Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 42: Berantakan


__ADS_3

Pada awalnya, Lea cukup terkejut melihat Rey yang ada di arena berada di paling depan, walaupun Lea merasa tidak senang Kekasihnya itu mengikuti hal-hal berbahaya seperti balapan namun melihat kekasihnya itu hampir menang tentu saja membuat Lea mau tidak mau senang.


Itu benar-benar perasaan yang baru untuk menonton acara semacam ini terlebih sekarang yang bertanding adalah Kekasihnya. Jadi Lea yang tiba-tiba bersemangat itu tidak terlalu melihat tempat dia berpijak ketika mau mendukung Rey, dan berakhir terpeleset, untunglah dia tidak jatuh karena ada Nathan yang membantunya.


Adegan benar-benar berjalan dengan cepat, ketika Lea hampir jatuh itu, Rey sudah sampai di garis finis, dan melihat hal-hal yang tidak pernah dia kira. Rey tentu saja mencoba untuk menenangkan dirinya namun hatinya diliputi dengan kemarahan.


Teman-teman Rey mulai mendatangi pemuda itu dan memberikan ucapan selamat dia juga segera di kerumunani oleh berbagai macam gadis di sana. Nik tatapan Rey masih menuju kepada sosok gadis tertentu di ujung sana yang sekarang mulai memalingkan wajahnya ke arahnya, lalu tanpa bersalah melambaikan tangan padanya.


Rey yang melihat itu tidak tahu apakah merasa senang atau tidak terlebih melihat gadis itu masih bersama kakak kelas mereka. Ini tiba-tiba membuat Rey merasa kesal, dia tahu Kakak kelas mereka, Nathan dan Lea cukup dekat apalagi nathan juga yang membawa gadis itu untuk masuk ke Ekstrakurikuler Fotografi.


"Hey, Rey kenapa wajahmu terlihat seperti itu, kamu menang hari ini," kata salah satu teman Rey.


"Bukan apa-apa,"


Rey yang kesal memutuskan untuk mengabaikan lambaian tangan Lea, dan menyapa teman-temannya itu.


"Cih, Lo hanya beruntung hari ini," kata salah satu Lawan Rey, salah satu siswa dari sekolah lain, dia adalah Dio, seseorang yang sebelumnya pernah menculik Lea.


Rey jang mengingat kejadian itu segera menatap pria itu dengan ekspresi marah,


"Untuk seorang pengecut yang cuman bisa ngancam gue, bukankah Lo terlalu banyak omong?"


"Siapa yang Lo bilang pengecut hah?"


"Siapa lagi kalau bukan Lo, Dio Erlangga? Seseorang yang hanya suka mencari kelemahan orang lain, karena lu nggak bakal bisa menang dari gue," kata Rey dengan nada marah, Rey biasanya tipe yang pendiam dan tidak termakan provokasi orang lain namun karena saat ini hatinya diliputi kemarahan sepertinya pemuda itu ingin sedikit melampiaskan kemarahan setidaknya pada salah satu musuhnya itu.


Dio juga kebetulan tipe yang mudah emosi, jadi mendapatkan provokasi dari Rey, dia segera turun dari motornya dan langsung saja datang kearah Rey yang memukul wajah Rey.


Rey yang mendapat pukulan itu jelas aja tidak terima dan marah dan segera membalas pukulan itu. Pertengkaran itu juga benar-benar menjadi heboh, antara dua orang itu, membuat orang-orang yang ada di sana jadi termasuk para panitia.


Teman-teman Rey mencoba untuk menghentikan Rey berkelahi, begitu pula dengan teman-teman Dio, karena tempat itu bukanlah tempat yang cocok untuk berkelahi semacam itu apalagi di bawah pandangan orang-orang yang hanya akan merusak reputasi jika berkelahi di sana.


"Lepaskan! Biarin gue menghajar si Brengsek sialan itu!" Kata Rey dengan kesal mencoba lepas dari pegangan tangan teman-temannya.

__ADS_1


"Rey, Lo kenapa sih nggak biasanya kayak gini, Lo biasanya nggak gampang emosi kayak gini,"


"Cih! Mereka kok yang jadi awal cari masalah!"


"Kan lu juga biasanya ngerti Dio itu orangnya kayak apa, kok lo masih terpancing aja?"


Mendengar kata-kata temennya itu, Rey menjadi marah sendiri,


"Jadi sekarang Lo itu di pihak gue atau si sampah itu?"


"Ayolah, Rey, kenapa sih lo jadi marah-marah kayak gini?"


"Udahlah, Gue Capek!!!"


Rey yang akhirnya kesal itu, segera menaiki motor pinjamannya itu, dan mengendarainya menjauh dari arena.


Tepat ketika dia bisa di kawasan yang cukup sedih dia segera mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang. Tentu saja dia mengirimkan pesan pada Lea, agar menyusulnya kesana, tempat itu tidak begitu jauh dari arena, tempat mereka turun sebelumnya.


Disisi lainnya, Lea yang awalnya melambaikan tangan ketika melihat Rey menang itu, merasa senang, dia lasagna ingin datang ke sana memeluknya dan memberikan selamat namun sayangnya dia tidak bisa ke sana karena takut hubungannya akan terbongkar, jadi yang bisa dia lakukan adalah melambaikan tangannya.


Rey kebetulan melihat ke arahnya juga berharap Rey mungkin akan senang dan tersenyum padanya. Namun Rey bukannya tersenyum atau membalas lambaian nya, pemuda itu malah memalingkan wajahnya dan mengabaikannya. Membuat Lea merasa tidak senang.


"Rey kan memang seperti itu,"


Lea baru ingat jika ada Nathan disana, Lea yang awalnya merasa tidak senang itu akhirnya sadar dengan situasinya, mungkin Rey juga ingin menyembunyikan hubungan mereka dari Kak Nathan?


Ya, akan sangat aneh juga jila Rey tiba-tiba membalas sapaan nya barusan mengingat hubungan mereka di depan kakak tingkat itu tidak sejauh itu hanya terlihat seperti kenalan yang lewat.


"Memang, Rey sangat sombong seperti biasanya, hah,"


"Tapi dia hebat bukan? Iya benar benar bisa memenangkan balapan liar semacam ini,"


"Memang,"

__ADS_1


Ketika dua orang itu mengobrol terjadilah pertengkaran di arena itu, mau tidak mau tatapan Lea kembali menuju ke arah ke mana Rey berada, di mana saat ini pemuda itu terlibat perkelahian dengan seseorang yang terlihat familiar.


Lea tentu saja cemas dan ingin ke sana.


"Lea, jangan ke sana itu berbahaya perkelahian semacam ini toh hal-hal yang biasa kamu di sini saja mari cari tempat yang lebih aman, atau bagaimana dengan mencari dengan temanmu?" kata Nathan sambil memegang tangan Lea.


Tatapan mata Lea jelas masih menatap kearah Rey yang saat ini baru saja kena pukul, Lea tiba-tiba merasakan rasa tidak senang di hatinya, seolah merasakan pukulan itu. Namun dia bahkan tidak bisa apa-apa ataupun bisa ke sana untuk mencoba menenangkan kekasihnya itu.


Sangat beruntung perkelahian itu tidak berlangsung dengan lama karena orang-orang mungkin memisahkan kedua orang itu. Namun yang membuat Lea merasa sedikit binggung, Rey yang tiba-tiba segera menaiki motornya dan pergi dari sana.


Apakah Rey lupa jika datang bersamanya?


Lalu bagaimana dia pulang sekarang?


Lea tiba-tiba merasa sangat kecewa, merasa Rey meninggalkannya begitu saja. Namun ternyata tebakan nya salah, segera Lea menerima pesan dari Rey, yang mengatakan agar mereka bertemu di tempat tadi mereka datang.


Lea akhirnya memahami situasi dengan hal-hal tadi, jika Rey langsung datang ke arahnya dan menyeret nya pergi pasti akan menjadi pusat perhatian orang orang, hal-hal yang paling mereka takutkan.


"Kak Nathan, teman-temanku sepertinya sudah menunggu di arena dekat sini aku pergi duluan,"


"Eh, Tapi Lea tempat ini sedikit berbahaya apakah kamu tidak ingin aku menemanimu sampai kamu bertemu teman-temanmu?"


Mendengar kebaikan itu, Lea segera berkata,


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja mari bertemu lagi besok di sekolah,"


Lea segera melambaikan tangannya dan pergi dari sana dengan buru-buru menuju ke tempat dia dan Rey janji bertemu.


Melihat Rey yang ada di motor, dengan seberapa luka lebam di wajahnya jelas aja gadis itu segera khawatir.


"Rey, apakah kamu tidak apa-apa?" Kata Lea mencoba untuk menyentuh luka Rey, namun bukannya mendapat perlakuan ramah, Rey segera berkata dengan dingin,


"Aku tidak apa-apa. Kamu segeralah naik keboncengan, mari kita pulang,"

__ADS_1


__ADS_2