
Sinar Matahari siang begitu menyilaukan menembus celah tirai putih di kamar VIP tersebut, hingga membuat gadis cantik itu terbangun dari kemalangan satu malam buah dari hasil ciptaannya sendiri.
Yah gadis itu adalah Rahel si gadis cantik yang nasibnya kurang beruntung.Ia beberapa kali mengerjap sambil mengingat-ingat kejadian yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
''Aaah ,,,,, '' teriaknya ketika sadar kalau dirinya tak mengenakan apapun alias telanjang bulat.Hatinya hancur dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna. Mahkotanya di renggut oleh pria brengsek yang tidak ia kenal tapi siapa dan dimana dia? ia mencoba mengingat sekali lagi. Bukannya ia terakhir bersama Zao lalu tiba-tiba saja tubuhnya kepanasan setelah memakan makanan yang seharusnya di makan oleh Zao setelah semua sudah di rancang sebaik mungkin, tetapi sial kenapa malah berbalik menjadi senjata makan tuan seperti ini.
Hiks hiks,, Rahel menjambak frustasi rambutnya serta beberapa kali memukuli tubuhnya sendiri.
Hiks, hiks kak Zao kenapa tega sekali kamu, aku bahkan tulus mencintaimu dari sangat dulu bahkan sebelum tau apa arti kata cinta itu sendiri.
Dan apa yang ku dapat hah,,, ini kah pembalasan rasa tulus yang bertahun-tahun ku pendam sendirian... hiks hiks hiks....
Aku bersumpah ke depannya aku bukan lagi teman maupun adikmu tetapi musuh kita sekarang musuh.....
Hwaaaaaaa... tangisnya pecah untuk yang kesekian kali lagi, lagi dan lagi.
Rahel mengusap air matanya dengan sangat kasar berharap bisa menemukan kekuatan untuk melawan rasa sesal dan traumanya tentang satu malam terkutuk itu.
Ia berusaha berjalan melawan rasa ngilu di bagian inti kewanitaannya.Namun rasa sakit serta pusing mengalahkan keseimbangannya hingga membuat nya jatuh terpeleset.Ahirnya ia harus sampai mengesot untuk sampai ke kamar mandi. Sungguh menyedihkan nasib gadis itu.
Di dalam sebuah ruangan yang di desain se indah dan senyaman mungkin, Zao sedang duduk di kursi kebesarannya mendengarkan beberapa orang kepercayaannya sedang membacakan laporan pekerjaan masing-masing divisi ,melaporkan hasil keuangan,kerjasama dengan kolega bisnis ternama sampai permasalahan-permasalahan serius lainnya setelah di tinggal dirinya menjabat Ceo baru di keluarga ayahnya.
Dengan otak cerdasnya tak perlu berfikir pusing untuk mengatur langkah serta memecahkan masalah demi masalah yang sering di keluhkan bawahannya.
''Begitu saja kok repot! '' Ucapnya kemudian mengakhiri meeting siang itu.
''Vin, ... '' memanggil sambil terus berjalan menuju ruangan CEO.
''Iya tuan... '' sahut Kevin .
''Siapkan tiket untuk kepulanganku besok pagi. '' titah Zao tegas.
__ADS_1
Kevin diam sejenak tidak langsung menjawab tuannya.
''Kau tidak tuli bukan! '' tegur Zao yang melihat asistennya tidak menjawab.
''Siap tuan akan saya urus sekarang juga.''
Dan satu lagi, sekalian urus pernikahanku satu hari
setelah aku tiba di jakarta.
'' Siap tuan. '' kata Kevin patuh karna jika sedikit saja ia bertanya pastilah akan di anggap protes lalu dampaknya bisa membuat tugas pekerjaannya menjadi semakin bertambah.
Zao merentangkan tangannya dengan posisi duduk menyender di kursi kebesaran.
Pikirannya sejenak menerawang jauh membayangkan jika ia sudah menikah dengan Riri.
Akan ia perlakukan perempuan itu bak Ratu yang hanya bertugas melahirkan anak-anak lucu untuk masa depan keluarganya kelak.
Tok. Tok Tok.
'' Masuk. '' kata Zao dengan nada kesal karna tiba-tiba saja ada yang berani mengganggunya.
''Maaf tuan, dibawah ada sedikit keributan , karna perempuan yang kemarin datang sekarang memaksa masuk dan langsung sangat marah ketika pihak kami melarangnya padahal sudah di jelaskan kalau itu adalah perintah langsung dari presdir tetapi masih tetap tidak mau pergi dan malah mengamuk . '' terang security kantornya.
''Bodoh mengurus satu wanita saja tidak becus.''
umpat Zao geram.
Lalu tak berselang lama terdengar ribut-ribut dari luar ruangannya.
'' Kak Zao,,, '' Rahel berteriak menerobos paksa untuk masuk bertemu dengannya namun langkahnya di cegah oleh beberapa security.
__ADS_1
''Biarkan dia masuk, kalian semua kembali ke tempat masing-masing. '' Kata Zao sambil berdiri dari duduknya melempar pandangan matanya karna saking tidak ingin melihat Rahel.
''Kamu tega kak.. '' kata gadis itu sambil menangis terisak.
Zao masih tetap diam sambil pandangannya tak beralih pada dinding kaca di ruangannya.
''Aku lebih menyayangkan kecerobohanmu. '' Kata Zao kemudian.
''Tapi itu karna kau Zao Lee,, seandainya kamu sedikit saja peka sama perasaan ku aku mungkin tidak akan berubah menjadi jahat dan tidak akan kehilangan apa yang selama ini aku jaga. kamu jahat kak. '' teriak Rahel menggebu-gebu. . ..
'' Sejak dulu aku menganggapmu adik melindungi dan menjagamu sebagai kakak dan sama sekali tidak ada perasaan lebih tapi apa yang kamu lakukan malah ingin menjebaku dengan trik murahan seperti itu. '' Terang Zao berbalik menatap nanar Rahel.
''Bahkan malam setelah aku pergi meninggalkan kamu aku menyuruh anak buahku untuk mengantarkan kamu pulang serta mengawasi dari kejauhan agar tidak terjadi apa -apa dengan mu.
Tetapi lagi-lagi kamu ceroboh dan malah memasukkan pelayan untuk menuntaskan hasratmu itu. Jadi sampai disini aku fikir stop untuk menyalahkan orang lain dan bercerminlah terhadap kesalahan yang kau buat sendiri. '' Kata Zao panjang lebar.
''Hah apa katamu pelayan! Rahel begitu kaget karna ternyata Zao juga mengetahuinya, kini ia berfikir kalau pelayan tersebut adalah bagian dari rencana Zao.
'' Tidak usah pura-pura kaget begitu, karna kamu lebih tau semuanya.'' kata Zao sambil mendaratkan pantatnya di kursi.
Brak. Rahel menggebrak meja Zao dengan keras membuat Zao sedikit kaget dan menarik ujung bibirnya.
''Tidak usah pura-pura baik lagi di depanku karna sekarang aku tahu siapa kamu, kamu sengaja kan menyuruh pelayan itu datang di saat aku kehilangan kesadaran. Agar aku menjadi gila dan trauma seumur hidup karna pernah tidur dengan seorang pelayan.Sungguh aku menyesal, menyesal dan sangat menyesal pernah menaruh hati kepada pria yang sama sekali tidak punya hati seperti kamu. ''
Kata Rahel sambil bercucuran air mata, sementara Zao hanya bisa menatapnya malang walau bagaimana pun gadis itu pernah sama-sama menghabiskan masa kecilnya bersama dengannya.
Zao memejamkan matanya berat mungkin saja jika malam itu dia bisa mengkontrol emosinya dengan baik mungkin meskipun Rahel sudah berbuat jahat terhadapnya tetapi dia tidak akan merasa bersalah seperti ini melihat gadis kecil yang dulunya baik kini berubah menjadi jahat karna satu malam kelam yang menghancurkannya.
''Maaf dan satu hal lagi terserah kamu mau percaya atau tidak. Pelayan itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku.''
''Aku pergi dan lupakan jika kita pernah berteman,''
__ADS_1
kata Rahel sambil berlalu.