
Lea segera menatap pemuda yang ada di belakangnya itu yang saat ini berbicara dengan sopan pada penjaga toko sejujurnya Lia tidak mengira jika pemuda itu benar-benar bisa berbicara lembut dan sopan seperti itu terlebih memanggil dirinya ini Nona.
"Owh, Nak Rey? Apakah nona ini kenalan mu?"
"Begitulah, jadi bagaimana untuk memberikan beberapa diskon untuk Nona ini?"
"Astaga, Rey kamu itu ya, pakai minta diskon, Hah, baiklah baiklah karena ini permintaan khusus darimu aku akan memberikan beberapa diskon kepada temanmu ini,"
Lea bahkan terkejut ketika tahu Penjaga Toko ternyata mengenali Rey, bahkan dirinya sampai mendapatkan beberapa diskon karena Rey. Namun jelas sekali ini bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan secara gratis bukan?
Nah, dan benar saja, tebakan Lea sangat benar,
"Jadi, Lea biarin gue ngetes dan coba kamera baru milik loe itu,"
Lea tahu, dirinya tidak bisa menolak jadi segera menyerahkan kamera itu,
"Tapi ajari aku untuk menggunakannya juga,"
"Hahaha, Loe itu benar-benar payah membeli kamera baru gak bisa pakai, males ah, lagian tinggal cari aja tutor di internet,"
Lea juga sebenarnya terlalu malas untuk meminta bantuan pria yang ada di depannya itu jadi ria memutuskan menyerah namun setidaknya Lea sudah tahu tombol mana untuk mengambil foto walaupun tidak begitu mengerti soal pengaturannya. Rey sendiri segera mencoba kamera itu, mengabil beberapa objek di toko, namun jelas hanya memotret bagian-bagian foto tidak membuat Rey puas.
"Lea, coba kamu berdiri didekat pintu,"
"Apaan sih gak jelas baget deh, kamu mau memfotoku ya?"
__ADS_1
"Loe bisa hadap ke samping jadi wajah lo nggak kelihatan, gue cuma mau ngetes tentang kefokusan kamera ini tentu saja ini penting,"
Lea pada akhirnya menurut dan mulai menuju ke arah dekat pintu, mengikuti aba-aba Rey.
"Kanan dikit, hadap samping, pura-pura nggak tahu ada kamera,"
Setelah merasa Lea menempati posisi yang tepat segera mengambil foto itu dan merasa sangat puas dengan hasil jepretannya sendiri yang benar-benar terlihat artistik. Rey juga meminta Lea untuk merubah beberapa pose di sana dan hasilnya jelas bagus. Yah, memamg Rey hobi fotografi jadi jelas saja jika disuguhkan sebuah kamera di depannya dia akan menjadi sangat antusias.
"Owh benar, bukankah ini perlu untuk mengetes kamera ini dengan mencoba memfoto beberapa pemandangan?" kata Rey lagi.
Lea yang dari tadi disuruh foto jelas merasa cukup lelah dirinya biasanya tidak terbiasa difoto semacam itu, Lea sebenarnya tidak merasa pede untuk difoto bahkan akun media sosialnya tidak ada banyak foto dirinya kecuali hanya beberapa foto dengan neneknya, atau salah satu foto selfi miliknya. Jadi untuk difoto semacam ini ini merupakan hal yang baru untuk Lea.
"Apakah hal-hal itu benar-benar perlu?"
"Hah, Lea Loe itu gak ngerti ya hal-hal ini jelas sangat penting untuk mengetes lensa kamera ini jadi semakin banyak untuk menjepret ini akan semakin bagus kamu akan tahu kapasitas lensanya nanti,"
"Jadi kita mau kemana? Aku tidak tahu pemandangan di sekitar sini,"
Rey lalu segera menarik tangan Lea dan berkata,
"Ayo ikut gue aja gue tau tempat bagus di sini,"
Lea jam tangannya tiba-tiba digandeng itu jelas merasa kaget dan canggung, bahkan walaupun Rey ingin mengajaknya ke suatu tempat apakah benar-benar perlu untuk menggandeng tangannya seperti ini?
Rey mungkin tidak terlalu menyadari tentang hal-hal yang harus kita lakukan seperti mengganti tangan pria hanya secara refleks itu mungkin karena dia terlalu pantes untuk mencoba kamera baru Lea.
__ADS_1
Lea akhirnya terlalu malu untuk protes, dan hanya pasrah mengikuti Rey. Cukup lama Lea di gandeng Rey, sampai menuju sebuah jalanan yang cukup sepi.
"Eh? Kamu mau ngajak aku ke mana sih sebenarnya? Ini udah capek beget,"
"Loe itu nggak asik banget untuk menuju tempat yang bagus, tentu saja musti berjuang,"
Dan begitulah akhirnya Lea dan Rey sampai di tujuan, itu adalah sebuah arena perbukitan dekat sana, ya karena lokasi toko kamera itu masih pinggiran kota, dan lokasi tempat itu tidak benar-benar jauh namun dari sana benar-benar terlihat pemandangan yang cukup indah setelah menaiki sedikit bukit. Suasana taman hijau yang indah dan perbukitan yang menyegarkan mata.
"Bukankan ini tempat yang sangat bagus?" kata Rey merasa cukup puas setelah akhirnya tiba di sana. Baru setelah itu, Rey menyadari tindakannya yang inklusif yang lagi-lagi malah menggandeng tangan Lea, ini sudah kedua kalinya seperti ini. Rey tiba-tiba merasa cukup malu dengan tindakannya lalu segera melepaskan tangan Lea sambil membuat alasan,
"Gue gandeng lo, karena lo itu gampang kesasar bagaimana kalau lu nanti kesasar pas gue jalan duluan?"
Namun alasan itu malah terlihat sangat canggung jelas sekali karena Lea segera menunjukkan ekspresi terkejutnya, Rey sekarang benar-benar merasa malu kenapa pula mesti memberikan penjelasan yang tidak jelas, dan kenapa pula pakai membuat buat alasan segala lagi pula harusnya tidak usah dijelaskan jika tidak apa-apa.
Rey benar-benar merasa dirinya aneh, jadi dari pada canggung, Rey segera berkata lagi,
"Udahlah, Mari baiknya Coba aja segera kameranya,"
Lea yang mendengar pemuda yang ada di hadapannya itu segera berkata,
"Ya, udah bukannya kameranya ada di kamu? Coba foto aja,"
Rey dengan canggung lalu segera Mulai mengambil foto-foto pemandangan yang ada di sana tentu saja hasil jepretannya masih bagus seperti biasanya namun tiba-tiba Rey merasa ada yang kurang dari jepretannya ini. Memfoto pemandangan memang selalu bagus itulah yang dirinya lakukan biasanya namun langkah lebih baik jika ada objek seperti manusia di sana agar hasil foto terlihat semakin hidup.
"Lea, gimana kalau Loe coba berdiri di sana?"
__ADS_1
"Apa? Loe pengen foto gue lagi? Tes Lensa Fokus Kamera?"
"Udahlah lo itu nggak usah banyak tanya! Pokoknya, gue ini hari ini jadi Fotografer Eklusif, jadi loe nikmati aja ini dengan Gratis, nggak usah kebanyakan tanya!"