
Empat tahun kemudian.....
Hari ini Alfi sedang mempersiapkan keperluan Sakti untuk bekerja, Ia sedang memasangkan dasi di leher Sakti, Sakti terus menatap wajah cantik istrinya, Ia mencium kening Alfi dengan lembut.
" Sudah Mas." Ucap Alfi menepuk dada Sakti.
" Kamu makin cantik aja Yank." Ucap Sakti.
" Mana ada? Yang ada tambah tua lah iya Mas." Sahut Alfi.
" Enggak tuh, kamu masih sama seperti saat kita pertama bertemu dulu." Ujar Sakti.
" Gombalanmu nggak masuk akal Mas." Ujar Alfi.
" Kok nggak masuk akal sih? Beneran Yank." Ucap Sakti menangkup wajah Alfi.
Sakti memajukan wajahnya, Ia mencium bibir Alfi dengan lembut. Alfi memejamkan matanya, Ia membalas ciuman Sakti dengan lembut juga. Keduanya terhanyut dalam ciuman manis yang keduanya ciptakan. Suara decapan memenuhi ruang kamar mereka.
Di rasa keduanya kehabisan nafas, Sakti melepas pagutannya. Ia mengusap pelan bibir Alfi menggunakan jempolnya.
" Ayo kita turun." Ucap Sakti.
" Iya Mas, Aroon pasti sudah menunggu kita." Ujar Alfi.
Sakti merangkul Alfi, mereka berjalan menuruni tangga menuju meja makan.
" Pagi Ma.. Pagi Pa." Sapa Aroon yang sudah duduk di meja makan menunggu keduanya.
" Pagi sayang." Sapa Sakti dan Alfi bersamaan. Mereka mencium pipi Aroon secara bergantian.
" Hari ini Aroon ulang tahun Pa, jangan lupa Papa harus pulang cepat, aku menunggu Papa untuk potong kuenya, kalau Papa belum pulang aku nggak mau memotong kuenya." Ucap Aroon.
" Tentu sayang, Papa janji kalau Papa akan pulang lebih awal untuk merayakan hari ulang tahunmu, Papa ucapkan selamat ulang tahun untukmu, semoga panjang umur, jadi anak Sholeh dan jadi anak kebanggaan Papa dan Mama." Ucap Sakti.
" Amin makasih Pa." Sahut Aroon.
" Selamat ulang tahun sayang, jadilah anak penurut dan penyayang Ok." Ucap Alfi.
" Makasih Ma, untuk kado ulang tahun kali ini, Aroon minta adek bayi yang lucu." Kata Aroon.
Sakti dan Alfi hanya saling tatap, mereka sepakat akan memberikan Aroon adik jika Aroon berusia lima tahun, berarti ini waktunya Alfi lepas alat kontrasepsi.
" Doakan saja sayang." Ujar Sakti.
__ADS_1
" Aroon doakan semoga Mama cepat mengandung adik Aroon." Ucap Aroon.
" Amin." Sahut Alfi dan Sakti bersamaan.
" Baiklah sekarang saatnya untuk makan." Ucap Alfi menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya.
Mereka memakan sarapannya dengan hening. Setelah selesai, Sakti dan Aroon pamit untuk berangkat ke sekolah dan bekerja.
" Mam, Aroon berangkat dulu." Ucap Aroon menyalami Alfi dengan takzim.
" Jadi anak pintar ya." Sahut Alfi.
" Tentu Mam." Sahut Aroon.
" Mas berangkat dulu sayang." Pamit Sakti mencium kening Alfi, lalu Alfi mencium punggung tangan Sakti.
"Assalamu'alaikum." Ucap Sakti dan Aroon bersamaan.
" Wa'alaikumsallam, hati hati ya." Jawab Alfi.
Setelah kepergian suami dan putranya, Alfi masuk ke dalam untuk mempersiapkan pesta ulang tahun Aroon yang ke empat. Ia mengundang teman teman Aroon sedangkan Mama Cintia menyewa WO untuk mendekor tempatnya. Tak lupa Alfi memesan cathering untuk menu makanan yang akan di sajikan untuk acaranya. Mereka sibuk dengan kegiatan masing masing.
Siang harinya Alfi melajukan mobilnya menuju sekolah Aroon untuk menjemput Aroon. Lima belas menit Alfi sampai di sekolah dan Aroon sudah menunggunya di depan gerbang. Alfi turun dari mobil menghampiri Aroon.
" Mama.." Teriak Aroon.
" Menyenangkan Mam." Sahut Aroon.
" Sekarang ayo pulang." Ucap Alfi menggandeng Aroon masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memantaunya sedari tadi tapi entah siapa.
" Malam ini aku akan merebut semua kebahagiaan yang kalian miliki, sejak aku di pecat, hidupku terlunta lunta, bahkan aku tidak bisa mengobati ibuku hingga ibuku tiada, kau harus membayarnya Alfi." Ucap seseorang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara ulang tahun Aroon akan segera di mulai, semua tamu undangan sudah hadir namun Aroon masih menunggu kepulangan Papa tercintanya. Siapa lagi kalau bukan Sakti?
Hingga malam mulai larut, tidak nampak tanda tanda Sakti akan pulang, para teman teman Aroon pun mulai jenuh menunggu. Karena tidak enak dengan para tamunya, Alfi segera menghampiri Aroon.
" Sayang.... Sekarang di mulai saja acaranya, kasian teman temanmu mereka sudah lama menunggu." Ucap Alfi.
" Tapi Aroon mau menunggu Papa Ma." Ujar Aroon sedih.
__ADS_1
" Iya sayang di mulai saja acaranya, nanti papamu pasti pulang, sekarang tiup lilinnya ya... Lihat teman temanmu mereka sudah jenuh menunggu." Sahut Mama Cintia.
Aroon menatap semua teman temannya yang kelihatan sudah mengantuk.
" Baiklah Oma." Sahut Aroon lesu.
Akhirnya Aroon memulai acaranya tanpa kehadiran Papanya. Ia meniup lilin lalu memotong kuenya. Potongan kue pertama Ia berikan kepada Mamanya, potongan ke dua Ia berikan kepada Omanya.
Acara berlangsung secara meriah banyak permainan di sana. Semua kelihatan begitu menikmati acaranya. Tapi tidak dengan Aroon. Ia kecewa karena Papanya tidak menepati janjinya.
Setelah acara selesai, Aroon segera istirahat di kamarnya. Sedangkan Alfi berbaring di atas ranjang, Ia buka aplikasi WA pada ponselnya.
Deg....
Ada pesan dari nomer yang tidak di kenal.
08xxxxxxxxxx
Suamimu tidak pulang, karna dia kabur dengan wanita lain.
Alfi mengerutkan keningnya.
" Apa maksudnya ini?" Tanya Alfi.
Alfi melihat ponselnya kembali, ternyata ada juga pesan dari suaminya. Ia segera membukanya.
📲 My Hubby
Maafkan aku, aku membuatmu kecewa dan terluka lagi, Sebenarnya ada sesuatu yang telah aku sembunyikan selama ini, tapi aku tidak bisa aku mengungkapkannya kepadamu, aku takut kamu semakin tersakiti, yang jelas tidak hanya kamu saja yang ada dalam hidupku, saat ini aku memilih pergi untuk menepati janjiku kepadanya dan kepada putraku yang lainnya, satu permintaanku berbahagialah walau tanpa aku....
Alfi terserang panik, Ia segera menelepon nomer Sakti untuk meminta penjelasannya, tetapi sepertinya dewi fortuna sedang tidak memihaknya karena nomer Sakti tidak aktif. Ia berusaha menghubunginya berkali kali sampai ponselnya kembali bergetar. Ada pesan foto yang dikirim dari nomer tadi. Di bukanya foto itu dan betapa hancurnya Alfi saat Ia melihat foto Sakti yang sedang merangkul wanita lain.
Tubuh Alfi luruh kelantai, Ia menangis meraung raung di kamarnya. Beruntung saja kamarnya kedap suara, jadi tidak ada yang mendengar jeritannya.
" Kenapa kamu tega melakukan ini padaku Mas? Apa salahku padamu? Apa arti dari semua ini Mas? Kau meninggalkan kami demi wanita lain... Siapa dia Mas? Siapa? Setelah sekian lama kita hidup bahagia kenapa kamu menyakiti hatiku lagi.. Apa tidak cukup rasa cinta ini untukmu hingga kau mencari cinta yang lain.... Mas Sakti hiks.... Kamu memiliki putra dari wanita lain? Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku Mas, Mas Sakti ku mohon kembalilah... Jangan tinggalkan kami! Aku dan Aroon membutuhkanmu.... Mas... Jangan tinggalkan aku." Air mata Alfi berderai tiada henti. Ia tidak bisa menerima semua ini. Suami yang Ia cintai meninggalkannya demi wanita lain.
Tanpa Alfi sadari bahwa Aroon sedang berdiri di pintu kamarnya, sebenarnya Aroon ingin menemui Mamanya untuk menanyakan papanya, tanpa Ia sangka Aroon justru melihat kerapuhan Mamanya akibat perbuatan Papanya. Pap yang sangat Ia cintai namun menyakiti. Aroon mengepalkan tangannya erat.
" Aku akan membalas perbuatanmu pada Mama Pa... Mulai hari ini kau bukan Papaku lagi, Aku akan melepas namamu pada namaku, Sekarang namaku Aroon Daviano Madan, Bukan Aroon Arviano Madan... Marga Arviano telah mati dalam hidupku, Kau akaan menyesal karena telah meninggalkan kami, aku membencimu Pa.. Aku sangat membencimu... Dan aku akan membuat putramu yang lainnya menderita." Ujar Aroon dalam hati.
Aroon segera menutup pintunya dan kembali ke kamarnya. Perasaan dan hatinya sama terlukanya dengan apa yang di rasakan oleh Mamanya.
TBC.....
__ADS_1
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya....
Miss U All...