Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 48: Tidak Sengaja


__ADS_3

Saat ini, Lea sedang berada di Perpustakaan sekolah untuk meminjam beberapa buku dan materi. Jelas sekali tujuan apa yang ingin dia lakukan, yaitu untuk membantu Rey belajar. Terutama setelah mendengar nilai-nilai dari Kekasihnya itu ternyata cukup buruk.


"Hmm, Buku IPA, Bahasa Inggris?"


Lea sedang memindai daftar buku yang dia cari dari deretan rak-rakkan yang begitu banyak disana. Mana tahu, ketika dia berjalan-jalan disana, lagi-lagi dia bertemu wajah yang familiar.


"Huh? Lea? Sangat Kebetulan sekali kita bertemu di sini."


Lea juga segera dikejutkan oleh sosok Kakak tingkatnya itu, Nathan. jika dipikirkan dalam berbagai situasi dua orang itu sering bertemu secara tidak sengaja, dan hal-hal ini membuat Rey marah. Lea sudah berjanji sebelumnya agar menjaga jarak dengan Kakak tingkat mereka, namun jika sering bertemu seperti ini bagaimana cara menjelaskannya?


Lea juga tidak mengerti, walaupun Rey bilang dia tidak akan cemburu lagi dan akan percaya padanya, namun tetap saja...


Lea sendiri juga tahu, bahwa Kakak tingkatnya itu tidak memiliki maksud buruk apapun. Jika tiba-tiba menjaga jarak akan terkesan sangat aneh. Jadi, Mari lakukan hal-hal hanya sebatas sopan santun?


Harusnya, jika tidak terlalu dekat tidak apa-apa?


"Kak Nathan? Aku cukup terkejut melihatmu Di sini,"


"Bukankah aku yang harus bilang begitu? Jarang biasanya murid kelas 2 pergi ke perpustakaan? Kalau aku sih, yah kamu pasti tahu kenapa murid kelas 3 sering ke perpustakaan,"


"Apakah persiapan untuk ujian?"


"Benar, belakangan aku menjadi sibuk untuk persiapan ujian. Sungguh, menjadi murid tahun ketiga sangat merepotkan dan tidak memiliki jeda untuk bersenang-senang, aku ini padamu yang masih kelas 2."


"Hahaha, mau bagaimana lagi? Kakak kan sudah kelas tiga, harus bersiap-siap untuk Kelulusan dan Masuk Universitas."


"Hah, benar sekali disaat seperti ini aku juga Mulai memikirkan masa depan. Lalu bagaimana denganmu? Kamu sudah begitu rajin ingin belajar?" Kata Nathan sambil menatap tumpukan buku yang ada di tangan Lea.


Lea segera menjawab dengan canggung.


"Hahaha, begitulah tidak apa-apa untuk mulai belajar lebih awal bukan?"


"Tentu saja. Kamu benar-benar sangat rajin. Memangnya Universitas mana yang ingin kamu masuki?"


Lea yang ditanya itu segera terdiam. Tentu dia pernah memikirkan Universitas mana yang ingin dia masukin, salah satu Universitas ternama di Kota tempat asalnya.


"Universitas UI."


"Wow, ternyata kamu cukup ambisius juga? Aku juga ingin untuk masuk ke sana,"


"Aku pikir semua orang memiliki target tinggi juga untuk Universitas. Apakah kakak sudah memikirkan untuk masuk jurusan apa juga?"


Nathan yang ditanya sedikit terdiam seolah berpikir namun tidak lama setelahnya Dia segera menjawab.


"Mungkin Jurusan Hukum?"


"Eh? Aku tidak tahu kalau Kak Nathan tertarik dengan hal-hal semacam itu,"


"Apakah aku tidak terlihat seperti itu?"


"Hmm, bagaimana ya, Kak Nathan terlihat sangat ramah pada semua orang dan memiliki pikiran yang terbuka juga. Sepertinya juga cocok jika masuk Jurusan Psikologi? Atau Kedokteran mungkin?"


"Pfff? Apakah seperti itu? Aku sebenarnya tidak menyukai hal-hal yang begitu rumit. Hanya saja, Aku ingin masuk ke Universitas Hukum untuk alasan keadilan? Yah terkadang, melihat hal-hal yang tidak benar terjadi, membuatku tidak menyukainya. Aku tahu ini terdengar sangat tidak masuk akal dan terlalu naif bukan?"


"Tentu saja tidak seperti itu, Semua orang berhak memiliki mimpi dan keinginan sendiri, bahkan walaupun itu sebuah mimpi yang terlihat konyol, asalkan memiliki keinginan untuk mewujudkannya itu adalah hal yang sangat baik."

__ADS_1


"Kamu benar-benar sangat pintar untuk berbicara, Lea." Kata Nathan tanpa sadar segera mengelus rambut Lea. Lea cukup kaget dengan gerakan tiba-tiba, mulai segera memundurkan tubuhnya.


"Ah, Maaf hanya saja kamu sedikit mengingatkanku pada adikku, Aku sering mengelus rambutnya seperti itu,"


"Emm, tidak apa-apa untuk sekarang hanya saja aku sedikit tidak nyaman jika Kakak melakukannya lagi dimasa depan,"


Nathan yang mendengar itu segera menunjukkan senyum canggung dan berkata,


"Maaf sekali lagi, Aku benar-benar tidak akan melakukannya lagi di masa depan dan bersikap tidak sopan padamu,"


"Ya ya,"


Keduanya lalu segera terdiam karena merasa canggung satu sama lainnya, Nathan yang tidak tahan akhirnya mencoba untuk membuka topik pembicaraan.


"Lalu bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah memikirkan Fakultas mana yang ingin kamu masuki?"


Lea yang ditanya itu segera menjadi diam. Lea jadi ingat, Ayahnya adalah Seorang Pemilik Rumah Sakit juga seorang Dokter besar, selalu mengharapkan Lea agar mau masuk Fakultas Kedokteran. Sedangkan Ibunya, yang merupakan seorang Pengusaha menginginkan Lea agar bisa masuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis, agar nantinya bisa mengerti manajemen Perusahaan lalu bisa meneruskan Perusahaan.


Bahkan hanya memilih jurusan masa depan saja sudah membuat perdebatan panjang antara kedua orang tuanya.


"Lea?" Kata Nathan yang menatap ekspresi gadis itu terlihat tidak nyaman, tiba-tiba jadi khawatir Apakah dia salah bertanya?


"Aku belum benar-benar memikirkannya,"


"Kamu masih memiliki banyak waktu untuk memikirkannya lagi pula kamu masih kelas Dua,"


"Ya, Kakak benar. Ah, sepertinya aku sudah selesai dengan urusanku di sini dan akan segera pergi,"


"Aku juga kebetulan sudah selesai, mari kedepan bersama,"


Lea yang menatap wajah gadis yang disapa oleh Nathan itu menjadi kaget.


"Lea, ini adalah salah satu temanku saat di Ektrakurikuler dulu, namanya Kartika, dan Kartika ini adalah temanku Lea, kami kebetulan sama-sama suka Fotografi,"


Gadis bernama Kartika itu awalnya menatap Lea dengan ekspresi tidak senang namun segera berpura-pura tersenyum ketika Nathan memperkenalkan Lea padanya.


"Ah, jadi kamu Lea? Salam kenal aku Kartika Dewi, Murid kelas 2 IPA 2," kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya.


Lea sedikit ragu ketika akan berkenalan dengan gadis itu. Lea Tentu saja tidak akan pernah melupakan wajah seorang gadis yang pernah mencoba membuat masalah Dengannya.


Sesuatu seperti memintanya agar tidak dekat-dekat dengan Kak Nathan?


Lea tiba-tiba teringat beberapa kejadian buruk sebelumnya merasa tidak nyaman. Namun jika dipikir lagi kejadian buruk itu membawa beberapa hal-hal tidak terduga.


Misalnya, Hari jadian antara dia dan Rey?


"Salam kenal juga, Aku Azalea Stevanni murid kelas 2, IPA 5."


Lea berusaha untuk mencoba memasang senyumnya ketika berhadapan dengan Kartika itu. Beruntung setelahnya tidak ada banyak hal yang terjadi, karena Nathan juga segera akan pergi dari sana setelah mendaftarkan buku. Hanya saja, ketika Lea hendak pergi, gadis bernama Kartika itu menjegal kaki Lea, membuat Lea hampir jatuh, jika saja tidak di tolong oleh Nathan yang menangkapnya dengan sigap, walaupun buku-buku yang Lea pegang tetap jatuh.


"Lea? Kamu tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa... Terima kasih Kak,"


Lea segera mundur ke belakang dan menunduk mencoba membereskan buku-bukunya.

__ADS_1


Nathan tentu saja mencoba untuk membantu Gadis itu membereskan buku-buku yang jatuh.


"Tidak usah biar aku saja, ini bukan masalah besar,"


Karena berebut membuat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan. Lea sendiri segera merasakan tatapan seperti menusuk dari belakang, jelas tahu dari mana asal tatapan itu, dari gadis bernama Kartika?


Lea tidak ingin menambah salah paham baru segera buru-buru menarik tangannya dan membereskan bukunya.


"Maaf, Aku sedang buru-buru jadi aku duluan ya Kak," kata Lea segera melarikan diri dari tempat itu, membuat Nathan menjadi binggung.


####


Lea yang melarikan diri itu mulai mempercepat langkahnya dan hampir berlari, sampai dia lagi-lagi tidak sengaja menabrak seseorang ketika berjalan di lorong.


"Astaga, Lea sayang kenapa kamu seperti habis dikejar setan begitu? Bukankah tadi katamu kamu ingin mencari beberapa buku?"


Lea yang menatap wajah familiar itu merasa sedikit lega.


"Hah, bukan seperti itu,"


"Lalu kenapa denganmu?"


"Apakah kamu ingat kejadian sebelumnya saat Kakiku terkilir?"


"Huh? Ada apa dengan itu?"


"Aku awalnya tidak ingin menceritakannya tak karena merasa itu tidak begitu penting. Namun sekarang sepertinya tidak apa-apa jika aku bercerita Untuk meringankan beberapa beban,"


"Ya, kamu selalu bisa menceritakan apapun padaku," kata Rey sambil mengelus pipi Lea, Lea jangan mendapat sentuhan itu segera memegang tangan itu dengan nyaman, membiarkan tangan Rey tetap ada di pipinya. Lea suka dengan tangan Rey yang hangat, entah kenapa memberinya semangat bahwa dia tidak sendirian lagi, ada seseorang yang bisa berbagi beban dengannya.


"Emm, sebenanya saat itu, ada beberapa orang yang membuat masalah dengan ku,"


Wajah Rey segera menunjukkan ekspresi buruk apalagi setelah mengingat masa lalu Lea.


"Siapa? Siapa yang berani mencoba membullymu?"


"Tenanglah, Rey. Ini sebenarnya hanya beberapa salah paham,"


Lea lalu mulai menceritakan soal gadis bernama Kartika dan rombongannya itu, dan bagaimana Kartika salah paham soal hubungan antara Lea dan Nathan.


"Hah, benar bukan? Aku bilang padamu tidak ada hal yang baik dekat-dekat dengan, Nathan. Para Fans Nathan itu sangat gila dan fanatik,"


"Tidak seperti aku dekat dekat dengannya hanya saja Kami sering bertemu dengan berbagai situasi tidak terduga, Aku juga tidak tahu kenapa,"


"Hah, Lea ingat ya, jodoh mu itu Aku, bahkan Walaupun kamu sering bertemu secara tidak sengaja dengannya. Kamu hanya milikku," kata Rey sambil mengambil tangan Lea, lalu mencium ujung jari Lea.


"Astaga, Rey kamu itu paling bisa bersikap manja seperti itu," kata Lea sambil tertawa melihat kelakuan Kekasihnya itu yang menunjukan kecemburuannya.


####


Itu adalah sore hari ketika Lea baru saja pulang kembali ke Rumahnya. Namun dia disambut dengan seseorang yang tidak pernah dia duga.


"Ayah?"


"Azalea, Bagaimana jika kamu ikut dengan Ayah saja? Dari pada Ikut Nenekmu, lagipula Ibumu yang seharusnya memiliki hak asuhmu malah menyerahkanmu pada nenekmu yang sudah tua aku merasa tidak senang dengan perlakuan wanita egois itu,"

__ADS_1


__ADS_2