Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 26: Membingungkan


__ADS_3

Dua orang itu saat ini saling bertengkar satu sama lainnya, terutama Rey yang ingin menjaga jarak dengan Lea. Lea yang bahkan tidak mendengar bagaimana Rey bahan minta maaf dan hanya malah memarahinya seperti itu jelas saja merasa sangat kesal ada kejengkelan di dalam hatinya.


Lea tahu mungkin Rey cukup mengkhawatirkan keselamatannya dengan mencoba menjaga jarak namun bukankah tidak perlu untuk berteriak dan marah-marah padanya seperti itu?


Bukankah bisa di bicarakan baik-baik?


Pemuda itu bahkan kemarin tidak menunjukkan wajahnya sedikitpun bahkan ketika perjalanan pulang, apakah dia hanya menyuruh Kak Nathan datang, jadi dia tidak perlu repot-repot untuk datang?


Hanya memikirkannya membuat Lea menjadi semakin kesal, apalagi sekarang udah di hadapannya itu seenaknya saja ingin memutuskan hubungan semacam itu bukan berarti mereka benar-benar memiliki hubungan namun tetap saja Lea merasa sangat kesal dengan kata-katanya. Jadi akhirnya Lea mulai membuat keputusan karena kemarahan.


"Baik!! Aku juga nggak mau kenal sama kamu!! Aku juga sudah tidak akan membuatkan bekal untukmu lagi! Mari berpura-pura tidak kenal ke manapun kita bertemu!"


Rey yang mendengarkan kata-kata itu hanya sedikit terkejut namun entah kenapa ada sedikit kekecewaan di dalam hatinya walaupun ini keputusan yang dirinya buat namun kenapa rasanya sulit untuk hanya berpura-pura tidak kenal pada gadis di hadapannya ini?


Bakal buatan Lea, pasti adalah sesuatu yang akan dirinya bukan di masa depan, padahal masih ada sekitar dua kali lagi. Namun sekarang dirinya tidak akan merasakan bekal itu lagi.


Rey yang mulai memikirkan hal-hal tidak perlu itu jelas saja merasa tidak senang, ini sebenarnya belum lama sejak dirinya kenal dengan gadis itu namun entah kenapa hubungan mereka bisa dibilang cukup dekat, Rey juga binggung kenapa dirinya kesal dengan keputusan yang dirinya buat. Namun ini sudah terlanjur seperti ini dan gadis yang ada di hadapannya itu sudah setuju, jadi mau bagaimana lagi.


"Baiklah kalau begitu,"


Setelah mengatakan itu, Rey segera memutuskan pergi dari ruangan kelas dan tentu saja menolak bekal buatan Lea. Lea menatap kepergian pemuda itu dengan ekspresi yang begitu rumit di dalam hatinya.


Lea hanya berpikir jika Rey itu cowok gila egois!!!!


Lea yang merasa sangat kesal itu akhirnya kembali membawa bekal ke atas mejanya dan menatap bekal itu dengan ekspresi sedih.


"Mau diapakan bekal ini sekarang?"

__ADS_1


Lea pada akhirnya memilih untuk mengirimkan pesan kepada Kirana jika dirinya tidak akan menyusul ke kantin dan hanya makan di kelas karena sudah membawa bekal. Lea sekarang benar-benar terlalu malas untuk melakukan apapun dan hanya ingin menenangkan dirinya.


Ketika menatap ponselnya, Lea akhirnya ingat bahwa dirinya punya teman curhat untuk hal-hal semacam ini, belakangan teman firtualnya itu lebih banyak membalas pesan email yang dirinya kirimkan. Lea sama sekali tidak merasa malu ketika mulai curhat dengan teman virtualnya ini karena toh mereka tidak bertemu secara langsung dan tidak kenal jadi tidak masalah jika sedikit menceritakan hal-hal memalukan?


Lea lalu mengirimkan sebuah pesan,


'Alfa, kamu tahu tidak aku barusan bertemu dengan cowok gila menyebalkan!!'


Setelah menyampaikan keluhannya itu lihat segera memulai memakan bekal makan siangnya itu, dan sangat beruntung kali ini tidak lama setelah dirinya mengirim pesan ada balasan email.


Alfa: Cowok? Memang apa yang dia lakukan padamu sampai kamu begitu marah seperti itu?


Vanni: Pokoknya dia itu egois banget seenaknya sendiri ngambil keputusan nggak pernah mikirin perasaanku


Alfa: seolah kamu baru saja curhat tentang cowok yang kamu suka? Apakah itu pertengkaran Kekasih?


Vanni: Mana mungkin? Aku jelas tidak memiliki hubungan apapun dengannya dan lagi aku tidak memiliki Kekasih


Alfa: tapi aku lihat bagaimana kamu marah sepertinya kamu memiliki semacam hubungan dengannya


Vanni: Ayolah, Alfa ini tidak seperti itu hanya saja, pokoknya dia menyebalkan, dia memutuskan sesuatu hal yang besar bahkan tanpa memikirkan keadaan atau hal-hal apa yang aku alami, pokoknya egois baget deh,


Namun setelah mengirimkan pesan itu Lea tidak juga mendapatkan balasan saya sudah memberikannya karena seseorang yang sering itu memang cukup jarang untuk membalas pesannya. Sudah lama seperti ini, dan Lea sudah terbiasa.


Vanni: Sudahlah, Alfa tiba-tiba aku tidak ingin membahasnya aku jadi penasaran tentang hal-hal apa yang kamu foto belakangan ini?


Cukup lama sampai balasan datang, ketika Lea sudah menyelesaikan makan siang.

__ADS_1


Alfa: aku belum sempat memindahkan foto-fotonya ke ponsel mungkin aku akan mengirimkannya padamu, ini adalah foto pemandangan yang indah


Vanni: ini benar-benar membuatku penasaran, belakangan aku juga mencoba untuk belajar fotografi


Alfa: itukah alasan kenapa kamu bertanya soal kamera kemarin?


Vanni: Tidak apa-apa bukan?


Alfa: kamu tidak mencoba untuk meniru hobiku bukan?


Lea yang membaca itu tiba-tiba merasa malu karena tujuan awalnya belajar fotografi memang agar bisa lebih banyak memiliki percakapan dengan pemuda yang ada di balik email itu.


Yah, Lea terlihat mulai asik dengan ponselnya dan sedikit demi sedikit mulai melupakan masalahnya dengan Rey, namun tentu saja tidak benar-benar melupakannya.


Ketika jam Istirahat selesai, Lea lagi-lagi harus melihat wajah menyebalkan pemuda itu. Lea benar-benar terlalu malas dan mencoba untuk fokus pada pelajaran namun dirinya segera menjadi ingat hal-hal yang ada di laci mejanya, sesuatu yang Rey bawakan sebelumnya, beberapa obat.


Lea menata barang-barang itu dengan ekspresi rumit badannya saat ini sudah sedikit enakan mungkin tadi karena dirinya hanya sarapan sedikit dan kurang energi saja?


Yah, Lea merasa tidak memerlukan obat demam atau sesuatu namun bagaimana dengan salepnya?


Lea akhirnya memutuskan untuk memasukkankan kantong plastik kedalam Tasnya, hanya bisa memikirkan bahwa Rey itu aneh, apakah dia perhatian? Apakah dia baik atau buruk?


Kadang-kadang tindakan pemuda itu benar-benar sulit untuk Lea mengerti, hal-hal yang dia tunjukkan di depan umum dan hal-hal yang kadang-kadang ditunjukkan dan Lea lihat benar-benar berbeda. Ya, Rey yang berada di sekolah selalu memiliki ekspresi dingin dan galak belum lagi dia sering berkelahi dan membuat masalah dengan berbagai macam orang.


Namun ini masih Rey yang sama, yang mengajaknya berkeliling sambil memfoto pemandangan dengan sebuah senyuman cerah. Jujur Lea masih tidak bisa melupakan pemandangan hari itu di mana Rey memfoto dirinya dan saat itu ekspresi pemuda itu benar-benar sedikit memikat hati, Rey yang terlihat sekali menikmati hobinya.


Ukhh, Lea ingin mencoba melupakan hal-hal tidak penting itu dan mulai fokus pada pelajaran.

__ADS_1


__ADS_2