
Sudah dua hari Sakti berada di Bandung, karna kesibukannya Ia tidak sempat menghubungi Alfi. Ia marathon menyelesaikan pekerjaan untuk perbaikan Cafenya yang terbakar. Ia ingin segera pulang menemui Istri tercintanya dan menyelesaikan masalah mereka berdua yang belum terselesaikan. Ia sendiri tidak tahu sebenarnya apa masalahnya yang membuat Alfi tiba tiba mendiamkannya.
Hari ini Sakti mencoba menghubungi Alfi berkali kali sambungan terhubung, namun tidak diangkat. Ia ingin memberi tahu Alfi kalau Ia akan pulang hari ini namun lagi lagi Alfi tidak mengangkat teleponnya.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di dalam kamar, Alfi baru saja keluar dari kamar mandi. Ia duduk di tepi ranjang lalu Ia membuka ponselnya. Terlihat tujuh panggilan tidak terjawab dari suaminya. Ia tersenyum bahagia karena pada akhirnya Sakti mau menghubunginya. Jujur Ia juga sangat merindukan Sakti selama ini, Ia merasa sangat kesepian tanpa adanya Sakti di sampingnya. Tapi Ia malu untuk menghubungi Sakti terlebih dulu. Apalagi Ia sangat kecewa dengan ucapan Sakti waktu itu. Di lihatnya lagi ponselnya, ternyata ada satu chat dari Sakti. Ia segera membukanya.
My Hubby💖
Yank telp balik kalau dah di baca.
Alfi segera menekan icon telepon, beberapa saat Sambungan terhubung, Alfi menunggu Sakti mengangkatnya, sampai...
" Hallo." Ucap seseorang di sebrang sana.
Deg....
Jantung Alfi berdetak kencang, lagi lagi Alfi kecewa karna yang mengangkatnya suara wanita.
" Hallo, maaf ini siapa ya? Mas Saktinya kemana?" Tanya Alfi kepada seseorang di sebrang sana.
Diana mencoba melihat ID pemanggil yang bertuliskan " My Lovely Wife💖", Ia mencebik.
" Sakti baru saja mandi untuk membersihkan diri, maklumlah risih kalau berkeringat apalagi keringat dari kegiatan panas, owh... Maaf ya keceplosan padahal Sakti sendiri melarangku untuk memberitahu siapapun, tapi ya udah deh udah terlanjur juga, oh ya selama dua hari ini Sakti tidak menghubungimu bukan? Dia tidak menghubungimu karna disini aku selalu melayaninya dengan baik dan tentunya sampai puas hingga tidak ada waktu untuk dia ingat dengan istrinya." Diana tersenyum licik.
" Iya Yank, handuknya sudah aku siapkan di dalam." Ujar Diana seakan akan sedang berbicara dengan seseorang.
Alfi segera mematikan sambungan teleponnya. Hatinya perih tak terasa air matanya lolos begitu saja.
"Kenapa rasanya begitu sakit? Aku ingin marah padanya, aku tidak rela dia bersama wanita lain, aku tidak mau kehilangannya, apa aku sudah jatuh cinta padanya? Kenapa kau tega melakukan ini padaku disaat aku mulai membuka hatiku untukmu Mas." Gumam Alfi dalam hatinya, Ia semakin terisak menahan sesak di dadanya.
Sedangkan di dalam Cafe, Diana segera menghapus riwayat panggilan pada ponsel Sakti, lalu Ia meletakkan kembali ponsel Sakti ke posisi semula.
" Ayo kita pulang." Ajak Sakti setelah kembali dari toilet.
__ADS_1
" Eh iya." Ucap Diana gugup, Ia takut ketahuan telah mengangkat panggilan dari Alfi.
Mereka segera pergi dari Cafe tersebut. Sakti mengemudi dengan kecepatan sedang. Sebelum pulang kerumah, Ia lebih dulu mengantar Diana kerumahnya. Selain Diana partner kerjanya, Diana juga sahabat masa kecilnya.
Siang harinya Sakti sudah tiba di rumah. Ia segera memasuki rumah mencari keberadaan istrinya.
" Assalamu'alaikum." Ucap Sakti memberi salam.
" Wa'alaikumsallam, kamu sudah pulang sayang." Jawab Mama Cintia yang sedang duduk di ruang tamu.
" Iya Ma, Sakti ke kamar dulu ya Ma." Ujar Sakti.
" Iya sayang " Sahut Mama Cintia.
Sakti melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Saat pintu terbuka, Ia melihat Alfi yang sedang terlelap. Sakti mendekati Alfi, Ia menunduk mengecup kening Alfi. Setelah itu Ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, Alfi segera beranjak mengambil tas slempangnya dan berjalan keluar. Sebenarnya Alfi sudah terbangun saat mendengar suara pintu terbuka, tetapi Ia pura pura tidur lagi untuk menghindari Sakti.
" Mau kemana sayang?" Tanya Mama Cintia ketika Alfi melewati ruang tamu.
Sedangkan Sakti, Ia kehilangan istrinya setelah Ia keluar dari kamar mandi. Sakti segera turun ke bawah menghampiri Mamanya yang berada di ruang tamu.
" Ma apa Mama lihat Alfi?" Tanya Sakti setelah duduk di sebrang sofa.
" Lhoh tadi katanya mau ke minimarket beli sabunmu." Sahut Mama Cintia.
Sakti mengerutkan dahinya, bukankah persediaan sabunnya masih banyak. Sadar ada yang tidak beres dengan istrinya, Sakti segera kembali ke kamarnya. Ia mengambil ponselnya lalu menekan Icon telepon. Setelah beberapa saat yang menjawab hanya operator. Ternyata nomer Alfi tidak aktif.
" Arghhh." Sakti menyugar kasar rambutnya.
" Kamu kenapa Al? Kenapa sepeetinya kamu menghindariku? Sebenarnya apa yang membuatmu berubah seperti ini? Bukannya menyelesaikan masalah malah kau menghindariku, Apa sampai sekarang perasaanmu masih sama? Apa kamu masih belum mencintaiku?" Gumam Sakti dalam hati.
Di tempat lain,
__ADS_1
Alfi dan Sarah duduk berhadapan di sebuah Cafe. Alfi sengaja menghindari Sakti karna masih sakit hati dengan apa yang di sampaikan Diana kepadanya.
" Apa yang kamu rasakan setelah tahu Sakti bersama wanita lain?" Tanya Sarah sambil menyedot minumannya.
" Hatiku sakit Sar, aku tidak rela Mas Sakti bersama wanita lain, aku takut kehilangannya." lirih Alfi.
" Itu berarti kau sudah mencintainya Fi, kalau masalah itu kamu harus menyelidikinya lebih dulu, aku takut ini hanya akal akalan Diana saja untuk merebut Sakti darimu." Saran Sarah.
Alfi berpikir ada benarnya juga yang di katakan Sarah. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang dan mengaktifkan loudspeakernya.
" Halo Rik, aku mau tanya apa diruangan mas Sakti terpasang CCTV?" Tanya Alfi to the point pada Rika, kasir yang bekerja disana.
" Ada Mbak, tapi sudah seminggu ini CCTV nya rusak dan belum di perbaiki." Ucap Rika
" Apa ada cabang cafe yang terbakar?" Tanya Alfi ingin memastikan beritanya.
" Kurang tahu mbak, biasanya yang tahu info seperti itu, hanya pak Sakti dan Mbak Diana." jelas Rika.
" Baiklah terima kasih." Alfi mengakhiri teleponnya.
" Sabar ya Fi, aku yakin suatu hari nanti pasti kamu tahu kebenaranya, kamu yang positif thinking aja, jangan memikirkan yang macam macam." Ujar Sarah.
" Makasih Sar." Sahut Alfi.
"Maaf Al aku harus pulang, Mama meminta aku mengantarnya kerumah nenek sekarang, hari juga sudah mulai gelap, sebaiknya kamu juga pulang." Ujar Sarah.
" Hmm, hati hati." jawab Alfi.
Setelah kepergian Sarah, Alfi masih berada disana. Sampai tiba tiba...
TBC....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat ya....
__ADS_1
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu....
Miss U All...