
Namun Rey tidak mengatakan apa-apa lagi pada gadis yang ada di hadapannya itu, hanya segera berniat pergi dari sana, bahkan Lea yang memegang tangan Rey untuk mencegah pemuda itu pergi pun di tepis.
"Mulai hari ini aku dan kamu tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Ini adalah akhir dari Hubungan kita, Mari tidak saling mengganggu di masa depan."
Kata-kata itu, terkesan sangat dingin dan begitu menyakiti hati Lea, yang saat ini mulai terpatung dan terdiam di sana benar-benar tidak bisa menahan perasaan sakit yang ada di hatinya. Lea benar-benar tidak mengira, Rey akan mengakhiri hubungan mereka sepihak semacam ini.
Lea pada akhirnya, masih belum terima dengan keputusan itu.
Di malam hari dia mencoba untuk menelepon Rey, mengirimkan Pesan lewat Email, atau Pesan WA, namun tidak satupun dari pesan-pesannya itu dibalas ataupun teleponnya diangkat.
Keesokan harinya, Lea berniat untuk bertemu Rey di kelas. Namun Rey datang tepat waktu saat Kelas di mulai, membuat Lea tidak memiliki kesempatan berbicara dengan pemuda itu. Bahkan ketika jam Istirahat, Rey langsung segera pergi dari ruang kelas entah menghilang kemana tidak memberi kesempatan Lea berbicara dengannya.
Siang hari ketika waktunya pergi ke Ruang Ektrakurikuler, Lea tidak menemukan sosok pemuda itu di Ruangan Ektrakurikuler. Lea, lalu hanya duduk di ruangan itu dengan ekspresi sedih sendirian.
Lea benar-benar tidak mengira bahwa Rey benar-benar akan menghindarinya seperti itu.
Tepat ketika dia masih tenggelam dalam kesedihannya itu, ruangan ekstrakurikuler segera terbuka dan seseorang masuk. Lea sudah menjadi cukup senang, berpikir mungkin itu Rey.
"Rey...."
Sayangnya, ketika dia mulai menatap ke arah pintu sosok yang memasuki ruangan itu bukanlah orang yang dia tunggu.
"Huh? Apakah kamu mencari Rey?"
"Benar, aku mencarinya namun cukup tumben dia tidak ke Ruang Ektrakurikuler."
Nathan lalu mulai duduk di samping Gadis itu sambil berkata dengan heran.
"Memang benar ini aneh, biasanya dia akan sering ke sini. Bahkan Aku dengar dari Guru Pembimbing, dia baru saja mengembalikan Kamera yang dia pinjam dari Guru, ini aneh."
Lea segera memiliki firasa tidak enak tentang itu.
"Aku juga tidak mengerti soal dia."
"Aku juga."
Segera ruangan itu dipenuhi dengan keheningan. Lea masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sampai Nathan mulai membuka percakapan.
__ADS_1
"Lea, sebenarnya aku ingin meminta maaf padamu juga pada Rey, tapi terutama padamu, soal hal-hal yang menimpamu, aku benar-benar sangat minta maaf karena salah satu Fansku kamu jadi terlibat masalah."
Nathan terlihat sangat merasa bersalah ketika mengatakan itu. Lea yang mendengar itu hanya segera menggelengkan kepalanya sambil berkata,
"Ini bukan salah Kak Nathan. Siapa yang tahu, tentang Bagaimana jalan pemikiran seseorang? Kita juga tidak pernah tahu kenapa Kirana bisa begitu nekat."
Nathan akhirnya hanya bisa menghela nafas sambil berkata dengan lesu,
"Memang, aku juga tidak mengerti kenapa dia sampai sejauh itu, namun tetap saja aku merasa bersalah karenanya."
"Kak Nathan, tidak perlu terlalu menyalahkan diri. hal-hal sudah berlalu dan tidak perlu untuk diperpanjang lagi Aku harap kakak mengerti,"
"Baiklah kalau begitu. Namun Lea, jika nantinya akan ada kejadian semacam itu lebih baik kamu bilang padaku dulu, jangan sampai ada lagi hal-hal yang membuatmu tidak nyaman."
"Ya, Aku akan bilang jika sampai ada seperti itu, Terimakasih Kak Nathan."
Sebenarnya, Nathan masih ingin berbicara dengan Lea namun melihat gadis itu memiliki ekspresi lesu di wajahnya dia menjadi merasa tidak enak untuk berbicara dengan gadis itu akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana, meninggalkan Lea sendirian.
Lea berada di ruangan itu sampai sore tiba namun Pemuda tertentu yang dia tunggu tidak kunjung datang juga. Lea pulang dengan ekpersi kecewa.
Sayangnya, ketika Lea sampai di Rumah bukannya sebuah kedamaian yang dia dapatkan. Saat ini, kedua orang tuanya itu tiba-tiba saja sudah berkumpul dan berada di ruang tamu. Jika keduanya hanya saling menyapa saja, atau bersikap ramah, mungkin Lea akan merasakan sedikit kelegaan.
"Hana! Lihat apa yang telah kamu lakukan pada Lea! Kamu mengabaikan putrimu sendiri dan bahkan membiarkan dia memasuki sekolah Tidak jelas itu sampai dia berbuat nakal dan jadi anak nakal sekarang yang berani melawan ayahnya!"
"Diamlah, Robbi! Kamu tahu apa soal mengurus putrimu? Kamu yang malah sibuk sendiri dengan pacar barumu itu?"
"Hah, Kamu benar-benar tidak berubah sedikitpun!"
"Kamu juga bahkan menjadi lebih buruk!"
"Sekarang, Lea akan Ikut denganku?!" Kata Ayah Lea dengan marah, hal itu sayangnya membuat wanita yang ada di hadapannya itu menjadi marah.
"Siapa yang Ikut kamu? Aku jelas tidak akan membiarkan putriku satu-satunya ini diasuh oleh Ibu Tiri nanti!"
"Hah, daripada dia ikut denganmu dan ditelantarkan seperti ini!"
"Siapa yang menelantarkan Lea? Aku menitipkannya pada Ibuku! Aku mengharapkan dia bisa mendapatkan sedikit ketenangan ketika berada di sini setelah semua hal yang terjadi!"
__ADS_1
"Itu hanya alasanmu saja karena kamu sibuk dengan seluruh pekerjaanmu itu!"
"Namun aku tidak akan membiarkan Lea ikut denganmu!"
Lea yang melihat pertengkaran itu akhirnya menjadi muak.
"Cukup kalian berdua! Aku benar-benar lelah melihat kalian bertengkar! Bukankah kalian sudah bercerai Kenapa lagi masih bertengkar di hadapanku? Dan soal Aku ingin ikut siapa Kenapa kalian yang memutuskannya? Tidakkah kalian pernah memikirkan sedikit saja perasaanku?"
Lea terlihat mengatakan kata-kata itu dengan penuh kemarahan dan keputusan. Dia masih melanjutkan kata-katanya,
"Kalian tidak pernah bertanya padaku, tentang apa yang aku inginkan, yang kalian pikirkan hanya diri kalian sendiri! Kalian benar-benar sangat egois! Aku lelah dengan Kalian! Jadi kalau kalian masih ingin bertengkar Aku harap kalian tidak bertengkar di hadapanku dan keluar dari rumah ini! Aku benar-benar muak dan tidak ingin melihat kalian lagi!"
Lea segera berlari menuju kamarnya setelah mengatakan kata-kata itu sekarang hatinya diliputi dengan keputusan.
Namun dia tidak tahu harus meluapkan isi hatinya itu kepada siapa..Dia Lalu menatap ke arah ponselnya kepada sebuah pesan yang tidak pernah dibalas.
Lea benar-benar merasa sedih, dia mulai merekam sebuah suara.
'Rey, Apakah kamu tahu? Aku begitu kesal melihat semua orang mengambil keputusan seenaknya sendiri, entah orang tauku, yang selalu bertengkar dan bahkan sekarang datang mulai merebutkan soal Aku ikut siapa. Mereka hanya memikirkan keinginan mereka sendiri tanpa bertanya padaku, mereka tidak memikirkan soal perasaanku, mengambil keputusan sendiri dengan begitu egois. Aku benar-benar sangat tidak senang, dan kamu Rey ... Aku pikir kamu juga sama dengan mereka mengambil keputusan seenakmu sendiri tanpa memikirkan aku. Apakah kamu benar-benar tidak pernah mencintaiku?'
Lea mengirimkan pesan itu dengan penuh kesedihan, lalu segera melemparkan ponselnya ke arah tempat tidur.
Rasanya hati dan pikirannya begitu kacau.
Memikirkan dalam hidupnya dia selalu ditinggalkan, semua orang selalu membuat keputusan seenaknya sendiri, tidak ada yang pernah menanyakan pendapatnya.
Seolah dirinya merasa sangat tidak berharga.
Malam itu, Lea tidak keluar dari kamarnya dan hanya menangis semalaman.
Namun pada akhirnya ketika pagi hari dia melihat ke arah ponselnya, hanya ada centang satu. Tidak ada balasan dari pesan suara yang dia kirimkan kepada Rey semalam.
Lea entah kenapa benar-benar merasa sangat kecewa. Namun bukan berarti dia menyerah untuk bertemu Rey.
Dia bertekad untuk bertemu dengan Rey di sekolah. Namun mana tahu ketika dia di sekolah, dia tidak bertemu Rey, Rey tidak berangkat Sekolah.
Itu berlaku untuk hari-hari setelahnya.
__ADS_1
Ketika Lea penasaran, dia mencoba bertanya kepada salah satu guru.
"Surat Kepindahan Reyhan Alvarendra sudah di Putuskan oleh Kepala Sekolah. Mau bagaimana lagi, Wali anak itu sudah sangat memaksa untuk ingin membuat Reyhan keluar, dan Reyhan tidak terlihat menentang keputusan itu Jadi kami juga tidak bisa berbuat apa-apa."