Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 33: Terasa Aneh


__ADS_3

"Udah ah, lo jadi pulang gak sih?" kata Rey pada akhirnya, dia merasa sangat malu setelah mengatakan hal-hal sebelumnya kepada gadis yang ada di hadapannya itu ingin segera mengalihkan pembicaraan apalagi setelah melihat Lea tiba-tiba tersenyum aneh seperti itu.


Lea yang melihat bagaimana pemuda yang ada di hadapannya itu segera memalingkan wajahnya jelas menjadi semakin merasa Rey benar-benar mengemaskan.


"Ya, Terimakasi Rey, apakah itu berarti mulai hari ini kita adalah teman?"


Rey yang mendengar kata-kata itu segera menunjukkan keterkejutan, namun segera berkata lagi,


"Udah gue bilang kan, jadi orang jangan GR banget deh,"


Lea lalu segera berjalan untuk melihat ke arah wajah Rey dan mengulurkan tangannya, seolah berniat untuk berjabat tangan.


"Kenapa? Mari mulai semuanya dari awal nggak usah pakai acara malu-malu gitu segala,"


Rey yang melihat wajah Lea tepat di depannya itu sekali lagi mencoba untuk memalingkan wajahnya,


"Siapa pula yang malu, gue jelek nggak pengen jadi temen lo,"


Melihat respon penolakan yang terlihat jelas dan malu-malu itu malah membuat Lea tiba-tiba ingin menggoda pemuda yang ada di depannya itu,


"Jadi kamu tidak ingin untuk menjadi temanku? Apakah kamu sebenarnya ingin jadi Kekasihku?"


Lea benar-benar baru saja mengatakan omong kosong namun segera merasa malu setelah mengatakan hal-hal itu, seolah-olah dirinya barusaja menembak Pemuda yang ada di hadapannya itu. Lea benar-benar merasa, bahwa ucapannya itu terlalu berlebihan, sial Lea tidak tahu setan mana yang merasukinya sampai-sampai bisa mengatakan hal-hal yang terlalu memalukan itu.


Wajah Lea menjadi memerah setelah mengatakan itu dan segera menarik tangannya dan memalingkan wajahnya. Rey sendiri yang mendengar kata-kata itu jelas saja terkejut, secara spontan wajahnya kembali berpaling untuk menatap ke arah Lea, memandang gadis itu dengan ekspresi kaget lalu menyadari tentang bagaimana gadis itu menjadi sedikit malu tentang ucapannya. Teliga Lea yang agak memerah, Rey tentu saja tahu bahwa hal-hal yang diucapkan gadis itu hanyalah omong kosong, dan semacam lelucon, dan lagi gadis itu malah menjadi malu sendiri dengan leluconnya, membuat Rey tiba-tiba ingin melanjutkan lelucon itu juga.


"Jadi bagaimana jika iya?"


Ekpresi Lea sekarang yang menunjukkan ekspresi terkejut lalu segera menggunakan tangannya untuk memukul bahu Rey karena sadar bahwa pemuda itu sepertinya baru saja memulai sebuah lelucon.


"Jangan mulai deh,"

__ADS_1


"Bukannya lo ya mulai lelucon itu duluan?"


Lea yang merasa kalah akhirnya segera memalingkan wajahnya dan mulai berjalan duluan, dan berkata,


"Dah lah, Aku mau pulang aja,"


Rey yang melihat gadis itu berjalan menjauh segera menyusulnya namun jelas berada pada jarak yang aman.


"Kenapa sih lo nggak waspada banget gimana kalau ada preman-preman itu lagi atau anak dari sekolah sebelah? Kenapa lu nggak minta dijemput aja?"


Lea yang mendengar pertanyaan itu hanya segera menjawabnya dengan jujur,


"Aku hanya tidak senang ketika menunggu jemputan dan dijemput seperti itu setelah pulang sekolah, itu hanya membuatku teringat tentang kenangan buruk di sekolah lamaku,"


Ada sedikit nada kesedihan ketika gadis itu mengatakan hal-hal itu, Rey tentu saja menyadari tentang nada sedih itu dan merasa sepertinya tidak baik untuk bertanya lebih lanjut soal hal-hal itu.


"Jadi lo tetep bakal pulang sekolah jalan kaki kayak gini sendirian?"


"Hah, gimana kalau lo diculik lagi?"


Lea segera menghentikan jalannya, lalu berbalik dan menatap ke arah Rey yang berjalan tidak jauh darinya itu. Lea segera berkata sambil tersenyum,


"Kan ada Rey yang bakal mengawal Aku?"


"Siapa bilang gue bakal ngawal lo?"


"Lah terus ini apa?"


"Sepertinya males ngomong sama lu sana buruan cepet balik,"


Lea segera memalingkan wajahnya lagi dan kembali berjalan. Berikutnya dua orang itu berjalan dengan jarak yang cukup jauh memastikan agar terlihat seperti tidak saling mengikuti, atau kenal. Perjalanan yang awalnya sepi untuk Lea itu, entah kenapa menjadi terasa begitu hangat.

__ADS_1


Lea jadi benar-benar menikmati perjalanan pulang hari itu, dengan Rey yang berjalan di belakangnya hal-hal itu benar-benar terasa sangat menyenangkan entah bagaimana. Dan di sinilah hubungan baru antara dua orang itu pun dimulai.


Keesokan harinya, Lea masih berangkat sekolah diantar oleh sopir seperti sebelumnya, ketika sampai di kelas, Lea tentunya hanya menatap sekilas Rey yang duduk di kursinya itu, ketika berada di kelas semacam ini mereka berdua masih hanya berpura-pura untuk tidak saling memperdulikan dan saling kenal.


"Selamat pagi, Kirana,"


"Eh, Lea selamat pagi juga,"


Lea mulai menyapa teman sebangkunya itu dan berbicara juga dengan beberapa gadis lain yang ada di meja depan. Lea mencoba untuk mengikuti arah pembicaraan teman-temannya itu.


Kemudian ketika jam istirahat, Lea bersama teman sebangkunya dan teman-teman lainnya pergi ke kantin seperti biasanya. Namun kali ini, sebelum Lea kembali ke kelas dia tidak lupa membeli dulu beberapa camilan dan minuman dingin.


Yups benar saja, dia diam-diam meletakan hal-hal itu di laci meja Rey ketika tidak ada orang yang memperhatikan. Rey sendiri, orangnya masih belum kembali ke kelas dia baru kembali tepat sebelum bel berbunyi.


Rey yang melihat tiba-tiba di lagi hujannya ada beberapa camilan dan juga minuman itu jelas saja menjadi kaget lalu menatap ke arah Lia yang memberikan semacam kode padanya. Disana ada semacam kertas kecil yang bertuliskan ucapan terima kasih. Rey tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya segera meminum minuman yang diberikan untuknya itu.


Diam-diam tersenyum sendiri, ketika mendapatkan perlakuan hangat itu. Di siang hari dua orang itu tentu saja bertemu di ruang ekstrakurikuler, kali ini suasana ruangan ekstrakurikuler terlihat damai dan tenang karena dua-duanya terlihat fokus dengan kegiatan masing-masing. Nathan yang sampai paling terakhir jelas merasa heran dengan ruangan yang terlihat damai itu tidak ada lagi pertengkaran atau perang dingin.


"Apakah kalian berdua akhirnya baikan?"


Lea dan Rey yang mendengarkan kata-kata itu segera berkata dengan sedikit marah,


"Jangan mengatakan kami seperti sepasang kekaish yang baru bertengkar!"


Dua orang itu mengatakannya secara bersamaan hingga membuat keduanya merasa canggung dan malu, Nathan yang mendengar itu jelas saja langsung tertawa, melihat bagaimana keduanya malu-malu seperti itu. Namun entah kenapa Nathan merasa sedikit tidak nyaman di hatinya, melihat bagaimana Lea yang saat ini diam-diam terkadang akan menatap ke arah Rey.


Apakah Lea memiliki perasaan pada Rey?


Lea sendiri juga tidak mengerti tentang dirinya, sejak kejadian kemarin, pandagan Lea seolah-olah tidak bisa memalingkan wajahnya dari Rey, Rey yang bahkan berada di dalam kerumunan akan sangat mudah untuk dia temukan. Rasanya begitu aneh, apalagi setelahnya, mereka akan berjalan pulang ke rumah bersama-sama walaupun ada jarak yang cukup jauh saat keduanya berjalan.


Namun, perasaan hangat di hati Lea tidak hilang. Masih menikmati kedamaian dan kediaman antara keduanya ketika perjalanan pulang.

__ADS_1


__ADS_2