
Setelah mendengar kabar itu, Lea bahkan tidak bisa fokus untuk mengikuti jam pelajaran hari itu. Rasanya dia masih sangat syok dengan kabar yang di dengarnya. Dari semua hal dia tidak mengira bahwa Rey ternyata sudah keluar dari sekolah begitu saja terlebih tidak pernah memberitahu hal-hal itu padanya sama sekali.
Hanya sejak pertengkaran hari itu, Lea kira setidaknya Rey tidak akan keluar sekolah dengan tiba-tiba namun ternyata dugaannya salah. Rey ternyata benar-benar sudah mengurus soal dia yang keluar dari Sekolah itu.
Sampai akhirnya pulang sekolah, Lea menuju ke ruang ekstrakurikuler fotografi. Dan tentu saja ruangan itu saat ini kosong. Bayangan Rey seolah masih tertinggal di sana, Lea teringat Rey yang kadang-kadang suka mengeluh atau marah padanya sambil duduk dan mengedit di depan komputer yang ada di ruangan itu.
Jika dipikirkan lagi dari banyak tempat-tempat ini adalah tempat di mana mereka memiliki kenangan paling banyak.
"Kenapa Rey?"
Lea begitu frustasi memikirkan hal-hal ini. Dia termenung di ruangan itu untuk waktu yang cukup lama mungkin lebih dari satu jam. Ponselnya mulai berbunyi panggilan dari rumah menanyakan kapan dia pulang namun Lia mengabaikannya.
Dia merasa tidak bisa dibiarkan seperti ini setidaknya dia ingin bertemu dengan Rey. Baru sekarang Lea menyadari, dia tidak tahu harus mencari Rey dari mana. Lea akhirnya menyadari bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang Rey, bahkan tidak tahu pemuda itu tinggal di mana.
"Sial, kenapa aku bisa begitu bodoh?"
Sekali lagi dia termenung di ruangan itu sampai tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka. Awalnya Lea sempat berpikir yang datang ke ruangan itu adalah Rey, namun harapan hanyalah sebuah harapan.
"Pak Guru?"
"Lea? Ternyata kamu masih disini."
Itu adalah Guru pembimbing Ekstrakulikuler yang jarang muncul.
"Hanya mengecek beberapa hal."
"Kamu masih tertarik untuk ikut Ekstrakulikuler ini?"
"Ya, itu benar Pak."
"Hah, namun sayang sekali kemungkinan ekstrakurikuler ini akan segera di bubarkan karena kekurangan anggota, kamu sudah dengar bukan jika Rey keluar?"
Lea yang sekali lagi mendengar berita buruk itu tambah tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Tapi aku benar-benar sangat sedih dengan keputusan Rey yang akhirnya Keluar itu. Mungkin pendapatku ini akan terkesan aneh jika aku mengatakannya pada guru-guru lain itu mungkin karena nilai Akademik Rey buruk. Namun aku percaya semua orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Termasuk Rey, dia sendiri dari keluarga yang terbilang cukup bermasalah dan kurang mampu, mungkin karena pengaruh lingkungan di sekitarnya dia menjadi sedikit nakal, juga dia tidak begitu pandai Belajar. Namun ternyata di balik semua itu dia memiliki bakat yang sangat baik dalam Fotografi. Lihatlah, begitu banyak mendali dan piala di ruangan ini? Ini adalah sesuatu yang dia kumpulkan sejak Kelas 1."
Lea lalu mulai melihat ke sekeliling ruangan itu, di sana ada deretan-deretan piala dan mendali hadiah dari suatu lomba fotografi. Entah itu hanya lomba kecil-kecilan sampai lomba Yang bertaraf nasional. Lea mulai berkeliling melihat satu persatu hal-hal itu. Sebelumnya dia tidak benar-benar melihat semuanya dengan teliti hanya sekilas saja.
Dari ujung, ada sebuah mendali Juara Favorit, ini terlihat yang paling lama dari semuanya. Disana juga ada sebuah foto pemandangan yang sepertinya diikutkan dalam lomba itu. Lea terkejut ketika melihat ada tulisan keci di bawah foto itu, tulisan yang mungkin tidak akan terbaca jika tidak dilihat lebih dekat.
'Ini adalah penghargaan pertama, Aku awalnya hanya iseng namun melihat orang lain bisa menghargai hasil fotoku, Aku sangat senang, apakah tidak apa-apa untuk memfoto lebih banyak? Lain kali aku akan menang.'
Sebuah tulisan yang terlihat sangat kekanak-kanakan dan penuh dengan ambisi. Namun dari kata-kata sederhana itu, Lea juga mengerti seberapa penting Fotografi untuk Rey, itu mungkin tidak hanya sebuah hobi saja, lebih dari itu, seolah menemukan tempat yang menghargainya di tengah kehidupannya yang sulit.
Lea tidak benar-benar mengerti tentang hal-hal semacam itu karena dia tidak memilikinya. Namun jika di pikirkan lagi, Lea dulu pernah merasa sangat frustasi dan terpuruk karena semua masalah, hingga dia menerima surat aneh dari seseorang. Kata-kata yang menyemangatimu juga seseorang yang bisa mendengarkan segala curahan hatinya. Dia bisa bangkit karena dukungan diam-diam dari teman virtualnya itu.
'Sekarang giliranku bukan? Mungkin Rey juga sangat tertekan ketika mengambil keputusan ini setelah semuanya,'
Lea ingat betapa Rey begitu bersemangat untuk memasuki Universitas nanti di jurusan fotografi.
"Ya, Rey sepertinya sangat menyukai fotografi."
Guru itu lalu mulai menunjukkan sebuah email tentang pengumuman pemenang. Lea kemudian ingat lomba itu, yang Rey ikuti dengan mengirimkan fotonya.
Astaga, Lea benar-benar terkejut tidak mengira bahwa foto itu benar-benar menang. Jadi Rey memang seberbakat itu?
"Hah, seandainya saja Rey masih disini, Aku pasti akan segera mengabari anak itu. Hadiah juga akan segera di Kirimkan Ke Sekolah beberapa hari lagi. aku tidak begitu tahu alasan kenapa dia memilih sekolah ini sebagai alamatnya, hahaha, padahal bisa langsung ke Rumahnya."
Lea yang mendengar itu tiba-tiba memiliki sebuah ide.
"Apakah Bapak bisa memberitahu saya ketika Hadiah itu sudah tiba?"
"Huh? Kenapa memangnya?"
"Kalau bapak mengizinkan biarkan saya nanti yang akan membawakan itu pada Rey."
"Apakah kamu tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
Dan begitulah akhirnya setelah beberapa hari, ketika hadiah datang, Lea tentu sekalian bertanya tempat di mana Rey tinggal, dan berangkat kesana.
Itu adalah sebuah pemukiman di Jalan Utara yang sedikit tidak nyaman itu. Lea berhenti di depan gang dengan ekpersi tidak nyaman.
"Toh ini bukan pertama atau kedua kalinya aku ke sini dan lagi aku memiliki jalan pintas disini."
Lea yang membawa set bingkisan hadiah itu, segera memasuki jalanan itu. Sampai dia terus berjalan, dan akhirnya menemukan sebuah rumah di pertengahan pemukiman.
Tempat itu, jelas lebih buruk dari tempat-tempat lainnya, mungkin karena kebersihan di sana tidak terlalu baik dan dekat dengan tempat pembuangan air. Ada sebuah rumah yang terlihat cukup tua disana, tidak ada gerbang atau apapun, hanya satu meter dari jalan.
"Ini adalah lokasinya?"
Sayangnya, sebelum Lea bahkan mengetuk rumah itu, dia mendengar beberapa keributan dari arah samping rumah. Mungkin karena penasaran, Lea sedikit mengintip dari jendela.
Lea cukup terkejut melihatnya, disana dimana Rey saat ini baru saja di tendang oleh seorang Pria. Lea juga melihat bagaimana wajah Rey saat ini cukup lebam.
"Jawab Aku! Dimana Uang yang kamu sembunyikan itu?" Kata Paman Rey marah.
"Apa? Uang apa? Itu hasil kerjaku, jadi terserah mau Aku apakan!"
"Kamu benar-benar tidak tahu diri!"
Sebuah pertengkaran yang tidak pernah Lea kira atau Lea duga.
Jika di pikirkan lagi, beberapa rumor di sekolah soal Rey, dimana Pemuda itu sering terlihat babak belur seperti habis berkelahi. Jangan bilang, sebagian dari rumor itu bukan karena Rey sebenarnya berkelahi?
Namun karena ulah Pamannya?
Lea awalnya cukup percaya jika Rey suka berkelahi, namun setelah mengenal pemuda itu lebih dalam, Rey sebenanya bukan orang yang suka berkelahi hanya saja orang-orang cenderung menjadikan Rey target berkelahi.
Lea tiba-tiba saja hatinya dipenuhi dengan kemarahan setelah melihat semua ini.
__ADS_1