
Lea yang saat itu baru saja tiba di rumah tiba-tiba mendapatkan sebuah pesan email di ponselnya, dia tentu terkejut melihat Siapa yang mengiriminya itu. Seseorang yang baru saja terlintas dalam pikirannya, yang sedikit dia rindukan, sang cahaya dalam hidupnya.
Hal-hal yang ada di pesan itu jelas mengejutkan Lea. Itu adalah sebuah ajakan untuk bertemu. Tentu saja Lea segera mulai memikirkannya tentang hal itu.
Sudah lama terbesit dalam pikirannya jika dirinya ingin bertemu dengan pemuda itu, penasaran dia seperti apa si Dunia Nyata.
Apakah dia adalah seseorang yang rajin dan hebat di Sekolah?
Mungkin dia tipe Pria yang cukup pemurung?
Lea ingat, tentang bagaimana seseorang yang rajin mengirimnya pesan itu jarang menceritakan tentang teman-temannya atau dia hanya menceritakan bahwa dia selalu sendirian. Dulu pernah mengalami di Bully juga, namun setelah dia melawan tidak ada orang yang berani mendekatinya lagi atau membuat masalah padanya.
Hmm, tipe penyendiri seperti itu?
Seseorang yang akan duduk di bangku belakang, duduk sendirian sambil menatap fokus belajar di Kelas.
Yah, Lea setidaknya menebak bahwa orang ini jelas tidak seperti seseorang yang duduk tidak jauh darinya, yang hanya tidur ketika di kelas tidak tahu juga seberapa buruk nilainya namun Lea dengar, peringkatnya ada di Ujung bawah namun entah ada di mana.
Lea sendiri, tidak merasa dirinya terlalu pintar, itulah kenapa dia sering diikutkan Les oleh orang tuanya agar nilai-nilainya meningkat. Namun mungkin karena ada begitu banyak harapan dan juga tekanan yang ada di sekitarnya, bahkan Les tidak sedikitpun membuat nilainya meningkat, namun sejujurnya nilainya tidak seburuk itu pula.
Hanya saja, orang tua Lea, selalu mengharapkan Putri mereka agar sempurna dan mendapatkan peringkat 1. Hal-hal yang cukup berat, masuk 10 Besar saja, tidak masuk hitungan untuk orang tuanya.
Lea merasa lelah hanya memikirkan hal-hal itu merasa tidak ada gunanya memikirkan masa lalu. Toh sekarang kedua orang tuanya sudah sibuk dengan hidup baru mereka sendiri.
Jadi Lea kembali menatap ke arah ponselnya berniat memberikan sebuah balasan.
Namun belum selesai Lea mengetik, sudah ada pesan lagi dari ujung, yang menuliskan bahwa hal-hal yang dia tulis sebelumnya adalah bercanda.
__ADS_1
Ekspresi Lea segera menjadi buruk lalu, mengirimkan sebuah pesan dengan kesal,
Vanni: Apa? Apakah kamu benar-benar tidak ingin bertemu denganku
Tidak lama sampai balasan itu sampai.
Alfa: bukan seperti itu aku hanya merasa malu untuk bertemu denganmu,
Vanni: Apa yang membuatmu? Apakah penampilan mu atau sesuatu? Aku bukanlah seseorang yang menilai dari penampilannya,
Alfa: namun aku tetap saja sangat malu, yah wajahku Mungkin cukup buruk sehingga kamu mungkin tidak ingin menatapnya,
Vanni: astaga, Alfa, Aku benar-benar tidak akan mengejekmu apapun penampilan yang kamu miliki, Aku benar-benar hanya ingin bertemu denganmu,
Alfa: Kenapa kamu ingin bertemu denganku? Hmm, ini membuatku penasaran, apakah kamu menyukaiku? LoL
Menyukai Alfa?
Lea sebenarnya juga tidak tahu dan tidak pasti tentang perasaan yang dia miliki.
Alfa penting dalam hidupnya, namun...
Vanni: Aku saat ini masih tidak ingin menjalin hubungan apapun,
Alfa: apakah itu karena perceraian orang tuamu? Itu adalah masalah mereka, kamu tidak perlu menjadi khawatir tentang hal-hal itu, hanya karena kamu menjalin hubungan bukan berarti hubungan yang kamu miliki akan berakhir seperti mereka,
Vanni: Aku tahu maksud mu, hanya saja saat ini aku benar-benar belum memikirkan soal hal-hal itu, Aku masih muda bukan? Aku masih harus belajar untuk masuk universitas yang bagus,
__ADS_1
Alfa: Kamu benar-benar sangat rajin Universitas mana yang ingin kamu masuki?
Lea yang ditanya itu segera menjadi diam karena dia tidak benar-benar memiliki keinginan untuk masuk ke Universitas manapun. Hmm, bukan berarti dia tidak ingin melanjutkan kuliah, hanya saja...
Vanni: Universitas G?
Alfa: Itu benar-benar pilihan yang bagus,
Vanni: Tunggu dulu sepertinya kamu mulai mengalihkan pembicaraan, Apakah kamu tidak ingin bertemu denganku?
Ada jeda singkat lagi, sambil pesan itu dibalas namun balasannya hanyalah sebuah emoticon senyuman, memiliki sebuah arti yang ambigu yang entah apa artinya.
Vanni: apa-apaan itu!
Namun pesan itu tidak lagi dibalas, dan Lea memutuskan untuk meletakkan ponselnya dan memulai hal-hal lain hari itu. Sekarang dia benar-benar menganggur ketika sampai di rumah, biasanya dia akan mulai memasak untuk menyiapkan bekal untuk seseorang.
Namun sekarang, tidak ada yang perlu dia buatkan bekal jadi rasanya ada yang kurang.
"Sialan, kenapa aku jadi terbiasa padahal ini hanya beberapa hari,"
Lea yang lelah itu akhirnya memutuskan untuk tidur.
Dan itulah akhir dari dari itu, pagi segera tiba dan Lea memutuskan untuk menaiki mobilnya. Namun mungkin karena Lea tidak tahan, untuk menunggu jadi nanti pulang Dia memutuskan untuk jalan kaki saja.
Seharusnya saat ini tidak apa-apa pula karena masalah kemarin sudah selesai dengan beres.
Hari ini, Lea yang memasuki kelas tentu mengabaikan Rey sesuai kesepakatan yang mereka buat hari sebelumnya. Bahkan ketika di Ektrakurikuler, mereka berdua tidak menyapa satu sama lain. Benar-benar terlihat saling mengabaikan.
__ADS_1