
Waktu terus berjalan.Hari demi hari berlalu tak berasa sudah hampir satu bulan aku bekerja sebagai pembantu disana. Kami berduapun sudah nampak lebih akur dan sedikit saling mengenal satu sama lain.Meskipun tidak ada yang berubah dari kami dan hubungan kami masih sama seperti layaknya pembantu dengan majikan.Aku yang memang masih trauma dengan hubungan percintaanku yang kandas bersama Aril dulu membuatku tidak memikirkan untuk menjalin hubungan lagi untuk saat ini.
Dan Zao yang semakin hari nampak semakin sibuk sampai kami hanya bertemu sebentar entah saat Zao pulang maupun berangkat bekerja.Sejauh ini tidak ada masalah diantara kami, dia baik dan aku cukup nyaman bekerja ditempatnya meskipun statusku menjadi pembantu namun aku rasa dia tidak benar-benar memperlakukanku seperti itu.
Mulut dengan kelakuannya sangatlah berbeda.Jika perkataannya banyak mengandung bawang dan seringkali bernada angkuh tetapi kenyataannya dia orang yang begitu peduli terhadap orang lain.
Aku melihat kalender dan sepertinya besok adalah tanggal gajian pertama kalinya aku bekerja bukan menjadi karyawan kantor melainkan menjadi asisten rumah tangga.Didalam hati aku bertanya-tanya Kira-kira berapa presdir akan menggajiku ya? ah pikiran macam apa itu.Bukannya aku menjadi pembantu untuk menjamin pekerjaan orang lain,,dan juga uang yang tuan Zao kasihkan kepada sopir taksi yang dulu marah-marah kepadaku, bukankan sangatlah banyak jadi sudah jelas gajiku tiga bulan saja sepertinya belum cukup untuk melunasi semua hutang ku terhadanya.Oh ya satu lagi, pakaian branded yang kemarin ia kasih harganya juga pasti tak terhitung lagi.Jadi betapa bodohnya sampai aku berfikir untuk digaji.
Lama bermonolog dengan diri sendiri sama sekali tidak membuatku lelah dan ingin tidur tetapi sebaliknya mataku malah semakin tidak bisa di pejamkan.Akupun meraih ponsel dan jari-jariku pun mulai sibuk di atasnya.Satu persatu foto-foto kami berdua muncul, dengan senyum yang bercampur tangis aku mulai menghapusnya satu persatu. Satu sisi ada rasa lega namun sisi lain berasa sangat berat bahkan nyaris tidak ingin menghapusnya.
Bagaimana tidak, semua momen indah beserta hari dan tanggalnya selalu ku upload ke sosmed ku, dan disitulah salahnya, sekarang ketika kami berdua putus menjadi sangat sulit untuk move on.
Kenangan yang pernah dilalui benar-benar berputar-putar kembali bak kaset rusak setiap kali aku rindu dan melihat fotonya.
Tanganku mulai bergerak cepat menghapus setiap momen yang pernah ku unggah sebelumnya dengan sesekali juga tanganku menyeka air mata yang jatuh mengalir begitu saja.
''Lagi apa? sebuah pesan tiba-tiba saja muncul ditengah-tengah kesibukanku bernostalgia dengan kenangan mantan yang mungkin untuk terakhir kalinya kulihat sebelum kuhapus tanpa sisa.
Salah kirimkah? tumben dia chat selain masalah kerjaan.
""Baringan, , " Jawabku.
"Mikir apa? tanya Zao seolah tau aku sedang banyak pikiran.
" Tidak ada." Elaku.
"Bohong sekali, sudah makan? tanyanya sedikit perhatian.
" Tidak selera."Jawabku apa adanya karna memang sepulang dari apartementnya aku sama sekali tidak nafsu menyentuh makanan apapun.
"Ingat umur ,kamu sudah bukan anak kecil lagi yang kalo makan harus dibujuk dan selalu diingetin kan."
''Hem,,, iya. "
''Iya apa? udah gih makan dulu. '' Suruhnya berulang-ulang.
Drrrrrt.Tak lama panggilan suara tersebut berubah menjadi panggilan video yang mana membuatku sedikit panik karna selain habis menangis aku juga sedang malas berdandan.Mau ku tolak pun ia tipikal orang yang pemaksa.
Ahirnya aku menyetujui panggilan video darinya dengan menggeser tombol hijau kembali.
__ADS_1
''Udah makan dulu, sehabis makan ada hal penting yang akan saya katakan.
''Ya sudah ngomong saja saya beneran nggak laper ,,,'' Ngeyelku tetap dengan pendirian ku.
''Saya tidak suka dibantah. ''Ujarnya lagi dan sekarang nadanya sudah berubah menjadi perintah.
''Baiklah, tuan pemaksa, ,, '' Gerutuku sambil keluar berjalan turun lalu menuju dapur.
Dengan kesal akupun terpaksa menuruti perintahnya yang memang tidak pernah mau mengalah.
''Tuan sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, kenapa lama sekali aku sudah ngantuk.'' Kataku yang memang setelah selesai menghabiskan makan malamku langsung merasa ingin tidur.
''Besok dan untuk satu minggu kedepannya tidak usah memasak untuku.?
Uhuk. uhuk. aku yang sedang minum langsung kesedak setelah mendengarkan kalimatnya barusan.
''Hati-hati tidak akan ada yang akan berebut minuman denganmu. '' Katanya mengingatkanku.
''Tapi kenapa tuan? apa masakan saya sangat kurang enak? tanyaku disela-sela makan.
''Iya. '' Jawabnya datar tanpa expresi.
Yang diajak ngomong malah terkekeh geli.
Membuatku memberengut kesal melihatnya.
''Kamu cantik kalo lagi marah. '' ucapnya entah sadar atau tidak.
''Tidak usah memuji seperti itu, terakhir kali saya mendengarnya hidup saya langsung tidak baik-baik saja. ''
Hening tidak ada pembicaraan lagi diantara kami
sebelum akhirnya ia mengatakan maksudnya dengan serius.
''Besok saya ada kunjungan ke perusahaan saya di London.,,, ''Ujarnya memberitahu.
'' Terus?
'' Ya makanya saya beritahu kamu supaya tidak usah memasak untuk saya.'' Zao
__ADS_1
''Owh berarti karna itu, bukan karna rasa masakan saya.''
''Bukan,, '' Zao
''Ya sudah. ''
''Cuman ya sudah aja kamu bilang?! '' Kata Zao dengan suara kecewa dan wajah kaget yang menurutku begitu menggemaskan.
''Terus saya mesti gimana tuan? '' tanyaku yang nampak tidak merasa bersalah.
'' Pikir sendiri. '' Jawabnya langsung mematikan panggilan.
Benar-benar laki-laki yang sulit ditebak.Sebentar ngambek, sebentar perhatian, sebentar lagi cuek dingin datar.Komplit deh pokoknya.
Aku tidak berfikir apapun lagi tentangnya karna memang mataku yang sudah mulai lengket ahirnya aku tertidur dengan sendirinya.
Ditempat lain seorang pria nampak sedang mengumpat marah lewat telfon.
''Kamu itu memberiku saran atau memberiku garam kenapa rasanya pahit sekali. ''Kata Zao berbicara dengan seseorang di sebrang telfon.
''Maaf tuan maksudnya bagaimana?
''Kau tau saat aku menerima ide gilamu itu untuk mengatakan kepadanya kalau diriku mau pergi ke
London, dan kau tau seperti apa responya? Kata Zao sangat kesal.
Asisten Kevin yang sudah menduga hal tersebut akan terjadi hanya bisa diam sambil menahan ketawanya.''Memangnya respon bagaimana yang tuan terima?'' Kevin pura-pura.
''Hanya yah sudah saja bodoh.Dan apa kau tau saat itu juga aku merasa harga diri seorang Zao Lee yang kegantengannya tidak ada duanya harus jatuh turun didepan gadis biasa .
'' Tapi tuan menyukainya kan?
''Emmm.Apakah tuan mengatakan perasaan tuan terhadap nona Riri? tanya Kevin hati-hati.
''Kau gila ya.Tentu saja tidak. ''
''Tuan kalau sudah seperti itu ya mau sampai lebaran monyet juga nona Riri hanya akan menganggap tuan sebagai majikan yang baik, bukan orang yang menyukainya, karna selain dia masih trauma saya pikir dia juga tidak tau kalau anda menyimpan perasaan lebih terhadapnya.'' Nasehat Kevin.
Dan Zao nampak mencerna kata-katanya dengan baik lalu mematikan panggilannya.
__ADS_1