Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 51: Pilihan


__ADS_3

"Selamat pagi, Bapak Fahri selaku Paman dan Wali untuk Reyhan Alfarendra, saya harap bapak paham kenapa saya memanggil bapak ke sini hari ini,"


Mendegar kata-kata dari sang kepala sekolah itu, Paman Rey yang di panggil ke Sekolah itu jelas menunjukkan ekpresi tidak senang, terutama karena ini bukan pertama kalinya dia dipanggil ke sekolah seperti ini karena masalah keponakannya itu.


"Sekarang apa lagi yang Rey lakukan sampai Bapak memanggilku seperti ini? Kali ini masalah macam apa yang dia buat di sekolah?"


"Dia baru saja membuat seorang siswi kami jatuh dari Tangga, jujur ini bukan pertama kalinya dia membuat masalah seperti ini di sekolah namun kali ini dia sudah keterlaluan yang jatuh itu adalah salah satu siswi berprestasi milik sekolah kami biasanya jika dia hanya berkelahi dengan sesama murid nakal saya mungkin sedikit memaklumi dan tidak akan memanggil bapak seperti ini namun kali ini masalah benar-benar serius karena wali dari siswi ini menuntut hukuman untuk Keponakan bapak,"


"Hah? Hukuman? Silakan hukum saja dia tidak perlu repot-repot untuk memanggilku segala, ah tidak sebenarnya Keluarkan sana Keponakanku ini dari Sekolah ini, dia tidak memiliki nilai akademis yang baik dan hanya membuat masalah aku rasa dikeluarkan dari sekolah ini juga hanya menjadi solusi yang baik biar tidak membuat kepala bapak pusing dan kepalaku pusing,"


Ekpresi Kepala Sekolah terlihat tidak senang ketika mendengar kata-kata itu, yah dia tentu tahu hubungan Rey dan Pamannya tidak begitu baik, namun untuk seorang Paman mengusulkan hukuman agar keponakannya dikeluarkan dari sekolah dia merasa ini sedikit berlebihan. Walaupun yang dilakukan Rey mungkin sangat bermasalah, Sang Kepala Sekolah merasa ini bukan keputusan yang baik untuk mengeluarkan anak itu dari sekolah ingin jika tidak mungkin anak itu akan menjadi anak yang lebih nakal dan putus sekolah, melihat dari gelagat pamannya ini, Rey pasti tidak akan di sekolahkan lagi setelah keluar dari sekolah ini.


Tanggung jawab sebagai seorang pendidik jelas kepala sekolah ini merasa tidak bisa membiarkan seorang anak di bawah umur tidak bisa menempuh pendidikan, setidaknya pendidikan SMA sebagai batas minimalnya, begitu sulit hidup di luar sana tanpa minimal pendidikan. Bahkan walaupun salah satu muridnya ini cukup bandel dan nakal dan hanya membuat masalah, setidaknya Kepala Sekolah berharap anak itu bisa Lulus dengan lancar, Dan lagi, menurut salag satu pembimbing Ekstrakulikuler ini, Reyhan juga memiliki beberapa prestasi dalam fotografi dan memenangkan beberapa penghargaan mungkin dia tidak pintar namun setidaknya memiliki beberapa hal yang diasah mungkin dengan sekolah lebih banyak dia akan bisa menemukan bakatnya lebih banyak, itu adalah harapan Kepala Sekolah saat ini, namun hanya itu saja sangat susah, Rey itu tidak bisa diam tanpa membuat masalah.


Dan sekarang pamannya malah minta anak itu untuk dikeluarkan dari sekolah?


"Maaf Pak, itu... Saya merasa jika mengeluarkan Reyhan merupakan pilihan yang tidak cukup bijak mengingat saat ini sudah pertengahan semester, dan lagi Nak Reyhan itu ... "


Kepala Sekolah belum menyelesaikan kata-katanya namun sudah dipotong oleh paman Rey.


"Apalagi sih yang bisa di pertimbangkan dari Rey itu? Sungguh, Aku tidak merasa jika keponakanku itu perlu untuk terus bersekolah dia tidak pintar dan sekolah juga tidak memberikan apapun padanya akan lebih baik jika dia keluar dari sekolah dan langsung bekerja untuk menghasilkan uang,"


"Tapi Pak, dia masih di bawah Umur, masih belum saatnya untuk terjun ke Dunia Kerja,"


"Asshhh, Aku disini datang karena Aku kira, Rey akan di keluarkan. Sudahlah bahkan Walaupun dia tidak dikeluarkan aku akan mengajukan diri soal Rey Keluar dari Sekolah."


"Tapi Pak, Mohon pikirkan lagi,"


"Tidak perlu! Cukup tolong proses soal hal ini segera!"


"Tunggu, tapi Apakah Reyhan sudah tahu soal Keputusan ini?"


"Ini Akan saya yang urus!"


"Tapi Pak..."


Paman Rey itu, tetap ngotot untuk mengajukan surat pengunduran diri Rey, agar Rey keluar dari Sekolah, namun Kepala Sekolah masih menahan Keputusannya. Dan akhirnya memberikan Hukuman Skorsing pada Rey selama beberapa hari.


Paman Rey masih cukup kecewa, dan pergi dengan marah dari Ruangan itu.


Tepat ketika dia sampai di Rumah, dia jelas bertemu dengan Rey yang ada di Rumah. Hal pertama yang dia lihat ketika melihat keponakannya itu adalah Kemarahan.

__ADS_1


Jadi tanpa segan-segan, dia segera memukul dengan keras wajah Rey hingga Rey jatuh.


"Kamu itu hanya bisa membuat Aku pusing dengan masalah yang kamu buat!"


Rey masih diam saja menerima pukulan itu, merasa tidak akan ada hal yang baik jika dia melawan pamannya yang marah ini.


Paman Rey tentu saja belum puas dengan pukulan itu segera menendang Rey yang ada di tanah.


"Kamu itu, berapa kali membuat masalah di sekolah sampai aku dipanggil? Padahal tidak ada gunanya kamu terus bersekolah seperti itu! Nilaimu jelek, dan tidak ada manfaatnya! Dan lagi selalu membuat masalah, kenapa kamu musti Sekolah segala hah? Kamu tidak tahu diri!!"


Dia menendang Rey beberapa kali, Rey awalnya ingin diam dan membiarkan kemarahan pamannya itu sampai mereda beberapa saat namun mendengar pamannya itu membahas soal dia yang sebaiknya keluar dari sekolah jelas merasa tidak senang.


"Tidak Paman, Aku masih akan di Sekolah."


Sekali lagi, tendangan mendarat di Perut Rey, itu terlihat sangat menyakitkan.


"Kamu? Sekolah? Apa Gunanya? Apa kamu tidak ingat berapa nilai yang ada di Rapotmu dan Rangking mu? Ini nilai paling buruk dan rangking paling bawah!! Apa gunanya kamu Sekolah Hah? Hanya buang-buang uang!!"


"Seolah Paman mengeluarkan biaya untuk Sekolah ku!"


"Rey! Kamu berani padaku? Hah, Ibuku itu benar-benar tidak berguna, pakai Acara membiayai sekolahmu sampai lulus sekolah! Sungguh buang-buang uang! Tapi hasilnya hanya anak bodoh sepertimu! Jika kamu Keluar, uang-uang itu pasti bisa di kembalikan! Ini bisa berguna untuk membantu pembuatan Batu Nisan, Nenek mu itu! Tidakkah kamu paham? Dari pada, kamu hanya Sekolah dan buang-buang uang tidak ada gunanya! Dan lagi... Seandainya saja kamu tidak sekolah, pasti kamu dulu setidaknya bisa membantu biaya Nenek mu di Rumah Sakit, dan meringankan bebannya, namun kamu hanya bisa menambah beban nenekmu itu!"


Belum lagi, Neneknya sempat bekerja terlalu berlebihan karena membiayai Sekolahnya, hingga sakit seperti itu.


Hanya saja, dia tidak Sekolah dulu...


Dia masih Sekolah karena itu permintaan Neneknya, namun jika dipikirkan lagi, dirinya lah yang menyebabkan Neneknya sengsara. Sekolah juga tidak memberikan hal-hal positif padanya, nilainya buruk, dan orang-orang di Sekolah membencinya.


Dia tidak begitu suka belajar, jika dipikirkan lagi sebenarnya tidak ada hal baik jika terus bersekolah.


"Kamu dengar? Kata-kataku benar bukan? Maka sebaiknya, kamu segera membuat surat pengunduran diri dari sekolahmu itu aku nanti akan segera mengurusnya ke kepala sekolah Jika kamu yang mengusulkannya hal-hal ini akan lebih mudah!"


Setelah puas memarahi dan menendang Rey, Paman Rey itu segera pergi dari Ruang Tamu, meninggalkan Rey yang terbaring di lantai itu, masih melamun dan menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.


Saat ini, Rey tiba-tiba dilanda dengan keputusan. Memikirkan semua masalah itu, jika sebenarnya untuk apa sih dia masih Sekolah?


Sampai tiba-tiba ponselnya berbunyi dan itu adalah telepon dari seorang gadis tertentu.


Rey menatap ponselnya, masih binggung Apakah harus mengangkatnya atau tidak. Namun daripada membuat Gadis itu khawatir, Rey segera keluar dari Rumah itu, mencari tempat yang cukup tenang dan segera mengangkat telepon itu.


Ada suara khawatir dari ujung telepon.

__ADS_1


'Rey, apakah kamu tidak apa-apa?'


"Apa yang kamu khawatirkan? Aku sungguh tidak apa-apa,"


'Alu dengar, Pamanmu di Panggil ke Kantor dan marah-marah ...'


"Aku benar-benar baik-baik saja. Aku yang harusnya khawatir padamu, Lea. Lea apakah kamu baik-baik saja di Sekolah? Tidak ada rumor aneh tentang mu kan?"


'Hey, Apa yang kamu bicarakan? Sungguh Aku baik-baik saja, tidak ada rumor apapun tentangku ... Aku benar-benar minta maaf kamu sampai disalahkan seperti ini tentangku, kamu seharusnya tidak perlu melakukannya,'


"Lea, tolong jangan seperti ini. Aku hanya tidak ingin reputasimu menjadi buruk karena kejadian ini, dan soal Aku, Aku benar-benar tidak apa-apa oke? Toh, aku memang selalu memiliki catatan masalah ini hanyalah Salah satu hal kamu tidak perlu terlalu memikirkannya,"


'Tapi Rey, Aku tidak bisa tidak memikirkanya. Aku khawatir padamu, Aku sungguh tidak senang orang-orang berbicara yang tidak tidak tentangmu, Aku benar-benar tidak suka Kamu di perlakukan secara tidak adil seperti ini. Sejujurnya aku ingin mengaku saja soal segalanya,'


"LEA!! Kamu... Kamu harusnya tahu, ini semua demi kamu? Jadi kamu jangan lakukan hal macam-macam,"


'Tapi Rey ... '


"Nanti apa yang akan kamu jelaskan pada orang-orang? Kamu dan Aku memiliki Hubungan juga? Jika sampai kabar tersebar, Lea Kamu mungkin akan dijauhi orang-orang juga sepertiku,"


'Rey, itu tidak penting, yang paling penting adalah kamu,'


"Lea, tolong jangan seperti ini..."


Rey yang merasa lelah berdebat itu segera mematikan telepon. Tiba-tiba, rasa putus asa lebih memasuki hatinya.


Ya, jika di pikirkan lagi, dirinya juga sebenanya tidak pantas untuk Lea. Mungkin rumah jika mereka dekat saja bisa membuat seluruh sekolah menjauhi Lea.


Dia tidak kaya, tidak juga pintar...


Jika di bandingkan Lea..


Belum lagi, Ancaman Putus sekolah dari Pamannya...


Lalu, hubungannya dengan Lea nanti ...


Sejujurnya, Lea layak mendapatkan seseorang yang lebih baik.


Ini toh hanya cinta masa muda sesaat ...


"Sial, namun hanya memikirannya saja kenapa hatiku begitu sakit?"

__ADS_1


__ADS_2