
Rey menjadi Dilema dengan tindakannya sendiri yang seperti itu mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya melakukan ini tidak lebih karena rasa bersalah yang dimilikinya, karena karena dirinya Lea sampai terlibat masalah. Jelas tidak ada hal yang lebih dari itu.
Rey kembali menatap ke arah Gadis itu sekali lagi yang saat ini tengah duduk di dekat gerbang menunggu jemputan sopir. Dari sini, Rey lalu baru sedikit menyadari ada beberapa Aura kesedihan dan kesepian yang ada di gadis itu.
Rey tentu saja tidak tahu apa yang dipikirkan Lea, namun hanya melihat Aura kesedihan itu, Rey entah kenapa Merasa tidak senang ada beberapa perasaan sedih juga di dalam hatinya.
Di sisi lainnya, Lea Tentu saja tidak menyadari jika ada seseorang yang menatapnya dari tadi. Lea yang berada di gerbang itu tiba-tiba hanya mengingat tentang masa lalunya.
Dulu dia juga sering diantar jemput seperti ini ketika berada di sekolah lamanya. Orang Tuanya, Lea adalah orang-orang yang cukup ketat dan harus membiarkan Lea pulang tepat waktu juga karena saat itu Lea masih harus memiliki les dan memiliki jadwal daftar ekstrakurikuler panjang yang didaftarkan oleh Orang Tuanya.
Hal-hal itu tentu membuat Lea, menjadi tidak bisa pergi keluar atau bermain dengan teman-temannya yang ada di sekolah, Hal itu membuat dia dikucilkan dari pergaulan. Dan mungkin karena ada beberapa orang yang merasa iri, mereka mulai membuli Lea.
Jadi, perasaan menunggu seperti ini benar-benar membuat Lea merasa sangat tidak nyaman karena mengingat masa lalunya. Masa lalu kelam yang coba dia lupakan.
Namun tetap saja hal-hal itu masih sedikit membawa trauma di dalam hatinya. Lea menyadari tentang dirinya yang menyedihkan ini dan sekarang setelah pindah ke tempat yang baru dirinya mencoba untuk bangkit.
Sayangnya, terkadang rasa kesepian itu segera menghampirinya, yah mungkin karena belakangan dirinya fokus padahal hal-hal lain seperti fotografi atau hal-hal di sekolah jadi Lea sedikit melupakan tentang kesedihannya.
Tentang Sekolah lamanya...
Orang Tuanya yang bercerai....
"Ah, jika saja Alfa ada disini...."
Lea tiba-tiba mulai menggunakan sebuah nama, ya nama yang belum lama dia tahu, seorang teman Virtual yang dia kenal sekitar 1 tahun yang lalu.
Di saat masa-masa terendah dalam hidupnya, Lea yang tidak memiliki teman saat itu untuk bercerita dan tidak mungkin untuk menceritakan kepada orang tuanya mulai membuat sebuah surat hanya untuk meluapkan isi hatinya.
Mana tahu, surat itu tiba-tiba ketinggalan di perpustakaan kota dan ketika dia kembali untuk mengambil nya, bukannya menemukan surat itu namun malah menemukan sebuah balasan misterius dari seseorang bernama Alfa, seorang anak laki-laki seumurannya saat itu, yang memberikan beberapa nasehat padanya.
Seolah seperti sebuah cahaya yang menariknya dari dalam kegelapan, walaupun cahaya itu cukup redup namun itu cukup untuk menerangi dunia kecil Lea.
Dari sanalah pertemanan kecil dari berbagi pesan di email dimulai sampai detik ini.
Sahabat pertama yang Lea miliki, yang bisa membagikan pikiran dan hal-hal yang ada di dalam hatinya.
Lea mungkin terlalu tenggelam dalam pikirannya hingga dia tidak menyadari jika mobil yang ditunggunya sudah tiba.
Sang Supir segera keluar dari mobilnya, dan menyapa Nonanya itu.
"Nona Azalea? Apakah anda menunggu lama?"
Lea yang mendengar suara sang supir segera keluar dari lamunannya menatap sang supir Dan tersenyum,
"Ini tidak lama,"
"Baik silakan masuk Nona, Nyonya Besar sudah menunggu di Rumah,"
__ADS_1
Lea hanya mengangguk ringan dan segera memasuki mobil itu.
Namun sekali lagi, setelah memasuki mobil itu dan mulai menatap arah luar dari jendela memberikan perasaan kesepian tertentu.
Lea ingin mencoba menghapus ingatan Itu dan mulai melihat ke arah sekitar sampai ketika tatapan matanya melihat ke arah dalam sekolah, Lea menemukan sebuah pemandangan tidak terduga, ada Rey disana sedang duduk dengan kamera yang dia miliki.
Rey terlihat duduk tenang itu seperti gambar sebuah lukisan, dari arah jauh, Lea sudah sedikit melihat pesona dari pria itu walaupun dia hanya duduk dan menggunakan seragam sekolah.
Lea tiba-tiba memiliki keinginan untuk memfoto nya. Menyadari pikirannya itu Lea segera memalingkan pandangannya.
Merasa, dirinya menjadi semakin gila karena Rey!
Lagi pula kenapa orang itu ada di sana pula?
Seperti sedang menunggu seseorang?
Apakah orang itu berniat berkelahi dengan seseorang lagi?
Sudahlah, Lea tidak mau terlalu memikirkan urusan dari pemuda gila menyebalkan itu, yang benar-benar hanya merusak moodnya saja.
Mobil yang dinaiki oleh Lea juga segera pergi dari sana Kembali menuju rumahnya.
Dan begitulah hari itu berakhir.
Rey merasa lega setelah Lea memasuki mobilnya karena tidak ada sesuatu yang terjadi. Rey segera mengembalikan kamera yang ada di tangannya ke ruang ekstrakurikuler lalu segera pulang ke rumahnya.
Yah, Sebenarnya ada beberapa urusan yang harus dia urus.
Rey berniat ke sana untuk mencoba menghajar mereka namun Apakah ini benar-benar tidak masalah?
"Ah, Lebih baik aku tidak ke gegabah toh Nanti akhir pekan masih akan bertemu dengan mereka,"
Ya, Rey tentu memiliki sebuah alasan kenapa bisa berurusan dengan anak-anak kaya dari sekolah elit di sebelah itu.
Itu karena ada sebuah taruhan di akhir pekan.
Jadi, Rey hanya segera kembali ke rumahnya dengan ekspresi tenang. Namun yang menyambutnya di Rumah, bukanlah suasana keluarga yang hangat.
"Hoh, anak ini yang selalu kelayapan akhirnya pulang juga,"
Rey yang disapa oleh pria paruh baya itu hanya diam saja dan menunduk berniat untuk menghindari berbicara dengannya.
Pria yang diabaikan oleh Rey, segera menjadi marah lalu menarik rambut Rey, dan memukul Rey dengan keras di kepalanya.
"Hey brengsek!! Setidaknya hargai pamanmu ini! kamu sudah hidup enak di rumah ini menurutmu siapa yang mengijinkanmu tinggal di sini setelah Ibumu yang pelacur itu meninggal?"
Rey yang mendengar kata-kata pedas itu, hatinya segera diliputi dengan kemarahan.
__ADS_1
"Yang ngijinin Gue tinggal di rumah ini adalah Nenek!! Dan jangan bicara sembarangan soal Ibu!"
Pria paruh baya itu segera tertawa setelah mendengar kata-kata itu, lalu berkata lagi,
"Bicara sembarangan katamu! Adikku itu benar-benar hanya pelacur murahan! Kalau tidak, mana mungkin dia hamil di Luar Nikah setelah pulang dari Kota Besar? Ya, dia pulang dari perantauan bukannya membawa harta yang berkelimang namun malah membawa anak haram di kandungnya yaitu kamu! Anak Haram Brengsek yang tidak tahu diri!"
Rey tentu saja sudah terbiasa mendengar kata-kata kasar dan Penuh makian itu sejak dari kecil hal-hal ini sudah biasa. tidak hanya pamannya Namun semua orang yang ada di tetangga juga sudah tahu fakta ini dan diam-diam bergosip di belakangnya, dan Almarhum Ibunya.
Anak-anak di sekitar, selalu diberitahu oleh orang tuanya agar tidak berteman dengannya karena dirinya tidak punya Ayah. Dia yang selalu sendirian sejak kecil bahkan sampai detik ini.
Mungkin karena rasa kesepian dan tuduhan dari orang-orang, Rey mulai membuat masalah dan sering berkelahi dengan anak-anak sekitar membuat dia menjadi terkenal sebagai Preman. Ya, karena anak-anak sekitar yang selalu Ibu Kandungnya, tentu saja Rey selalu tidak terima, dan akhirnya terjadilah perkelahian itu.
Sampai hari Ibunya meninggal karena sakit, terlalu banyak bekerja keras membesarkan dirinya ketika Rey masih kecil.
Satu-satunya orang yang masih peduli padanya adalah Neneknya. Pamannya, selalu menentang Rey untuk tinggal di rumah itu.
Merasa muak teman kata-kata pamannya itu, Rey sopirnya melarikan diri dan pergi dari rumah, tidak jadi untuk masuk ke dalam terlalu malas untuk berdebat dengan Pamannya. Jika itu dilanjutkan hanya akan terjadi sebuah perkelahian.
Rey menuju ke sebuah taman yang cukup sepi di daerah situ, di mana hampir tidak ada orang di sana. Rey lalu mulai membuka ke arah ponselnya dan membuka emailnya. dan setelah berpikir sesaat dia mulai mengirimkan sebuah pesan tertentu kepada seseorang.
Sesuatu hal yang sudah disimpan sejak 1 tahun terakhir.
'Hey, Vanni, apakah kamu ingin bertemu denganku?'
Ya, ini hanyalah pesan untuk sedikit menghibur kesepian yang ada di hatinya. Membuat teman virtual yang dirinya temukan secara random ketika dirinya berkunjung ke kota besar ketika dirinya saat itu pergi bersama Neneknya, mengujugi Bibinya yang tinggal di Kota sebelah.
Ada sebuah surat aneh yang ditemukan ketika sedang di perpustakaan saat sedang mengubkaan WiFi disana, dan sedang menghabiskan waktu. Karena sama dengan Pamannya yang membencinya, Bibinya yang tinggal di kota sebelah juga memiliki hubungan yang buruk dengannya.
Dia hanya iseng, saat memberikan balasan itu hanya beberapa nasehat kecil yang sering dirinya lakukan ketika orang-orang sering menghina nya dan membuli dirinya.
Untuk melawan mereka.
Si simple itu saja.
Tapi setelah itu mereka malah jadi sering berdiri pesan melalui email.
Itu hal baru untuk Rey, namun juga sebuah perasaan yang sangat menyenangkan ketika dirinya memiliki seseorang untuk bergantung setidaknya untuk berbagi beberapa hal yang ada di dalam hatinya.
Selalu ada keinginan untuk bertemu dengan gadis itu hal yang dikenalnya itu.
Namun tentu saja, Rey sedikit takut untuk bertemu dengannya takut jika gadis itu bertemu dengannya, gadis itu akan takut padanya atau malah terlibat masalah.
Ya, misalnya saja Lea...
Lea gak bisa nah yang baru dikenalnya itu baru saja terlibat masalah karena dirinya.
Ya, mungkin lebih baik jika mereka hanya berkenalan berkenalan secara virtual.
__ADS_1
Rey segera kembali mengirimkan sebuah pesan.
'Aku hanya bercanda,'