Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 34: Tidak Buruk


__ADS_3

Hari-hari segera berlalu dalam sekejap, ini sudah empat hari sejak Lea menyadari bahwa Rey akan pulang bersamanya, berjalan diam-diam beberapa langkah cukup jauh darinya. Hari-hari itu benar-benar terasa sangat menyenangkan, dan Lea entah kenapa diam-diam menantikan jam pulang sekolah.


Sama seperti sekarang, Lea segera menuju ruang ekstrakulikuler seperti biasanya tapi sebelum itu, Lea akan mampir dulu ke kantin untuk membeli beberapa hal. Lea tentu saja akan merasa tidak enak jika merepotkan Rey, jadi ketika kegiatan Ekstrakurikuler biasanya Lea akan memberikan minuman atau beberapa camilan untuk pemuda itu.


Ruangan itu benar-benar terasa sangat sepi, dan hanya ada dua orang sekarang, mengigat Nathan ada urusan jadi tidak bisa ke sana. Guru pembimbing juga memberikan kebebasan untuk melakukan apapun pula, sebenarnya itu tidak benar-benar ekstrakurikuler, yah tempat yang lebih bebas berbasis nama ekstrakulikuler.


Rey yang baru saja masuk ke ruangan itu sudah disambut oleh sebuah kaleng kopi yang di berikan Lea. Rey pun segera menerima minuman itu lalu mulai duduk di kursinya seperti biasa mulai mengedit beberapa foto hasil jepretannya.


Yah, karena hanya ada mereka berdua jadi tempat itu sekarang terasa hening karena biasanya Nathan yang lebih dulu membuka percakapan diantara mereka bertiga, mencoba mencari topik yang kira-kira bisa untuk mereka bertiga diskusikan. Dan sekarang ketika keheningan seperti itu Lea merasa cukup canggung jelas ingin mencoba membuka topik pembicaraan namun bingung harus mulai dari mana.


Kemudian tatapan mata Lea menuju ke arah sebuah papan pengumuman di mana di sana ada sebuah poster tentang diadakannya lomba fotografi dalam waktu dekat.


"Rey, kamu akan mengikuti perlombaan itu?"


Rey yang awalnya fokus mengedit foto itu yang tiba-tiba ditanya segera menjawab,


"Ya,"


Jawaban yang sangat singkat itu jelas membuat Lea tidak puas, dia segera bertanya lagi,


"Apakah kamu sudah menentukan tema yang akan kamu ambil untuk lomba itu?"


"Mungkin aku akan memikirkannya nanti tergantung mood,"


"Eh? Kenapa kamu tidak jelas sekali bagaimana nanti jika kalah? Karena kamu kurang persiapan, aku lihat hadiah untuk juara pertama adalah sebuah kamera,"


Namun Rey dengan percaya diri segera berkata,


"Aku pasti akan menang,"


"Kamu benar-benar begitu percaya diri dengan kemampuanmu?"


"Mamang kenapa?"


"Kamu sepertinya sangat menyukai fotografi, hal-hal ini sejujurnya cukup membuat aku heran,"


Lea berhasil membuka percakapan itu akhirnya senang, ya dia selalu ingin tahu lebih banyak tentang sosok pemuda yang ada di hadapannya itu. Kenapa dia suka fotografi? Atau bahkan hanya hal-hal kecil tentang pemuda itu.


Rey yang tiba-tiba ditanya itu segera terdiam seolah tenggelam dalam sebuah ingatan yang jauh mengenang hal-hal di masa lalu yang jauh. Tanpa sadar, dia memberikan jawaban pada pertanyaan Lea.


"Ibuku dulu dia suka fotografi, dia memiliki sebuah kamera jadi ketika aku masih muda aku sering meminjam kamera miliknya itu dan hal-hal ternyata sangat menyenangkan,"


Lea yang mendengar itu cukup terkejut ketika pemuda yang ada di depannya itu saat ini memiliki ekpresi bahagia yang langkah.


"Jadi karena Ibumu? Apakah dia masih suka fotografi sekarang? Dia pasti akan senang melihat putranya benar-benar sangat hebat fotografi,"


Namun ketika ditanya itu ekspresi Rey segera menunjukkan rasa sedih sebentar, sampai dia kembali menormalkan ekspresinya lalu menjawab dengan nada dasar,

__ADS_1


"Dia sudah meninggal,"


Lea yang mendengar itu jelas saja merasa sangat bersalah karena menanyakan pertanyaan yang cukup tabu, pasti membuat Rey kembali mengingat-ingat hal-hal buruk. Lea yang merasa tidak enak, segera berkata lagi,


"Aku minta maaf,"


"Hal-hal sudah berlalu kamu tidak perlu memikirkan,"


Setelahnya kembali ada keheningan di antara mereka, terutama Rey yang saat ini memiliki ekspresi sedikit sedih, ada aura kesendirian disana yang susah di dekati, membuat Lea makin tidak nyaman dan merasa bersalah. Lea binggung bagaimana cara untuk menghibur seseorang, lalu mulai berkata dengan asal-asalan.


"Soal Lomba Fotografi, karena temanya bebas dan kamu juga belum menentukan temanya bagaimana jika kamu memfotoku saja?"


Rey yang awalnya sedikit tenggelam pada ingatan masa lalunya itu jelas menjadi terkejut ketika mendengar kata-kata random dari gadis yang duduk tidak jauh darinya itu. Rey lalu mengalihkan pandangannya menatap ke arah gadis itu lagi dan mulai tertawa,


"Kamu itu aneh,"


"Siapa yang kamu panggil aneh?"


"Jika aku mengambil fotomu pasti aku akan langsung kalah dalam lomba itu,"


"Rey, kamu masih menyebalkan seperti biasanya!"


Setidaknya suasana di antara mereka mulai mencair, Lea sendiri mulai keluar dari sana untuk sekali lagi mencoba mencari tempat yang bagus untuk di foto, mungkin selain memfoto pemandangan memfoto pemandangan kelas juga merupakan hal yang baik.


Mana tahu, ketika Lea berada di suatu lorong sepi dia tiba-tiba dihadang oleh beberapa orang siswi. Melihat para siswi perempuan yang ada di depannya itu Lea jelas menjadi binggung.


Namun salah satu siswi itu segera mendorong Lea ke dinding,


"Hey Lo, dasar cewek gak tahu diri! Lo pasti sengaja mendekati Kak Nathan kan? Lo caper banget ke dia"


Lea yang tiba-tiba dituduh itu jelas merasa bingung dan mencoba untuk membela diri.


"Aku tidak seperti itu,"


Namun orang-orang yang menghadangnya itu seolah benar-benar tidak peduli, dan menampar Lea. Lea yang tiba-tiba ditampar itu memegang pipinya yang sakit merasa bahwa orang-orang yang ada di hadapannya ini sangat tidak masuk akal. Namun Lea juga binggung harus bagaimana, jujur dia tidak ingin membuat masalah.


"Kalian jangan seperti ini,"


"Kalau gitu gue peringatin buat lo agar lo nggak deket-deket sama Kak Nathan!"


"Sungguh, Aku benar-benar tidak dekat dengannya sama sekali!"


"Tapi jelas-jelas gue lihat sendiri lu deket-deket sama dia sok nempel-nempel gitu,"


Lea merasa sepertinya tidak ada gunanya untuk terus berbicara dengan orang-orang tidak masuk akal itu mencoba untuk pergi dari sana, namun segera rambut Lea dijambak. Tidak sampai disana, Lea juga segera di dorong jatuh ke lantai dengan keras. Dan gadis-gadis itu hanya menertawakan Lea yag memegangi Kakinya yang terlihat kesakitan itu. Salah satu siswi mengijak tangan Lea yang ada di lantai.


"Lain kali gue lihat lo dekat-dekat sama Kak Nathan awas ya! Gue pastiin lo bakal lebih menderita dari ini!"

__ADS_1


Dan rombongan itu segera pergi dari sana meninggalkan Lea. Lea sendiri Kakinya saat ini sakit, terutama di bagian pergelangan kakinya sepertinya itu sedikit terkilir dan memar karena dorongan tadi yang membuatnya terpeleset.


"Sial kenapa aku harus terlibat dengan hal-hal semacam ini lagi,"


Lea ingin marah, namun tidak tau akan marah pada siapa, jadi kali ini Lea mencoba untuk berdiri dan memutuskan untuk kembali ke Ruang Ekstrakurikuler, ingin beristirahat di sana saja dan mengambil Tasnya.


Rey yang melihat gadis itu kembali jelas saja merasa heran dan segera bertanya,


"Lah? Kok balik lagi?"


Lea tentu saja bukan tipe orang yang suka mengadu, jadi dia hanya membuat alasan,


"Bukan apa-apa, aku hanya tidak menemukan tempat yang bagus untuk difoto di sekolah,"


"Hah, memamg gak ada yang bagus sama sekali, lo kalau ingin memfoto, lo setidaknya harus pergi keluar."


Ketika mengatakan itu Rey mulai menatap kearah Lea, tentu saja mulai menyadari keanehan yang ada pada gadis itu misalnya cara berjalannya yang sedikit pincang. Rey secara respon segera berdiri, dan mendekati Lea yang saat ini sudah duduk.


"Kenapa dengan kaki lo?"


"Ini bukan apa-apa,"


Rey segera berjongkok di sana dan mulai menatap ke arah pergelangan kaki Lea, dan menyentuh Kaki Lea dengan tangannya.


"Aww, sakit.."


"Ini memar sampai biru seperti ini Lo bilang gak apa-apa?"


Lea tentu juga menyadari bahwa pergelangan kakinya yang memar itu terlihat mengkhawatirkan namun dirinya benar-benar tidak ingin Rey tahu. Namun respon khawatir Rey benar-benar membuat Lea terkejut.


"Lo itu, dulu pernah bilang ke gue biar gue merhatiin luka gue, namun lo sendiri terkilir kayak gini malah lo abaikan, lo itu gadis aneh,"


Rey yang mengatakan itu segera berdiri dan mengambil sesuatu dari tasnya, sepertinya ada minyak angin disana. Dia dengan hati-hati segera mengoleskan minyak itu pada Kaki Lea. Lea sendiri menjadi bingung dan tidak bisa berkata-kata dari tadi. Rey juga diam saja ketika mengoleskan minyak angin itu.


Lea harusnya merasa sedih hari ini karena baru saja terlibat masalah namun entah kenapa diperlakukan Rey kayak gini terasa sangat menyenangkan, Lea diam-diam tersenyum.


Rey jelas memperhatikan Lea yang tiba-tiba tersenyum itu,


"Kenapa lo malah senyum? Lo masokis apa gimana?"


"Rey, tumben kamu baik?"


Rey yang akhirnya menyadari tindakannya itu tiba-tiba menjadi malu sendiri dan segera memalingkan wajahnya telinganya menjadi sedikit memerah.


"Apa-apaan, gue cuman bertindak atas dasar kemanusiaan."


Lea yang mendengar jawaban itu hanya bisa tertawa melihat bagaimana Rey terlihat cukup lucu ketika mulai membuat alasan.

__ADS_1


__ADS_2