
"Eh?? Apa yang kalian inginkan?" Kata Lea panik setelah melihat beberapa siswa terlihat mendekatinya.
Salah satu siswa itu segera menyeret dan menarik Lea ke ujung sekolah yang cukup sepi.
"Le-- Lepaskan!!"
Karena ini jam Istirahat siang, daerah lorong dekat perpustakaan cukup sepi, jadi tidak ada orang yang melihat kejadian itu. Sampai Lea di tarik kesebuah taman sepi ujung belakang Perpustakaan, dia di lemparkan kearah dinding.
"A-- Apa mau kalian?"
Beberapa siswa itu lalu segera tertawa, salah satunya mulai menegang dagu Lea.
"Jika di lihat-lihat ternyata kamu cukup manis juga," kata Seorang Pemuda yang memakai tindikan ditelinganya.
Seorang siswa lain segera berkata lagi,
"Mari segera lakukan ini dengan cepat,"
"Ah, benar juga Aku sampai lupa," kata salah seorang siswa yang mengenakan sebuah masker, lalu mulai mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya.
"Eh? Apakah benar-benar ini tidak apa-apa?"
"Ini hanya hal-hal kecil membuatnya lecet, apa yang berlebihan?" Kata siswa bermasker itu, mulai mengarahkan pisau itu kepipi Lea.
Lea sendiri menjadi ketakutan sekarang, dia mulai gemetaran ketika merasakan sebuah pisau diarahkan padanya. Tentu saja itu membuat Lea mencoba ingin lari, namun mulutnya ditutup oleh salah satu pemuda lainnya.
"Hmphammm"
Lea benar-benar menjadi sangat ketakutan. Segera tangannya terasa perih, sebuah pisau berhasil mengores tangannya. Itu hanya goresan kecil, namun cukup untuk melukai tangan Lea, hingga sedikit darah keluar.
"Hey, Lo! Dulu, seseorang udah pernah ngasih peringatan ke elo namun lo engak mau menurutinya? Jadi sekarang rasakan akibatnya!"
Lea benar-benar tidak mendengarkan kata-kata itu karena kepanikan segera memasuki dirinya. Lea sudah mengalami berbagai jenis pembullyan dimasalalu, dan kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya.
Hal-hal ini benar-benar membawa trauma masalalu Lea, mengingatkannya pada kejadian-kejadian kelam ketika dia pernah hampir dilecehkan.
Bagaimana ini?
Tepat ketika Lea berada dalam ketakutan itu, dia tiba-tiba saja teringat pada Rey, hanya jika Rey ada disini...
Namun, Lea tentu saja tidak bisa terlihat lemah seperti ini jadi dia masih mencoba untuk mengigit tangan yang menutup mulutnya, masih mencoba melawan.
"Awww! Lo cewek sialan!"
Orang yang tangannya digigit itu segera menjambak rambut Lea karena marah.
"Apa mau kalian!"
"Diem Lo!"
Lea masih meronta-ronta mencoba untuk melarikan dirinya.
"Akhhh ... Tolong!"
"Diam Lo!"
__ADS_1
Sampai mulut Lea kali ini ditutup lagi agar dia tidak berteriak lagi.
Ketika orang-orang yang mengeroyoknya itu berniat ingin melakukan beberapa hal yang lebih buruk, ada seseorang yang tiba-tiba datang ke sana dan tanpa pikir panjang segera memukul orang yang berniat mendekati Lea itu, dan menarik Lea dalam pelukannya.
Lea cukup kaget ketika melihat sosok itu, yang tidak lain merupakan sosok kekasihnya Reyhan. Rey jelas saat ini dipenuhi dengan rasa panik dan ketakutan segera membuka lakban yang menutup mulut Lea.
"Lea? Kamu... Kamu tidak apa-apa?"
Lea yang ketakutan jelas segera memeluk Rey dengan kuat. Melihat sosok pemuda itu segera rasa kelegaan memenuhi hatinya. Rey segera mempererat pelukannya sambil menatap marah dan penuh kebencian pada orang-orang yang melakukan ini pada Lea.
Para Siswa itu, yang melihat kedatangan Rey jelas saja menjadi panik, tentu saja mereka kenal siapa Rey, siswa paling terkenal di Sekolah yang paling hebat dalam hal berkelahi. Salah satu musuh bebuyutan mereka di sekolah.
"Heh? Aku tidak mengira, orang seperti mu sepertinya memiliki beberapa hubungan dengan gadis itu?"
"Diam Lo Pada!"
Rey yang marah jelas segera maju kedepan setelah melepaskan pelukan Lea, memukul salah satu siswa yang membuli Lea sebelumnya. Rey yang begitu marah itu benar-benar melampiaskan rasa marahnya kepada semua orang yang ada di sana, Rey terlalu hebat untuk orang-orang itu lawan.
Hingga salah satu orang, terbaring di lantai, berteriak ketakutan ketika Rey masih terus memukulinya, hingga darah mulai keluar dari hidungnya.
"Akhhh... Ampun! Gue... Gue cuman di suruh orang! Akhhh!"
Namun Rey jelas tidak mendengarkan kata-kata orang itu dan masih memukuli wajah orang itu hingga tambah babak belur, mungkin saking marahnya ketika melihat Lea seperti tadi. Wajah ketakutan dari orang yang paling dia cintai itu jelas menghancurkan hatinya.
Lea yang ada melihat semua kejadian itu segera mencoba menenangkan dirinya sendiri lalu berjalan ke arah Rey, dan memeluknya. Dia merasa tidak senang ketika melihat kekasihnya itu sekarang diliputi kemarahan dan memukuli orang itu. Ya alasan dia tidak senang, karena dia khawatir pada Rey jika sampai kekasihnya itu lepas kendali dan sampai hal-hal yang tidak terkendali terjadi.
Lea jadi sangat khawatir pada Rey sendiri.
"Rey! Cukup! Jika seperti ini lebih lanjut kamu bisa terkena masalah!"
"Apa? Orang-orang ini dulu yang membuat kamu jadi seperti ini!"
"Lea kamu .... "
"Rey, Aku mohon ... "
Rey yang mendengar hal itu akhirnya mulai menghentikan pukulannya, dan sekarang mulai menatap orang yang setengah sadar itu, teman-teman orang ini tadi melarikan diri karena ketakutan.
"Jadi sekarang jelaskan siapa yang nyuruh lo hah? Kalau lu nggak jujur lo bakal tahu akibatnya!"
Karena ketakutan, orang itu segera menjelaskan segalanya. Rey tentu saja binggung ketika mendengar penjelasan itu dan segera menatap ke arah Lea sambil bertanya,
"Lea, apakah kamu tahu gadis bernama Kartika ini?"
Lea tentu saja tahu, wajah Lea tiba-tiba menjadi buruk ketika mengingat wajah orang itu, dia benar-benar tidak mengira jika masalahnya bisa sampai seperti ini.
"Tolong lepaskan Aku! Aku sudah memberitahu kalian semuanya! Setelah ini kami berencana untuk bertemu di dekat tangga keatap sana!"
"Cepat bawa kami kesana!" Kata Lea setelah mencoba mengumpulkan keberaniannya. Ya, Lea sekarang merasa harus mengakhiri masalah dengan Kartika ini, kesalahan pahaman yang tidak masuk akal, yang sekarang membuat Lea jengkel.
Mana itu, kejadiannya akan menjadi bertambah buruk.
Itu di mulai ketika Lea yang bersama Rey menyeret siswa laki-laki sebelumnya, kehadapan Kartika dan teman-temannya.
"Kamu ... Apa yang terjadi?" Kata Kartika panik melihat orang suruhannya itu saat ini diseret ke lantai, babak telur dan terlihat menyedihkan. Namun sebelum dia bisa berkata apa-apa lagi, Lea sudah muncul dan menampar gadis itu.
__ADS_1
"Kamu! Kamu berani padaku?"
Lea menjadi marah mendengar itu.
"Kartika! Aku sudah cukup sabar untuk yang terakhir kali! Namun kali ini aku sudah tidak tahan lagi dengan semua leluconmu itu!"
"Hah, Bukankah itu kamu yang mencari gara-gara? Aku jelas sudah memperingatkanmu!"
"Sungguh! Jika kamu memang suka dengan Kak Nathan kenapa tidak langsung tanyakan saja pada orangnya hah? Aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun!"
"Namun kamu bersikap centil dan merayunya seperti itu!"
"Kamu benar-benar gila!"
Kartika sekarang mencoba menampar Lea, namun tangannya di hentikan oleh Rey.
"Kamu! Bukankah kamu Rey Preman sekolah yang terkenal itu? Apakah gadis tidak tahu malu itu merayumu juga?"
"Diem Lo ******!"
Lea segera mengambil tangan Rey, mengingatkan Rey soal sebelumnya agar Rey diam saja, Lea akan menyelesaikan ini sendiri. Akhirnya Rey segera mundur.
Pertengkaran antara dua orang itu segera berlanjut dengan saling jambak satu sama lain.
Dan begitulah pertengkaran itu dimulai, sampai akhirnya Lea tidak sengaja mendorong Kartika jatuh dari tangga, sampai Kartika jatuh, dan saat ini merintih kesakitan sambil menatap ke arah Lea dengan marah.
"Akhhh!! Lea!! Kamu..."
Sangat sial di sekitar sana kebetulan ada seorang guru yang
"Ada apa ini ribut-ribut!"
Wajah semua orang-orang di sana segera menjadi pucat, terutama Lea yang awalnya tidak sengaja mendorong Kartika itu. Lea sekarang jadi benar-benar ketakutan.
"Ini! Kekacauan apa ini! Reyhan Alvarendra! Apakah kamu mulai menganggu orang-orang lagi!! Astaga! Kali ini kamu mengagu beberapa siswi?" Kata guru itu dengan panik sambil mendekati kearah Kartika yang jatuh itu.
Kartika sendiri, awalnya diliputi dengan rasa ketakutan takut perbuatannya yang membully Lea sebelumnya terungkap, namun tidak mengira jika Guru malah memiliki skenario lain dalam pikirannya. Kartika awalnya ingin jujur dan menyalakan Lea, namun namun jika jujur sama saja menjadi bumerang yang membongkar segalanya.
"Benar! Itu Rey itu yang mendorong saya, Pak!"
Yah, mari buat kambing hitam untuk masalah ini?
Lagipula, Rey itu memang suka membuat masalah dimana-mana dan Guru pasti akan percaya!
Kartika diam-diam tersenyum licik memikirkan rencananya itu.
Kartika mengagap, gadis bernama Lea itu, pasti juga tidak ingin beberapa rumor atau membuat masalah di sekolah bukan?
Rey melihat wajah pucat Lea, yang sepertinya ketakutan itu.
Ya, Rey jelas tahu jika Lea pasti takut jika sampai tersebar rumor-rumor buruk soal dia nantinya. Apalagi mengingat kejadian di masa lalu, di sekolah Lama Lea. Lea baru saja bisa keluar dari hal-hal buruk dan akhirnya bisa menikmati kehidupan sekolah yang normal...
Bagaimana jika kejadian ini merusak kehidupan normal Lea?
Rey tidak pernah berpikir sejauh itu sebelumnya, saat setuju dengan usulan Lea yang ingin menyelesaikan segalanya sendiri, harusnya dia tidak setuju.
__ADS_1
Sekarang segalanya menjadi kacau.
Rey yang akhirnya sudah memutuskannya, segera maju kedepan Lea.