
Lea akhirnya dibawa kesebuah gudang yang menakutkan, dia mulai di ikut di kursi, lalu mulutnya di tutup dengan lakban. Jujur, Lea menjadi sangat ketakutan di sana.
Dia tidak pernah diculik sebelumnya Jadi wajar saja jika pengalaman diculik ini terlalu menakutkan untuknya. Dia hanya gemetaran, namun tidak tahu harus berbuat apa di sana.
Apa yang akan terjadi padanya?
Lea benar-benar takut hanya untuk memikirkannya. Disana, Lea melihat pemuda yang menculiknya tadi, saat ini mulai mengeledah tas miliknya, terlihat sedang mencari sesuatu.
"Hey, mana ponselmu?"
Lea ingat, jika ponselnya tadi sepertinya sepertinya ada di saku jaket yang dipakainya. Namun, karena mulut Lea ditutup jadi dia tidak bisa menjawab.
Lagi pula dirinya juga tidak tahu untuk apa pemuda itu akan menggunakan ponselnya jelas saja itu bukanlah hal yang baik.
"Ah, benar juga aku sempat lupa karena kamu tidak bisa berbicara,"
Dia lalu segera melepaskan lakban di mulut Lea.
"Lepaskan Aku, Brengsek!!"
"Stttt.... Kenapa kamu begitu sangat berisik? Nanti aku pasti akan melepaskanmu kamu tenang saja,"
"Memangnya aku pikir aku percaya?"
"Itu terserah kamu percaya atau tidak,"
"Apa sebenarnya maumu?" Kata Lea dengan marah.
"Aku sudah bilang sebelumnya bukan? Yang Aku inginkan adalah Rey, Aku ingin dia datang ke sini berlutut di hadapanku memohon dan meminta untuk membebaskanmu, lalu membiarkanku memberikan beberapa pukulan untuknya, ini hal-hal yang mudah bukan?"
Lea yang jelas mendengar tujuan dari pemuda itu benar-benar menggunakan dirinya sebagai umpan jelas merasa sangat marah. Lalu berkata lagi,
"Sungguh, kamu benar-benar salah untuk memilih target. Aku adalah anak baru di Sekolah itu, ya memang Aku kenal dengan Reyhan, namun kami hanya sebatas teman sekelas biasa, dia memperlakukanku dengan dingin sama seperti memperlakukan orang lain, jadi apakah menurutmu dia akan datang kesini dan melakukan semua itu hanya untuk sebatas kenalan?"
Pemuda itu, yang mendengar semua kata-kata itu segera terdiam mungkin karena dia benar-benar tahu sifat Reyhan seperti apa. Dan memang benar, Reyhan bukan tipe yang suka menjadi pahlawan kesiangan atau sesuatu yang akan menyelamatkan orang yang tidak dia pedulikan.
Itulah kenapa, sangat susah berurusan dengan orang itu dengan mengancamnya. Jika berkelahi langsung, Rayhan itu sangat hebat berkelahi, membuat pemuda itu kewalahan.
"Sial, apakah aku menculik orang yang salah?"
Lea yang mendengar bahwa pemuda itu terlihat sedikit ragu segera merasa sedikit lega. Ya, akan baik jika pemuda itu segera melepaskan dirinya. Lagipula, Lea cukup tahu sepertinya pemuda itu juga tidak berniat berbuah terlalu jauh, agar tidak terjadi masalah yang terlalu berat.
Lagipula dia masih seorang Siswa Sekolah setelah semua, ada batasan-batasan yang bisa dia lakukan.
"Itu benar kamu benar-benar salah menculik orang!! Aku tidak ada hubungannya dengan Reyhan itu!"
"Tapi jelas-jelas temanku melihat kalian berdua bergandeng tangan!"
"Bergandengan tangan apa? Dia hanya menyeretku pergi untuk mengusirku!"
"Kamu jangan mencoba bohong padaku!!"
Lea saat ini mencoba memikirkan cara untuk meyakinkan pemuda yang ada di depannya itu, dan setelah beberapa saat berpikir dia mulai memiliki sebuah ide.
"Lalu, apakah kita berdua memiliki hubungan? Kamu baru saja memboncengkanku di motormu, dan mengandeng tanganku juga untuk di seret kesini?"
Pemuda itu, lagi lagi menjadi terdiam mendengar kata-kata Lea.
__ADS_1
"Jelas itu hal yang berbeda!!"
"Namun pada akhirnya, yang Reyhan lakukan juga sama, dia hanya menyeretku untuk mengusirku pergi, hanya karena kami bergandeng tangan, bukan berarti kami memiliki hubungan!"
"Akhh, Kenapa sih kamu berisik sekali? Sudah sebaiknya serahkan saja ponselmu!"
"Mau kamu apakan ponselmu?"
"Bukankah sudah jelas? Aku akan menelepon Rey dengan ponselmu, untuk memanggilnya kesini!"
"Aku sudah bilang dia tidak akan pernah ke sini!"
Pemuda itu, lalu tertawa,
"Mari coba dan lihat saja!"
Pemuda itu sekarang mencoba mengeledah jaket Lea, dan benar saja dia menemukan ponsel Lea disana. Dia segera mencoba mencari nomor telepon Rey disana.
Dan benar saja, ketika dia mengetik nama di pencarian, dia tidak menemukan nomor telepon Rey, dia segera menujukan ekpersi kesal. Lea yang melihat pemandangan itu merasa Cukup puas, ya sangat beruntung dirinya tidak menyimpan nomor Rey, dirinya juga tidak pernah berkirim pesan sekalipun dengan orang itu ataupun memiliki tujuan untuk berkomunikasi dengannya.
Jadi apa gunanya menyimpan nomornya?
Lea merasa cukup beruntung dengan pilihannya ini setidaknya dengan ini dirinya tidak akan dihubung-hubungkan dengan Rey.
"Kenapa kamu tidak menyimpan nomornya?"
"Menurutmu memang kenapa? Aku sudah bilang jika aku hanya sebatas teman sekelas tidak memiliki hubungan apapun kami hanya kenalan, sebatas orang lewat, yang Bahkan tidak menyimpan nomor ponsel satu sama lain bahkan walaupun kamu memiliki nomor orang itu, dia tidak akan tahu nomor ponselku pula,"
Pemuda itu, terlihat menjadi semakin kesal setelah mendengar hal-hal itu kemudian mulai keluar dan memanggil teman-temannya yang ada di luar dan terlihat memarahinya.
Namun tetap saja, ini sangat menyeramkan, untuk di culik seperti ini. Lea mencoba untuk menenangkan dirinya, ini tidak benar-benar penculikan.
Tidak beberapa saat, sampai pemuda itu segera datang dengan salah satu temannya.
"Tapi Bos, kita tidak bisa melepaskan Gadis itu begitu saja setelah banyak kesulitan yang kita dapatkan bukan?"
"Hah, kamu ada benarnya, jadi menurutmu apa yang harus kita lakukan padanya?"
"Setidaknya Mari kita kirimkan foto gadis ini yang ada bersama kita pada Rey? Mungkin saja dengan beberapa keajaiban Rey akan datang?" Kata salah satu pemuda disana.
Sang pemuda berambut pirang yang mendengar ide dari temannya itu terlihat mengangguk setuju.
"Kamu benar, cepat gunakan ponselmu, dan foto kami berdua, aku harus terlihat memiliki pose yang bagus agar si sialan itu datang!"
Lea yang mendengar percakapan itu jelas saja menjadi bingung dan sekaligus kesal.
"Hey! Apa yang coba kamu lakukan!"
"Astaga, ini hanya beberapa foto sederhana? Tidakkah kamu mengerti? Aku akan membebaskanmu setelah ini!!"
Lea sendiri tidak tahu harus berbuat apa, karena pada akhirnya dirinya tidak memiliki pilihan selain menurut karena saat ini dia masih diikat.
Pemuda berambut pirang itu, lalu segera berpose namun merasa cukup canggung, karena tidak pernah melakukan hal-hal ini.
"Hey, bagaimana menurutmu, pose yang menakutkan saat menculik orang itu?" Tanyanya pada temannya.
Lea yang mendengar itu, hanya menujukan ekpersi buruk. Lea memang sudah menduga jika pemuda itu dan rombongannya bukan orang berpengalaman, namun tidak mengira jika mereka senaif itu, hah setelah semua mereka masih pelajar.
__ADS_1
"Bagaimana jika Bos pura-pura mencekik gadis itu?" Kata teman pemuda itu.
"Ini ide yang bagus!"
"Apaan sih! Jangan menyentuhku!!"
"Bos, bagaimana jika Bos berpose membungkam mulut gadis itu dengan tanganmu? Bukankah gadis itu sedikit terlalu berisik?"
"Kamu ada benarnya!"
Pemuda itu, segera mengunakan tangannya untuk membungkam mulut Lea. Teman pemuda itu, dengan siap sedia segera memfoto Pose itu dengan baik.
Sayangnya, Lea Tentu saja tidak ingin diajak kerjasama untuk adegan itu, segera mengigit tangan Pemuda yang membekap mulutnya itu.
"Awwww... Sialan!! Sakit!"
"Sudah aku bilang tidak ada gunanya kalian mengambil gambar!! Reyhan tidak akan pernah datang!"
"Kamu dari tadi terus berbicara seperti itu ini membuatku semakin curiga, Jika kamu benar-benar memiliki hubungan dengannya!"
"Tidak! Aku tidak memiliki hubungan!! Mari lihat apakah dia Datang atau tidak?"
Lea sebenarnya juga merasa cukup cemas tentang apa yang nanti terjadi, setelah melihat fotonya yang di culik, apakah Rey akan datang?
Sebenarnya lebih aman jika Rey tidak datang, Mungkin setelah beberapa saat dirinya akan dilepaskan oleh orang-orang itu dan masalah akan selesai.
Namun jika Rey datang, hal-hal berikutnya mungkin akan menjadi lebih merepotkan.
Karena bisa saja, Rey dalam bahaya dan lagi, dirinya mungkin bisa menjadi kelemahan Rey nantinya.
Sial, Lea yang memikirkan itu benar-benar menjadi takut hanya segera berharap agar Rey tidak datang.
Namun sebenarnya, dalam hati Lea, Lea berharap Rey datang menyelamatkannya.
Lea tahu Lea bodoh, kenapa bisa berharap Rey bisa datang menyelamatkannya?
Dirinya benar-benar hanya kenalan, mereka tidak memiliki hubungan apapun ataupun dekat. Tidak ada alasan Rey datang dan menyelamatkannya.
Namun kenapa, hati Lea tidak bisa untuk berhenti berharap?
Sial, Lea benar-benar masuk dalam sebuah Dilema.
####
Di tempat lainnya, saat ini Rey sedang berada di tempat kerja sampingannya di tempat bangunan, jadi tentu saja dia tidak memegang ponselnya. Dia terlalu sibuk untuk bahkan peduli dengan hal-hal seperti ponselnya.
"Rey, tolong bawa hal-hal ini ke depan!"
"Baik, Pak!"
Rey mulai mendorong kereta dorong roda satu yang memuat beberapa bahan bangunan.
Ya, itu hanya beberapa pekerjaan sederhana sebagai juru angkut paruh waktu, upah setengah hari, tidak begitu sulit, namun juga cukup mudah untuk Rey yang masih sekolah bisa mendapatkan pekerjaan ini.
Rey benar-benar tidak menyadari, jika sekarang ponselnya berbunyi, dan ada kiriman pesan tentang foto Lea yang di culik.
Entah, itu adalah hal yang baik atau buruk.
__ADS_1