Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 56: Keputusan Rey


__ADS_3

Tanpa pikir panjang, Lea segera memilih masuk menerobos gerbang samping, dan berkata dengan keras,


"Tunggu! Aku akan memanggil Polisi! Ada kekerasan disini!"


Lea Tentu saja tidak tahu tentang apa yang harus dia lakukan jadi satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah berpura-pura untuk memanggil Polisi, setidaknya hal itu akan menyelesaikan beberapa masalah. Dia sudah menujukan nomor darurat di ponselnya terlihat mengancam.


Paman Rey yang menatap ke arah gadis yang tiba-tiba mengacau itu segera menunjukkan ekspresi marah.


"Siapa kamu sialan? Beraninya membuat masalah di rumah orang!"


"Aku teman Sekelas Reyhan, dan melihat teman sekelasku ini dianiaya seperti ini Tentu saja aku tidak bisa membiarkannya! Paman harus di laporkan!"


Mungkin karena Paman Rey menjadi begitu emosi, dia segera menuju kearah Lea, sepertinya hendak merebut ponsel Gadis itu agar tidak berbuat macam-macam sayangnya hal itu dicegah oleh Rey yang memegang tangan Pamannya dengan kuat.


Rey awalnya sangat terkejut ketika melihat kedatangan Lea tiba-tiba. tidak pernah mengira Jika dia akan bertemu dengan gadis itu lagi namun jelas ini bukan saatnya untuk melamun karena pamannya terlihat begitu marah. Rey tidak akan pernah membiarkan pamannya itu sampai menyentuh Lea sedikitpun.


"Paman, aku rasa cukup untuk semua ini! Ada orang lain yang melihat, Paman tentu tidak ingin terlibat masalah lebih lanjut bukan?"


Paman Rey juga bukan tipe orang yang suka berurusan dengan hal-hal merepotkan, jadi dia segera pergi dari sana sambil bilang,


"Rey, ingat urusan kamu denganku belum selesai."


Ketika Paman Rey pergi, sekarang hanya ada dua orang di halaman samping itu. Ada keheningan disana, Rey sejujurnya tidak tahu harus berkata apa kepada Lea. Terutama setelah melihat gadis itu menemukan dirinya dalam keadaan menyedihkan.


Sudah putus sekolah, lalu malah di pukuli oleh Pamannya.


Rey benar-benar merasa sangat menyedihkan sekarang benar-benar merasa frustasi dengan keadaannya, terlalu memalukan untuk di lihat Lea. Tentu sebagai seorang Pria, Rey masih ingin setidaknya terlihat baik dan cukup keren di depan Lea, namun dia hanya selalu bisa menunjukkan sisi-sisi menyedihkan dalam hidupnya seperti ini.


Lea disisi lainnya, segera menghampiri Rey, mengeluarkan sarung tangannya, dan meletakannya pada Pipi Rey yang sedikit berdarah kena pukul.


"Kita harus segera mengobatinya." Kata Lea dengan ekspresi penuh kekhawatiran. Dia benar-benar sangat khawatir pada Rey, sampai-sampai lupa tentang hal apa yang ingin dia katakan dan tujuannya ke sini dia juga lupa tentang kemarahannya pada pemuda itu.


Rey yang mendapat perilaku hangat tiba-tiba itu terkejut, lalu berkata,


"Kamu ... Apa yang kamu lakukan?"


Lea segera menunjukkan ekspresi cemberutnya dan berkata,


"Sudahlah kita obati dulu untuk kamu dan berbicara nanti, sini duduk disebelah sini!" Kata Lea segera menyeret pemuda itu untuk duduk di teras samping. Segera Lea mengeluarkan beberapa obat-obatan dari dalam Tasnya, ada obat merah, perban, dan alkohol seperti sudah bersiap jika ada kejadian semacam itu.


Rey juga terkejut Bagaimana Gadis itu membawa peralatan semacam itu.


Lea memperhatikan itu ketika mulai mengobati Rey.


"Ah, Kebetulan saja aku masih menyimpan kotak P3K di Tas ku, maksudku, yah pada akhirnya Aku hanya ingin mengantisipasi mana tahu Kamu entah berkelahi dengan siapa, dan Aku akan ada untuk mengobatimu setidaknya."

__ADS_1


Itu adalah sebuah senyuman yang tulus dan penuh perhatian, jantung Rey jelas berdebar-debar ketika mendengar hal itu. Jelas, Rey masih menyadari tentang perasaannya sendiri bahwa dia saat ini masih mencintai Lea, sangat mencintai Lea.


Namun...


"Kamu tidak perlu repot-repot. Sekarang kita bukan ... "


Bahkan sebelum Rey menyelesaikan kalimatnya, Lea yang selesai membersihkan luka Rey itu segera menarik Rey dalam pelukan.


"Apa? Tidak! Kita tidak pernah Putus! Rey kamu tetap Kekasihku! Kamu tidak berhak menentukan apakah kita akan putus atau tidak!"


"Lea... Jangan seperti ini ... "


Rey yang terkejut dengan pelukan itu mencoba untuk melepaskan pelukan Lea, namun gadis itu malah memeluknya semakin erat dan saat ini, Lea yang kemudian ingat tentang segalanya dan kemarahannya tiba-tiba menangis.


"Jika aku tidak melakukan ini, kamu akan pergi bukan? Aku tidak bisa melihatmu lagi? Rey, jangan seperti ini, Aku tidak bisa, Kenapa kamu membuat keputusan yang begitu egois? Aku selalu tidak suka ditinggalkan seperti ini, seperti bagaimana orang tuaku bercerai dan berpisah, lalu meninggalkanku. Namun kamu melakukan hal yang sama dan berniat meninggalkanku juga. Tidakkah kamu tahu seberapa sakit hatiku? Rey... Kamu tidak akan pernah mengerti..."


Lea mulai menangis semakin kencang mencoba meluapkan semua emosinya. Rey yang mendengar semua itu jelas saja merasa terteguh, dia tentunya tahu situasi keluarga Lea, dan tahu Bagaimana gadis itu sangat sedih.


Namun beraninya dia juga melakukan hal sama untuk menyakiti hati Lea?


Perasaan Rey menjadi begitu rumit. Jadi, Rey kali ini membalas pelukan itu. Keduanya saling berpelukan satu sama lain untuk waktu yang lama.


Melepas segala kesedihan dan pikiran masing-masing.


Baru keduanya mulai melepaskan pelukan mereka.


Dan sekarang, mereka masuk ke Ruang Tamu. Paman Rey sepertinya baru saja pergi mengigat motor di depan Rumah sudah tidak ada.


Kali ini, hanya ada dua orang itu di rumah itu. Duduk disana, saling diam. Rey masih tidak tahu harus berkata apa, hanya diam-diam menatap gadis yang duduk di sampingnya itu.


Namun Lea segera mulai membuka pembicaraan. Lea segera mengeluarkan hal-hal yang ada di Tasnya pada Rey. Itu berisi kotak hadiah dari perlombaan yang terakhir kali pemuda itu menangkan.


"Ini milikmu."


Rey menatap kotak itu dengan ekspresi bingung namun setelah melihat kotak itu lebih dekat dia segera kaget, itu adalah kotak dari sebuah kamera yang dia inginkan.


"Lea ini...."


"Hadiah yang kamu menangkan dari lomba terakhir yang kamu ikuti. Bukankah ini yang selalu kamu inginkan? Aku bertanya-tanya Kenapa kamu mulai menyerah dengan Sekolah? Apakah kamu tidak ingin masuk ke Universitas fotografer yang kamu inginkan itu? Apakah kamu tidak ingin menjadi fotografer terkenal sesuatu keinginan mu itu?"


Rey menjadi terdiam ketika mendengar kata-kata itu. Lia yang melihat kediaman pemuda yang ada di depannya itu segera memegang kedua pipi Rey dengan tangannya.


"Aku tahu ini berat untukmu. Tapi, Rey jika kamu tidak menyerah, aku yakin pasti ada jalan."


Rey menatap gadis yang ada dihadapannya itu, yang mencoba mendukung dirinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih berusaha mendukung ku? Padahal aku sudah bersikap seenaknya dan egois padamu."


Namun Lea tidak menjawab itu dengan kata-kata, melainkan dengan sebuah ciuman di bibir Rey, ciuman singkat, lalu segera berkata,


"Bukankah ini sudah jelas? Karena Aku mencintaimu."


"Tapi Aku..."


Rey belum sempat melanjutkan kata-katanya namun bibirnya segera di cium lagi oleh Lea agar pemuda itu diam.


"Rey, aku akan marah jika kamu bilang kamu tidak layak atau sesuatu atau kamu tidak pantas untukku. Kamu harus tahu, kamu dan aku sama-sama manusia, yang hidup di bawah langit yang sama, menghirup udara yang sama, kita adalah sama, sama-sama Siswa biasa yang memiliki masalah, hanya seperti kebanyakan orang-orang yang hidup di luar sana. Jadi apa masalahnya? Bahkan Aku yang memiliki Keluarga yang buruk masih ingin jatuh cinta, apa yang salah dengan itu? Kita berdua sama-sama memiliki hak untuk bahagia kenapa kamu mulai membatas membatasi dirimu dan kebahagiaanmu? Kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak terbatas, sama seperti Aku cinta padamu, ini membuat ku bahagia, jadi kenapa kamu bisa bilang cintaku salah?"


Rey segera terdiam mendengar kata-kata itu. Pikirannya seolah termenung dalam luapan emosi. Karena apa yang dikatakan gadis yang ada di hadapannya itu benar.


Apakah keputusannya salah untuk meninggalkan Lea?


Apakah Keputusannya salah untuk berhenti sekolah?


"Rey, kami masih muda. Jalan kita masih begitu panjang, kamu tidak bisa menyerah begitu saja, apakah pantas atau tidak pantas Bukankah terlalu dini untuk memutuskan? Kita masih sama-sama remaja yang masih mencari masa depan kita jika kita berusaha, Aku yakin kamu bisa."


Kata-kata itu, Akhir membuat Rey tersadar. Bahwa nyatanya itu memang benar.


Dirinya baru berumur 16 tahun


Terlalu dini untuk memutuskannya?


Jika Sekarang masih tidak pantas, maka buat itu menjadi pantas.


Rey lalu tersenyum dan membalas ciuman Lea.


"Terimakasih terlah menyadarkanku. Kamu benar ini bukan saatnya untuk menyerah."


Dua orang itu, akhirnya bisa kembali berbaikan lagi.


Ini adalah sebuah awal yang baru.


Sore itu ketika Lea pulang dari Rumah Rey, Rey segera pergi ke suatu tempat.


Itu adalah sebuah Gedung Hotel tertentu.


M.A Hotel


Sebenarnya, Rey tidak cukup senang untuk pergi ke tempat ini. Namun jika memikirkan sebuah logika...


Ini adalah pilihan yang sepantasnya, mari tidak meminta terlalu banyak dan hal-hal merepotkan.

__ADS_1


__ADS_2