
Ini adalah hari yang baru di akhir pekan setelah Lea dan Rey baikan. Saat ini, keduanya tengah berada di sebuah taman untuk menikmati hari-hari mereka berdua.
"Rey, Apakah kamu akhirnya memutuskan kembali untuk ke sekolah?"
Rey yang ditanya itu hanya menatap ke arah langit, mengigat lagi perjanjian yang dia buat untuk seseorang. Namun hanya sekedar kembali ke Sekolah jelas tidak akan menyelesaikan segalanya, jika dia ingin menjadi sosok yang layak untuk gadis itu.
Ini sejujurnya sebuah keputusan yang berat.
"Aku pasti akan tetap bersekolah."
Lea yang mendengar jawaban ambigu itu segera menunjukkan ekspresi bingung.
"Kamu berkata begitu Apakah artinya kamu akan pindah sekolah?"
Rey lalu mengalihkan tatapannya ke wajah gadis yang ada di sampingnya.
"Bagaimana jika memang iya?"
Lea yang mendengar itu menunjukkan ekspresi terkejutnya, namun segera tersenyum.
"Tidak apa-apa, yang paling penting adalah kamu tetap melanjutkan sekolah dan bisa masuk Universitas Favorit mu."
Rey yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi cemberut.
"Apakah nanti kamu tidak akan merindukanku jika kita beda sekolah?"
Lea yang mendengar itu, segera memegang kedua pipi Rey, dan sedikit mencubitnya.
"Tentu saja aku akan sangat merindukanmu. Aku pasti merindukan saat-saat di mana kita berangkat sekolah bersama. Namun bukan itu yang penting bukan? Yah, pada akhirnya jalan masih begitu panjang."
Lea kemudian teringat tentang hal-hal yang ditawarkan oleh Ayahnya sebelumnya. Lea masih belum mengambil keputusan, hanya saja Lea masih cukup senang dengan Sekolah disana, dan beberapa rumor buruk juga sudah selesai dengan bantuan Nathan yang merubah opini Publik.
Lea sudah kembali menjalani sekolahnya seperti biasa dan teman-teman sekelasnya tidak lagi berbicara aneh-aneh hanya saja sedikit kagum karena Lea berani berkencan dengan Preman Sekolah mereka. Terlebih, teman-teman Lea juga cukup mendukung Lea, kata mereka, 'Rey toh sangat tampan, bukankah yang penting wajah? Aku kadang iri kamu bisa mendapatkan Pria setampan dia,'. Lea hanya bisa tertawa memikirkan tanggapan teman-teman.
Jadi Sekolahnya yang sekarang adalah hal yang bagus. Terutama sekolah itu juga tempat dia bertemu dengan Rey.
Namun bagaimana jika Rey pindah?
Lea sejujurnya akan merasa sedih, namun jika itu memang yang terbaik...
"Lea, ini masih belum di putuskan oke?"
"Sejujurnya aku tidak ingin beda Sekolah dengan mu. Tapi ngomong-ngomong, kamu ingin masuk Sekolah mana?"
Rey yang ditanya itu segera menjadi diam lagi. Beberapa hari lalu dia sudah menerima beberapa berkas tentang Sekolah tertentu. Tempat itu cukup jauh, dan jauh dari sini.
"Lea, Apakah kamu pintar berbahasa Inggris?"
"Huh? Kenapa tiba-tiba? Bahasa Inggrisku tidak terlalu buruk, memangnya kenapa?"
"Aku akan kembali ke Sekolah Besok."
"Eh? Itu bagus, jadi kamu tidak jadi pindah?"
Rey yang mendengar itu hanya menujukan ekpersi sedikit cemberut.
"Aku harus pindah, namun Aku rasa pindah di tengah semester seperti ini bukan saat yang bagus."
"Ah, jadi begitu. Apakah itu sampai akhir Semester?"
"Mungkin."
"Lalu, kamu belum menyebutkan kemana kamu akan pindah?"
"Aku tidak bermaksud untuk merahasiakannya, nanti kamu akan segera Aku beritahu!"
Pada akhirnya, Rey sudah membuat keputusan walaupun ini adalah sesuatu yang sulit.
Percakapan dengan seseorang yang menyebut dia Ayahnya, terlintas lagi di benak Rey.
'Jadi kamu memintaku untuk memberikan biaya pendidikan dan dukungan untukmu sampai Universitas? Kamu tidak akan meminta hal-hal lain, atau di Perkenalkan pada Keluargaku?'
'Benar, itu sudah cukup. Aku tidak ingin terlibat hal-hal yang merepotkan.'
'Kamu benar-benar anak yang menarik. Tentu saja, Aku akan memberikannya, Pendidikan yang terbaik untukmu. Namun masih ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi. Pertama sebutkan hal-hal apa yang kamu inginkan tentang studi mu?'
Rey saat itu, menjelaskan bagaimana dia ingin memasuki semacam universitas untuk mengembangkan bakatnya dalam fotografer. Dan disanalah hal-hal di mulai.
'Fotografer? Jadi begitu, kamu sepertinya mewarisi beberapa hal dariku. Yah, ini hanya sebuah hobi. Namun jika kamu memang benar-benar ingin serius dan menjadi seorang Profesional, akan lebih baik jika Kamu Pergi Sekolah ke Luar Negeri. Di sana kamu akan mendapatkan bimbingan dari orang yang lebih ahli, dan juga lebih banyak peluang yang akan kamu dapatkan untuk mendapatkan popularitas awal. Sedikit sulit jika kamu ingin memulainya dari sini. Aku akan merekomendasikan sekolah menengah untukmu juga, nantinya agar memudahkanmu masuk Universitas. Jika kamu memang benar-benar serius. Aku tidak senang harus membiayai seseorang yang setengah-setengah, Aku sudah melihat hal-hal soal nilaimu di Sekolah. Jika kamu benar-benar ingin dibiayai sampai lulus setidaknya sampai akhir semester tingkatkan nilai bahasa inggrismu dan setidaknya lolos lah standar, itu syarat dariku.'
Pada akhirnya Rey hanya bisa mengiyakan persyaratan itu. Dia harus mau masuk Sekolah yang di Rekomendasikan Ayahnya, seperti sebuah bentuk apakah Rey serius atau tidak.
Namun yang cukup disesalkan dari semua hal ini dia akan berada jauh dari Lea.
Apakah dia sanggup?
Rey masih banyak berpikir soal ini.
Terjadi keheningan antara Lea dan Rey sekarang. Rey juga merasa tidak nyaman tentang meninggalkan kekasihnya itu, namun hanya itu pilihan yang ada sekarang.
"Jadi, Lea aku masih membutuhkan bantuanmu dan keberadaanmu di sisiku,"
Lea segera mengalihkan tatapannya dan menatap pemuda yang ada di sampingnya.
"Tentu saja, aku akan selalu membantumu dan berada di sisimu Aku tidak akan kemana-mana,"
"Terimakasih Lea."
Hari-hari tentu berjalan dengan cukup cepat. Baik Lea dan Rey setelah hubungan mereka diketahui semua orang keduanya tidak lagi menutup-nutupi hubungan mereka. Keduanya kadang akan pergi ke perpustakaan bersama untuk belajar.
Atau pergi ke kantin bersama untuk makan siang. Kadang-kadang Lea juga secara terang-terangan membuatkan Rey bekal dan memberikannya padanya. Sepulang sekolah keduanya akan berjalan pulang bersama.
Memang ada sedikit masalah di mana beberapa musuh Rey tiba-tiba muncul. Namun Rey selalu bersama gadis itu, jadi tidak banyak masalah timbul. Rey juga mulai berhenti dari semua Pekerjaan Paruh Waktunya, dan pindah dari Rumah Pamannya ke sebuah rumah dekat Sekolah sementara yang di siapkan oleh Ayahnya.
Hari-hari benar-benar berjalan cukup tenang. Keduanya juga kadang belajar dan kencan di hari libur mereka. Sampai akhir semester segera tiba.
__ADS_1
Saat ini keduanya berada di bandara, Rey sudah bersiap dengan membawa sebuah koper untuk pergi.
"Rey, apakah ini benar-benar saatnya kamu pergi?"
Rey yang membawa Koper itu, segera meletakkan kopernya lalu mulai mendekat kearah Lea, dan memeluknya. Terlihat sekali tidak ingin dipisahkan dengan gadis yang di cintainya itu.
"Ya, ini adalah saatnya."
"Aku pasti akan sangat merindukanmu."
"Hmm, Aku juga, Aku akan sering pulang untuk bertemu denganmu, dan akan sering mengirimkan pesan padamu."
"Tentu saja, kamu harus..."
Mereka saling berpelukan cukup lama, benar-benar tidak ingin melepaskan satu sama lainnya.
Sampai suara pengumuman muncul di mana pesawat yang akan dinaiki Rey akan segera take off.
"Rey, jangan pernah lupakan Aku," kata Lea dengan ekspresi sedih di wajahnya.
Rey yang mendengar itu segera mencium tail dahi Lea, mencoba untuk menenangkan gadis itu.
"Tentu saja tidak akan apa sih hal yang kamu katakan?"
"Siapa yang tau, setelah kamu sukses, kamu melupakanku. Aku dengar gadis-gadis di luar negeri cantik-cantik."
Rey yang mendengar hal-hal itu segera tertawa.
"Bagaimana bisa? Untukku, kamu adalah satu-satunya,"
Rey Tentu saja tidak akan mengatakan kepada gadis yang ada di hadapannya ini bahwa rencana dia pergi ke luar negeri sekolahnya dan segalanya ini hanya demi gadis itu. Agar dirinya biasa menjadi seseorang yang layak untuknya.
"Benar?"
"Ya, walaupun jarak antara kita cukup jauh, Namun cintaku padamu tidak akan berakhir."
"Hmm, Aku harap kamu tidak mengatakan kebohongan."
Dan begitulah bagaimana keduanya berpisah.
Rey menatap dari kejauhan kota kelahirannya itu, ketika mulai Pesawat mulai lepas landas.
Jika dipikirkan lagi banyak hal yang terjadi selama setengah tahun...
Tidak, lebih penting lagi, sudah begitu lama dia berada di Kota itu.
Mungkin saking banyaknya hal yang terjadi, Walaupun ada beberapa kenangan buruk tentang kota kelahirannya itu, Rey merasa dia pasti akan merindukan tempat ini.
Dia berjanji pada dirinya sendiri pasti akan kembali lagi ke sini...
Dan ketika hari itu tiba...
####
Di salah satu bandara, terlihat ada seorang Pria yang terlihat memiliki wajah tampan sedang disambut oleh beberapa orang disana.
"Tuan Muda, akhirnya Anda tiba."
"Ya. Apakah kamu sudah menyiapkan semua yang aku katakan?"
"Tentu saja Tuan Muda. Namun bukankah Tuan Muda saat ini sedang masa sibuk-sibuknya? Saya dengar, Anda sedang ada persiapan untuk Pameran di Negara I, sekitar bulan depan?"
Pria itu yang mendengar kata-kata bawahannya itu segera tersenyum dan berkata,
"Tentu saja, Aku sedang menyiapkannya. Foto Terakhir untuk pameran ini agar terlihat sempurna."
"Huh? Kalau boleh tahu apa itu yang akan Tuan Muda foto?"
Pemuda itu hanya tersenyum lagi dan berkata dengan nada misterius.
"Memfoto gadis paling cantik dalam hidupku."
Dia segera pergi menuju kearah mobil yang sudah disiapkan. Dia benar-benar tidak sabar untuk acara Pertemuan ini.
Akhirnya setelah sekian lama, dia bisa memenuhi janjinya.
Dan sekarang ketika saatnya kembali...
Ada hal-hal yang harus dia lakukan.
"Lea, Aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan mu lagi,"
####
Ini adalah sebuah halaman Sekolah tertentu. Terlihat seorang wanita berpakaian cukup rapi, tengah keluar dengan buru-buru dari gedung Sekolah itu. Ketika dia melewati lorong dia bertemu dengan salah satu siswa yang menyapanya.
"Bu Guru Azalea? Anda mau kemana terlihat buru-buru?"
Wanita itu, lalu segera tersenyum sambil menatap ke arah muridnya.
"Bertemu seseorang."
"Huh? Siapa Bu Guru? Aku jadi ingin tahu, melihat Bagaimana Bu guru terlihat senyum bahagia seperti ini, jangan bilang ini Pacar Misterius Bu Guru?"
Lea yang mendengar kata-kata muridnya itu, hanya tersenyum dan berkata,
"Itu Rahasia, kamu ini sebaiknya sana kembali ke kelas bukannya jam Istirahat sudah selesai?"
"Ah, Bu Guru main rahasia-rahasianya segala."
Setelah percakapan singkat, Lea segera keluar dari tempat dia mengajar. Ini adalah sebuah Sekolah pinggiran tertentu.
Jujur, Lea sendiri tidak pernah mengira Jika dia akan kembali ke sekolah lamanya itu. Sekolah yang menyimpan begitu banyak kenangan indah.
Dan sekarang, setelah waktu berlalu akhirnya dia akan segera bertemu dengan Rey.
__ADS_1
Sudah berapa lama mereka tidak bertemu?
Hal ini membuat Lea menjadi tidak sabar.
Dan sekarang, tempat mereka janjian adalah sebuah Taman yang berada tidak jauh dari sekolah ini.
Lea memutuskan untuk pergi berjalan kesana. Lea tentu saja sudah lama juga tidak pergi ke taman itu. Lagipula, belum lama sejak dia menjadi Guru di Sekolah Lamanya ini.
Belum sempat berjalan-jalan keliling karena begitu sibuk dengan urusannya sebagai Guru Baru, banyak hal yang harus diurus dan dipikirkan, dan lagi tidak menyenangkan untuk berjalan-jalan sendiri.
Jadi, Taman itu seperti apa sekarang?
Lea jadi ingat, jalanan yang dia lewati saat ini adalah jalanan yang sering dia dan Rey sering lewati. Rey akan memboncengkannya naik sepeda kadang-kadang ketika melewati jalan memutar ini sambil menikmati pemandangan.
Terkadang hari-hari itu membuat dia merasa rindu.
Lea terus berjalan, sampai tiba di sebuah taman yang cukup membuat dia pangling.
Benar, taman itu masih memiliki bunga matahari sama seperti dulu, namun kali ini memiliki bunga yang lebih indah, dan sepertinya itu tidak hanya terlihat seperti sebuah kebun seperti dulu, melainkan sebuah taman yang didekorasi Dengan indah. Bahkan memiliki sebuah gerbang yang di dekorasi sangat indah dengan hiasan bunga.
Ketika Lea melewati gerbang itu, dia dikejutkan oleh kelopak-kelopak bunga yang berada di tanah. Ada kelopak bunga mawar yang tersebar di jalanan seolah-olah itu ingin menuntun Lea kesuatu tempat.
Lea tentu cukup kaget dengan hal-hal itu dan mulai berjalan mengikuti arahan dari bunga-bunga itu. Tidak perlu ditanyakan siapa yang menyiapkannya.
Selama dia berjalan dia melihat ke arah sekeliling betapa indahnya taman bunga itu.
Langit biru, udara segar, dan bunga yang indah, ini benar-benar hari yang sangat menyenangkan.
Sampai di ujung taman, Lea akhirnya bisa melihat sosok yang familiar melambai ke arahnya. Menatap sosok Pria yang mengenakan setelan jas yang rapi itu membuat Lea diam-diam tertawa.
Penampilannya, benar-benar sangat berbeda ketika dia masih sekolah dulu. Sekarang sosok itu terlihat lebih dewasa.
Yah, bukan berati mereka tidak pernah bertemu, namun pria itu jarang mengenakan pakaian formal semacam itu di depannya ketika mereka bertemu.
"Rey..."
Rey yang melihat Lea datang, segera mulai berjalan menuju ke arah gadis itu. Dengan sebuah bunga di tangannya, lalu memberikan bunga itu pada Lea, sebuah bunga mawar putih yang indah.
"Aku merindukanmu, Lea."
Lea lalu menerima bunga itu dengan senang hati, dan berkata,
"Hmm, aku juga sangat merindukanmu. Apakah kamu menyiapkan semua ini?"
Namun bukannya Lea mendapatkan Sebuah jawaban, namun kali ini, Rey mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, Itu adalah sebuah kotak kecil, lalu segera membuka kotak itu yang berisi sepasang cincin.
"Rey ini...."
Rey segera mengambil salah satu cincin itu, dan juga mengambil tangan Lea.
"Lea, Apakah kamu ingin menikah dengan ku?"
Jujur, Lea hampir tidak bisa berkata-kata dengan hal-hal yang Rey lakukan.
Taman indah ini...
Lalu yang paling membuat terkejut adalah lamaran dari Rey.
Namun tidak perlu lagi dipikirkan karena jawabannya sudah jelas.
Ini adalah bagaimana cinta mereka akhirnya bersama, untuk menuju ke jenjang berikutnya.
"Ya, Aku mau."
Rey tentu tidak langsung memasangkan cincin itu namun bertanya sekali lagi,
"Apakah kamu tidak menyesal jika nantinya menikah denganku?"
"Apa? Kamu lagi-lagi menanyakan pertanyaan yang sama sama ketika kita berdua mulai bekencan. Jika Aku katakan, Pertemuan kita adalah bagian dari sebuah takdir, dan Aku jatuh cinta padamu. Itu sudah cukup menjadi Alasan bahwa Aku tidak pernah menyesal. dalam hidupku bertemu denganmu adalah hal yang paling indah untukku,"
Rey yang mendengar itu, merasa sangat senang juga, lalu memakainak cincin itu pada Lea.
"Ya, untukku bertemu denganmu juga merupakan sebuah keberuntungan terindah dalam hidupku. Dan bisa memilikimu, adalah kebahagiaan dalam hidupku...."
"Pfff, jujur Aku tidak pernah mengira Jika kamu bisa memiliki kata-kata gombal semacam itu, Rey yang aku tahu, dia sangat galak dan suka marah-marah tentang berbagai hal, suka berkelahi, dan cukup nakal, dan sekarang lihat, Rey di depan ku? Orang yang melihatmu Sekarang pasti tidak akan pernah percaya apa yang aku katakan bahwa kamu dulunya adalah Preman Sekolah."
Rey yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi cemberut sambil berkata,
"Astaga, Lea kenapa kamu masih mengigat masa-masa gelap itu?"
Lea lalu mulai menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya, itu foto yang Lea ambil sendiri, ketika Rey tidak siap, memiliki wajah terlihat marah, dan ada beberapa memar di wajahnya terlihat habis berkelahi, dan mengenakan seragam sekolah yang cukup berantakan.
"Hey kapan kamu mau ngambil foto ini?"
Lea lalu tertawa, dan berkata,
"Apa? Bukan cuma kamu yang bisa mengambil foto seenaknya, coba pikir berapa banyak fotoku dengan pose memalukan yang kamu ambil?"
"Apakah kamu dendam?"
"Siapa yang tahu?"
Keduanya lalu mulai tertawa bersama.
Rasanya, seolah waktu berhenti dan dunia hanya milik mereka berdua. Tidak terasa waktu cukup lama berlalu namun sampai sekarang cinta mereka masih utuh.
Kisah Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah dan Gadis Pindahan Baru yang lugu.
Disinilah, Awal kisah baru mereka mencari kebahagiaan bersama-sama.
...****************...
...TAMAT...
...****************...
__ADS_1