CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Gara gara Bakso


__ADS_3

Hari hari terus berlalu setiap harinya Sakti semakin menyayangi Alfi. Usia kehamilan Alfi kini menginjak tiga bulan. Sakti semakin perhatian kepada Alfi, apapun permintaan Alfi, Ia akan selalu menurutinya.


Malam ini Alfi ingin makan bakso beranak dengan kuah pedas. Tapi Sakti menolaknya karena hari sudah malam.


" Mas, pengin bakso beranak kuah pedas yang ada di barat alun alun kota ya." Ucap Alfi.


" Ini jam sepuluh malam Yank, apa kedainyanmasih buka?" Tanya Sakti melirik jam di tangannya.


" Masih Mas, buruan beliin aku pengin banget makan bakso itu Mas." Rengek Alfi.


" Baiklah sesuai permintaan." Ucap Sakti mencium kening Alfi.


Sakti segera mengambil jaket dan memakainya, Ia mengambil kunci mobil, lalu keluar menuju mobilnya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kedai bakso di barat alun alun kota.


Setelah menempuh perjalanan lima belas menitan Sakti sampai di kedai bakso yang di maksud oleh Alfi. Sakti segera turun lalu memesannya.


Saat sudah mendapat pesanannya, Sakti kembali ke mobil. Ia meletakkan baksonya di kursi belakang.


Sakti melajukan mobil dengan hati hati karna kebetulan saat ini sedang turun hujan. Di tengah perjalanan, Sakti melihat Diana yang kehujanan sedang berdiri di pinggir jalan, sepertinya Diana sedang menunggu taksi. Sakti menghentikan mobilnya tepat di depan Diana berdiri.


" Mau pulang Di?" Tanya Sakti setelah menurunkan kaca mobilnya.


" I.. iya Sak." Jawab Diana sedikit menggigil karna kedinginan.


" Ayo aku antar." Ucap Sakti.


" Apa tidak merepotkan?" Tanya Diana basa basi, ebenarnya dalam hatinya Ia merasa sangat senang, inilah kesempatan untuknya membalas dendam kepada Alfi.


" Tidak lah, ayo naik aku akan mengantarmu, kasihan kamu sampai kedinginan gitu." Ujar Sakti membukakan pintu mobil dari dalam.


Diana segera masuk, Ia duduk di sebelah Sakti.


" Makasih Sak, kalau tidak ada kamu aku pasri udah mati kedinginan, mana nunggu taksi nggak ada yang lewat lagi." Cerocos Diana menyibak nyibaklan rambutnya.


" Tidak masalah." Sahut Sakti.


Sakti segera melajukan mobilnya kembali menuju rumah Diana. Di dalam perjalanan hanya ada keheningan. Sakti tidak menyinggung tentang keputusannya memecat Diana, membuat Diana semakin kesal. Sebenarnya rumah Diana tidak searah dengan rumah Sakti, tetapi Sakti tidak tega melihat Diana pulang malam dalam kondisi kehujanan. Apalagi Ia yakin sudah tidak ada taksi yang melintas.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah Diana, Sakti menghentikan mobilnya. Diana segera turun dari mobil Sakti.


" Tidak mampir dulu Sak." Ucap Diana.


" Tidak, ini sudah malam, lain kali..." Belum selesai sakti bicara, ibu Diana tiba tiba datang menghampirinya.


" Nak Sakti to, ayo silahkan mampir dulu! Sudah lama lho ibu tidak ngobrol sama kamu." Ujar Ibu Rumi.


" Sudah malam Tan, gak enak sama tetangga." Tolak Sakti.


" Sebentar aja deh." Ucap Bu Rumi memaksa.


" Baiklah." Sahut Sakti terpaksa mengiyakannya, Ia merasa tidak enak hati kepada bu Rumi.


Sakti masuk ke dalam rumah Diana. Ia duduk di kursi ruang tamu bersama Bu Rumi.


Mereka berbincang bincang sampai lupa waktu. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 12 malam.


Sakti segera pamit pulang karna sudah terlalu malam. Tanpa Ia sadari Diana mengirim Video saat Sakti tertawa mendengar cerita ibunya ke ponsel Alfi.


Sesampainya di rumah, Sakti segera membawa pesanan Alfi menuju kamarnya. Ia membawa mangkok serta sendoknya. Karna terburu buru, ada yang Sakti lupakan kalau bakso itu sudah dingin.


Sakti membuka pintu kamarnya, Ia melihat Alfi sudah tertidur. Sakti meletakkan mangkoknya di atas nakas, lalu Ia membangunkan Alfi.


" Yank... ini baksonya." Ucap Sakti sambil mengguncang pelan bahu Alfi. Alfi menggeliat, Ia membuka matanya lalu menatap tajam ke arah Sakti.


" Aku ngantuk mau tidur." Sahut Alfi memejamkan matanya.


" Tadi katanya mau bakso, udah aku beliin lho Yank, masa' nggak di makan." Ujar Sakti.


" Makan aja sendiri, aku dah kenyang." Ketus Alfi.


" Yank kamu nggak menghargai aku, udah capek capek aku beliin juga, ujung ujungnya ngggak di makan." Gerutu Sakti.


Alfi tidak bergeming membuat Sakti sedikit kesal. Sakti memaksa Alfi untuk bangun, Ia menarik tubuh Alfi agar duduk di atas ranjangnya. Sakti mengambil mangkok baksonya.


" Ini sayang di makan dulu." Ucap Sakti menyodorkan mangkoknya ke arah Alfi.

__ADS_1


Alfi mengalah, Ia bangun dan segera menyeruput kuah baksonya.


" Nggak mau udah dingin." Ucap Alfi meletakkan sendoknya dengan kasar.


" Ah iya maaf, tapi nggak pa pa lah Yank di makan aja, Mas udah ngantuk banget nih kalau harus ngangetin dulu, capek juga." Ujar Sakti.


" Buang aja." Sahut Alfi.


" Sayang kan kalau di buang, ayo aku suapi A." Sakti menyodorkan sesuap bakso kemulut Alfi.


" Aku bilang nggak mau ya nggak mau." Ucap Alfi menepis tangan Sakti hingga kuah baksonya sedikit tumpah.


" Alfia jangan keterlaluan, kamu apa apa di turuti malah ngelunjak jadinya, sekarang kamu juga banyak maunya." Bentak Sakti tanpa sadar, membuat Alfi terpancing emosi, Ia segera berdiri di depan Sakti.


" Ya... aku memang banyak maunya, aku pengin makan bakso kuah pedas, kuah yang panas maksudku, bukan kuah yang dingin seperti ini, aku menyuruhmu beli di alun alun kota yang hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja untuk sampai kesana, tapi apa? kamu membutuhkan waktu dua jam... dua jam Sakti." Teriak Alfi, Sakti memejamkan matanya, Ia sadar akan kesalahannya.


" Maaf, tiba tiba tadi aku ada keperluan mendadak." Ujar Sakti.


" Yah... keperluan yang lebih penting dari keinginan anaknya, kepentingan yang membuatmu lupa keinginanku, kepentingan mengantar selingkuhanmu kan maksudmu." Sinis Alfi.


Bola mata Sakti membola, dari mana Alfi tahu kalau dia baru saja mengantar Diana?Ya sampai sekarang Alfi menyebut Diana dengan nama selingkuhannya, Sakti diam saja toh Alfi memanggil Diana dengan sebutan apa tidak berpengaruh baginya.


" Bukan, aku mengantar Diana sayang, dia tadi menggigil kehujanan di pinggir jalan dan aku tidak tega melihatnya kedinginan, jadi aku hanya mengantarnya sampai ke rumah, maafkan aku." Ucap Sakti menatap Alfi dengan tatapan bersalahnya.


" Hanya kamu bilang... dua jam di sana bahkan minum kopi, serta tertawa tawa, kamu bilang hanya mengantarnya, sedangkan aku disini menunggumu dengan cemas, aku takut terjadi apa apa denganmu, rasa bersalah menyeruak dalam hatiku karna menyuruhmu di saat kamu lelah, bahkan aku tidak bisa memejamkan mata karna menunggumu pulang Mas." Ujar Alfi.


" Yah... Aku yang salah karena aku yang terlalu banyak maunya, mulai sekarang aku tidak akan pernah mau merepotkanmu lagi." Sambung Alfi berlari keluar dari kamar.


Brakkkk...


Sakti berjingkrak kaget karna Alfi menutup pintu dengan kasar. Ia menyugar rambutnya dengan kasar, Ia menyesal karna telah melanggar janjinya untuk tidak peduli lagi pada Diana. Sakti segera mencari Alfi ke bawah, Ia takut Alfi kenapa napa, apalagi jika sampai Alfi hilang kendali. Sakti tida akan memaafkan dirinya sendiri.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...


Kali ini author yang banyak maunya....


Miss U All...

__ADS_1


TBC. ...


__ADS_2