
" Mama sendiri yang menginginkannya, aku justru tidak tahu menahu soal itu, lagian jika kamu tidak mau kamu bisa menolaknya kan, kenapa harus ribet? Dan jangan lupakan kalau kamu sendiri yang menemuiku disini." Ucap Sakti.
Skak Mat! Ucapan Sakti semuanya benar.
" Jangan GR! Aku melakukan keduanya karna terpaksa, aku kasihan sama Mama kamu karena aku paling tidak bisa melihat seorang Mama terluka, baik itu Mamaku ataupun Mamamu." Sahut Alfi dengan muka cemberut.
Sakti tersenyum tipis mendengar ucapan Alfi. Kalau begitu alasan Alfi maka Sakti akan menggunakan Mamanya untuk mendapatkan hati Alfi.
Hening...
Keduanya nampak dengan pikiran masing masing, bahkan Alfi tidak mau basa basi menawari minum kepada Sakti. Sampai suara Sarah membuat mereka menoleh kearahnya.
" Al.. ayo bersiap, Tante Elin memintaku menemanimu ke salon langganannya." Ucap Sarah mendekati mereka setelah turun dari ojek.
" Ke salon? Untuk apa kita ke salon?" Tanya Alfi mengerutkan keningnya. Ia menoleh ke arah Sakti, Sakti hanya mengedikkan bahu saja.
Pletak..
" Awh..." Pekik Alfi.
Sarah menyentil kening Alfi membuat sang empu mengaduh sedangkan Sakti tersenyum simpul melihat kelakuan calon istrinya ini.
" Kalau ke salon ya buat mempercantik diri lah say.... Masa' mau pesan gorengan kan nggak mungkin." Ujar Sarah.
" Iya gue tahu, tapi kenapa kita harus kke salon segala? Emangnya kita mau kemana? Aku baru ke salon tiga hari lalu, boros Sar kalau sering sering ke salon, buang buang duit aja tahu nggak." Sahut Alfi.
" Kamu tidak perlu memikirkan soal duit, sebentar lagi kan kamu jadi istri seorang pengusaha, kamu nggak akan kehabisan stok yang namanya duit." Ujar Sarah.
" Tapi kan." Ucap Alfi.
" Udah buruan! Tante Elin sudah buat janji sama pihak salonnya dan kita tidak boleh terlambat atau uang pembayaranya akan sia sia." Ucap Sarah sambil menarik tangan Alfi menuju mobil Sakti.
Sedangkan Sakti hanya mengekor di belakang, karna Ia sudah mendapat pesan dari Mamanya untuk mengantar Alfi dan Sarah ke salon yang di maksud.
Setelah mereka memasuki mobil, Sakti segera melajukan mobilnya ke Salon langganan Mama Elin. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di sana.
Sesampainya di salon, Alfi langsung di sambut oleh pemiliknya dan ternyata Mama Elin meminta agar Alfi di Makeover. Alfi masuk ke dalam ruang yang di gunakan untuk make over. Sedangkan Sakti dan Sarah menunggunya di kursi tunggu.
__ADS_1
" Kak bolehkah aku tanya sesuatu?" Tanya Sarah menatap Sakti.
" Apa itu? Katakan saja." Sahut Sakti.
" Apa Kakak mencintai Alfi?" Tanya Sarah hati hati di sambut senyuman oleh Sakti.
" Jujur aku memang mencintai Alfi, tapi aku tidak bisa mengungkapkannya sekarang." Sahut Sakti.
" Aku minta buatlah Alfi bahagia Kak, dia tidak punya siapa siapa selain Mama Elin dan aku, jangan pernah buat dia terluka Kak." Ucap Sarah.
" Tentu... Aku akan membuatnya bahagia, percayalah." Sahut Sakti.
Setelah beberapa lama menungu akhirnya Alfi keluar ruangan dengan tampilan yang memukau.
" Bagaimana penampilanku Sar?" Tanya Alfi saat di depan Sarah dan Sakti. Sakti melongo melihat pesona kecantikan yang luar biasa ini.
" Cantik." Sahut Sakti dan Sarah bersamaan.
" Ya iyalah orang di Make up gini, lagian mau ada acara apa sih harus di dandani kaya gini juga? Malu tahu gak Sar gue nggak percaya diri." Gerutu Alfi
" What???" Pekik Alfi.
" Apa... Lamaran? Apa gak salah denger aku? Aku di lamar siapa?" Tanya Alfi memastikan.
" Iya.. Sakti akan melamarmu sore ini, Tante Elin dan Tante Cintia yang merencanakannya, So... kamu harus tampil cantik, seksi cetar membahana." Jelas Sarah.
Alfi menatap ke arah Sakti namun Sakti memembuang mukanya.
" Kenapa harus berpenampilan seperti ini? Kenapa tidak dandan biasa saja? Apa jangan jangan mereka juga mengundang tamu ke rumah?" Tanya Alfi.
" Iya mereka mengundang tetangga dan kerabat dekat saja karna memang acaranya dadakan, dan kamu tidak boleh protes karna kamu sudah menyetujuinya." Jujur Sarah.
Alfi menghela nafas pelan. Ia kecewa, kenapa harus mengundang tamu? bukankah tadi Ia sudah mengutarakan pendapatnya. Sakti yang melihat kekecewaan di wajah Alfi, merasa tidak enak.
" Maafkan Mamaku ya mungkin ini semua keinginanya, tapi kalau kamu keberatan aku akan telepon Mama untuk membatalkannya." Ujar Sakti sambil menatap Alfi.
__ADS_1
" Bukankah kamu senang dengan semua ini? Kamu ingin mempermalukan aku di depan semua orang kan? Kamu hebat sangat hebat dalam bersandiwaraTuan Sakti." Ketus Alfi dengan tatapan sinisnya.
" Sudah sudah jangan bertengkar malu di lihat orang, sekarang ayo kita pulang! Mereka sudah menunggu kita." Ucap Sarah menengahi mereka.
Mereka bertiga bergegas meninggalkan salon, Di dalam mobil hanya ada keheningan. Alfi hanya menatap keluar jendela menahan sesak didadanya. Sedangkan Sarah malah asyik memainkan ponselnya. Setelah sampai di kediaman Alfi, mereka turun dari mobil. Alfi mengedarkan pandangannya. Ternyata benar disana sudah banyak tamu dan rumah sudah indah dengan segala dekorasinya.Sarah menggandeng Alfi masuk kedalam rumah diikuti Sakti di belakang.
" Eh calon mempelainya sudah datang, ayo sayang duduklah disana! Kita akan mulai acaranya karena semua tamu sudah menunggu kalian." Ucap Mama Elin menunjukkan kursi yang sudah di dekor. Mama Cintia mengundang WO yang sudah profesional sehingga membuat semuanya cepat selesai.
" Sini sayang." Ucap Mama Elin menggandeng tangan Alfi.
" Kamu duduk di sebelah sini dan Sakti duduk di sebelah sini." Ujar Mama Elin menginstruksi keduanya, setelah Sakti mengganti bajunya dengan lebih formal.
Setelah keduanya duduk berdampingan, Pak RT setempat segera memulai acaranya. Dari mulai Sambutan sambutan hingga acara intinya adalah tukar cincin. Mama Cintia menyodorkan kotak cincinnya kearah Sakti dengan tersenyum bahagia.
" Sayang sekarang pakaikanlah cincin ini di jari calon Istrimu." Ucap Mama Cintia memberikan sekotak cincin pada Sakti.
" Baik Ma." Sahut Sakti.
Sakti berlutut di depan Alfi dengan menyodorkan kotak cincin itu membuat semua tamu riuh. Alfi segera berdiri. Ia justru merasa risih dengan kelakuan Sakti. Ia menatap para tamu undangan yang kini sedang menatap le arah mereka. Alfi mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang bergejolak di dadanya.
" Alfia Madan... Maukah kamu menikah denganku? Maukah kau menemaniku dalam suka dan duka? Maukah kau mendukungku dalam melangkah menuju kebaikan? Dan maukah kamu menjadi ibu dari anak anakku? Maukah kau terus melangkah bersamaku sampai maut memisahkan kita?" Tanya Sakti dengan tulus. Ia menatap Alfi dengan penuh kasih sayang.
Alfi justru menangis membekap mulutnya, Ia justeu teringat dengan Davi mantan suaminya. Bagaimana bisa Ia menghianati cinta suaminya? Ia merasa dilema dengan keputusannya. Mau mundur pun tidak bisa. Ia takut Mama Cintia akan koleps di sini. Ia menatap kearah Mama Elin dan Mama Cintia bergantian. Mereka berdua hanya menganggukkan kepala tanda merestuinya.
Tamu undangan menatap ke arah Alfi untuk menunggu jawabannya. Sedangkan Sakti, Ia merasa jantungnya berpacu dengan cepat Ia deg deg an takut Alfi menolaknya. Lalu bagaimana dengan Mamanya? Sakti khawatir Mamanya koleps disini.
" Al.... Maukah kau menerimaku untuk menjadi suamimu selamanya?" Tanya Sakti sekali lagi, Ia menatap Alfi yang masih sesegukan bahkan Ia mengabaikan kakinya yang mulai pegal.
" I... iya.. aku mau.. mas.." Jawab Alfi gugup.
Sakti langsung berdiri dan menarik Alfi ke dalam pelukannya. Ia ciumi pucuk kepala Alfi karena saking bahagianya. Entah kenapa Alfi tidak menolaknya. Satu rintangan sudah terlewati. Suara tepuk tangan menyadarkan Sakti. Ia segera melepaskan pelukannya dengan pelan.
" Ma..maaf.."
TBC.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentnya ya....
Miss U All...