CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Perdebatan


__ADS_3

Hari ini Sakti mengajak Aroon bertanding basket. Jika Aroon menang maka Sakti akan mengajaknya jalan jalan dan membeli apa yang dia mau. Sakti dan Aroon terlihat sedang berebut bola. Sedangkan Nervan hanya melihat dari kejauhan saja, Ia tidak mau mengganggu waktu Abang bersama Papanya.


" Sayang kenapa hanya berdiri di sini saja? Ayo kesana main bareng Ayah sama Abang." Ujar Alfi.


" Nggak usah Ma, aku di sini saja." Tolak Nervan.


" Ayo sama Mama." Ujar Alfi menggandeng tangan Nervan menuju Sakti dan Aroon.


" Sayang ajak Nervan main juga donk." Ucap Alfi membuat Aroon dan Sakti menoleh ke arahnya.


" Ma...."


" Sini Van ikut main bareng Ayah sama Abang." Ajak Sakti memotong ucapan Aroon membuat Aroon geram.


" Boleh Yah?" Tanya Nervan dengan mata berbinar.


" Iya boleh sini." Sahut Sakti. Nervan segera berlari menghampiri Sakti dan Aroon.


Akhirnya mereka bertiga bermain bersama. Walaupun sebenarnya Aroon tidak suka tapi Ia tidak mau menunjukkan kebenciannya di depan Mamanya. Ia tidak mau membuat Mamanya bersedih karna janjinya dengan Diana.


Saat Aroon melemparkan bola ke arah ring tiba tiba ide jahat muncul dalam benaknya, Ia memantulkan bola dengan keras hingga tepat mengenai kepala Nervan, Nervan hilang keseimbangan jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.


Brugh.....


" Nervan." Teriak Sakti menghampiri Nervan yang tergeletak di lantai.


" Nervan bangun Nak." Ucap Sakti menepuk pelan pipi Nervan.


" Nervan sayang bangunlah, Yank ambil air sedikit biar Nervan cepat siuman." Ucap Sakti menatap Alfi.


" Baik Mas." Sahut Alfi segera mengambil segelas air putih. Aroon hanya berdiri memandangnya saja dengan perasaan dongkol.


" Ini Mas." Ucap Alfi menyodorkan segelas air putih kepada Sakti. Sakti menciprat cipratkan airnya ke wajah Nervan. Tak lama Nervan pun sadar.


" Awh.." lenguh Nervan.


" Sayang kamu tidak pa pa?" Tanya Alfi.


" Sakit Ma." Jawab Nervan.


" Ayah bantu." Ucap Sakti membantu Nervan berdiri.


" Ya ampun lututmu berdarah." Pekik Alfi.


" Ayo sayang kita obati, Aroon kamu bermain sendiri dulu dan tunggu Papa di sini ada yang mau Papa bicarakan sama kamu." Ucap Sakti lalu Ia menggendong Nervan masuk ke dalam.


" Pa..." Teriak Aroon tapi Sakti tidak mendengarnya karna Ia fokus dengan Nervan. Alfi mengelus punggung Aroon.


" Sabar sayang." Ucap Alfi mengelus kepala Aroon.


" Mama lihat? Mama lihat sendirikan kalau Papa lebih mementingkan Nervan dari pada aku." Ucap Aroon menatap kepergian Sakti dengan penuh kebencian.


" Bukan begitu sayang, Papa hanya mengobati Nervan yang sedang terluka saja." Jelas Alfi memberi pengertian pada Aroon.


" Kalau cuma mengobati di sini juga bisa Ma, tapi Papa lebih memilih mengobatinya di dalam dan menyuruhku bermain sendiri, aku membencinya." Ucap Aroon segera berlalu dari sana dengan rasa kesalnya.


Aroon tidak rela Nervan merebut perhatian Papanya. Aroon memasuki rumah lalu berjalan menuju kamarnya, saat Ia sampai di ruang tamu, Ia melihat Papanya sedang mengobati Nervan. Hatinya kembali bergemuruh merasakan kesal.

__ADS_1


" Sshh perih Yah." Ujar Nervan.


" Sabar sayang, lukanya harus di obati biar cepet sembuh dan nggak infeksi, nanti Ayah tiupin deh." Sahut Sakti.


Aroon melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


" Aroon." Panggil Sakti menghentikan langkah Aroon.


" Sayang kok udahan? Ayo kita main lagi." Ajak Sakti. Aroon melirik sinis pada Sakti dan Nervan, Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar.


" Aroon." Panggil Sakti, Aroon tidak peduli.


" Aroon kenapa Yank?" Tanya Sakti saat Alfi baru saja masuk.


" Kamu tahu sendiri jawabannya." Ketus Alfi.


Alfi menyusul Aroon ke kamarnya, Ia kesal dengan dirinya sendiri karna tidak bisa membuat Aroon mengerti. Aroon menjadi anak yang sangat keras kepala sejak kepergian Papanya.


" Ayah maafkan aku, gara gara aku Mama sama Bang Aroon marah." Sesal Nervan.


" Tidak sayang, Mama sama Bang Aroon hanya lagi capek saja, sekarang istirahat di kamar ya." Ucap Sakti sambil mengelus kepala Nervan.


" Baik Yah." Jawab Nervan. Ia segera menuju kamarnya dengan berjalan pelan pelan.


Sakti menuju kamar Aroon, Ia harus membujuk Putra sulungnya yang Ia yakini sedang marah padanya. Setelah membuka pintu kamar Aroon, Sakti segera menghampiri Aroon yang sedang duduk termenung di tepi ranjangnya. Sedangkan Alfi Ia duduk di kursi belajar Aroon.


" Sayang... Maafkan Papa, bukannya Papa lebih sayang Nervan tapi karena Papa kasihan padanya Nak, dia tidak punya siapa siapa kasihan kan kalau dia kenapa napa tidak ada yang menolongnya." Ucap Sakti.


" Aku tidak peduli." Ketus Aroon.


" Jadikan dia saudaramu sayang, sayangi dia... Nervan anak yang baik, dia ingin menjadi saudaramu, terimalah Nak jangan membencinya, dia tidak tahu apa apa sola ini." Bujuk Sakti memberi pengertian kepada Aroon.


" Aroon jangan uji kesabaran Papa, Papa tahu tadi kamu sengaja memantulkan bolanya hingga mengenai kepala Nervan kan? Papa tidak menyangka kamu bisa melakukan ini kepada Nervan." Geram Sakti.


" Papa menuduhku?" Tanya Aroon melirik Sakti.


" Papa tidak menuduh tapi itulah kenyataannya, Papa tahu apa yang kamu lakukan kepada Nervan, tapi Papa sengaja tidak mempermasalahkannya, minta maaflah kepadanya jangan pernah kamu membencinya Nak, dia anak yang baik dan penyayang, dia menyayangimu sayang." Ujar Sakti.


" Ya.. Dia anak yang baik sedang aku tidak, aku tidak peduli apapun yang kamu pikirkan tentang aku ataupun tentang dia, sampai kapanpun aku akan membencinya, dan sampai kapanpun dia bukan saudaraku, aku tidak sudi mempunyai saudara sepertinya titik." Teriak Aroon.


" Aroon bagaimanapun dia adalah saudaramu Nak, dia sudah anak kami, adik kamu sayang." Ujar Sakti menghela nafasnya.


" Bukan... Dia bukan saudaraku karna dia bukan anak Mama ataupun Papa, aku membencinya karna selama ini Ibunya membuat kami menderita, aku tidak mau punya saudara sepertinya, dia hanya anak haram yang tidak jelas asal usulnya." Teriak Aroon.


" Aroon." Bentak Sakti.


Plak....


" Mas..." Teriak Alfi melihat Sakti menampar Aroon. Ia menangis melihat semua itu.


" Sa... sayang." Lirih Sakti.


Sakti menurunkan tangannya, Ia menyesali perbuatannya yang telah hilang kendali hingga menampar Putranya.


" Maafkan Papa Nak..." Ucap Sakti mencoba mengelus pipi Aroon.


" Jangan pernah menyentuhku." Teriak Aroon menepis tangan Sakti.

__ADS_1


" Hiks...hiks.." Isak Alfi.


" Maafkan Papa Nak." Lirih Sakti.


" Aku bukan anakmu... Aku anak Papa Shiv, aku tidak menginginkanmu, hanya Papa Shiv yang selalu menyanyangiku, bahkan selalu tahu apa yang aku mau, aku membenci dirimu bahkan sampai kapan pun aku membencimu." Teriak Aroon sambil mengusap air matanya. Ia segera pergi dari sana.


" Aroon.. Aroon tunggu sayang." Panggil Alfi.


Aroon tidak peduli, Ia terus berjalan keluar. Di depan pintu Ia berpapasan dengan Nervan yang memang berdiri di sana melihat semua kejadian itu.


" Abang..." Panggil Nervan.


" Jangan pernah kau memanggilku Abang karna aku bukan siapa siapa kamu." Ketus Aroon menlanjutkan langkahnya.


" Arooon..." Teriak Alfi.


" Hiks...." Isak Alfi. Badannya luruh ke lantai, Ia menangis sesegukkan. Hati Alfi begitu sakit melihat suami dan putranya tidak akur hanya karna janjinya dengan orang yang sudah menghancurkan rumah tangganya.


" Sayang maafkan aku, bukan maksudku menyakiti Aroon." Sakti memeluk Alfi. Mereka berdua sama sama menangis.


" Hiks...hiks... Harusnya dulu aku memilih Mas Shiv saja... Harusnya kita tidak perlu kembali bersama jika akhirnya akan seperti ini, aku sudah bilang padamu jika kita tidak bisa bersama Mas... Hiks... Aku menyesal telah menerimamu dan putramu, aku menyesal telah membuat putraku terluka demi kebahagiaanku sendiri... Aku egois... Aku seorang ibu yang egois karena aku lebih memntingkan cintaku padamu dari pada cintaku kepada Aroon... Aku menyesal Mas...." Ucap Alfi di sela sela isakannya.


" Tidak sayang, jangan katakan hal itu, maafkan aku hiks." Sakti mengusap air matanya.


" Ini semua salahku Mas, harusnya aku menuruti kemauan Aroon untuk menikah dengan Shiv agar semua ini tidak terjadi, semuanya sudah hancur berantakan tidak akan bisa kembali utuh seperti dulu lagi, di hati Aroon sudah tertanam kebencian sejak kepergianmu Mas, di tambah lagi kamu pulang dengan membawa Nervan..." Lirih Alfi.


" Sayang tapi Nervan bukan putraku." Sahut Sakti.


" Aku tahu tapi dari awal Aroon tahunya dia putramu Mas, rasa kebencian itu sudah mengalir pada darahnya sehingga tidak bisa hilang dengan begitu mudahnya." Ucap Alfi.


" Apa yang harus aku lakukan..." Isak Sakti.


" Lebih baik kita berpisah saja Mas." Ucap Alfi membuat Sakti menatapnya dengan tajam.


" Lupakan semua yang terjadi pada kita, akan lebih baik jika kita berjalan di jalan masing masing, aku tidak mau membuat Aroon semakin terluka, dan jika Nervan mendengar semua ini, dia juga akan terluka Mas." Ujar Alfi.


" Jangan lakukan itu sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu, aku mencintaimu dan aku menyayangi Aroon sayang, jangan katakan perpisahan lagi, aku tidak sanggup mendengarnya." Ucap Sakti menangkup wajah Alfi.


" Entahlah Mas aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, kamu membuatku berada dalam posisi yang sulit." Ucap Alfi.


" Maafkan aku... Hiks... Maafkan aku sayang." Ucap Sakti memeluk Alfi.


Sedangkan Nervan ikut menangis sambil berdiri di depan pintu. Ia begitu sedih melihat keluarga ini hancur karna ulah ibunya.


" Kamu tega menghancurkan keluarga ini Bu, keluarga yang seharusnya hidup bahagia mejadi penuh penderitaan karena ulahmu, semoga Tuhan mengampuni semua dosamu." Batin Nervan sambil terus menangis.


TBC....


Kalau ada yang nanya


" Thor kok anak sekecil Aroon bisa ngomong kaya' gitu si."


Dari awal author sudah katakan kalau Aroon menjadi bersikap dewasa sejak kepergian Papanya, Dan kebencian itu sudah mendarah daging pada jiwanya. Jadi beginilah sikapnya..


Nikmati aja ya...


Makasih atas dukungannya

__ADS_1


Miss U All...


__ADS_2