
Setelah sampai di Rumah Sakit, Sakti segera membawa Alfi ke ruang rawat sebelumnya. Ia membaringkan Alfi di tempat tidur. Di sibaknya rambut yang menutupi wajah Alfi. Ia pandangi wajah cantik nan polos di depannya, ada rasa menggelitik dalam hatinya. Ia merasakan keteduhan, kehangatan sekaligus kenyamanan dalam hatinya secara bersamaan, hanya dengan melihat wajah Alfi saja.
" Bersabarlah Nak, tak lama lagi pemilik wajah itu akan jadi milikmu." Ucap Mama Elin memasuki pintu lalu berjalan menuju sofa dan duduk di sana.
" Doakan saja semoga Al mau memaafkanku dan menerimaku Tan." Ucap Sakti sedikit gugup karna ketahuan sedang memandangi wajah Alfi.
" Tante doakan yang terbaik untuk kalian berdua, Tante selalu mendoakan semoga kelak kamu bisa meluluhkan hati Alfi agar menerimamu menjadi suaminya." Ucap Mama Elin.
" Terima kasih Tante." Sahut Sakti.
" Sejujurnya Tante sedih melihat Alfi seperti ini, Alfi terlihat begitu kehilangan Davi, Alfi rapuh tanpa Davi tapi dia berusaha kuat demi membuat Tante tenang, Tante punya satu permintaan kepadamu Sakti, dan Tante harap kamu mau mengabulkan permintaan Tante ini." Ujar Mama Elin menatap Sakti yang sudah duduk di depannya. Sakti menganggukkan kepala.
" Apa itu tante? Aku akan selalu berusaha untuk memenuhinya." Tegas Sakti sambil menatap Mama Elin, Ibu yang tabah luar biasa.
" Tante mohon padamu jangan pernah kamu sakiti Alfi, dia sudah cukup menderita selama ini, dia tidak punya siapa siapa lagi selain kami, dia sudah Tante anggap sebagai putri kandungTante." Ujar Mama Elin.
" Aku akan berusaha Tan." Sahut Sakti.
"Tante mohon padamu Sakti cintai, sayangi dan selalu lindungilah dirinya, buatlah dia hidup bahagia bersamamu." Ujar Mama Elin menatap Sakti dengan tatapan sendu, membuat hati Sakti trenyuh. Sebagai seorang mertua, Mama Elin bisa begitu baik bahkan mencintai menantunya seperti putrinya sendiri.
" Aku akan menyayangi dan mencintainya dengan sepenuh hatiku Tan, aku berjanji padamu." Ujar Sakti dengan penuh keyakinan.
" Aku pegang kata katamu Sakti, jika suatu hari nanti kamu menyakitinya akan Tante tagih janji itu kepadamu." Kata Mama Elin.
" Iya Tan, Tante bisa mengingatkan ataupun menagih janji itu padaku." Sahut Sakti.
" Selama ini dia hanya punya kami, kepergian Davi begitu mengguncang psikisnya, Davi begitu menyayangi dan memanjakannya, Davi tidak pernah berkata kasar padanya apalagi membentaknya, Alfi bagaikan seorang putri yang begitu di jaga oleh Davi." Ujar Mama Elin, Ia mengusap air matanya.
" Maafkan aku Tante, karna kecerobohanku membuat kalian kehilangan Davi, sosok pria yang sangat kalian sayangi." Sesal Sakti.
" Mau bagaimana lagi semua sudah menjadi takdir yang Maha Kuasa, kami tidak bisa mengubahnya dan jangan menyalahkan diri sendiri itu tidak baik." Ujar Mama Elin.
" Aku salut dengan ketangguhan Tante,Tante begitu tegar dalam menghadapi semua ini, terima kasih karen sudah memaafkanku Tan." Ucap Sakti tulus.
" Tidak usah di pikirkan Nak." Sahut Mama Elin.
Setelah itu mereka berbincang bincang kesana kemari entah apa yang mereka bicarakan hanya mereka berdua yang tahu. Sampai suara lenguhan membuat mereka menoleh ke sumber suara secara bersamaan.
__ADS_1
" Engh...." Lenguh Alfi tersadar.
" Sayang.. kau sudah sadar?" Tanya Mama Elin mendekati Alfi.
" Haus Ma." Lirih Alfi mencoba duduk bersandar pada kepala ranjang.
" Ini sayang minumlah." Ujar Mama Elin menyodorkan segelas air putih kearah Alfi. Alfi langsung meminumnya hingga tandas.
" Ma kenapa aku ada di sini?" Tanya Alfi.
" Tadi kamu pingsan Fi dan beruntung ada Nak Sakti yang membantu Mama membawamu ke sini." Jelas Mama Elin.
Alfi mengerutkan keningnya, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sampai netranya tak sengaja menangkap sosok yang pernah Ia lihat saat kecelakaan itu terjadi. Seseorang duduk di sofa dan tersenyum ke arahnya.
" Sakti sini mendekatlah Nak." Panggil Mama Elin.
" BaikTan." Sahut Sakti sambil beranjak mendekati keduanya.
" Al... kenalkan ini Sakti." Ucap Mama Elin setelah Sakti berdiri di sampingnya.
" Ya Kau Sakti si pembunuh suamiku." Ucapan Sakti terpotong oleh kata kata menyakitkan yang keluar dari mulut Alfi.
" Sayang..." Sahut Mama Elin menggelengkan kepalanya.
" Kau pembunuh suamiku, mau ngapain kamu di sini? Sekarang pergilah dari sini! Aku tidak mau melihatmu lagi." Bentak Alfi.
Alfi tidak akan melupakan wajah orang yang sudah menabrak suaminya. Yang membuat Ia harus kehilangan suami untuk selamanya.
" Sayang tenangkan dirimu, jangan berkata seperti itu sayang." Ujar Mama Elin.
" Aku tidak mau melihat wajahnya Ma, aku bencinya, gara gara dia aku harus kehilangan suamiku, suruh dia pergi dari hadapanku." Titah Alfi.
" Sayang berusahalah untuk memaaafkannya, Sakti tidak sengaja melakukannya Fi, dan audah Mama katakan berkali kali kalau kepergian Davi semua itu sudah takdir." Jelas Mama Elin.
"Dia berusaha bertanggung jawab atas perbuatannya dengan membayar semua biaya pemakaman Davi dan pengobatanmu Nak, semua orang berhak melakukan kesalahan, dan semua orang berhak memperbaiki kesalahan itu Nak." Sambung Mama Elin sambil memeluk Alfi. Ia tidak mau menantunya histeris lagi.
" Apa kita semiskin itu Ma hingga tidak mampu membayar semuanya? Kenapa harus dirinya? Kenapa Mama menerima bantuan darinya?" Tanya Alfi melirik sinis ke arah Sakti.
__ADS_1
" Bukan begitu Fi ini kemauan Sakti sebagaimana tanggung jawab orang yang sudah menabrak Davi Nak." Jawab Mama Elin.
" Kalau begitu kembalikan semua uangnya Ma, aku nggak mau menerima bantuan darinya dalam bentuk apapun" Kukuh Alfi.
" Baiklah akan Mama kembalikan uangnya." Sahut Mama pasrah.
" Jika Mama mengembalikan uangnya apa kamu akan memaafkan Sakti?" Tanya Mama Elin menatap Alfi.
" Tidak... Kesalahannya tidak bisa di maafkan, karna kecerobohannya aku kehilangan mas Davi Ma, bukankah seharusnya saat ini dia berada di dalam penjara? Lalu kenapa dia berada di sini?" Tanya Alfi dengan air mata berderai ke pipinya. Ia tidak terima jika laki laki yang membuatnya kehilangan suaminya bebas begitu saja.
" Mama tidak menuntutnya Nak, Mama sudah mengikhlaskan kepergian Davi, ini jalan terbaik untuk hidup kita ke depannya." Sahut Mama Elin.
" Maafkan aku Al, aku mengaku salah karna aku ceroboh, aku mengemudi dengan keadaan mengantuk, tapi semua itu ada alasannya Al, aku harus secepatnya tiba di kota karna saat itu Mamaku sedang koleps." Jelas Sakti memandang Alfi dalam pelukan mertuanya.
" Aku tidak peduli apapun alasanmu yang jelas kaulah pembunuh suamiku, aku tidak akan memaafkanmu, aku membencimu dan sekarang pergilah dari hadapanku." Bentak Alfi.
" Pergilah dari sini aku tidak butuh tanggung jawabmu, aku hanya butuh Mas Davi jika kamu bisa mengembalikan Mas Davi kepadaku, maka aku akan memaafkanmu." Ketus Alfi. Sakti menghela nafasnya pelan. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
" Sayang jangan seperti ini, sebagai sesama manusia kita harus saling memaafkan, tidak baik untuk kita menghakimi kesalahan orang lain, Mama sengaja tidak membawa kasus ini ke polisi karena Mama ingin kita hidup damai tanpa dendam yang harus menyakiti orang lain, Sakti juga sudah minta maaf pada kita, Mama sudah mengikhlaskan semuanya." Jelas Mama Elin sambil menangkup kedua pipi Alfi.
" Jadi kamu mau kan memaafkannya?" Tanya Mama Elin.
" Maaf Ma aku tidak bisa, aku tidak akan memaafkannya bahkan sekarang aku sangat membencinya." Ucap Alfi dingin.
" Baiklah terserah kau saja Mama tidak akan memaksa, Mama hanya berharap suatu saat nanti hatimu akan terketuk untuk memaafkannya." Sahut Mama pasrah dengan keputusan Alfi.
Sakti memejamkan matanya, tangannya terkepal kuat menahan emosinya, mungkin ini cobaan yang harus Ia jalani. Ia harus menerima kebencian dari Alfi.
Saat ini Ia hanya pasrah kepada Tuhan yang Maha membolak balikkan hati manusia. Sakti berharap suatu saat Alfi akan memaafkannya. Ia berjanji jika Alfi mau menerimanya Ia akan membuat Alfi selalu tersenyum bahagia.
" Aku berharap suatu hari nanti kamu akan menerimaku menjadi pengganti Davi." Batin Sakti.
TBC...
Jangan lupa like dan komentnya ya...
Miss U All....
__ADS_1