
Setelah berdebat untuk waktu yang lama, dan membuat janji-janji konyol, akhirnya Lea memutuskan untuk berkata jujur pada pemuda yang ada di hadapannya itu soal bagaimana dia sebenarnya tersesat. Namun respon dari pemuda itu membuat Lea merasa semakin kesal.
"Sudah! Jangan lagi tertawa kamu itu menyebalkan!!"
Rey saat ini benar-benar tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya, benar-benar menertawakan Lea, yang bisa-bisanya tersesat, padahal sudah anak SMA.
"Pfff.... Kamu itu sudah bukan anak kecil Kenapa bisa-bisanya tersesat semacam itu?"
Lea jelas merasa sangat malu sekali dirinya tahu pada akhirnya pemuda yang ada di depannya itu hanya ingin untuk menertawakannya.
"Apaan, ini semua jelas gara-gara kamu juga!"
Rey yang tiba-tiba dituduh itu jelas merasa tidak terima lalu berkata lagi dengan kesal,
"Kok jadi gue sih yang ada urusannya sama Loe yang kesasar jelas gue nggak ada hubungannya kalik,"
"Jelas karena Aku tadi pakai ketemu kamu pas lagi di gedung kontruksi, sungguh nasibku sial bertemu denganmu hingga aku tersesat seperti ini, karena jadi kepikiran soal itu,"
"Lagian salah sendiri, pakai kepikiran segala,"
"Dah lah, Kenapa nggak nganterin aja Apa susahnya sih?"
Rey yang ditanya itu segera terdiam terlihat seolah memikirkan apakah akan mengantarkannya atau tidak.
"Lalu Apa untungnya nganterin loe segala?"
Lea yang merasa ada di posisi terdesak lalu segera memikirkan suatu ide yang membuat pemuda yang ada di depannya itu sedikit tergerak.
"Bagaimana jika Aku akan menuruti satu permintaanmu? Dengan syarat itu bukanlah permintaan yang tidak masuk akal atau menyangkut soal hal tidak senonoh,"
Rey yang tiba-tiba mendapatkan tawaran menggiurkan itu masih terlihat berpikir, namun jelas Rey memiliki ketertarikan pada satu permintaan itu.
"Hmm, coba pikirkan apa yang bisa Aku lakukan padamu?" Kata Rey sambil menatap kearah Lea dari atas ke bawah seolah sedang menilai-nilai dari gadis itu.
Lea yang ditatap semacam itu segera menutupi tubuhnya sendiri dengan tangan dan berkata dengan marah,
"Sudah Aku bilang! Tidak ada permintaan yang tidak senonoh!!"
Rey yang dituduh ingin macam-macam dengan gadis di depannya itu hanya segera menghela nafas dan berkata,
"Bagaimana jika dalam sebulan ini, loe bawain makanan buah gue? Entah jajan di mana atau traktir gak papa, yang penting bawain gue makan,"
Lea yang tiba-tiba mendengar permintaan yang menurutnya tidak masuk akal itu jelas segera menolak.
"Bukankah itu tidak masuk akal? kamu hanya mengantarkanku Keluar dari gang ini namun kamu meminta imbalan yang begitu besar? Satu bulan? Tidak, paling mentok satu Minggu saja,"
Rey segera menunjukkan ekspresi cemberut dan berkata lagi,
__ADS_1
"Hah, baiklah terserah loe aja, jadi pokoknya mulai besok gue nggak harus ngurusin makan siang loe yang bawain,"
Lea merasa tidak memiliki pilihan lain hanya segera mengangguk dengan pasrah.
"Ya, ya, aku akan mencobanya. Jadi Apakah ada makanan yang tidak kamu sukai atau kamu benci? Atau mungkin kamu alergi makanan tertentu?"
"Gue bisa makan apa aja, Gue juga tidak alergi sesuatu, hmm tunggu... Jangan beri gue sayuran, walaupun bisa memakannya, gue lebih suka loe bawain gue jenis daging-dagingan, gue suka kopi, bawakan sekalin gak papa,"
"Aku merasa dipalak di sini," kata Lea merasa tidak nyaman dengan permintaan berlebihan itu dan sepertinya pemuda yang ada di hadapannya cukup pemilih, dan ingin mengambil banyak keuntungan dari dirinya.
Rey yang mendengar keluhan itu segera menaikkan pundaknya seolah tidak peduli lalu berkata,
"Yah, itu terserah loe aja sih, gue kan nggak pernah maksa dari awal, Ya udah sana loe pulang sendiri aja, nggak ada urusannya sama gue,"
Lea yang mendengar penolakan tegas itu hanya segera menghela nafas lalu berkata dengan yakin,
"Baik-baik, mulai besok jatah makan siangmu aku yang tanggung,"
Setelah mengatakan itu, Rey merasa Cukup puas lalu segera mulai berjalan pergi dari sana, membiarkan Lea untuk mengikutinya dari belakang. Lea sendiri tidak banyak bertanya hanya segera mengikuti sendiri tidak banyak bertanya hanya segera mengikuti kemana Rey pergi.
Hanya saja, Lea merasa Rey berjalan terlalu cepat sehingga Lea menarik ujung pakaian Rey, Rey yang ujung pakaiannya tiba-tiba ditarik itu tiba-tiba segera berhenti.
"Apaan sih kenapa loe, tarik-tarik baju gue segala?"
"Habis kamu jalannya cepat-cepat, nanti Aku bisa ketinggalan, jadi kayak gini biar gak ketinggalan,"
"Nanti kalau melorot gimana ini baju? Hah, loe itu tadi tolongin malah ngerepotin,"
Rey lalu segera mengunakan tangannya, dan menarik tangan Lea sambil berkata,
"Kayak gini gak papa?"
Lea yang tiba-tiba tangannya disentuh oleh Rey, sempat menjadi terkejut, olah tidak tahu harus berbuat apa namun segera kembali menormalkan ekspresinya karena toh ini bukan pertama kalinya pemuda itu menarik tangannya begitu saja.
"Ya, ya terserah lah,"
Lalu, keduanya mulai menelusuri jalan itu berjalan dengan pelan-pelan, Rey mencoba untuk menyesuaikan jalannya dengan Lea.
Jalanan cukup sepi sekarang, beberapa lampu mulai dinyalakan, namun hanya sedikit lampu di sana sehingga suasana di sana remang-remang dan sedikit gelap, mungkin karena memang suasana gang yang kurang baik terutama beberapa coretan di beberapa dinding?
Membuat, suasana disana sedikit menyeramkan jika berjalan sendirian, namun ketika berjalan hanya berdua semacam ini apalagi sambil bergandeng tangan rasanya benar-benar aneh.
Lea awalnya tidak terlalu memperhatikan ketika pemuda itu menariknya sambil berlari sebelumnya, namun kali ini berbeda ketika mereka berdua berjalan dengan pelan-pelan di jalanan itu. Lea bisa merasakan sebuah tangan yang menggenggam tangannya itu terasa begitu hangat, tangan Pemuda itu, tidak begitu halus, mungkin karena dia bekerja di kontruksi atau dia yang sering berkelahi dengan orang?
Lea juga tidak tahu, namun Lea merasa tangannya mulai berkeringat, mungkin karena lia merasa sangat gugup dengan perubahan adegan yang tiba-tiba ini, bertanding tangan berdua semacam ini benar-benar terlihat seperti sepasang Kekasih?
Lea benar-benar merasa malu ketika memikirkan hal-hal itu, sial, Lea merasa belakangan otaknya sudah cukup rusak karena bisa memikirkan hal semacam itu dengan pemuda yang baru dikenalnya hari ini.
__ADS_1
Waktu bejalan entah kenapa begitu lambat bagi Lea, sehingga perjalanan yang harusnya pendek itu terasa sangat panjang. tidak ada dari keduanya yang mulai membuka pembicaraan hanya terus berjalan menyusuri jalan itu sambil menikmati udara malam yang cukup dingin dan juga suasana tenang di malam hari.
Ketika dalam perjalanan, Rey kebetulan berpapasan dengan seseorang yang menyapa nya.
"Nak Rey? Siapa gadis yang kamu bawa itu? Astaga, apakah dia pacarmu?" Kata seorang Pria yang lewat, yang sepertinya mengenal Rey.
"Bukan Paman,"
"Bagian mananya Aku menjadi Kekasih cowok ini?" Kata Lea Protes, tidak terima dirinya disebut sebagai pacar dari Rey yang menyebalkan itu.
"Ya kami hanya kebetulan berteman aku di sini hanya menghantarkan anak ini untuk keluar dari gang ini kan paman tahu sendiri dan ini penuh dengan hal-hal sampah,"
"Hahaha, baik-baik. Nak Rey sangat pintar membuat alasan namun tidak apa-apa semua pertemuan bisa dimulai dengan seperti ini yang penting jika kamu sudah berkencan jangan lupa perkenalkan pacarmu itu padaku,"
"Tidak akan berkencan dalam waktu dekat,"
Dan setelah basa-basi ringan, akhirnya mereka berdua melewati gang itu dan segera tiba di tempat yang lebih ramai, sudah diluar jalan gang distrik Utara, tempat yang Lea cukup kenali.
"Sampai sini saja aku sudah tahu jalan,"
Lalu Rey segera melepaskan tangannya dan mengangguk ringan, sambil berkata,
"Ya udah gue pergi,"
Tanpa mereka berdua tahu, ternyata di ujung pojokan terlihat ada seseorang yang menatap kearah mereka berdua. Beberapa orang mencurigakan.
"Jadi, Gadis itu Pacar Rey? Heh, ini benar-benar bisa menjadi bahan bagus,"
Terlihat senyuman licik ketika pria itu mengatakan itu benar-benar terlihat seperti memiliki niat jahat.
####
Hari itu benar-benar hari yang panjang untuk Lea, terlalu panjang hingga membuat dia begitu lelah jadi begitu sampai dirumah, Lea segera mandi dan mulai berbaring di tempat tidur. Namun, Lea tidak bisa tidur, Lea mulai menatap kearah tangannya di mana tangan ini digenggam begitu lama orang seorang Pria.
Rasanya aneh, untuk di gandeng oleh orang lain, terutama Rey, tangan Rey lebih besar daripada tangannya jadi itu cukup untuk membungkus tangannya, dan membuat tangan Lea terasa lebih kecil jika dibandingkan dengan tangan itu.
Lea yang tiba-tiba memikirkan adegan hari ini wajahnya tiba-tiba merasa memerah karena malu lalu segera menutupi wajahnya sendiri dengan bantal.
"Sial, kenapa aku malah jadi per kepikiran cowok gila itu sih? Sadar Lea! Sadar!!"
Lalu, Lea juga menjadi ingat jika mulai besok dirinya harus menyiapkan makan siang untuk pemuda gila itu benar-benar membuat Lea kesal, apalagi di sekitar sini tidak ada toko serba ada yang cukup lengkap yang menjual bekal makan siang.
Hmm, warung makan juga cukup jauh dari sana.
Hah...
Lea hanya menjadi pusing memikirkan soal besok tentang apa yang harus dirinya bawakan pada pemuda sial itu.
__ADS_1
Tidak mungkinkan dirinya memasak untuknya?
Memang Rey itu siapa?