
Meyla hari ini bangun lebih awal daripada suaminya. Meyla sudah mandi dan langsung keluar kamar bermaksud akan menyiapkan sarapan. Tapi saat Meyla melangkah ke dapur Dia kaget karna ada seorang ibu paruh baya yg sedang memasakan sarapan. Meyla langsung menghampiri nya.
"Assalamualaikum. maaf ibu siapa ya?" tanya Meyla ramah
Ibu itupun langsung berbalik dan tersenyum ke arah Meyla.
"Waalaikumsalam. Saya Bi Iyem Nona. saya yg mengurus villa tapi saya kesini setiap 2 hari sekali. Maaf saya kemarin tidak tau kalau Nona dan Tuan Muda akan berkunjung ke Villa" jelas Bi Iyem
"ohhh. Begitu ya Bi. perkenalkan saya Meyla Bi" Meyla mengulurkan tangan nya
"Nona sangat cantik dan juga baik. Pantas saja Tuan Andra bisa berpaling pada Nona" puji Bi Iyem tulus dan menjabat tangan Meyla.
"Maksud Bibi? Berpaling?" Meyla mengkerutkan dahinya bingung
"Iya Tuan Muda kan semenjak meninggal mendiang istrinya itu. Dia sangat sulit didekati wanita mana pun. Bahkan Nyonya besar sudah sering menjodohkan nya. Tapi tetap ditolak.. " jelas Bi Iyem
"ohh. begitu ya bi" Meyla tersenyum
" ya sudah ini sarapan nya Nona. Bibi mau belanja ke pasar dulu" Bi Iyem meletakan nasi goreng dan telur mata sapi di meja makan.
"Jauh gak Bi ?" tanya Meyla
"nggk Nona. deket Bibi aja mau jalan kaki" jawab Bi Iyem sambil tersenyum
"Mey ikut ya Bi. Lumayan itung itung jalan pagi. Bibi tunggu bentar aku mau ambil tas dulu" Meyla langsung berlalu pergi ke kamar nya.
Bi Iyem tersenyum melihat punggung Meyla yg sudah menjauh.
"Anda memang orang baik Nona. Bahkan anda tidak menilai seseorang dari status nya. Saya ikut bahagia melihat Tuan Muda mendapatkan wanita sebaik dan selembut Nona " Bi Iyem berbicara sendiri
" Ayo Bi" Meyla sudah kembali dengan tas. selempang nya dan langsung menggandeng tangan Bi Iyem.
__ADS_1
"Nona gak malu jalan sama Bibi? Bibi ini cuma pembantu " Bibi Iyem merendah
"Kenapa harus malu. Aku itu gk pernah menilai seseorang dari status nya. Yg terpenting prilakunya Bi. Mey seneng ko bisa jalan sama Bibi" Meyla malah memeluk Bi Iyem seperti pada Ibunya sendiri.
Bi Iyem tersenyum dan mengelus kepala Meyla. Tentu saja membuat Meyla tersenyum bahagia.
Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di pasar tradisional. Meyla terlihat sangat bahagia Dia membeli beberapa makanan lokal yg ada di pasar itu. Setelah selesai belanja Meyla dan Bi Iyem langsung pulang.
Di perjalanan Meyla terus mengoceh Bi iyem hanya mendengarkan
"Nona apa Nona sudah izin pada Tuan untuk ikut pergi bersama Bibi?"
"Sudah Bi. Mas Andra masih tidur jadi aku juga bosen diem aja di Villa" jawab Meyla tersenyum
Bi Iyem hanya mengangguk. Sesampainya di Villa Meyla langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Sementara Bi Iyem pergi ke dapur untuk membereskan belanjaan nya.
Andra baru saja membuka matanya. Dia langsung bangun dan pergi ke kamar mandi.
"Sayang" panggil Andra
"Ehhh. iya mas. kamu udah bangun " Meyla membenarkan posisi duduknya. Tapi Dia masih memegang dadanya yg terasa nyeri.
"Kamu kenapa. apa ada yg sakit?" tanya Andra cemas
"Mas bisa tolong ambilkan obat aku di kamar" Meyla tidak menjawab pertanyaan Andra.
"Baiklah. tunggu disini " Andra langsung pergi ke kamar untuk mengambil obat Meyla.
Tak berapa lama Andra sudah kembali dengan segelas air putih dan obat yg di perlukan Meyla.
Meyla langsung meminum obatnya agar rasa sakit di dadanya berkurang.
__ADS_1
"Sayang kita ke rumah sakit aja ya. Aku takut kamu kenapa napa" Andra cemas
"gak usah mas. Nanti juga sembuh kalo udah minum obat " kata Meyla sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Andra.
"kamu habis dari mana tadi?" tanya Andra mengusap ngusapkan dagu nya di kepala Meyla.
"Aku ikut ke pasar sama Bi Iyem itung itung jalan pagi mas"
"kamu pasti kelelahan sayang. Makan nya dada kamu sakit lagi kan" Andra mengecup puncak kepala Meyla
Meyla menghembuskan nafas berat
"Baru segitu aja aku udah lelah. Padahal dulu aku lebih sering mengerjakan sesuatu yg melelahkan. Sekarang aku bagai org yg tak bisa apa apa. Gak lebih dari org penyakitan dan tak berguna" Meyla berkaca kaca
" Sayang jangan pernah lagi ngomong kaya gitu. Aku yakin kamu bakal sembuh dan bisa hidup normal kembali." Andra menenangkan istrinya
"Tapi aku takut mas.... aku takut gak bisa sembuh dan cuma jadi beban buat kamu" Tangis Meyla pun pecah
"Sayang.... jangan pernah lagi merasa kamu adalah beban buat aku. Aku yakin kamu akan sembuh. Kamu gk ingat kata dokter kalau kamu bisa sembuh" Adra mencium kening Meyla
"Tapi ak.... hemmp" Sebelum kata kata Meyla selesai Andra sudah membungkam nya dengan bibir nya.
Andra melum*t halus bibir Melyla. Menghisap lidah Meyla. Meyla hanya diam mengikuti permainan suaminya.
Mereka berciuman cukup lama sampai keduanya kehabisan nafas. Mereka langsung melepas ciuman itu
Andra menyatukan keningnya dan kening Meyla. Sehingga nafas mereka bisa dirasakan oleh keduanya.
"jangan pernah lagi bicara seperti itu. Aku mencintaimu apa adanya" ucap Andra
"Iya mas. aku juga sangat mencintaimu" Meyla tersenyum
__ADS_1