
Lagi lagi Alfi harus masuk ke rumah sakit karna sering pingsan. Tekanan darahnya rendah karna memikirkan sesuatu yang Ia sendiri malas memikirkannya sebenarnya, Tapi demi Mama mertuanya akhirnya Alfi memberi jawabannya kepada Mama.
Setelah beberapa hari di rawat, hari ini Alfi di perbolehkan untuk pulang. Sakti sudah dari tadi duduk di sofa untuk menjemput Alfi. Mereka duduk berdampingan menunggu Mama Elin yang masih berada di ruangan dokter. Mengambil hasil pemeriksaan terakhir Alfi.
" Terima kasih sudah mau memaafkan dan menerimaku sebagai calon suamimu." Ucap Sakti membuka obrolan.
Setelah tadi malam Mama Elin memberitahunya kalau Alfi menerima permintaannya. Sakti begitu lega dan bahagia walau Alfi mungkin hanya menganggapnya sebagai pengganti Davi. Ia berharap suatu hari nanti Alfi bisa menerimanya menjadi dirinya sendiri. Kini Tinggal menunggu Sakti melamar untuk meresmikan hubungan mereka. Setelah itu langsung ke pernikahan saja.
" Jangan senang dulu, Aku melakukannya demi Mama, Ingatlah demi Mama, kamu sudah merenggut suamiku dan kini kamu juga merenggut Mamaku, aku tidak akan pernah melupakan itu, aku membencimu jadi mana mungkin aku menerimamu dengan setulus hatiku." Ketus Alfi.
"Tidak masalah, yang penting janjiku kepada Davi terpenuhi." Sahut Sakti.
" Kau sudah merenggut kebahagiaanku, kau sudah merenggut segalanya dariku, mungkin suatu hari nanti kau akan merenggut nyawaku juga, aku benar benar membencimu Sakti Arviano, gara gara kamu hidupku menjadi hancur." Ucap Alfi dingin.
Sakti memejamkan matanya untuk meredam emosinya, bagaimana bisa Alfi mengatakan kalau Ia akan merenggut nyawa Alfi suatu hari nanti, bahkan saat ini Sakti rela mengganti dengan nyawanya agar Alfi bahagia.
" Tidak apa jika saat ini aku hanya mendapatkan kebencian darimu, aku yakin suatu hari nanti aku akan mendapatkan cintamu." Ujar Sakti menyunggingkan senyum pada Alfi.
" Jangan mimpi! Aku hanya mencintai Mas Davi, sampai kapanpun aku hanya mencintainya, aku akan membuat perhitungan kepadamu jadi persiapkan dirimu sekuat mungkin untuk menerima akibat dari kebencianku ini, aku ingin lihat sampai kapan kau akan bertahan dengan siksaan batin yang akan aku berikan padamu Tuan Sakti Arviano." Ucap Alfi menatap Sakti sinis.
" Aku akan selalu mendampingimu hingga tak terbatas waktu, aku akan bertahan sampai kau merasa lelah sendiri, katakan padaku jika nanti kau sudah lelah menabur kebencian untukku." Ujar Sakti.
" Dan jika saat itu tiba dan kau belum juga mencintaiku, maka aku akan melepasmu dengan ikhlas, aku tidak akan menahanmu untuk pergi meninggalkan aku." Ucap Sakti.
Alfi acuh saja tak menanggapi ucapan Sakti. Entah menapa hati Sakti merasa sakit saat Alfi mengatakan hanya akan mencintai almarhum suaminya itu. Apakah tidak ada kesempatan untuk Alfi membalas perasaannya?
" Sayang ayo pulang Mama sudah selesai." Ajak Mama Elin dari depan pintu, Sakti dan Alfi menoleh secara bersamaan.
" Ayo Ma." Jawab Alfi.
" Tunggu di lobby Tan, aku ambil mobil dulu." Ujar Sakti.
" Ok makasih." Sahut Mama Elin.
Sesampainya di lobby Mama Elin dan Alfi masuk ke dalam mobil Sakti. Sakti segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Mama Elin.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya sampailah mereka di rumah Mama Elin. Rumah yang Alfi tinggali selama ini. Alfi dan Davi memang tinggal satu rumah tapi tidak satu kamar. Gaya pacaran mereka bersih tidak pernah melakukan hal hal yang di larang agama. Mereka berdua sama sama tahu dimana batasannya.
" Alfiiiiii..." Teriak Sarah dari dalam rumah setelah melihat Alfi turun dari mobil. Ia berlari merentangkan tangannya langsung memeluk Alfi.
" Sarah.." Ucap Alfi menyambut pelukan sahabatnya ini. Sahabat yang selalu menemaninya dikala suka, karna saat duka kemarin, Sarah berada di luar kota.
__ADS_1
" Maaf... maafin aku ya yang gak bisa menemanimu di saat kamu membutuhkanku, maafkan aku yang nggak bisa menghiburmu saat kamu sedih, aku merasa menjadi sahabat yang paling buruk di dunia." Ucap Sarah menjewer kedua telinganya sendiri, setelah melepas pelukannya. Ia sengaja tidak mengungkit kejadian itu, karna takut Alfi terpuruk lagi. Ia merasa saat ini Alfi sudah lebih tenang.
" Gak pa pa say... aku udah baik2 saja kok." Ucap Alfi sambil melangkah masuk kerumah menggandeng Sarah dan langsung duduk di sofa ruang tamu.
Mama Elin mempersilahkan Sakti masuk, dan mempersilahkannya duduk di sofa yang sama dengan Alfi dan Sarah. Ia segera membuatkan minuman untuk para tamunya.
" Gimana liburanmu? Kra kira menyenangkan nggak?" Tanya Alfi.
" Menyenangkan apanya? Orang aku di sana belajar bukan seneng seneng kok." Sahut Sarah.
" Ya sekalian cuci mata kan? Lihat lihat cogan, barang kali ada yang nyantol terus di bawa pulang deh." Ucap Alfi sambil terkekeh.
" Emang gantungan pakai nyantol segala." Cebik Sarah.
" Eh.. Udah dapet gebetan belum nih?" Tanya Alfi.
" Udah... gebetan pala lu... Nanti nanti ajalah belum kepikiran gue." Ucap Sarah mulai dengan lo gue.
" Ok Ok terserah lo saja." Sahut Alfi.
" Emangnya lo yang gak nyari selalu dapet, mereka pada datang sendiri besti." Ucap Sarah melirik Sakti, Alfi mengikuti arah mata Sarah memandang.
" Eh.. emang boleh nih." Canda Sarah.
" Sok atuh.." Sahut Alfi.
" Baiklah gue pdkt dulu." Ujar Sarah.
Sarah menatap ke arah Sakti yang sedari tadi hanya diam saja.
" Hai Kak kenalin aku Sarah sohibnya Alfi." Ucap Sarah mengulurkan tangannya.
" Sakti." Sakti membalas uluran tangan Sarah dan menjabatnya.
" Namanya cool persis orangnya." Ujar Sarah. Sakti melepas tangannya.
" Eh tahu nggak Fi?" Tanya Sarah.
" Enggak." Sahut Alfi.
" Aku belum ngomong ih." Cebik Sarah.
__ADS_1
" Ya udah ngomong." Titah Alfi.
" Aku sempet ketemu Bang Reno." Ucap Sarah.
" Oh.." Sahut Alfi.
" Kok cuma oh doank si." Protes Sarah.
" Lalu aku harus bilang wow gitu?" Canda Alfi.
" Jadi ke inget masa masa sekolah dulu." Ucap Sarah.
" Hmmm pengin banget balik ke masa dulu emang, biar nggak pusing mikirin ruwetnya kehidupan, masa masa sekolah begitu menyenangkan." Sahut Alfi.
" Andai aku berjodoh dengan Bang Reno.." Gumam Sarah sambil membayangkannya.
" Aku doakan deh semoga Sarah berjodoh dengan Bang Reno... Amin.." Ucap Alfi.
Keduanya terus nyerocos mengobrol ngalor ngidul gak jelas tanpa menghiraukan keberadaan Sakti. Alfi benar benar terhibur dengan kedatangan sahabatnya.
Sakti menatap Alfi yang sedang berbincang bincang dengan Sarah tanpa memperdulikan kehadirannya. Ia merasa melihat Alfi yang sebenarnya, saat dia bersama sahabatnya Alfi menjadi sosok yang periang. Sesekali Alfi tertawa membuat Sakti tersenyum tipis.
" Sakti, Sarah ini minumannya." Mama Elin meletakkan nampan berisi dua cangkir teh dan segelas susu untuk Alfi.
" Makasih Tante." Ucap Sarah dan Sakti bersamaan.
" Dan ini susu untukmu Nak..." Ujar Mama Elin menyodorkan segelas susu kearah Alfi dan langsung diterimanya. Ia pun meminum susunya mumpung masih hangat pikirnya.
Sampai pertanyaan Sakti membuatnya terkejut.
" Alfi.. Jadi kapan aku bisa menikahimu? Aku rasa lebih cepat maka lebih baik, karna saat ini Mamaku membutuhkan aku di sampingnya." Tanya Sakti.
Alfi yang sedang meminum susunya tiba tiba....
Byurrrr... uhuk uhuk uhuk....
TBC.....
Beberapa bab lagi akan lanjut ke pernikahan ya. Salam sehat selalu dari author amatiran. jangan lupa like dan komennya ya...
Makasih atas dukungannya.. Miss U All
__ADS_1