
Rey yang baru saja mengungkapkan curhatan isi hatinya itu jelas saja merasa tidak senang, ya kenapa dirinya musti repot-repot menceritakan hal-hal tidak berguna pada gadis yang ada di depannya ini?
Hal-hal yang seharusnya tidak Lea tahu, namun mulutnya Yang ember ini hanya asal berbicara saja semakin Rey memikirkannya, Rey merasa kesal, jadi sebelum Lea memberikan sebuah tanggapan Ray langsung berkata lagi dengan kesal, juga ingin mengalihkan pembicaraan. Rey benar-benar tidak ingin bercerita lebih dalam atau ditanya-tanya soal kehidupannya itu hanya akan membuat dirinya terasa sangat menyedihkan. Rey jelas tidak suka untuk merasa dikasihani atau sesuatu jadi selama ini dirinya tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang keadaan yang dirinya miliki.
"Udahlah nggak penting juga sih, jadi Loe jadi mau pilih kamera yang tadi?"
Lea sendiri segera tersadar dari keterkejutannya sebenarnya dirinya ingin bertanya lebih jauh tentang pemuda yang ada di depannya itu namun melihat tentang bagaimana pemuda yang ada di depannya itu saat ini mulai mengalihkan pembicaraan Lea mulai menyerah untuk bertanya. Karena jika dirinya bertanya mungkin pemuda yang ada di hadapannya itu hanya akan marah.
"Bukankah kamu bilang tadi kamera itu tidak begitu bagus? Aku sebenarnya tidak begitu mengerti tentang kamera jika kamu merasa cukup baik kenapa kamu tidak merekomendasikan satu kamera untukku?"
"Kenapa pula gue harus repot-repot ngasih Loe rekomendasi?"
"Lah terus tadi apaan pakai sok-sokan bilang kamera pilihan Kak Nathan jelek segala? Kalau kamu tidak ada niat untuk merekomendasikan sesuatu yang lebih bagus dengan harga yang ada di sekitar harga itu,"
Rey merasa bahwa permintaan gadis itu benar-benar terlalu merepotkan, tatapan Rey lalu segera bergerak ke deretan kamera menengah yang tadi tempat Lea memilih.
"Lu yakin kepengen beli kamera yang tipe-tipe kayak gitu doang? Nggak pengen yang speknya lebih tinggi dan mahal?"
"Saat ini kemampuan fotografiku tidak sebagus itu pula akan sangat sia-sia jika aku membeli kamera mahal bukan?"
"Kamu memang benar tidak ada gunanya memegang kamera mahal jika yang memotret itu masih amatiran hasil jepretannya malah lebih bagus menggunakan kamera biasa, sangat sia-sia,"
"Berhentilah mulai mengejekku seperti itu," kata Lea kesal karena di ejek.
__ADS_1
"Tapi sebenarnya tidak apa-apa jika kamu beli yang mahal sekalian, jika kamu ada uangnya sih. Nanti biar aku pinjam kameranya kalau kamu tidak bisa menggunakannya," kata Rey dengan sebuah senyuman licik di wajahnya.
Lea yang mendengar itu segera memalingkan wajahnya terlihat malas mendengar kata-kata Rey.
"Kalau begitu apa gunanya pula aku beli kamera jika kamu yang pakai?"
"Kamu benar-benar terlihat sangat membosankan dan menyebalkan, pelit pula," kata Rey lalu segera memilih untuk melihat-lihat deretan kamera di sana, daripada berbicara lebih lanjut dengan Lea.
Lea juga terlalu malas untuk berbicara, hanya mengikuti Rey yang terlihat sedang menata beberapa pilihan kamera, Lea cukup terkejut melihat pemuda itu benar-benar serius memilih padahal ketika di kelas saja pemuda itu hanya tidur dan tidak memperhatikan pelajaran, benar-benar aneh.
Cukup lama Rey melihat kamera-kamera yang ada di sana Dan juga memegang beberapa kamera terlihat mengamatinya. Dan pada akhirnya setelah melihat salah satu kamera yang cukup bagus, Rey meyerahkannya pada Lea.
"Kamera ini cukup bagus, harganya juga cocok dengan kualitasnya, aku sebelumnya pernah riset juga soal kamera kamera ini di internet aku pastikan kamu tidak akan kecewa jika menggunakan kamera ini, lihat ini cukup mudah di gunakan,"
"Kamu apa-apaan sih siapa yang menyuruhmu untuk mencoba memfotoku?"
Rey yang mendengar kemarahan gadis yang ada di depannya itu hanya bisa berkata dengan kesal,
"Lo itu harusnya bersyukur difoto oleh calon fotografer terkenal kayak gini besok di masa depan biar dijepit sama gue itu biayanya mahal,"
"Idih, kebanyakan gaya!"
"Hmm, Gue pikir Lo harusnya udah dengar dan ini Nathan soal prestasi-prestasi yang gue buat bukan?"
__ADS_1
Lea tentu saja tahu tentang bagaimana pemuda yang ada di depannya itu memenangkan beberapa kompetensi fotografer, Lea tentu saja merasa terkejut dan cukup kagum, namun tentu saja dirinya cukup malu dan tidak memiliki muka untuk memuji secara langsung pemuda yang ada di depannya itu takut-takut pemuda yang ada di depannya ini menjadi besar kepala.
"Hmph, apakah itu penting? Pokoknya jangan coba-coba untuk mengambil gambarku kecuali kamu meminta izin!"
"Astaga, kamu itu seperti model segala, lihatlah hasil jepretanku ini benar-benar cukup bagus," kata Rey sambil menujukan foto yang barusan diambilnya itu di sana benar-benar terlihat Lea yang menatap kamera-kamera didepannya, sebuah foto candid yang terlihat sangat alami dan benar-benar keren, bahkan walaupun Rey terlihat asal-asalan ketika mengambil gambar namun hasilnya benar-benar kualitas tertinggi.
"Sangat sia-sia mengambil foto dengan kamera itu,"
"Kamu ingin menyimpannya?"
Lea tentu merasa malu untuk mengakui itu jadi dia segera mengalihkan pembicaraan.
"Itu sangat tidak penting mana kameranya, aku akan segera membeli tipe ini, aku juga tidak sabar untuk bisa langsung menggunakannya nanti," kata Lea sambil mengambil kamera itu dari tangan Rey lalu segera menuju ke penjaga toko, penjaga toko segera mengambilkan modal yang cocok yang baru yang ada di dalam. Dan itu tidak berlangsung lama,
"Apakah Nona ingin mencoba kamera ini dulu, setelah pembelian?"
"Tentu saja, aku ingin mencoba kameranya langsung jadi tidak perlu di bungkus,"
"Apakah Nona tahu cara mengubakannya?"
Lea yang ditanya itu jelas menunjukkan keragu-raguan karena sekali lagi dirinya masih tidak mengerti tentang bagaimana cara menggunakan kamera baru yang dibelinya itu. Rey yang kebetulan berada di belakang Lea, segera berkata,
"Tidak apa-apa, Pak. Nanti biar saya saja yang mengajari Nona ini,"
__ADS_1