Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 45: Kenyataan


__ADS_3

Rey yang mencoba melarikan diri dari segerombolan pria berjas hitam yang mengejarnya itu segera terpojok di salah satu sudut gang. Rey yang melihat tembok ada di hadapannya dan melihat di ujung gang Ada rombongan yang mengejarnya jelas merasa kesal.


"Apa mau kalian sampai mengejarku seperti ini?" Katanya dengan marah.


"Tuan Muda Reyhan Alvarendra, kami benar-benar tidak bermaksud jahat,"


Rey yang tiba-tiba mendapatkan panggilan seperti itu jelas saja menjadi terkejut.


"Siapa yang kalian panggil Tuan Muda itu!! Aku bukan Tuan Muda kalian! Dan Siapa pula penjahat yang akan mengatakan niat busuknya dari awal?"


Rey jelas masih tidak menyerah dan sekarang dia mulai maju mencoba untuk menerobos rombongan yang ada di depannya itu. Sayangnya karena orang-orang itu jauh lebih berpengalaman dari seorang remaja SMA, Rey segera tertangkap, dan mulai dipegangi dari kanan dan kiri oleh orang-orang itu sehingga Rey tidak bisa lagi memberontak.


"Lepasan gue!! Lepas gue bilang!" Katanya dengan marah.


"Tolong anda tentang dulu kami hanya ingin membawa anda kepada seseorang yang ingin bertemu dengan anda,"


"Gue nggak pengen ketemu siapapun!!"


Namun jelas saja pemberontakan Rey segera menjadi sia-sia ketika dia mulai dimasukkan ke dalam sebuah mobil berwarna hitam. Karena merasa tidak ada pilihan akhirnya Rey memutuskan untuk berpura-pura menurut dan jika nantinya akan ada cela, dia pasti berencana untuk melarikan diri.


Perjalanan itu memakan waktu sekitar setengah jam sampai mereka berhenti di sebuah Hotel Mewah. Rey mulai menatap hotel yang ada di depannya, dan mulai membaca papan nama di sana.


M.A Hotel


Melihat dari depan Hotel itu saja, Rey bisa mengetahui bahwa itu merupakan sebuah Hotel bintang lima, terlihat sangat mewah dan glamor. Rey tidak akan pernah memimpikan bahwa dia akan memasuki tempat yang begitu indah seperti itu sebelumnya.


Ketika memasuki lagi dia sudah disuguhkan pemandangan yang indah, ada sebuah bunga di tengah Aula ruang tunggu. Juga beberapa bunga yang ditata dengan simetris di sekitarnya.


Rey sebagai seorang fotografer tiba-tiba ingin mengabadikan hal-hal indah yang ada di depannya itu dalam sebuah foto. Sayangnya dia sadar bahwa ini bukan saatnya untuk hal-hal itu, fokusnya kembali menatap pada orang-orang yang membawanya ke sini yang masih tidak menunjukkan cela.


"Kita mau ke mana?"


"Nanti anda akan segera tahu,"


Rey pada dasarnya sekarang sudah pasrah orang-orang itu akan membawanya ke mana. Setelahnya mereka memasuki lift, dan menuju ke lantai paling atas. Rey segera diantar menuju sebuah kamar di hotel itu, kamar itu tidak memiliki nomor seperti kebanyakan ruangan hotel disana.

__ADS_1


Segera, Rey dipersilakan untuk masuk ke dalam tepat ketika dia masuk dia disambut oleh seorang pria yang duduk di sofa, seolah sedang menunggu kedatangannya.


Yang membuat Rey terkejut, bukan karena ruangan itu yang memiliki desain mewah ala Panthouse. Namun karena wajah pria yang duduk di sofa itu memiliki sedikit kemiripan dengannya.


Hanya dengan melihat wajah itu saja orang-orang mungkin bisa menebak tentang kemungkinan hubungan antara keduanya. Rey sendiri yang tiba-tiba dihadapkan dengan kenyataan itu entah kenapa menjadi kaget dan bingung.


"Aku pikir kamu pasti mengerti kenapa aku membawamu ke sini,"


Mendengar kata-kata pria yang ada di hadapannya itu, Rey yang mulai kembali sadar dari lamunannya segera menjadi marah,


"Aku ingin keluar dari sini!"


"Aku pikir kamu cukup cerdas untuk tahu siapa aku bukan?"


"Anda hanya orang asing untuk saya,"


Pria itu, lalu segera mengeluarkan sebuah kertas yang sepertinya merupakan hasil tes DNA menunjukkan hal-hal itu di depan Rey.


"Aku sebenarnya juga tidak mempercayai ini namun inilah kenyataannya, Aku adalah Ayah Kandung mu,"


"Aku tidak memiliki Ayah,"


Kata-kata itu terkesan begitu marah, itu karena Rey sejak masih kecil selalu dihina oleh teman-temannya dimana dia tidak memiliki Ayah, ketika kecil dia selalu berharap bahwa suatu hari Ayahnya akan muncul secara ajaib di hadapannya, agar bisa membungkukkan mulut orang-orang yang menjelekkannya.


Namun masa-masa harapan itu segera berakhir, setelah Ibunya meninggal. Ayahnya tidak pernah datang sekalipun bahkan ketika dia dan Ibunya mengalami masa-masa yang sulit.


Jadi dari semua tempat kenapa Pria yang menyebut dirinya sebagai ayahnya itu tiba-tiba muncul?


"Aku tahu ini terdengar tiba-tiba namun aku juga baru tahu bahwa Aku memiliki kamu sebagai Putraku baru-baru ini,"


"Maaf, Anda benar-benar salah orang, Anda jelas bukan Ayah Saya, Ayah Kandung Saya sudah lama meninggal,"


Rey mencoba menahan amarahnya, sesungguhnya semua kenyataan ini begitu tiba-tiba sampai membuat dia bingung harus berekspresi seperti apa.


"Reyhan Alvarendra, Aku tahu kamu mungkin marah padaku tentang semuanya kenapa aku tiba-tiba datang. Aku di sini tidak berniat untuk membuat keributan Aku hanya ingin memberikan beberapa tanggung jawab padamu,"

__ADS_1


Rey yang mendengar kata-kata tentang itu segera kehilangan kesabarannya.


"Tanggung jawab katanya? Baru setelah tujuh belas tahun? Selama ini anda ke mana saja? Bahkan ketika Ibu ku .... "


"Aku tidak pernah tahu bahwa dia hamil anakku, Aku benar-benar sangat menyesal tentang hal-hal yang dialami oleh Ibumu. itulah kenapa setelah aku tahu kenyataannya Aku di sini akan melakukan pertanggungjawaban dan mencoba menebusnya,"


"Aku benar-benar tidak membutuhkannya!"


"Aku tahu kamu memiliki situasi keluarga yang cukup sulit,"


"Itu benar-benar tidak perlu!!"


"Baik-baik, ini mungkin masih sulit untuk kamu terima aku akan memakluminya, coba pikirkan hal ini baik-baik. Aku berniat untuk memberikan dukungan material dan mengurus soal sekolahmu nantinya,"


"Aku bilang ini tidak perlu!"


Rey terlihat hendak pergi dari sana.


"Mohon pikirkan lagi jika kamu berubah pikiran kamu bisa datang mencariku di tempat ini!"


"Aku tidak butuh!"


Rey akhirnya benar-benar pergi dari sana, dan sekarang setelah pergi dari sana hatinya dipenuhi dengan rasa keputusan dan kesedihan mendalam juga sebuah rasa kemarahan.


Ayah Kandungnya, Si Brengsek itu tiba-tiba muncul?


ingin Tanggung jawab katanya?


Ketika memikirkan soal nasip Almarhum Ibunya yang meninggal karena Tidak memiliki biaya berobat itu, Rey menjadi semakin marah. Jika saja orang itu mau datang dulu ketika Ibunya masih ada...


Namun hal-hal sudah lama berlalu, Apa gunanya orang itu untuk datang sekarang?


Namun dalam hatinya Rey masih memiliki beberapa keraguan. Apakah keputusannya untuk pergi itu salah?


Rey tiba-tiba teringat Lea, di saat seperti ini dia sedang membutuhkan seseorang untuk diajak bicara..

__ADS_1


Namun Lea ..


__ADS_2