Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 52: Keputusan


__ADS_3

Ini adalah hari yang baru, setelah di skors untuk beberapa hari, Rey akhirnya mulai kembali ke Sekolah. masih seperti sebelumnya Ketika dia di sekolah hanya pandangan penuh ketakutan dan tidak senang ketika siswa siswi melihat Rey, yah walaupun kadang ada sedikit yang memiliki tatapan kagum.


Pada akhirnya itu hanyalah seperti hari-hari yang biasa, bahkan ketika kembali ke Sekolah, tidak ada orang-orang yang berharap atau benar-benar peduli Apakah dia ke sekolah atau tidak. Sebenarnya, selama beberapa hari ini, Rey sudah memutuskannya. Bahkan walaupun Rey belum benar-benar memutuskannya, Pamannya benar-benar bertindak dengan cepat.


Pamannya bahkan sudah membuat surat pernyataan yang di kirimkan ke Sekolah, bahwa Rey akan segera Keluar dari Sekolah, dan meminta uang yang sebelumnya di Bayarkan sampai Rey Lulus di kembalikan. Walaupun masih belum ada keputusan dari pihak sekolah, Rey yakin, surat keputusan itu tidak akan lama.


Sekolah ini juga tidak benar-benar membutuhkan murid seperti dirinya.


Ketika dia jatuh ke dalam keputusan itu, tiba-tiba Rey ditarik kesebuah ruangan kosong oleh seorang gadis tertentu. Gadis itu segera memeluk Rey dengan erat.


"Rey, akhirnya kamu kembali ke sekolah juga aku benar-benar sangat merindukanmu dan khawatir padamu."


Rey yang mendapat pelukan dari Lea tiba-tiba itu jelas merasa kaget, namun juga dia merasa nyaman dengan pelukan itu.


"Hmm, Aku kembali."


"Maaf, karena aku kamu terlibat masalah,"


"Aku sudah bilang sebelumnya, tidak apa-apa."


"Hmm, baik-baik. Karena semua masalah sudah selesai, mari segera kembali ke Kelas, sungguh hari-hari tanpa kamu di sini terasa sepi."


Lea mulai melepaskan pelukannya itu dan menatap bahagia pada pemuda yang ada di hadapannya. Rey sendiri, tiba-tiba memiliki perasaan tidak nyaman di hatinya, hanya bisa pura-pura tersenyum. Memutuskan setidaknya di hari-hari ini dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Lea selagi masih sempat.


Sampai beberapa hari kemudian, Lea yang sedang berada di kantin, mulai mendengar beberapa gosip dari teman-temannya.


"Astaga, kalian tahu tidak apa yang Gue dengar ketika gak sengaja melewati kantor guru sebelumnya?" Kata salah satu teman sekelas Lea.


"Apa? Apa? Lo kalau ngomong jangan setengah-setengah dong, lanjutin langsung Napa, apa yang lo denger?" Tanya Kirana dengan penasaran.


"Jadi gini, Gue denger sih, Rey mau keluar dari sekolah gitu, beberapa guru juga sedang mendiskusikan ini."


Jelas hal-hal yang baru saja didengar itu membuat semua orang yang ada di meja makan terkejut termasuk Lea.


"Apa? Keluar sekolah? Ini jelas tidak mungkin!" Kata Lea tidak percaya, itu karena selama beberapa hari ini, dia dan Rey masih menghabiskan waktu bersama di sekolah seperti biasa, pergi ke Ruang Ektrakurikuler, belajar memfoto bersama, juga membaca beberapa buku kadang-kadang.


Mereka bahkan memiliki beberapa momen indah belakagan. Rey sering mengajaknya keluar jalan-jalan.


"Hmm, tapi mungkin saja bukan? Aku dengar, Pamannya sudah tidak tahan dengan Rey atau sesuatu, begitulah,"


"Eh? Apakah itu karena kasus sebelumnya? Yang Rey mendorong siswi dari Kelas sebelah itu?"


"Mungkin saja itu salah satunya bukan? Lagi pula Bukankah dia memang selalu bikin masalah?"


"Hmm, bener juga sih."


Lea sendiri, mungkin karena merasa sangat tidak percaya dengan hal-hal yang barusan dia dengar dia masih terdiam, jelas merasa tidak senang dengan hal ini. Dia perlu untuk menanyakan ini kepada orangnya langsung.


"Eh? Lea? Kamu kan belum selesai makan? Kamu mau ke mana?" Tanya Kirana pada Lea yang tiba-tiba saja berdiri itu.


"Emm, itu, Aku sudah kenyang. ada beberapa hal yang harus aku lakukan Aku akan kembali ke kelas dulu."

__ADS_1


Lea segera buru-buru dan pergi dari kantin membuat teman-temannya yang ada di sana bingung dan hanya menatap kepergian Lea.


Lea jelas menjadi terburu-buru berlari ke arah kelas, untuk mencoba mencari Rey. Namun Sayangnya tidak ada siapa-siapa di kelas.


"Dimana dia?"


Lea lalu mencoba untuk mengirimkan pesan kepada Rey. Dan untungnya tidak lama sampai pesan itu dibalas, bahwa Rey ada di Ruang Ektrakurikuler.


Awalnya, Lea ingin segera bertanya soal gosip-gosip yang dia dengar barusan kepada kekasihnya itu. Namun dia segera bungkam ketika melihat Rey yang sedang tersenyum kearahnya, sambil menunjukkan beberapa foto yang sudah di Print.


"Lihat, Lea, Aku baru saja mencetak foto-fotomu sini, Mari lihat di sini mana yang paling bagus." Kata Rey, sambil menarik Lea mendekat kearahnya, mulai menunjukkan berbagai foto yang sudah diambil sebelumnya.


Lea terdiam, benar-benar tidak tahu harus berkata. Rey tentu saja menyadari kediaman itu lalu segera bertanya,


"Kenapa Lea? Apakah menurutmu ini kurang bagus?"


Lea lalu mulai menatap foto-foto itu lebih dalam, di sana ada sebuah foto di mana dia dan Rey pertama kali pergi, Lea ingat saat itu sedang membeli Kamera dan tidak sengaja bertemu dengan Rey. Bahkan diantara foto-foto bagus itu ada sebuah foto dimana Lea menujukan wajah cemberut dan marahnya yang menurut Lea jelek.


"Astaga, Kenapa kamu bahkan masih menyimpan foto ini?" Kata Lea sambil menunjukkan foto yang menurutnya ekspresi wajahnya terlihat buruk itu.


"Tapi, Kamu terlihat menggemaskan,"


"Kamu paling pintar menggombal!"


Lea lalu mulai melihat foto-foto lainnya, ada juga foto dimana Rey mengambil fotonya diam-diam ketika di taman waktu itu. Apakah itu sekitar saat mereka jadian?


Dan foto itu, dari foto-foto yang lain terlihat yang paling indah, foto candit yang terlihat sangat alami.


"Ini benar, Aku kira saat itu kamu mengambil foto-foto jelekku."


"Pfff, mana ada? Semua jepretanku pasti bagus dan dari semua foto-foto ini Aku paling percaya diri dengan foto ini Bagaimana menurutmu?"


Lea mulai menatap foto-foto lainnya, namun tetap foto yang dipegang Rey itu memang yang paling bagus.


"Ya, ini paling bagus."


"Benar bukan? Jadi keputusanku untuk menggunakan foto ini untuk mengikuti lomba tidak salah."


"Eh? Lomba? Lomba Fotografi yang sebelumnya itu?"


"Yups, aku sudah mengirimkan fotonya,"


"Eh? Memangnya tidak apa-apa mau foto semacam itu? Maksudku, Temanya..."


"Hmm, itulah kenapa aku menggunakan foto itu bukan? Temanya adalah Keindahan dan Kedamaian, Ketika aku melihat foto itu aku mendapatkan perasaan itu." Kata Rey sambil mengambil tangan Lea, mau mencium ujung jarinya.


Lea yang mendengar kata-kata hangat dan penuh kasih sayang itu sejujurnya tidak tahu harus berkata apa, dia awalnya ingin marah pada Rey, namun dia tidak ingin merusak suasana hangat mereka saat ini.


Rey selalu penuh misteri, Lea memilih untuk menunggu dulu.


"Kamu paling pintar berbicara,"

__ADS_1


"Tapi sungguh aku sangat beruntung bisa bersamamu, Lea. Bertemu denganmu adalah suatu kebahagiaan terindah untukku,"


Keduanya saling menatap satu sama lainnya, penuh dengan energi suka cita.


"Aku juga, Rey. Sungguh, Aku sangat mencintaimu,"


"Love you, Lea."


Pada akhirnya, Lea tidak jadi bertanya apa-apa kepada Rey, dan hanya menikmati waktu mereka berdua bersama.


Namun ada hal-hal yang Lea sudah putuskan, setelah melihat Kekasihnya itu. Lea tahu, sepertinya Rey pasti masih ingin menikmati masa-masa sekolah seperti ini bukan?


Terlihat bagaimana cara Rey berbicara dengannya tentang berbagai hal di Sekolah.


Jadi, Siang itu setelah jam pulang Sekolah, Lea yang sudah mengambil keputusan itu segera menuju ke ruang Guru. Dia lalu berbicara dengan Wali Kelasnya.


"Ada apa Lea? Kenapa tiba-tiba kamu ingin bertemu denganku? Apakah kamu memiliki beberapa masalah di kelasmu?"


Lea yang mendengar pertanyaan itu segera memiliki perasaan ragu dihatinya. Namun perasaan ragu itu, segera hilang ketika dia mengingat senyum seorang pemuda tertentu.


"Sebenarnya, Saya ingin berkata jujur tentang sesuatu pak guru,"


"Huh? Apa itu?"


"Kejadian hari itu, yang mendorong Kartika bukan Reyhan, itu adalah Aku,"


Guru itu segera menjadi terkejut dan tidak mengerti ketika mendengar kata-kata Lea.


"Tunggu, Kartika ini? Apakah ini kejadian Minggu lalu?"


"Benar, Pak. Sebenarnya Hari itu aku dan Kartika bertengkar, dan Tidak sengaja Aku mendorongnya jatuh karena marah, dia awalnya membulli ku. Rey tidak salah apa-apa, dia hanya mencoba membelaku karena tidak ingin terlibat masalah. Dia sebenarnya adalah siswa yang baik, jadi Pak, Ku mohon jangan biarkan Rey keluar dari Sekolah."


"Tunggu, Lea. Apakah kamu serius dengan kata-kata yang kamu ucapkan?"


"Ya, Aku serius. Aku akan mulai menjelaskan dari mana semua masalah ini dimulai,"


Lea lalu mulai menceritakan awal dari pembullyan itu ketika dia sempat terkilir sebelumnya, lalu soal Kartika yang menyuruh beberapa siswa laki-laki untuk melecehkannya, sampai Lea mendorong Kartika secara tidak sengaja di tangga.


"Lea namun perbuatanmu itu tetap salah, seharusnya daripada melabraknya seperti itu sebaiknya kamu melaporkan hal-hal ini kepada Guru,"


"Aku... Aku hanya binggung dan takut saat itu..."


"Hah, baik-baik. Aku akan mencoba untuk memproses laporanmu itu dan menyelesaikan masalah ini, dan jika kata-katamu benar, Maaf Lea kamu mungkin akan sedikit terkena hukuman karena sempat berbohong sebelumnya, dan mengiyakan ketika Rey di tuduh."


"Tidak apa-apa, jika Aku di Hukum."


Banyak hal yang Guru wali Kelas itu dan Lea bicarakan.


Sayangnya, pembicaraan itu kebetulan terdengar oleh salah satu siswi yang kebetulan lewat.


"Eh? Kejadian saat itu? Rey ternyata tidak salah dan membela Lea? Apa sebenarnya hubungan mereka? Astaga, jangan bilang mereka berkencan? Ini gosip besar!"

__ADS_1


__ADS_2