
Cup
Jarang mereka bergitu dekat, sampai Rey tidak sadar jika dia mengecup singkat bibir Lea. Hal-hal itu kurang dari 2 detik, Lea sendirian tidak mendorong Rey atau sesuatu. Dia malah hanya sedikit memejamkan matanya dan menerima ciuman singkat itu.
Sampai ketika mata Lea terbuka lagi, ada ekpersi terkejut di wajah Rey, sepertinya pemuda itu juga terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba itu segera menjaga jarak dari Lea dan mencoba memalingkan wajahnya. Mungkin karena malu, Lea sendiri melihat ada sedikit warna merah di ujung teliga Rey.
Lea sendiri juga merasa sangat malu, apa-apa tadi?
Bibirnya terasa hangat dan lembut.
Ini merupakan ciuman pertamanya...
Walaupun ini tidak bisa benar-benar disebut ciuman pertama namun...
Dan yang paling membuat Lea binggung, adalah kenapa dirinya menerima semua ini dengan mudah?
"Kamu... Jangan deket-deket wajahnya, hmph," kata Rey mencoba untuk mencari alasan tentang tindakan implusifnya itu.
Lea yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi cemberutnya.
"Siapa yang dekat-dekat? Bukankah kamu yang tiba-tiba?"
"Ini... Ini kecelakaan!!"
Lea yang mendengar alasan itu segera menunjukkan ekspresi marah.
"Apakah semua Pria seperti itu? Hanya suka mengambil kesempatan dari seroang gadis dan bilang itu kecelakaan pada akhirnya dan tidak ingin bertanggung jawab,"
"Jangan bicara omong kosong yang tidak perlu," kata Rey lagi, sekarang tatapan matanya menatap ke Lea yang ada dihadapannya, mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa dia melakukan hal implusif barusan.
Bibir lembut Lea seolah masih terasa di bibirnya, suatu kehangatan tertentu yang tidak pernah dia rasakan.
"Tapi Aku benar!"
Terlihat ada wajah kesal Lea disana.
"Lalu, kamu mau minta pertanggungjawaban seperti apa dariku?"
Ketika ditanya semacam itu malah membuat Lea menjadi binggung dan malu sendiri, dia segera berjalan kembali menuju ke hamparan bunga disana.
"Ti-- Tidak ... Lupakan saja, kamu sih yang salah dari tadi hanya asal memotretku,"
Lea mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mungkin karena merasa malu jika pembicaraan ini berlanjut ke arah semacam itu.
Kearah berkencan misalnya?
Tinggu, apa yang Lea pikirkan?
Lea tidak ingin berkencan dengan Rey!
Lea mencoba untuk memfokuskan pikirannya yang aneh itu. Merasa dirinya yakin tidak memiliki perasaan semacam itu pada pemuda itu. Namun Kenapa dengan ciuman kecil tadi membuat jantungnya hampir meledak?
Apakah ini cinta?
Akhhh...
Lea menjadi pusing sendiri, dan wajahnya menjadi memerah karena malu dengan pikirannya sendiri. Karena sejujurnya Ini adalah sebuah perasaan yang pertama kali muncul.
__ADS_1
Lea tidak pernah merasakan hal-hal semacam ini sebelumnya jadi untuknya hal-hal ini terasa aneh.
Rey sendiri merasa jika semuanya menjadi canggung seperti ini, karena Lea tidak ingin membahas hal-hal sebelumnya Rey juga akan mencoba untuk bersikap dan normal mungkin merupakan hal-hal aneh yang sebelumnya dirinya rasakan. Sempat ada keheningan canggung ketika keduanya mulai berjalan memasuki kebun itu.
Namun sekali lagi, pandagan Rey terus menatap gadis yang berjalan di depannya itu daripada menatap bunga-bunga yang ada di sekitar karena menurutnya gadis yang ada di depannya itu lebih cantik daripada seluruh bunga yang ada di tempat itu. Rey merasa dirinya bodoh karena memiliki pemikiran-pemikiran aneh lagi. Mungkin karena merasa tidak nyaman dengan rasa canggung dia mencoba untuk membuka percakapan,
"Hey, gue mau ngefoto lo, cepet hadap sini!"
Lea yang mendengar perintah tiba-tiba itu segera terkejut dan berhenti, lalu memalingkan tubuhnya,
"Foto apa? Apakah kamu dari tadi mencoba mengambil fotoku dalam pose jelek?"
"Apa? Lo bilang jepretan foto gue jelek? Mana ada, jadi mending lo ikutin aja aba-aba gue bahkan walaupun wajah lo jelek itu hasil jepretannya di kamera gue tetep bagus,"
"Lo nyebelin baget Rey!"
Walaupun Lea mengeluh, dia tetap berpose sesuai dengan aba-aba Rey, Rey sendiri benar-benar menikmati waktunya untuk memfoto gadis itu beserta latar belakang bunga di belakangnya.
Suara kamera terus berbunyi di tengah keheningan canggung diantara mereka, Lea sendiri entah bagaimana menikmati untuk difoto semacam itu, baru setelah cukup lama, Lea akhirnya teringat tujuannya ke sana, Lea sebenarnya juga ingin mengambil foto jadi dia segera mengeluarkan kamera dari tasnya.
Untungnya kaki Lea sudah lebih mending dari sebelumnya jadi masih bisa bergerak dengan cukup mudah, walaupun kalau digunakan untuk berjalan jauh masih sedikit menyakitkan.
Rey yang melihat gadis itu mengeluarkan kamera segera bertanya,
"Lo mau memfoto juga?"
Kamera Lea segera diarahkan pada pemuda yang ada di depannya dan berkata,
"Kan kamu sudah mengambil fotoku dari tadi sekarang giliran aku yang mengambil fotomu,"
"Kenapa mesti gue yang jadi objek foto bukannya pemandangan di sini bagus?"
Rey tentu saja merasa malu untuk mengakui bahwa alasan kenapa dia mengambil foto gadis itu karena merasa gadis itu lebih indah daripada seluruh bunga di sini benar-benar cocok untuk difoto dengan kameranya. Rey selalu menyukai hal-hal indah untuk difoto, dan sialnya gadis itu juga salah satu masuk kategori itu namun tidak mungkin untuk diucapkan dengan kata-kata, terlalu memalukan?
"Awas aja kalau jepretan Lo jelek gue tuh nggak suka difoto karena biasanya hasil jepretannya jelek,"
"Walaupun jepretan gue nggak profesional namun gue tetap yakin dengan hasil foto gue jadi Lo ngikut aja deh," kata Lea yang mulai kehilangan kesopanannya karena kesal dengan ejekan Rey.
Lea lalu segera mengarahkan kameranya pas pada pemuda itu dan memberikan beberapa aba-aba,
"Coba pegang kamera sambil pura-pura foto pemandangan,"
"Ribet amat posenya,"
"Lu juga dari tadi ribet posenya kenapa sekarang lo nggak mau diatur?"
Rey akhirnya mengalah dan mengikuti instruksi dari gadis itu berpura-pura memfoto pemandangan yang ada di depannya. Lea kemudian mengambil foto itu dengan perasaan senang, dia juga meminta Rey untuk berpindah tempat dan mencoba beberapa pose. Jujur. Lea sangat senang bisa mengabil foto Rey, apalagi bagaimana pemuda itu berdiri di manapun itu benar-benar terlihat seperti model profesional yang sedang pemotretan, lihat wajah tampannya itu.
"Rey, bisa nggak sih lo itu pasang ekspresi tersenyum dikit,"
"Apakah begini cukup?"
Ekpresi senyum paksa dari Rey itu benar-benar terlihat tidak bagus.
"Senyumnya biasa aja dong,"
"Senyum biasa kayak gimana sih?"
__ADS_1
Lea akhirnya mencoba mempraktekkan pose tersenyum, mungkin karena Rey melihat senyuman Lea, dia benar-benar mulai tersenyum juga, Lea tentu saja mengambil kesempatan langka ini dan menjepret foto Rey. Hasilnya benar-benar sangat bagus dan tampan, Lea tiba-tiba ingin menjadikan foto ini untuk wallpaper ponselnya.
"Apa? Kenapa lu malah ketawa sendiri apakah foto yang lo ambil jelek?" kata Rey kesal melihat bagaimana Lea malah dari tadi senyum-senyum sendiri ke arah kameranya.
"Ini bagus kok,"
"Mana sini liat!" kata Rey mulai mendekat kearah Lea, Rey melihat ke arah kamera yang menunjukkan salah satu fotonya.
"Ini gak seburuk itu."
Rey yang merasa cukup puas melihat foto itu segera mengalihkan tatapannya dari kamera ke arah Lea, dan melihat bahwa wajah mereka laki-laki menjadi begitu dekat seperti sebelumnya, mereka saling bertatapan dalam diam untuk waktu yang lama tidak melakukan gerakan apapun seolah-olah waktu baru saja berhenti. Rey tentu saja tidak berani untuk melakukan hal-hal inklusif seperti sebelumnya namun entah kenapa tatapannya menuju ke arah bibir Lea, seolah-olah benar-benar ingin menarik gadis itu ke pelukannya lalu menciumnya.
Lea sendiri tidak bisa mengalihkan tatapannya dari pemuda yang ada di depannya itu namun merasa cukup malu juga ketika ditatap seperti itu mencoba untuk membuka pembicaraan,
"Ah, benar bukan? Foto ini..."
Lea belum selesai dengan ucapannya, bibirnya sudah bertemu dengan bibir Rey, ini bukan kecupan sederhana seperti sebelumnya, ciuman yang sedikit lebih lama dan menuntut.
Orang bilang, yang pertama mungkin sebuah kecelakaan atau coba-coba namun ketika sampai pada yang kedua itu artinya benar-benar mengiginkannya dan menikmatinya.
Rey mau tidak mau harus mengakuinya, bahwa dirinya mengiginkan gadis yang ada dihadapannya ini, ingin menciumnya, dan menjadikannya miliknya.
Sesimpel itu arti ciuman itu.
Lea sendiri, terbawa alur dan mulai ikut menikmati sensasi dari dua bibir mereka yang saling beradu. Merasa tengelam dalam ciuman hangat dan menyenangkan itu, yang membuat darah di seluruh tubuhnya merasa memanas, juga detak jantungnya menjadi lebih kencang. Apalagi, ketika lidah Rey mulai bermain-main dengan bibirnya.
Lea tentu tidak memiliki keinginan untuk mendorong Pemuda itu, mulai hanyut dalam suasana, dan memperdalam ciuman itu.
Sampai beberapa menit berlalu, hingga keduanya hampir kehabisan nafas ciuman itu akhirnya berakhir. Dan sekarang, setelah ciuman itu di lepaskan, kedua tatapan mata itu segera bertemu. Tatapan mata berkaca-kaca dan penuh keinginan.
"Lea .... "
"Rey .... "
Masing-masing memanggil nama satu sama lain dengan canggung seolah-olah menjadi bingung tentang apa yang harus dilakukan. dua-duanya sama-sama tidak memiliki pengalaman dan ini merupakan hal-hal yang baru untuk mereka.
Jadi apa yang harus dilakukan?
Apa yang harus dikatakan?
"Kenapa tidak mendorongku?" Kata Rey lagi.
Lea yang tiba-tiba ditanya jelas tidak ingin mengatakannya lebih dulu jadi dia segera membalik pertanyaan itu,
"Jadi sekarang kenapa kamu menciumku?"
"Karena Aku mengiginkanmu... Ukhh, tapi ini gak bisa, Lo gak cocok buat gue," kata Rey lalu mencoba mengalihkan pandangannya.
Mendengar jawaban ragu-ragu dan tidak jelas itu, Lea tiba-tiba menjadi marah memegang pipi Rey agar pemuda itu menatap matanya.
"Aku gak ngerti,"
"Lo sama gue itu beda .... Lo itu Nona dari Keluarga Kaya, sedangkan gue cuman anak nakal dari Keluarga miskin gak jelas, beda banget, dan lagi gue pernah bilang bukan? Punya hubungan sama gue itu gak ada benefitnya buat Lo, musuh gue banyak, Lo jadi temen Gue aja gak bisa apalagi ... " kata-kata itu sedikit terputus, tapi Rey tetap melanjutkannya, "Buat jadi Kekasih gue ... Lo mungkin cuman bakal dapet banyak kerugian,"
Lea mungkin menjadi gemas sendiri dengan cara pemuda yang ada dihadapannya ini menjawab. Antara kesal, sedih dan marah , namun juga ada perasaan senang.
"Kenapa Lo ngomongnya pakai muter-muter? Gue gak peduli apakah memiliki suatu hubungan harus memiliki keuntungan atau gak, dari awal gue gak menghadapkan apa-apa, jadi, kenapa Lo gak ngomong yang lebih tegas? Apa sebenarnya yang Lo pengenin?"
__ADS_1
Rey mendengar kata-kata itu menjadi tertegur sebentar menjadi cukup terkejut dengan kata-kata gadis yang ada di hadapannya. Rey nggak ngerasa pandai dengan kata-kata, hanya segera mengecup bibir Lea lagi, melepaskannya dan segera berkata,
"Aku mengiginkanmu ... Mau jadi Kekasihku?"