
Siang itu, karena cedera di Kakinya, Lea menjadi kesulitan berjalan, Rey sudah menyuruh Lea agar dijemput oleh sopirnya saja namun Lea menolak, karena merasa tidak nyaman untuk menunggu sopirnya datang.
"Lalu, gaimana Lo mau pulang pake Kaki seperti ini? Lo sepertinya jalan keluar dari ruangan ini aja susah, apalagi jalan ke rumah,"
Lea ditanya itu segera terdiam sedang memikirkan jawaban apa yang cocok.
"Bagaimana ya, kakiku sebenarnya tidak seburuk itu kok lihatlah aku bisa berjalan,"
Lea mencoba untuk berdiri dari tempat duduk itu dan mulai berjalan ke arah pintu untuk menunjukkan kasihnya baik-baik saja, ini hanya sedikit terkilir kecil tidak sampai separah itu pula. Dan berkat urutan kaki dari Rey, Lea sudah merasa mendingan.
Rey yang mendengar gadis keras kepala di depannya itu segera melihat ke sekeliling ruangan, seolah sedang mencari sesuatu, dan benar saja dia menemukan sebuah masker, lalu memakaikan Lea jaket miliknya.
Lea yang tiba-tiba diberikan masker dan jaket itu segera menjadi bingung dan penasaran,
"Huh apa? Ini tidak seperti aku sedang sakit flu atau sesuatu,"
"Lo pakai aja apa susahnya sih terus lo ikut gue dah,"
Lea menurut, dan mengikuti Rey di belakangnya, mereka berdua berjalan ke parkiran belakang, tempat yang tidak pernah Lea datangi. Ya karena memang Lea tidak menaiki kendaraan apapun untuk diperkirakan di sana terutama kendaraan yang ada di parkiran itu.
Rey lalu menyuruh Lea diam, dan segera menuju ketempat tertentu, dan membawa sepeda kedepan Lea.
"Lo pasti tidak pernah membonceng sepeda kan? Mau coba?"
"Huh? Ini sepedamu?"
"Hmm, gara-gara seseorang gue harus jalan kali kalau pulang, terus balik ambil sepeda,"
"Maaf, udah ngerepotin segala,"
"Entahlah berhenti basa-basi jadi pengen naik apa enggak sih?"
Lea lalu menatap kearah pemuda itu yang saat ini sudah menaiki sepeda nya dan juga sudah memakai masker. Lea menatap kearah boncengan sepeda itu dengan ekspresi sedikit ragu.
Apakah ini aman?
"Gue tahu, Nona Muda kayak Lo, gak pernah kepikiran kan di bonceng naik sepeda? Ya, maaf aja ya, Gue gak ada Mobil atau Motor, tapi ini aman kok,"
__ADS_1
"Gak gitu juga, ku pikir ini merupakan pengalaman yang bagus juga untuk mencobanya,"
"Ya, udah buruan naik,"
Lea jelas segera menaiki boncengan sepeda itu seperti bagaimana memboceng motor, namun sedikit kesulitan karena rok yang dipakainya, jadi dia menghadap kesamping.
"Kayak gini beneran gak papa?"
"Gak papa, asal lo pegangan yang kenceng,"
"Eh? Dimana?"
Rey segera menujukan tangan Lea ke tubuhnya.
Lea bahkan belum sempat meresponnya namun sepeda itu sudah segera berjalan namun tentu saja karena itu adalah sepeda itu berjalan dengan cukup lambat. Mereka ternyata keluar dari gerbang belakang sekolah.
"Tunggu, Rumahku kayaknya nggak lewat sini,"
"Kita lewat jalan memutar, barangkali nanti kalau lewat jalur biasa malah ketemu orang-orang yang mengenal gue, walaupun udah pakai masker kayak gini Mungkin aja kan mereka ngenalin gue sama Lo?"
Itu adalah sebuah pengalaman baru untuk dibonceng naik sepeda seperti itu, dan melewati jalan pintas itu benar-benar terasa sangat menyenangkan, daerah sekitar merupakan sebuah perkebunan dengan berbagai macam pohon tinggi jadi terasa sangat sejuk ketika melewati tempat itu, belum lagi di sana cukup sepi.
Hal-hal benar-benar terasa sangat menyenangkan, Lea merasakan udara segar berhembus menerpanya, Dia benar-benar terlihat sangat menikmati pengalaman baru ini.
Terutama ketika Lea menatap ke arah pemuda yang memboncengnya itu, entah kenapa detak jantungnya berdebar lebih keras.
Rey sendiri, fokus untuk menaiki sepedanya sampai kebetulan mereka sedikit menunggu sebuah batu kecil, membuat sepeda itu oleng sedikit, karena hal-hal itu pula membuat Lea mengencangkan pegangannya kepada Rey secara refleks.
Rey yang merasakan dirinya dipeluk oleh gadis yang ada di belakangnya itu tiba-tiba merasa cukup aneh, sial kenapa jantungnya tidak karuan seperti ini?
Sialan!
Sampai mereka berdua lalu melewati sebuah perkebunan yang penuh dengan bunga.
"Woah, ini sangat indah ..."
"Mau coba ngambil foto di sini?"
__ADS_1
"Boleh, boleh, tempat ini benar-benar sangat bagus," kata Lea dengan penuh semangat menata perkebunan penuh bunga matahari itu, benar-benar pemandangan yang sangat indah.
Keduanya, segera turun dari sepeda, dan mulai berjalan ke arah perkebunan bunga sambil mengeluarkan kamera masing-masing.
"Lea, Lo Jangan jalan cepat-cepet kayak gitu nanti kalau Kaki lo jadi lebih parah gimana?"
Lea yang mendengar Bagaimana pemuda itu khawatir padanya hanya tertawa dan berkata,
"Ini sudah lebih baik kok kamu nggak usah khawatir,"
"Siapa pula yang khawatir?"
"Lah tadi?"
"Kalau lo sakit gue jadi tambah repot lu ngerti nggak sih?"
"Baik-baik,"
Rey juga segera mengeluarkan sebuah kamera dari tasnya, lalu mengarahkan kamera itu kepada Lea yang saat ini sedang menikmati pemandangan di sana. Ya, Rey tiba-tiba saja memiliki keinginan untuk memfoto gadis itu.
Lea yang menikmati pemandangan itu tentu saja tidak sadar jika difoto.
Rey yang mengambil beberapa jepretan Lea, merasa Cukup puas dengan hasil jepretannya itu, dia menatap hasil jepretannya, dimana ada wajah Lea yang terlihat tersenyum dari arah samping.
"Ini benar-benar cantik,"
Lea yang tidak melihat dari tadi Rey tidak mengikutinya malah hanya diam di belakang jelas saja segera mengalihkan pandangannya, melihat Rey Yang sepertinya melihat sesuatu di kameranya itu.
Apakah Rey baru saja memotretnya?
Apakah ini foto memalukan?
Lea Yang penasaran itu jelas saja segera mendatangi ke arah pemuda itu. Mencoba mengintip isi kamera pemuda itu yang saat ini sedang fokus.
Rey jelas saja menjadi begitu kaget karena Lea tiba-tiba berada di jarak yang dekat padanya. Tatapan mereka saling bertemu, seolah tidak ingin melepaskan tatapan satu sama lain.
Mungkin karena terbawa suasana, Rey segera menempatkan wajahnya lagi, lalu...
__ADS_1