Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 6: Deklarasi


__ADS_3

Lea baru saja mengatakan itu dengan nada penuh percaya diri, ya setidaknya mereka tidak hanya sebatas kenalan namun juga teman karena Lea sudah membantu Rey mengobati Rey yang terluka hampir dua kali hari ini. Setidaknya ini bisa mempertegas hubungan antara mereka, sudah sewajarnya untuk teman juga untuk saling menolong satu sama.


Sayangnya respon Rey benar-benar berbeda dengan ekspektasi Lea.


"Idih Siapa juga yang mau jadi temen Lo?"


Lea yang mendengar respon dingin itu segera berkata lagi,


"Sombong banget sih, Lo! Nyebelin! Kalau kayak gini lo nggak bakal punya temen!"


"Lagian gue juga gak butuh temen,"


"Dasar menyebalkan!"


"Lo tuh yang nyebelin! Lagian setau gue, gak ada itu namanya temenan anatra cowok sama cewek," kata Rey lagi yang membuat Lea menjadi semakin kesal.


"Apaan? Gak bisa temenan dari mananya?"


Rey yang mendengar itu segera terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu, lalu segera memikiran suatu hal yang bagus.


"Hmm, biasanya cowok ama cewek kalau temenan pasti kebawa perasaan, terus pacaran,"

__ADS_1


Lea yang mendengar alasan tidak masuk akal itu segera menjadi kesal, dan berkata,


"Alasan lo nggak masuk akal banget! Jelas orang bisa temenan sama siapa aja!"


Rey yang mendengar itu, makin merasa jika gadis yang ada di hadapannya itu tidak masuk akal lalu laki-laki sebuah pikiran memasuki benaknya.


"Jangan bilang, Lo pengen jadi pacar gue gegara naksir sama gue? Gue tahu, Gue ganteng, tapi maaf gue nggak nerima pacar,"


Lea merasa syok mendengar Bagaimana pemuda yang ada di depannya itu benar-benar bertingkah narsis dan percaya diri, membuat Lea tiba-tiba merasa muak.


"Idih, sok banget! Mana ada naksir sama cowok gila macem Lo?"


Ya, Lea sudah kebawa emosi, jadi nada bicaranya jadi lebih informal, dari biasanya.


Lea sendiri, yang tiba-tiba didekati seperti itu menjadi berdebar tidak karuan, ini jelas adalah relasi wajar jika di dekati seorang pria semacam ini!


Namun, respon Lea lebih agresif dari yang Lea kira, wajahnya jadi memerah karena malu, itu benar tidak bisa dipungkiri, wajah Rey cukup tampan, apalagi dari jarak dekat seperti ini walaupun ada beberapa goresan luka dan memar itu sama sekali tidak mengurangi nilai dari wajah itu.


Rey yang melihat respon Lea yang memerah itu, segera tersenyum dan mencubit pipi Lea.


"Lihat? Lu baru saja merasa tersipu pasti suka banget kan sama gue? Sekarang masuk akal kenapa dari tadi Lo sok cari perhatian sama gue?"

__ADS_1


Mendengar kata-kata itu, Lea jelas langsung mendorong Rey menjauh, merasa kesal Bagaimana pemuda itu baru saja menggodanya dan mempermainkannya semacam ini.


"Kalau dipikir lagi, dari tadi Lo yang bahas soal pacar lah, gak bisa temenan lah, apakah itu hanya alasan karena dari pada jadi temen Lo yang pengen jadi pacar gue?"


Ya, Lea sangat kesal lalu segera membalik kata-kata pemuda yang ada di depannya. Mendengar itu, Rey segera terlihat pura-pura muntah dan berkata,


"Hah? Gue? Naksir sama cewek jelek kayak Lo? Astaga, amit-amit deh,"


Lea yang merasa disinggung itu jelas kesal karena, Lea merasa penampilannya walaupun tidak secantik itu namun masih bisa dibilang ini cukup diatas rata-rata.


"Amit-amit katanya? Heh, lalu gimana jika Lo sampe jatuh cinta sama gue?" Kata Lea dengan kesal.


"Gue bakal mandi lumpur, terus pake celana doang, dan langsung keliling Sekolah pas Jam Istirahat!! Lagipula, hal kayak gitu nggak mungkin banget! Gue kasih tahu, lo itu bukan tipe gue!!"


Lea tidak mengira jika pemuda di depannya itu sampai berkata semacam itu, dasar aneh.


"Gue pegang kata-kata Lo!"


"Pegang aja! Terserah! Gue gak peduli,"


"Hmph, lihat aja nanti ya,"

__ADS_1


"Jangan mimpi, Lo! Mimpi lo ketinggian!"


__ADS_2