ada hubungan? Atau memang Sakti sengaja ingin memberitahukan soal hubungannya dengan Diana secara tidak langsung? Pikir Alfi.


Sakti keluar bersama Diana tanpa berpamitan dengan Alfi. Sepertinya Alfi semakin tidak terlihat saja. Alfi menghela nafasnya sambil menahan rasa sakit yang menyeruak di dalam hatinya.


" Sayang." Ucap Mama setelah Sakti dan Diana keluar, Alfi menoleh padanya.


" Gimana kabarnya Ma, kapan Mama sadar? Kok nggak ada yang memberitahuku?" Tanya Alfi menduduki kursi yang tadi di duduki Diana.


" Sudah lebih baik sayang, Mama sudah sadar lebih dari tiga hari ini." Jawab Mama.


" Apa? Tiga hari?" Tanya Alfi tidak percaya.


" Iya, mungkin Sakti lupa memberitahumu sayang karena dia sibuk mengurus Mama di sini." Sahut Mama Cintia.


" Maafkan aku Ma, aku tidak bermaksud membuat Mama seperti ini." Sesal Alfi.


" Tidak masalah sayang, ini bukan salahmu, Sakti sudah menceritakan semuanya kapsa Mama, oh ya apa hubunganmu dengan Sakti baik baik saja?" Tanya Mama Cintia.


" Iya Ma." Sahut Alfi tersenyum getir.


Akhirnya Mereka berbincang bincang hingga siang hari. Alfi berpamitan pada Mama Cintia karna takut mengganggu waktu istirahatnya.

__ADS_1


" Ma, Al pulang dulu ya, Mama istirahat saja, kalau ada apa apa kabari aku." Pamit Alfi.


" Tunggu Mama dirumah ya sayang, nanti sore Mama sudah di perbolehkan pulang kok." Ujar Mama membuat hati Alfi kembali mencelos. Sakti sudah tidak menganggapnya sebagai istri lagi. Bahkan Ia tidak mau memberitahu keadaan Mama Cintia kepadanya.


" Al pamit dulu Ma, Assalamu'alaikum." Ucap Alfi menyalami Mama Cintia.


" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Mama Cintia.


Setelah berpamitan, Alfi segera keluar dari ruang rawat Mama Cintia, saat di depan pintu ternyata ada Diana yang sedang berdiri di sana, Alfi melewatinya begitu saja.


" Tunggu." Ucapan Diana menghentikan langkah Alfi.


" Semalam Sakti melamarku." Ucap Diana mendekati Alfi dan memamerkan cincin dijarinya.


Deg..


Alfi merasa familiar dengan cincin itu. Ya.. cincin yang kemarin Ia temukan di saku celana Sakti. Ternyata cincin itu untuk melamar Diana.


" Bukan urusanku." Ucap Alfi dengan tenang.


" Bukan aku, tapi Sakti dan Mamanya." Ucap Alfi membuat Diana mengerutkan keningnya.


" Jika kamu ingin menikahi Sakti, tunggu sampai aku selesai mengambil alih semua aset Sakti atas namaku, setelah itu akan aku serahkan Sakti kepadamu, dan aku ucapkan selamat, cintailah Sakti tanpa hartanya." Tegas Alfi segera pergi dari sana.


" Sial... kalau Sakti sudah tidak punya apa apa untuk apa aku merebutnya? Ternyata dia pintar juga." Gerutu Diana menghentakkan kakinya lalu segera pergi dari sana. Ia tidak jadi masuk kedalam ruangan mama Cintia.


Alfi berlari menuju taksi yang sudah Ia pesan, saat melewati lobby Ia berpapasan dengan Sakti, Sakti menatapnya tapi Alfi tidak menghiraukannya, Alfi terus melangkah mengacuhkan sakti membuat Sakti sedikit bingung dengan sikap Alfi.


Sesampainya dirumah, Alfi segera menuju kamarnya. Ia segera mengambil dokumen penting pribadinya yang Ia masukkan kedalam tas selempangnya. Ia tidak mau membawa koper karena takut Bi Imah curiga. Ia meletakkan ponsel, ATM dan kartu kredit yang di berikan Sakti kepadanya di atas nakas. Alfi menuliskan sesuatu pada secarik kertas. Setelah selesai Ia melipatnya dan meletakkannya di bawah ponsel.


Alfi segera turun kebawah, saat Ia sampai di depan pintu tiba tiba suara Bi Imah mengagetkannya.


" Non Alfi mau kemana? Baru saja pulang kok sudah mau pergi lagi." Tanya bi Imah.


" Aku mau menjemput Mama Bi, sore ini Mama sudah di perbolehkan pulang." Sahut Alfi sedikit gugup.


" Kenapa tadi tidak sekalian aja Non biar tidak bolak balik." Ujar Bi Imah.

__ADS_1


" Tadi sih penginnya begitu, tapi tadi Mama masih tidur Bi dan aku bosan disana, makanya aku pulang dulu." Jelas Alfi. Bi Imah hanya manggut manggut saja.


" Ya udah Bi aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum." Ucap Alfi segera pergi dari sana.


" Wa'alaikumsallam." Jawab Bi Imah.


Alfi segera menuju mobil yang sedari tadi sudah menunggunya. Ia tadi menghubungi Sarah untuk menjemputnya. Mereka menuju rumah yang di sebutkan oleh Alfi.


Menjelang sore, Sakti dan Mama Cintia sudah sampai dirumah. Mereka di sambut oleh bi Imah dan mang Ujang. Sakti menuntun mama sampai ke kamarnya. Ia membaringkan tubuh mamanya pada ranjang .


" Selamat datang kembali ke rumah ini Nyonya." Sambut Bi Imah.


" Terima kasih Bi." Sahut Mama Cintia.


Sakti segera keluar untuk menuju kamarnya, Ia mencari sosok istrinya yang sudah Ia rindukan selama ini. Ia ingin menyudahi misinya, yang menurutnya hanya sia sia saja.


Sampai sekarang Alfi tidak juga menyatakan perasaannya. Setelah di cari, Sakti tidak menemukan sosok Alfi. Ia kembali turun ke bawah mencari Bi Imah.


" Bi, Alfi mana?" Tanya Sakti setelah berada di depan Bi Imah, yang sedang membuat minum untuk mama.


" Lhoh.. Non Alfi kan pergi kerumah sakit Den." Sahut Bi Imah.


" Dia sudah pulang dari tadi Bi." Ujar Sakti.


Pikiran Sakti berkecamuk, apalagi sedari tadi Ia merasa tidak tenang memikirkan Alfi.


" Tadi memang sudah pulang Den, tapi pergi lagi katanya mau menjemput nyonya gitu." Ujar Bi Imah.


Tanpa berkata apa apa lagi, Sakti segera kembali ke kamarnya. Ia membuka lemari, ternyata baju Alfi masih ada. Ia mengedarkan pandangannya, sampai netranya menangkap sesuatu di atas nakas. Ia mendekatinya, ternyata sebuah Ponsel, Atm dan kartu kredit Yang Ia berikan pada Alfi.


Deg.....


TBC.....


Jangan lupa like koment dan votenya..


Miss U All....

__ADS_1


__ADS_2