Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah

Cinta Rahasia Sang Preman Sekolah
Episode 44: Keras Kepala


__ADS_3

Ini adalah siang hari ketika saatnya jam sekolah berakhir, Lea awalnya ingin menunggu Rey untuk pergi ke ekstrakurikuler bersama namun mana tahu pemuda itu malah langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Lea, yang malah membuat gadis itu merasa semakin kesal.


Lea benar-benar tidak mengerti dengan sikap Rey belakangan yang hanya memdiamkannya sejak malam itu, kenapa seolah-olah Rey yang marah?


Seharusnya Lea yang marah pada sikap kekasihnya itu.


"Hah, dasar tidak jelas menyebalkan," keluh Lea saat perjalanan menuju ruang ekstrakurikuler.


Mana tahu tempat ketika dia mengatakan itu ada seseorang yang menepuk pundaknya dan berkata dengan heran,


"Siapa yang tidak jelas dan menyebalkan?"


Lea yang awalnya berjalan sendiri itu jelas merasa kaget ketika kedatangan kakak kelasnya Nathan itu, seolah ada takbir aneh yang membuat mereka berdua sering bertemu dalam berbagai situasi.


"Bukan siapa-siapa hanya beberapa orang menyebalkan,"


"Hmm, Aku tebak apakah itu Rey?"


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


Lea menjadi keceplosan bertanya karena kaget dengan tebakan kakak kelasnya itu yang benar-benar bisa tepat akurat.


"Pfff, bagaimana aku mengatakannya? Aku rasa hanya Rey yang selalu bisa untuk membuatmu marah, kalian itu loh sungguh aneh aku lihat-lihat kadang sangat dekat, namun tiba-tiba jadi marahan seperti itu seperti sepasang kekasih saja,"


"A-- Apa? Jangan bicara aneh-aneh, ini kepribadian Rey saja yang seperti itu,"


Dua orang itu lalu mulai bercakap-cakap bersama sambil menuju ruangan ekstrakurikuler, dan benar saja ketika Rey melihat dua orang itu masuk dan datang bersama keruangan ekstrakurikuler perasaannya yang kesal dan marah menjadi semakin parah. Rey yang merasa tidak tahan itu segera menarik Lea untuk pergi dari sana,


"Apa-apaan sih kamu Rey?"


"Ikut Aku sekarang juga!!"


Nathan yang melihat bagaimana Rey memaksa Lea pergi itu jelas merasa tidak senang lalu segera mencoba melepaskan tangan Lea dari gengaman Rey.

__ADS_1


"Reyhan, apa yang kamu lakukan pada Lea? Dia tidak ingin pergi bersamamu jadi lepaskanlah jangan memaksanya seperti itu,"


Ekpresi Rey segera bertambah ganas ketika menatap ke arah kakak kelasnya itu yang berani menyentuh tangan Lea, dia segera menepis tangan Nathan dari Lea, memukul tangan itu cukup kencang. Lea yang melihat Rey memukul tangan Nathan itu segera menjadi marah juga,


"Rey, kamu itu sebenarnya kenapa? Jangan seperti itu pada Kak Nathan!"


Lalu setelah mengatakan itu Lea kembali menatap ke arah kakak kelasnya itu dan bertanya dengan ekspresi khawatir,


"Apakah tangan Kak Nathan baik-baik saja?"


"Ini bukan masalah sama sekali hanya sedikit memar,"


"Terima kasih telah membantuku namun biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan Rey, maaf harus membuat kakak terlibat dalam kekacauan ini,"


Setelah mengatakan itu, tatapan Lea beralih lagi pada Rey, dan berkata,


"Mari kita pergi,"


Rey kembali menarik tangan Lea, dan membawa gadis itu ke belakang sekolah yang sepi sehingga hanya ada mereka berdua. Rey memojokan Lea di dinding dengan kedua tangannya, dan berkata,


"Hah? Dekat-dekat apaan aku dan dia juga nggak ngapa-ngapain kenapa kamu begitu ribut? Kamu tidak percaya padaku?"


"Bagaimana aku ingin percaya? Kamu saja selalu dekat dengannya, kemanapun kamu pergi, entah saat malam itu di tempat balapan atau bahkan tadi dan juga sebelum disebelum-sebelumnya,"


"Reyhan Alvarendra, kenapa kamu sangat menyebalkan, sampai tidak percaya padaku dan menyalahkanku dengan hal-hal tidak logis itu?"


"Kamu yang dari awal tidak memperhatikan kata-kataku, apa susahnya tidak dekat-dekat dengan Kak Nathan? Gue bener-bener gak suka lo deket-deket sama dia, lo itu cumuan milik gue harusnya lo nurut deh sama kata-kata gue!"


Kata-kata posesif Rey itu, entah kenapa membuat Lea merasa tidak senang, merasa tidak senang diatur-atur seperti itu.


"Apaan sih? Gue mau sama siapa ya terserah kamu itu nggak boleh ngatur-ngatur gue!"


"Aku Kekasihmu!!"

__ADS_1


"Tapi kamu gak nujukin itu sama sekali dan cuman bikin gue marah!? kata Lea dengan ekspresi kesal.


"Itu lo yang bikin gue marah!"


"Kok kamu egois baget sih? Pernah mikir gak sih? Di sini harusnya aku yang marah padamu!! Malam itu seharusnya, kita memiliki kencan pertama kita yang indah namun kamu meninggalkanku begitu saja di sana dan pergi balapan sendiri, kemudian kamu langsung membawaku pulang menurutmu itu membuatku senang?"


Rey yang mendengar kata-kata itu segera terdiam dia hendak berbicara lagi pada Lea, namun Lea sudah menutup telinganya dan segera pergi dari situ.


"Dah, lo nggak perlu ngomong apa-apa lagi sama gue sebaiknya lo pikirin lagi perbuatnmu," kata Lea segera pergi dari sana.


Rey yang ditinggal itu jelas menjadi kepikiran, namun tetap saja Rey masih merasa tidak salah, malam itu harusnya setelah memenangkan balapan dia berniat memberikan hadiah lomba itu kepada Lea, sebuah mendali kemenangan, juga bisa berkeliling kota bersama untuk menikmati pemandangan malam.


Namun hal-hal berantakan gara-gara Lea asik sendiri sama Nathan, bahkan tidak bersorak atas kemenangan yang dia dapatkan di balapan itu, memikirkannya membuat Rey kembali emosi. Dia memutuskan untuk tidak kembali ke ruang ekstrakurikuler dan segera pergi dari sana.


Mana tahu, ketika Rey keluar dari sekolah itu, tiba-tiba ada seorang pria yang mengenakan setelan hitam yang terlihat memiliki penampilan menyeramkan seperti anggota Geng, datang padanya,


"Apakah kamu, Reyhan Alvarendra?"


Rey menatap seorang pria yang ada di depannya yang memiliki penampilan mencurigakan apalagi tato di wajahnya itu. Ekpersi Rey jelas menadi buruk, dia merasa tidak membuat masalah belakangan ini jadi kenapa ada orang yang mencarinya?


Terlebih, Rey juga merasa tidak pernah berurusan dengan anggota geng semacam itu. Jadi kenapa orang itu mencarinya??


"Bukan, Aku bukan Reyhan,"


Pria itu segera menunjukkan sebuah foto yang ada di tangannya,


"Tidak perlu untuk berbohong saya hanya ingin meminta anda untuk ikut dengan kami sebentar ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda,"


Rey cukup kaget dengan kata-kata sopan itu, namun karena perasaannya terasa tidak nyaman jadi dia segera lari dan mencoba melarikan diri dari sana merasa tidak akan ada hal yang baik jika dia berurusan dengan pria itu.


Mana tahu, itu malah menjadi sebuah adegan kejar-kejaran yang merepotkan.


"Sudah Aku duga!! Mereka berniat buruk!!" kata Rey yang merasa kesal itu sambil mencoba lari secepatnya agar bisa lolos.

__ADS_1


Tapi Rey juga masih bingung tentang apa yang terjadi tidak tahu kenapa orang-orang mencurigakan itu mencarinya?


Siapa sebenarnya mereka?


__ADS_2