CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Kepergian Diana


__ADS_3

Brakkk.....


Tubuh Diana terpental ke tengah jalan raya dengan bersimpah darah. Alfi seketika menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak sangat kencang, Ia begitu terkejut.


Alfi merasa dejavu melihat kejadian seperti ini tepat di depan matanya. Kepalanya terasa berat, pandangan matanya kabur dan tiba tiba...


Brugh..


" Alfi...." Teriak Aldo, Ia berlari menghampiri Alfi yang tergeletak di trotoar. Aldo segera membawa Alfi ke dalam pelukanya.


" Fi bangun Fi." Ucap Aldo menepuk pelan pipi Alfi.


" Fi ku mohon bangunlah." Ujar Aldo.


Sedangkan di sebrang sana sudah banyak orang yang berkerumun menolong Diana, mereka membopong tubuh Diana dan segera membawanya ke rumah sakit. Begitupun Aldo, Ia segera mrmbopong Alfi masuk ke dalam taksi menuju Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit, Aldo segera membopong Alfi menuju ruang UGD. Dokter segera memeriksanya. Selesai memeriksa Alfi, Dokter keluar dari ruangan.


" Bagaimana keadaan teman saya Dok?" Tanya Aldo menghampiri Dokter.


" Tidak ada yang serius Pak, pasien hanya terkejut saja dan sepertinya pasien mengalami sedikit tekanan, pasien perlu banyak istirahat di rumah, saat ini juga pasien langsung boleh pulang." Ujar Dokter.


" Terima kasih Dok." Sahut Aldo.


Aldo segera masuk ke dalam ruang UGD. Di sana Alfi sudah duduk di atas ranjang.


" Gimana kondisimu Fi? Apa sudah lebih baik?" Tanya Aldo mendekati Alfi.


" Iya Do, Apa kamu tahu Diana di bawa ke rumah sakit mana?" Tanya Alfi.


" Di Rumah Sakit ini, sepertinya dia sedang berada di ruang ICU, apa kamu mau kesana melihatnya?" Tanya Aldo. Alfi hanya menganggukkan kepalanya.


" Baiklah ayo." Ajak Aldo membantu Alfi turun dari ranjang dan menggandengnya menuju ruang ICU.


Setelah keduanya sampai di depan ruang ICU, seorang suster berjalan menghampiri mereka.


" Maaf.. Apa anda yang bernama Nona Alfi?" Tanya suster memastikan.


" Iya saya sendiri, memangnya ada apa ya sus?" Tanya Alfi menatap ke arah suster.


" Nona Diana ingin berbicara dengan anda." Jawab suster yang bertage name Santi.


" Baiklah." Sahut Alfi.


" Mari keruangan sterilisasi dulu Nona." Ajak Suster Santi.


" Do aku tinggal dulu ya." Ucap Alfi.


" OK... Aku tunggu di sini." Sahut Aldo.


Setelah memakai baju yang di khususkan untuk masuk ruang ICU, Alfi segera membuka pintu dan mendekati Diana yang sedang terbaring lemah di atas brankar Rumah Sakit.


" Diana..." Panggil Alfi.


Diana membuka matanya, Ia membuka selang oksigen pada hidungnya.


" Alfi...." Ucapnya lirih.


" Ya katakan ada apa? Apa kamu mau mengakui semuanya?" Tanya Alfi sambil duduk di kursi samping ranjang.


" Al.... Maafkan aku." Ucap Diana menggenggam tangan Alfi.


" Aku memaafkanmu, bertahan dan sembuhlah, Nervan masih membutuhkanmu." Sahut Alfi.


" Aku sudah tidak kuat lagi... Maafkan aku." Ucap Diana.


" Jangan bilang seperti itu, kau harus bertahan demi putramu." Ujar Alfi.

__ADS_1


" Alfi... Sebenarnya Sakti tidak bersalah atas apa yang terjadi padamu, Sakti tidak pernah mengkhianatimu, dia begitu setia dan selalu mencintaimu, Ya hanya kamu Al, bahkan di saat Sakti lupa ingatan dia hanya ingat kepadamu, sebenarnya dia tidak pernah menikahiku." Ucap Diana pelan dan lirih.


" Aku sudah tahu semuanya, Ingatan Mas Sakti sudah kembali sepenuhnya, lebih baik sekarang diamlah, istirahat saja biar cepat pulih." Ucap Alfi.


" Al bolehkah aku minta sesuatu padamu?" Tanya Diana.


" Boleh asal jangan meminta Mas Sakti dan Aroon karna mereka hanya milikku." Sahut Alfi.


" Aku mau kamu berjanji padaku Al." Ucap Diana tersengal sengal.


" Berjanji untuk apa?" Tanya Alfi menatap heran ke arah Diana.


" Aku mau kamu merawat Nervan, sayangi dan cintailah dia seperti kamu menyayangi Aroon, dan jangan pernah kamu biarkan Reno mengambilnya darimu Al, waktuku tidak lama lagi.." Ujar Diana.


" Jangan bicara seperti itu, kamu pasti sembuh Diana, bertahanlah kasihan Nervan." Ucap Alfi sambil menangis.


" Berjanjilah Al... Aku sudah tidak kuat lagi, aku titip Nervan padamu." Lirih Diana.


" Baiklah aku berjanji akan merawat putramu seperti putraku sendiri." Jawab Alfi.


" Terima kasih." Lirih Diana.


Tiiiiiiiiit


Suara monitor di samping Alfi terdengar nyaring.


" Diana.. bangun Di, Diana bangunlah." Ucap Alfi mengguncang tubuh Diana.


" Di.. Bangun jangan tinggalkan Nervan dia membutuhkanmu Di bukan diriku, Diana." Pekik Alfi dengan gemetar.


"Suster, Dokter..." Teriak Alfi sambil berlari keluar.


" Suster.. Dokter tolong Diana." Teriak Alfi.


Dokter dan seorang suster segera menghampirinya, Alfi mengikuti Dokter masuk ke ruangan kembali. Sedangkan Aldo duduk kembali ke kursi tunggu.


" Baiklah saya periksa dulu." Sahut Dokter.


Dokter memeriksa detak jantung, denyut nadi dan organ organ vital lainnya. Dokter menggelengkan kepalanya.


" Maaf Nyonya, dengan berat hati saya katakan kalau Nyonya Diana sudah tiada." Ujar Dokter.


" Ap.... Apa?" Lirih Alfi.


" Suster segera urus jenazahnya." Titah Dokter.


" Tidak... tidak mungkin, Diana bangunlah kasihan Nervan, dia masih membutuhkanmu.. Diana." Ucap Alfi.


"Diana." Teriak Alfi.


Mendengar teriakan Alfi dari dalam, Aldo segera masuk dan menghampiri Alfi.


" Ada apa Fi?" Tanya Aldo. Alfi menubruk tubuh Aldo membuat Aldo kaget.


" Diana Do..Hiks...hiks..." Ucap Alfi.


" Diana kenapa Fi?" Tanya Aldo.


" Di...di..a meninggal hiks." Jawab Alfi


" Innalilahiwainailaihiroji'un." Ucap Aldo.


" Ini salahku Do, andai saja aku tidak kesana pasti semua ini tidak akan terjadi." Ucap Alfi di sela sela tangisannya.


" Tenangkan dirimu Fi, jangan menyalahkan diri sendiri karena ini semua sudah takdir dari yang Maha Kuasa." Ucap Aldo mengelus punggung Alfi.


" Ada apa sayang? Apa yang terjadi?" Tanya seseorang tiba tiba.

__ADS_1


Alfi melepas pelukannya, Ia menoleh ke belakang Aldo. Ternyata Sakti berdiri di sana sambik mengepalkan erat tangannya.


" Mas..." Alfi memeluk Sakti.


" Ada apa sayang? Kenapa kamu menangis." Tanya Sakti.


" Diana Mas....Diana." Ucap Alfi menunjuk ke arah Diana yang sedang terbaring dengan mata tertutup.


" Di... Diana.." Ucap Sakti menggantung, Ia tidak percaya dengan apa yang Ia lihat. Diana terbaring lemah di atas brankar sedang di tutupi kain putih oleh seorang suster.


" Iya Mas.. Diana kecelakaan, Diana meninggal." Ujar Alfi.


" Inalilahiwainailaihiroji'un." Ucap Sakti.


" Kami akan segera mengurus jenazahnya Nona, silahkan urus administrasinya terlebih dulu, kami turut berduka cita atas meninggalnya Nona Diana." Ujar Suster.


" Baik Sus terima kasih." Sahut Sakti.


Sakti, Alfi dan Aldo segera keluar dari ruangan itu. Aldo pergi ke bagian administrasi, sedangkan Alfi kembali ke ruang rawat Sakti. Mereka berdua duduk berdampingan di sofa. Alfi menyenderkan kepalanya ke pundak Sakti.


" Sayang ada apa? Kenapa dari tadi kamu diam saja hmm?" Tanya Sakti menggenggam sebelah tangan Alfi.


" Kenapa Mas bisa ada di sana tadi?" Tanya Alfi.


" Tadi aku bosan mau jalan jalan tapi aku mendengar teriakan seseorang yang mirip dengan suaramu, lalu aku hampiri deh, ternyata memang benar itu suara manis istriku." Ucap Sakti.


" Maafkan aku Mas." Ucap Alfi.


" Maaf untuk apa hm." Sakti mencium pucuk kepala Alfi.


" Diana seperti ini karna aku." Ucap Alfi sambil menghela nafasnya.


" Apa maksudmu." Selidik Sakti.


Akhirnya Alfi menceritakan semuanya tanpa ada yang Ia tutupi. Dari Ia mendapat kiriman file dari Sarah, hingga Ia meminta bantuan Aldo dan menghampiri Diana ke rumah hingga berakhir dengan kejadian seperti ini.


" Aku merasa sangat bersalah Mas." Sesal Alfi.


" Jadi Diana sudah mengakui semuanya?" Tanya Sakti.


" Iya... Sebelum Diana menghembuskan nafas terakhirnya, dia membuatku berjanji untuk merawat Nervan seperti aku merawat Aroon." Jelas Alfi.


" Lalu apa yang mau kamu lakukan." Sakti memainkan rambut Alfi dengan jarinya.


" Aku tidak tahu Mas, aku mau merawat Nervan, tapi apa Aroon mau menerima Nervan sebagai saudaranya? Apalagi Aroon tahunya dia anak kamu Mas." Ujar Alfi sambil beringsut menatap Sakti.


" Kita beritahu Aroon secara pelan pelan ya, aku yakin Aroon pasti mau menerimanya, dia anak yang baik sayang." Sahut Sakti menangkup wajah Alfi dengan kedua tangannya.


"Mas.. Jika kita besarkan Aroon dan Nervan bersama sama, apa kamu bisa bersikap adil kepada keduanya? Bagaimanapun Nervan sudah menganggapmu sebagai Ayahnya Mas, dan aku yakin pasti kamu juga sudah menganggap Nervan sebagai putramu sendiri." Ujar Alfi.


" Tentu sayang, aku akan tetap bersikap adil kepadanya, walaupun Diana telah menghancurkan keluarga kita, tapi Nervan tidak tahu apa apa, dia tidak bersalah jadi kita tidak bisa menghakimi anak sekecil dia bukan." Jelas Sakti.


" Hmm." Alfi menganggukkan kepalanya.


" Apa kamu bisa menyayangi Nervan seperti putramu sendiri? Apa kamu tidak akan merasasakit hati jika mengingat apa yang telah Dian lakukan padamu? Apa kamu tjdak akan membenci Nervan nantinya?" Tanya Sakti memastikan.


" Aku akan berusaha untuk menjadi ibu yang baik untuknya Mas, doakan dan bantu aku untuk melakukan semua itu." Jawab Alfi.


" Dengan senang hati sayang, terima kasih atas kebaikanmu." Sahut Sakti mencium kening Alfi.


Sakti beralih menatap bibir Alfi lalu menciumnya sedikit lama. Melihat Alfi memejamkan matanya. Sakti segera mencecap bibir Alfi dengan lembut. Ia mengekspos seluruh inchi di dalamnya. Mereka saling menikmati sensasi lembut dan manis bibir keduanya hingga beberapa saat. Setelah di rasa kehabisan nafas, Sakti melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Alfi dengan jempolnya.


TBC.....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya


Miss U All....

__ADS_1


__ADS_2