
Sekarang Meyla, Andra dan Papa sedang berada di pemakaman Meyla berjongkok di depan dua makam kedua org tuanya. Tadi Dia sudah lebih dulu ke makam ibu nya. Air mata Meyla sudah tk bisa ditahannya lagi.
"Ayah. Ibu maafkan Meyla baru mengujungi kalian sekarang. Mey kesini mau meminta restu Ayah dan Ibu. Mey sebentar lagi akan menikah dengan org yg mey cintai. Semoga Ayah dan Ibu bisa memberikan kami restu di atas sana dan selalu mendoakan kami. " kata Meyla terisak.
Andra merengkuh bahu Meyla mencoba menguatkan kekasihnya itu.
"Ayah Ibu aku janji akan membahagiakan putrimu yg cantik ini. semoga kalian tenang dan di tempatkan di tempat yg terbaik di sisi Nya" kata Andra
"aminnn" ucapa mereka
"sayang sudah jangan menangis lagi. kita pulang sekarang" Ajak Andra
Meyla pun berdiri Tapi tiba tiba dada nya terasa nyeri. Meyla refleks memegang dadanya. Andra yg melihat muka Meyla pucat dan memegang dada nya seperti menahan sakit menjadi panik.
"sayang kamu kenapa? apa ada yg sakit?" tanya Andra cemas
"gk papa ko. aku cuma sesak aja mungkin kelamaan berjongkok" ucap Meyla tersenyum
"Beneran gk papa.? ya udah ayo kita cepat pulang" ajak Andra memapah Meyla menuju ke mobil nya.
Setelah sampai di mobil Papa sudah ada disana menunggu mereka.
"Mey kamu kenapa ko muka nya pucet banget?" tanya Papa khawatir
"gk papa ko pa. ayo kita pulang " Meyla tersenyum lalu masuk diikuti Andra. Sementara Papa duduk di depan bersama mang Diman.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di rumah keluarga Bramarta. Mereka langsung masuk. Disana telah ada mama dan Raina.
"Sudah pulang Mas Andra?" tanya Raina langsung bergelayut manja di tangan Andra
"jaga sikapmu nona" kata Andra menghempaskan tangan Raina dengan kasar.
Meyla hanya diam Dia begitu tau bagaimana sifat kakaknya. Sedangkan Raina wajahnya sudah merah menahan amarah. Dia langsung pergi ke kamarnya .
Meyla dan Andra pergi ke kamar tamu untuk membawa barang barang nya.
"sayang sudah siap semuanya?" tanya Andra memeluk Meyla dari belakang.
__ADS_1
"sudah sayang. ayo kita berangkat aku takut kalo lama lama disini kamu bakal kepincut sama kak Raina lagi" jawab Meyla dengan nada cemburunya.
"Hahaha. apa kamu sedang cemburu sayang?" tanya Andra tertawa senang
"kenapa emang kalo aku cemburu. gak boleh gitu?" tanya Meyla cemberut
"boleh.....boleh kok. aku suka kalau kamu cemburu " jawab Andra tersenyum senang
"au ahh." kata Meyla yg berlalu pergi ke dapur untuk membuat teh hijau untuknya dan Andra.
"ihhh. ko pergi sayang" teriak Andra tertawa melihat tingkah Meyla.
Saat sampai di dapur Meyla langsung membuat teh hijau. Tapi tiba tiba Raina datang menghampiri nya.
"lagi buat apa ?" tanya Raina basa basi
"bikin teh hijau kak. kakak mau?" tanya Meyla ramah
"boleh dong buatin satu yg panas ya" jawab Rania yg langsung duduk di meja makan.
"ini kak." Meyla menyodorkan secangkir teh hijau ke arah Raina. Tapi Raina malah sengaja menepisnya sampai teh panas itu tumpah ke tangan kanan Meyla.
Terlihat tangan Meyla yg memerah karna air panas itu. Raina tersenyum puas karna berhasil mengerjai adik tirinya itu.
Meyla tak jadi membawa teh hijau nya. Dia langsung ke kamar dan mengajak Andra segera pulang. Sebelum pulang mereka berpamitan dulu pada keluarga nya.
"Pa. Ma mey pulang dulu ya" kata Meyla ramah
"iya hati hati dijalan nya. Nanti papa sama Mama pasti datang ke pernikahan kalian." ucap sang Papa
"Terimakasih om. kalau begitu kita berangkat dulu. Assalamualaikum " Andra bersalaman dengan Papa dan Papa. Meyla juga melakukan hal yg sama.
"waalaikumsalam " jawab Papa sedangkan Mama hanya diam.
........................
Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil. Mereka sudah setengah perjalanan.
__ADS_1
Meyla yg sedang asyik melamun sambil menatap keluar jendela. Dia hanya bisa berpura pura tegar di depan semua org. Tapi sebenarnya hati nya sangatlah hancur mendapati kenyataan yg harus Dia terima.
"sayang" panggil Andra
"Hemmmm" Meyla menoleh ke arah Andra.
"tolong ambilkan poselku dong. tadi aku masukin tas kamu" suruh Andra
Meyla langsung merogoh tas selempangnya dan mengambil ponsel Andra lalu Dia segera memberikan nya.
Andra yg akan menerima ponsel dari Meyla terbelalak melihat tangan Meyla yg memerah seperti bekas luka bakar.
"sayang tangan mu kenapa?" tanya Andra yg memegang tangan Meyla
"gk papa. tadi cuma gk sengaja ketumpahan air panas aja" jawab Meyla langsung menarik tangan nya dari genggaman Andra
"sayang jangan bohong ya sama aku." Andra mendekatkan wajahnya ke arah Meyla. Tapi Meyla malah memalingkan wajah nya ke arah lain. Dia takut ketahuan berbohong.
"oke. kalau gk mau jujur gk papa. Lagian aku tau ko siapa yg udah buat tangan kamu seperti itu " kata Andra santai
"aku emang gk sengaja tadi numpahin teh panas ke tangan ku mas" jawab Meyla gugup
"oke. kalau gitu. siniin tangan nya" Adra meraih tangan Meyla kembali
"mau apa mas? aku gk papa ko " kata Meyla menarik tanganya namun kali ini di tahan oleh Andra.
"mang siniin kotak obat itu" perintah Andra sambil menunjuk ke arah kotak P3K.
"ini Tuan" Mang Diman menyodorkan kotak obat itu ke Andra.
Andra langsung membuka kotak obat dan mengambil salep untuk luka bakar. Andra segera mengoleskan salep ke tangan Meyla dengan lembut.
"Ini lukanya cukup parah tau. kalau gk cepet di obatin" Andra mengomeli Meyla
"gk papa ko mas. Aku sering kena luka yg lebih parah dari ini. Jadi ini cuma luka kecil" jawab Meyla tersenyum getir
"sayang... mulai saat ini kamu gk boleh terluka sekecil apapun itu. aku gk akan sanggup melihat kau terluka. ngerti" Andra mengelus pipi mulus Meyla
__ADS_1
Meyla hanya mengangguk dengan mata berkaca kaca Dia begitu terharu dengan ucapan Andra. Baru kali ini ada org yg segitu perhatian nya pada Meyla.