Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 15: Jujur Saja Padaku


__ADS_3

Ini adalah hari yang lainnya, setelah Lea resmi memasuki ekstrakurikuler fotografi. Ya, karena akhir pekan jadi Lea tidak lagi memasak untuk Rey, dan menikmati akhir pekan dengan santai. Lea bahkan sudah repot-repot meminta Neneknya untuk membelikan sebuah Kamera.


Ya, karena Lea tidak begitu mengerti hal-hal soal kamera jadi dia meminta Nathan untuk membantunya memilih spesifikasi Kamera yang bagus, kebetulan mereka kemarin sempat menyebut nyebut kamera yang bagus ketika Lea selesai mendaftar di Ekstrakurikuler dan setelah mendapatkan rekomendasi, Lea berniat segera membeli kamera tersebut. Tentu, itu bukanlah kamera yang mahal hanya beberapa kamera yang setidaknya memiliki kualitas yang bagus, walaupun ada kamera ponsel namun Lea merasa akan sangat sia-sia jika ikut ekstrakurikuler fotografi hanya dengan kamera ponsel.


Sekolah menyediakan kamera, namun hanya ada satu kamera di Ekstrakurikuler, dan Lea tahu bahwa Kamera itu mungkin hanya akan dipakai oleh Rey, akan sangat merepotkan jika harus berganti kamera dengan pemuda menyebalkan itu, yang pasti ujung-ujungnya bertengkar.


"Tumben kamu ingin membeli sesuatu, Lea? Dan ini kamera? Kenapa tiba-tiba?" Tanya Nenek Lea yang saat ini sedang melihat cucunya itu akan berangkat dengan sopir pribadi.


"Hehe, aku baru baru ini mengikuti ekstrakurikuler fotografi dan tertarik untuk mencoba belajar memfoto, dan aku pikir aku akan membutuhkan sebuah kamera,"


Nenek Lea tersenyum melihat cucunya itu bisa kembali tersenyum ceria, benar-benar sangat berbeda saat satu tahun yang lalu ketika Lea masih bersama orang tuanya yang di ambang perceraian itu, Lea yang selalu murung dan tidak pernah menunjukkan senyumannya dan sekarang cucunya itu lebih sedikit menunjukkan cahaya dan ceria jadi tentu saja sebagai Nenek saya akan menyetujui hobi Cucunya ini.


"Mengikuti ekstrakurikuler fotografi? Itu terdengar seperti di yang bagus jika kamu memang menyukainya Nenek apa mendukungmu,"


"Terimakasih banyak Nenek,"


Lea tentu sebelum pergi, Lea juga sempat mengirimkan beberapa pesan kepada teman Virtualnya, Alfa untuk mengirimkan rekomendasi spesifikasi kamera yang bagus, namun orang itu belum membalas pesan Lea. Alasan lain kenapa Lea begitu tertarik dengan fotografi karena Alfa menyukai fotografi.


Yah, Lea tidak berharap banyak untuk pesannya segera dibalas pula jadi dia hanya segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu menaiki mobil menuju ke kota terdekat mencari toko yang menjual kamera.


Perjalanan menuju ke kota memakan waktu sekitar setengah jam, ini tidak begitu jauh sampai menemukan sebuah toko kamera. Lea menatap toko kamera itu dengan antusias, Lea lalu segera masuk ke dalam toko itu dan lain melihat-lihat daftar kamera yang ada di dalamnya mulai mencocokkan nama dan tipe kamera yang sesuai dengan rekomendasi Nathan.


Lea sebenarnya ini meminta rekomendasikan Alfa dulu, namun dari kemarin Lea merasa cukup malu untuk bertanya karena nanti dikira dirinya ikut-ikutan Alfa, Lea tidak ingin di cap sebagai peniru jadi Lea tidak berminat untuk mengatakan juga bahwa dirinya ikut ekstrakurikuler hanya bilang jika dirinya tiba-tiba tertarik membeli kamera untuk hobi.


Setelah berkeliling dan melihat-lihat kamera yang dipajang, Lea akhirnya menemukan tipe kamera yang dia inginkan. Lea lalu melihat dari dekat kamera itu, dan mencoba memegangnya. Desain kameranya cukup bagus dan ini benar-benar cukup ringan benar-benar berbeda dari kamera yang dimiliki sekolah sebelumnya.


"Hmm, sepertinya ini kamera yang cukup bagus,"


Lea pikir, sebaiknya memang membeli kamera ini saja soal harga sih tidak masalah namun jika membeli yang terlalu mahal itu juga tidak terlalu efektif karena toh lihat tidak se ahli itu dalam fotografi sangat sia-sia jika memiliki kamera bagus namun skillnya buruk.


Tepat saat Lea mengambil kamera itu, ternyata ada seseorang yang berada di belakang Lea, berkata,

__ADS_1


"Heh? Loe berniat beli kamera itu? Itu memang sedikit murah namun dari segi spesifikasi itu jelas jauh, kualitas gambarnya juga gak begitu bagus,"


Itu adalah suara dari seseorang yang terlihat familiar, ya Lea begitu terkejut ketika melihat sosok yang familiar di belakangnya hampir saja menjatuhkan kamera yang di bidangnya.


"Rey? Kenapa sih kamu muncul begitu tiba-tiba seperti hantu saja!!"


Rey tentu saja awalnya juga terkejut melihat Lea ada di toko kamera, awalnya Rey juga tidak berniat untuk Lea, namun melihat Lea yang sepertinya ingin membeli kamera itu memiliki kamera yang memiliki spesifikasi yang tidak begitu baik jelas merasa sangat kesal.


Lea benar-benar terlihat boros dan menghancur hamburg taliwang sedangkan di dunia harus bersusah payah untuk mengumpulkan uang agar bisa mendapatkan kamera bagus.


"Aku hanya kebetulan melihatmu sangat tidak nyaman melihat kamu membeli kamera dengan spesifikasi payah,"


"Tapi ini kamera rekomendasi dari Kak Nathan,"


Rey yang mendengar itu segera menghela nafas dan berkata,


"Hah, Nathan itu memiliki selera yang huruf dalam membeli kamera aku ingat terakhir kali dia membeli kamera itu benar-benar belum lama ini camera itu rusak, itulah kenapa dia meminjam kamera sekolah belakangan ini,"


Lea yang baru saja mendengar kita itu jelas cukup terkejut.


"Dia masih pemula setelah semua, kemampuannya hanya sedikit di atas rata-rata,"


"Kamu benar-benar terlihat sedang melecehkan Kak Nathan,"


"Apa urusannya itu sama loe pula? Jujur saja sama gue, loe pengen masuk ke ekstrakurikuler ini biar Deket sana Nathan?"


Lea yang tiba-tiba dituduh itu jelas menunjukkan ekspresi tidak senang.


"Jangan sembarangan kalau ngomong,"


"Itu buktinya kamu bahkan mencoba mencari topik pembicaraan dengan Nathan soal kamera, ini adalah modus umum yang biasa digunakan, nanti ujung-ujungnya lupakan minta ditemenin sama dia buat beli kamera mungkin ada beberapa hal dan dia nolak buat nemenin beli kamera,"

__ADS_1


Lea yang mendengar bagaimana pemuda yang ada di depannya itu sangat pintar dalam memikirkan sebuah skenario hanya bisa menghilang geleng kan kepalanya.


"Astaga aku tidak mengira jika kamu sangat suka sekali menulis cerita drama semacam itu, kamu bilang sebelumnya ingin membuat video klip pendek bukan? Bagaimana jika kamu yang mengurus sekenarionya saja, sepertinya kamu sangat bagus dalam menulis hal-hal semacam drama,"


Rey yang merasa diejek itu segera menjadi kesal.


"Dahlan gue nggak tahu tujuan lu tapi yang jelek gue nggak suka loe mendatang ke tempat ekstra buat deketin Nathan,"


"Itu terserah Aku pula,"


Lea merasa tidak ada gunanya mencoba menjelaskan ini di depan Rey. Rey buka tidak berniat untuk berbicara lebih lanjut dan segera berjalan melihat ke deretan kamera lain.


Lea yang penasaran segera meletakkan kamera yang batal dia beli itu dan mengikuti Rey.


"Kamu ingin membeli kamera juga?"


"Apaan sih lo kepo banget,"


"Yah, kan kamu yang duluan kepo kan sampai ngeliatin kamera apa yang bakal aku beli?"


Rey yang males berdebat akhirnya berkata dengan jujur,


"Gue cuman ke sini buat lihat-lihat kamera yang bagus yang bakal gue beli nanti nya,"


"Eh? Baru liat-liat aja? Kenapa nggak langsung beli aja?"


Rey lalu melihat kearah dandanan Lea, yang jelas sekali pakaiannya dari atas sampai bawah adalah barang-barang mahal terlihat seperti Nona dari Keluarga Kaya.


"Ya gue beda sama loe yang apa-apa tinggal minta sama bokap nyokap loe terus bisa langsung beli apa yang loe mau, gue harus usaha untuk mendapat in apa yang gue mau,"


Lea yang mendengar itu merasa cukup terkejut namun akhirnya pertanyaan yang selama ini dirinya simpanse dah terjawab alasan kenapa pemuda itu bahkan memiliki beberapa pekerjaan tambahan di tempat kontruksi sebelumnya.

__ADS_1


Apakah itu salah satu cara untuk mengumpulkan uang untuk bisa membeli kamera?


Semakin Lea mengenal Rey, semakin banyak hal-hal menarik yang Lea tahu darinya.


__ADS_2