
Melihat gadis yang ada di hadapannya tiba-tiba bersikap aneh dan malah menutup wajahnya, membuat Rey menjadi semakin cemas dan khawatir dia Lalu segera berkata lagi,
"Lea? Ada apa denganmu? Apakah kamu masih marah padaku?"
Lea lagi-lagi belum menjawab masih tenggelam dalam pikirannya, jujur saja Lea merasa belum siap untuk menerima semua kenyataan ini. Fakta bahwa teman Onlinenya Alfa adalah Kekasihnya, Reyhan Alvarendra.
Apakah dari awal keduanya terhubung oleh sebuah takdir misterius?
Lea juga Mulai bertanya-tanya dalam hatinya sendiri, apakah alasan dia menyukai Reyhan awalnya karena Reyhan selalu mengingatkannya pada Alfa?
Setelah menelusuri ingatannya, banyak hal yang akhirnya Lea sadari, tapi mungkin itulah yang namanya cinta, pada akhirnya dia jauh cinta pada orang yang sama. Dulu sekali, ada saat dimana Lea berharap pada Alfa, namun seiring berjalannya waktu, Lea sadar bahwa perasaannya itu berlebihan sehingga mulai memendam dan melupakan jauh-jauh hal itu.
Untuknya, Alfa adalah penyelamatnya seseorang yang memberikan dukungan dan memberinya semangat selama ini. Terlalu berlebihan jika dia meminta sesuatu yang lebih. Jadi, Lea memutuskan untuk melupakannya. Dan waktu benar-benar menjawab segalanya.
Sampai sekarang, ketika di hadapankan pada kenyataan ini, Lea kembali mengingat perasaan lamanya itu.
"Lea? Aku benar-benar minta maaf jadi jangan marah padaku lagi," kata Rey dengan ekpersi sedih.
Lea yang mendengar suara itu akhirnya tersadar dari lamunannya. Namun dia masih bingung harus berkata apa. Jadi, Lea segera memutuskan untuk mencoba mengambil ponselnya yang jatuh.
Rey mengikuti gerakan Lea, berniat ingin membantu gadis itu, namun Lea langsung menarik ponselnya seperti orang kesetanan.
"Lea?"
"Tidak apa-apa. Aku sekarang memaafkanmu Jadi kamu jangan mengulangi kesalahanmu lagi,"
"Aku tahu ini salahku karena bersikap egois, namun kamu juga ikut bersalah dengan hal ini, kamu merahasiakan sesuatu dariku,"
"Rahasia apa? Aku tidak merahasiakan apapun darimu,"
"Lalu kenapa kamu terlalu terburu-buru mengambil ponselmu? Seolah-olah kamu sedang di kejar setan atau sesuatu?"
Lea yang mendengar pertanyaan itu segera memalingkan wajahnya dan berkata,
"Tidak ada apa-apa di ponselku, Sungguh."
Lea sebenarnya merasa cemas karena mereka baru berbaikan, bagaimana jika Rey nanti akan salah paham lagi dan marah lagi?
Namun jawaban dari pemuda yang ada di hadapannya itu membuat Lea terkejutan.
"Mulai hari ini aku akan percaya padamu. Apapun itu, Aku Percaya pada orang yang Aku cintai,"
Melihat senyuman dan kata-kata tulus dari pemuda itu, Lea tiba-tiba merasa bersalah. Jika dipikirkan lagi Bukankah tidak ada gunanya untuk menyembunyikan semua ini?
Setelah berpikir sejenak, Lea akhirnya memutuskan untuk membuka kunci ponselnya, lalu menunjukkan sebuah email kedepan Rey, yang jelas sekali membuat Rey sangat terkejut.
"Ini... Ini... Kamu..."
Lea yang melihat ekspresi terkejut itu menundukkan kepalanya dengan ekspresi malu.
__ADS_1
"Benar, Alfa, ini Aku Vanni...."
Rey yang baru saja mendengar kenyataan itu tidak tahu apakah harus sedih ataupun harus tertawa. Jujur, setelah semua dia sempat cemburu karena Lea sangat asik dengan ponselnya seolah sedang chattingan entah dengan pria mana mana tahu ternyata Pria mana itu adalah dirinya sendiri?
Sungguh lucu.
Namun, Lea adalah Vanni?
Gadis menyedihkan yang memiliki nasip malang itu?
Perasaan Rey tiba-tiba menjadi rumit dan hatinya dipenuhi dengan kemarahan.
"Lea kamu..."
"Tidak perlu untuk mengungkit masa lalu yang jauh. Sekarang, Lea adalah Lea yang sekarang, aku bisa sampai di sini karena kamu, Terimakasih Alfa, tidak terimakasih Reyhan Alvarendra ... Kamu telah memberiku begitu banyak pengalaman, membuatku bangkit dari keterpurukan. Bahkan ketika aku pindah ke tempat ini kamu berhasil mengisi hari-hariku yang kosong, sungguh Aku sangat mencintaimu ... "
"Aku juga sangat mencintaimu, Lea, aku juga tidak pernah mengira bahwa takdir akan membawa pertemuan kita sampai sejauh ini,"
"Memang,"
Keduanya lalu saling berpelukan satu sama lain melepaskan kerinduan dan kasih sayang mereka. Keduanya juga sempat berciuman singkat.
Sampai waktu benar-benar berlalu dan keduanya melepaskan pelukan masing-masing. Baru saat inilah Rey teringat pada sesuatu,
"Jadi, Pria Brengsek yang kamu maksud dalam pesanmu itu adalah Aku?"
"I-- Itu jelas karena kamu sendiri yang menyebalkan!"
Rey yang mendengar perkataan malu-malu itu hanya segera tertawa lalu mencubit pipi Lea.
"Ya, ya. Maaf jika Aku bersikap terlalu egois padamu,"
"Aku sudah bilang itu juga bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga tidak peka tentang perasaanmu, mau bagaimana lagi? Ini adalah pertama kalinya aku menjalin sebuah hubungan," kata Lea lagi.
"Ini juga pertama kalinya untukku,"
Hari itu, keduanya dalam suasana hati yang sangat baik. Mereka baru saja berbaikan.
"Jadi Bagaimana jika sekarang kamu aku ajak ke suatu tempat? Kali ini aku akan memperbaiki kencan kita yang berantakan?"
"Hpmh, Aku akan memberimu kesempatan namun awas saja jika mengecewakan!"
"Kali ini tidak akan, kamu tunggu di ujung jalan nanti aku akan kesana menyusulmu,"
"Kamu mau ke mana?"
"Meminjam beberapa hal,"
"Ah, dari Temanmu itu?"
__ADS_1
"Begitulah,"
"Tapi aku tidak senang kamu ikut balapan semacam itu,"
"Baiklah-baiklah, Aku tahu Nona Lea,"
"Aku tidak bercanda. Betapa aku sangat khawatir melihat kamu balapan seperti itu? Aku benar-benar takut untuk kehilangan kamu,"
Rey yang mendengar itu hanya tersenyum, kemudian mencium kening Lea, sambil berkata,
"Baiklah, Aku akan mencoba untuk tidak melakukannya lagi, namun Aku rasa ini butuh waktu? Aku akan memberitahumu nanti jika aku akan pergi,"
"Ya, aku juga tidak mau terlalu mengekangmu namun jangan terlalu sering-sering saja ikut hal-hal berbahaya,"
"Baik, Tuan Putriku,"
"Hey, jangan menggodaku seperti itu!"
Dua orang itu saling tertawa bersama-sama. Setelahnya mereka memiliki sebuah kencan yang indah, Rey mengajak Lea menaiki gunung untuk melihat sebuah pemandangan indah dari balik bukit dan pantai. Agak jauh dari tempat mereka, namun pemandangan yang didapatkan benar-benar begitu indah.
"Astaga, Aku tidak tahu ada tempat semacam ini,"
"Benar kan? Ini salah satu tempat favorit ku."
Hari yang baik untuk keduanya hari itu. Rey sendiri mulai melupakan segala masalah yang dia miliki soal Ayah Kandungnya itu. Hanya saja, Rey merasa belum siap atau belum saatnya untuk menceritakan hal-hal itu kepada Lea. Waktunya belum pas karena tidak ingin merusak kebahagiaan yang indah ini dengan cerita sedihnya.
Namun, Rey tidak berniat untuk merahasiakannya dia pasti akan mengatakannya nanti pada Lea.
####
Dimalam hari, Lea baru saja kepikiran sesuatu ketika pergi dengan Rey tadi. Tentu saja, Lea baru saja kepikiran tentang masa depan apa yang akan Rey miliki.
Lea yang tiba-tiba kepikiran itu segera mencari beberapa hal di internet, tentang Fotografi. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah jurusan yang cukup cocok di Universitas. Mungkin karena dia terlalu bersemangat Dia segera bertanya kepada, Rey melalui pesan.
'Rey, Apakah kamu ingin masuk Universitas? Aku melihat-lihat di internet ternyata ada jurusan Fotografi yang cocok untukmu,'
Tidak lama sampai pesan itu dibalas, di balas dengan telepon.
'Lea? Kenapa tiba-tiba?'
"Bukan apa-apa. Bagaimana cara aku mengatakannya? Kamu dulu pernah cerita soal Kamu bingung tentang apa yang kamu akan lakukan dimasa depan? Jadi Aku pikir, Bagaimana jika lebih mengembangkan hobimu saja? Dan lagi kamu tidak perlu khawatir soal biaya Kuliah atau sesuatu, katanya ada Program Beasiswa juga untuk jalur Prestasi. Aku yakin dengan semua trofi kemenanganmu dalam berbagi lomba itu harusnya cukup untuk membuatmu lolos,"
Di ujung telepon, Rey sedikit terdiam, dia tidak pernah memikirkan hal-hal itu sebelumnya. Lea benar-benar terlalu memikirkan Rey membuat Rey merasa sangat senang. Namun dibalik semua hal-hal itu ada masalah serius yang sekarang Rey pikirkan.
"Tapi... Tunggu... Nilaiku..."
"Ada apa dengan nilaimu, Rey?"
"Tidakkah kamu tahu bahwa aku ada di peringkat paling bawah?"
__ADS_1